<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Horor &#8211; albabbarrosa</title>
	<atom:link href="https://alba.kazu.co.id/category/cerita-horor/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://alba.kazu.co.id</link>
	<description>Sastra, Bahasa, Filsafat, Cerita, Fotografi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Apr 2026 00:37:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.5</generator>

<image>
	<url>https://alba.kazu.co.id/wp-content/uploads/2020/01/albabbarrosa-favicon-150x150.png</url>
	<title>Cerita Horor &#8211; albabbarrosa</title>
	<link>https://alba.kazu.co.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Cerita Horror Twitter : Sang Pejalan Malam</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horror-twitter-sang-pejalan-malam/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horror-twitter-sang-pejalan-malam/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2026 00:37:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4117</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Horror Twitter Judul : Sang Pejalan Malam Peulis ; @acep-saep88 Halo, selamat berjumpa kembali di thread dari Acep Saep. ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horror Twitter : Sang Pejalan Malam" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horror-twitter-sang-pejalan-malam/#more-4117" aria-label="More on Cerita Horror Twitter : Sang Pejalan Malam">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Cerita Horror Twitter</p>



<p><strong>Judul </strong>: Sang Pejalan Malam</p>



<p><strong>Peulis </strong>; @acep-saep88</p>



<p>Halo, selamat berjumpa kembali di thread dari Acep Saep. Kali ini saya membawakan cerita lama yg di remake. Semoga menghibur&#8230;</p>



<p>Pada suatu pagi, di suatu kampung&nbsp; kedatangan seorang mantri yg mana kedatangannya merupakan respon dari pemerintah terhadap keluhan masyarakat kampung tersebut karena tidak adanya puskesmas atau fasilitas kesehatan di sana.</p>



<p>Mantri bernama Andre Sulistio itu akan bekerjat terhitung mulai besok. Ia akan mulai mengemban tugas, mengobati para warga yg sedang sakit dari rumah ke rumah.</p>



<p>Di kampung tersebut memang belum ada bangunan puskesmas maupun yg sejenis. Jadi otomatis Andre harus mendatangi rumah setiap pasien jika ada yg memanggilnya. Terkadang ia juga menerima pasien yg mau datang ke rumah di mana ia menetap.</p>



<p>Tidak jarang Andre harus mendatangi rumah warga tengah malam ketika ada warga yg meneleponnya, memintanya datang untuk mengobati sakitnya. Dengan hanya berjalan kaki, ia pergi menuju rumah pasien yg jaraknya cukup jauh.</p>



<p>Tengah malam gelap gulita itu, dengan cahaya senter menerangi jalan di hadapannya, Andre menyusuri jalan kampung yg berupa tanah itu. Di kejauhan terlihat cahaya lampu dari rumah-rumah di kampung ini.</p>



<p>Di kampung tersebut, jarak antar rumah cukup jauh yaitu sekitar dua puluh meter.</p>



<p>Saat Andre mencapai titik jalur dekat sungai, ia merasa seperti melihat seseorang sedang berjalan melintas di hadapannya. Yg membuatnya terkejut, sosok itu melintas melewati sungai seperti melintas di atas tanah saja.</p>



<p>Andre tertegun di tempat saat menyaksikan hal tersebut. Lama ia memperhatikan sosok seperti seorang laki-laki yg barusan melintasi sungai tersebut.</p>



<p>Namun kemudian Andre segera bergegas meninggalkan tempat tersebut. Ia harus segera tiba di rumah warga yg memanggilnya.</p>



<p>Sesampainya di sana ia disambut oleh beberapa orang warga yg kebetulan sedang berkumpul di rumah pasien.</p>



<p>&#8220;Assalamualaikum,&#8221; ucap Andre saat mencapai teras rumah panggung berbilik bambu tanpa dicat itu.</p>



<p>&#8220;Wa&#8217;alaikumsalaam. Pak Mantri, silahkan masuk. Abah Dasri sedang menunggu. Beliau dari tadi mengigau terus. Badannya panas sekali seperti sedang dipanggang,&#8221; tukas salah seorang warga yg memakai sarung kotak-kotak serta kemeja berwarna putih agak buram dan mengenakan peci hitam.</p>



<p>&#8220;Saya akan langsung memeriksa beliau, ya,&#8221; ucap Andre sembari menyalami warga yg lain.</p>



<p>Ia kemudian naik ke atas rumah panggung tersebut. Selanjutnya ia menuju ruang tengah di mana pasien yg bernama Abah Dasri sedang terbaring lemah dan dikelilingi sanak keluarganya.</p>



<p>Seperti yg dikatakan warga yg menyambut Andre, Abah Dasri terus mengigau, menyebut-nyebut sesuatu yg asing.</p>



<p>&#8220;Hhhuuhh, hhhuuuhhh.. Tulungan Jang Mahfud. Anjeuna keur nguriling milarian pitulung&#8230; Hhhuuuhhhh, hhhuuuhhh&#8230;&#8221;</p>



<p>(Sunda : Tolongin nak Mahfud. Dirinya sedang berkeliling mencari pertolongan.)</p>



<p>&#8220;Sakitnya ini sudah lama, bu?&#8221; tanya Andre seraya menatap ke arah seorang wanita berusia setengah abad yg tampaknya adalah istrinya Abah Dasri.</p>



<p>&#8220;Baru tadi sore, Pak Mantri. Abis sholat isya, tiba-tiba abah mengeluh demam dan sakit kepala</p>



<p>sebelah. Ibu pikir itu gejala sakit biasa. Sudah ibu kerok, eh sakitnya malah makin parah. Parahnya lagi abah jadi sering mengigau tidak jelas,&#8221; tukas Bu Dasri menjelaskan. &#8220;Oh, Rahayu. Tolong ambilkan minum buat Pak Mantri. Masa tamu nggak dikasih minum?&#8221; ucapnya seraya menoleh ke arah putrinya yg bernama Rahayu itu.</p>



<p>Gadis cantik berusia dua puluh tahunan, yg mengenakan kain batik dan kebaya kuning itu segera menuju ke dapur untuk mengambil air minum.</p>



<p>&#8220;Oh, begitu ya, bu? Sebentar ya, bu. Saya akan periksa abah,&#8221; ucap Andre kemudian menggunakan stetoskopnya untuk memeriksa denyut nadi maupun jantungnya Abah Dasri.</p>



<p>Ia juga memeriksa tekanan darah pria berusia lebih dari enam puluh tahun itu.</p>



<p>&#8220;Karena kondisi abah yg sedemikian lemah, maka mau tidak mau abah harus diinfus agar obat dapat masuk ke tubuh,&#8221; kata Andre seraya mengeluarkan sebotol cairan infus.</p>



<p>Sejenak ia melihat ke arah Rahayu yg baru muncul dari dapur seraya membawa kendi dan gelasnya yg juga terbuat dari tanah liat.</p>



<p>&#8220;Silahkan diminum airnya, mas. Eh, maaf, Pak Mantri,&#8221; ucap Rahayu setengah tergagap.</p>



<p>&#8220;Terimakasih, nyai,&#8221; tukas Andre seraya tersenyum ke arah Rahayu.</p>



<p>Gadis itu tampak salah tingkah setelah disenyumi seperti demikian oleh Andre.</p>



<p>&#8220;Neng Ayu ini belum punya calon, Pak Mantri. Pak Mantri juga, kan? Nah, pasti cocok, nih,&#8221; ujar warga yg sebelumnya menyambut Andre yg baru saja masuk ke ruang tengah.</p>



<p>&#8220;Mang Dimin ini bicara apa, sih? Jangan aneh-aneh, deh,&#8221; sergah Rahayu dengan wajah semu memerah.</p>



<p>&#8220;Ehehe, cuma bercanda, neng Ayu. Jadi anggap saja serius, ya,&#8221; tukas Mang Dimin seraya duduk di samping Andre. &#8220;Jadi abah kudu diinfus?&#8221; ucapnya sambil melihat ke Andre.</p>



<p>Andre mengangguk. &#8220;Tubuh abah dalam kondisi lemah. Tidak mungkin memberinya obat dalam bentuk pil atau kapsul,&#8221; katanya.</p>



<p>Rahayu dan Bu Dasri hanya menatap ke arah Andre yg sedang melakukan pekerjaannya yaitu memasangkan jarum infus ke lengannya Abah Dasri.</p>



<p>Saat ini Abah Dasri sudah tidak lagi mengigau. Namun igauannya sebelumnya sempat menimbulkan tanda tanya bagi siapapun yg mendengarnya.</p>



<p>Tanpa terkecuali Andre yg lantas membicarakan hal tersebut dengan Mang Dimin serta warga lain di teras rumah Abah Dasri.</p>



<p>&#8220;Beliau selalu menyebut nama mendiang Pak Mahfud dalam igauannya. Mungkin Pak Mahfud sedang mencoba berkomunikasi dengan kita melalui abah?&#8221; tutur Mang Dimin seraya mengisap rokoknya.</p>



<p>&#8220;Bukannya Pak Mahfud itu yg rumahnya menjadi tempat saya tinggal, mang? Lalu ke mana gerangan keluarga Pak Mahfud? Kenapa rumahnya ditinggalkan begitu saja?&#8221; tanya Andre penasaran.</p>



<p>&#8220;Istrinya Pak Mahfud kembali ke rumah orang tuanya pasca meninggalnya Pak Mahfud. Setelah itu ia tidak pernah kembali kemari,&#8221; tukas Mang Dimin.</p>



<p>&#8220;Mang, ada rumor mengatakan kalau Pak Mahfud tidak benar-benar meninggal. Konon ia masih hidup meski dengan jiwa yg bergentayangan di sekitar kita,&#8221; timpal warga yg lain.</p>



<p>&#8220;Pak Dodon ini ada-ada saja. Itu kan hanya rumor yg belum bisa dibuktikan kebenarannya,&#8221; tukas Mang Dimin.</p>



<p>&#8220;Oh, iya, mang. Saat dalam perjalanan kemari, saya melihat seseorang melintasi jalan yg akan saya lewati kemudian melintasi sungai seperti melintasi jalan. Apa mang Dimin dan para bapak pernah melihat yg seperti itu sebelumnya?&#8221; kata Andre.</p>



<p>&#8220;Sudah sering kalau saya mah, Pak Mantri. Saya berani bertaruh kalau itu adalah Pak Mahfud. Rumor itu bisa jadi benar. Rumor tentang Sang Pejalan Malam bisa jadi bukan hanya sebatas rumor,&#8221; tukas Pak Dodon disambut tatapan penasaran dari yg lain.</p>



<p>&#8220;Saya juga pernah melihatnya sekali saat&nbsp; sedang di perjalanan pulang dari pengajian malam di kampong sebelah,&#8221; timpal Mang Dimin.</p>



<p>&#8220;Apa dia tidak berbahaya?&#8221; tanya Andre.</p>



<p>&#8220;Sepertinya tidak. Sejauh ini ia hanya menampakkan diri. Jangankan mengganggu kita, berpapasan saja tidak. Dia hanya lewat begitu saja,&#8221; tukas Pak Dodon.</p>



<p>&#8220;Lalu soal rumor Sang Pejalan Malam, itu asalnya dari mana? Dan kenapa bisa ada rumor seperti itu?&#8221; tanya Andre penasaran.</p>



<p>Salah seorang warga yg sedari tadi hanya menyimak, melihat ke arah sebelah kirinya tepatnya ke arah kebun pisang yg berada di seberang rumah Abah Dasri.</p>



<p>Ia melihat sesosok gelap di balik rimbunnya pepohonan pisang sedang memperhatikan ke arahnya dan juga yg lain.</p>



<p>&#8220;Pak Dodon, Mang Dimin, ada yg memperhatikan kita,&#8221; katanya disambut tatapan penasaran rekan-rekannya.</p>



<p>&#8220;Maaf, Pak Mantri. Lebih baik kita membicarakan itu nanti saja di siang hari. Sekarang rasanya tidak tepat,&#8221; ujar Mang Dimin.</p>



<p>Singkat cerita, setelah berpamitan kepada keluarga Abah Dasri dan para warga yg sedang di sana, Andre pulang ke rumah yg menjadi tempat menetapnya.</p>



<p>Sesampainya di rumah, Andre tidak langsung tidur. Ia membereskan berbagai perlengkapan bertugasnya termasuk memasukkan obat-obatan ke dalam kotak plastik. Sembari melakukan itu, ia mendengar suara seperti seseorang sedang melangkah terburu-buru menuju rumahnya.</p>



<p>Barangkali itu adalah warga yg hendak berobat.</p>



<p>Andre meninggalkan pekerjaannya kemudian menuju pintu depan di mana suara langkah menuju. Saat membuka pintu, didapatinya seorang nenek-nenek yg membawa sebatang tongkat bambu sedang bersiap hendak mengetuk pintu.</p>



<p>&#8220;Oh, saya tadinya mau mengetuk pintu. Ternyata Pak Mantri membukakan pintunya. Kebetulan sekali, ya,&#8221; ucap nenek itu sambil menatap dingin ke arah Andre.</p>



<p>&#8220;Ada yg bisa saya bantu, nek? Nenek sakit apa? Oh, silahkan masuk, nek,&#8221; kata Andre seraya mempersilahkan nenek itu masuk.</p>



<p>&#8220;Tidak usah. Di sini saja. Nenek datang kemari untuk memberitahu dan menyarankan agar Pak Mantri meninggalkan rumah ini. Sebab, rumah ini seharusnya tidak ditempati lagi,&#8221; kata nenek itu membuat Andre terkejut.</p>



<p>&#8220;Lho, memangnya kenapa, nek? Apa Pak Kades tidak mendapatkan izin dari pemilik rumah untuk menyediakan rumah ini sebagai tempat saya tinggal?&#8221; tanya Andre masih dalam keterkejutannya.</p>



<p>&#8220;Bukan begitu, Pak Mantri. Nenek tidak ingin rumah ini menelan korban lagi. Cukup Pak Mahfud yg mengalaminya. Jangan sampai orang lain mengalaminya juga. Rumah ini berdiri di atas kuburan massal korban</p>



<p>korban pembersihan pada era 60-an. Seharusnya Pak Mahfud tidak membangun rumah di sini kalau sudah tahu soal itu,&#8221; jelas nenek itu.</p>



<p>&#8220;Begitu ya, nek. Baiklah saya akan pindah secepatnya, nek. Mudah-mudahan masih ada rumah yg bisa saya tempati,&#8221; tukas Andre.</p>



<p>&#8220;Ya sudah. Nenek mau pulang kalau begitu. Oh, iya kalau misalkan Pak Mantri mendengar sesuatu yg aneh yg datang dari arah nenek pergi, jangan coba-coba mendatanginya. Bisa jadi itu akan menjadi malapetaka bagi Pak Mantri juga,&#8221; kata nenek tersebut seraya pergi dengan tergesa-gesa</p>



<p>Andre hanya mengerutkan keningnya setelah nenek itu berkata demikian. Ia hanya menatap dengan penasaran ke arah menghilangnya si nenek. Lama ia termangu menatap ke arah kegelapan di mana sosok ringkih itu menghilang.</p>



<p>Andre kemudian kembali ke dalam rumah. Tidak lupa ia mengunci kembali pintu depan.&nbsp; Selanjutnya ia melanjutkan pekerjaannya memasukkan obat-obatan ke dalam kotak-kotak plastik yg nantinya akan ia masukkan ke dalam tas.</p>



<p>Saat ia hendak memasukkan strip terakhir obat ke dalam kotak, tiba-tiba terdengar suara janggal yg cukup nyaring dari arah timur laut.</p>



<p>&#8220;Grrrrrooooaaaaarrrhhhh&#8230;!&#8221;</p>



<p>&#8220;Hhhuuuuu!&#8221;</p>



<p>Suara terakhir sepertinya adalah suara si nenek. Apa yg sebenarnya sedang terjadi terhadap nenek yg beberapa waktu lalu mendatangi Andre?</p>



<p>Awalnya Andre hendak keluar menyusul nenek tersebut. Namun ia urung melakukannya saat teringat kata-kata nenek itu tepat sebelum pergi.</p>



<p>Nenek itu telah berpesan agar Andre tidak coba-coba datang ke tempat di mana suara-suara janggal itu berasal. Meskipun merasa sangat penasaran, Andre menahan diri untuk tidak mendatangi lokasi suara-suara itu.</p>



<p>Keesokan harinya kemudian, Andre baru mendapatkan kabar yg sangat menggemparkan dari beberapa orang warga yg datang ke rumahnya untuk berobat.</p>



<p>&#8220;Nenek Supi ditemukan sdh menjadi mayat yg sukar dikenali, Pak Mantri. Wajahnya habis seperti bekas diterkam harimau.</p>



<p>Tapi anehnya tubuh Nenek Supi berlumuran lumpur yg mana lumpur itu seolah berasal dari sosok yg menerkamnya. Apa harimau suka berkubang, Pak Mantri?&#8221; kata warga itu setelah selesai memeriksakan kesehatannya.</p>



<p>Andre menggedikkan bahunya. &nbsp;&#8220;Mungkin saja, pak,&#8221; tukas Andre.</p>



<p>&#8220;Itu bukan harimau, Pak Atang. Saya melihat jejaknya seperti jejak kaki manusia tapi lebih panjang. Juga jejak kakinya ada dua pasang. Sepasang seperti tapak tangan manusia, sepasang lagi seperti tapak kaki manusia. Artinya makhluk ini berjalan dengan empat kaki, dan kasus ini baru terjadi lagi setelah sekian lama,&#8221; timpal warga lain yg turut datang bersama Pak Atang.</p>



<p>&#8220;Jadi kasus serupa pernah terjadi? Di kampung ini, Pak Danang?&#8221; tanya Andre penasaran.</p>



<p>&#8220;Benar, Pak Mantri. Korbannya dulu adalah seorang perempuan muda yg masih berkerabat dengan Nenek Supi,&#8221; tukas Pak Danang.</p>



<p>&#8220;Apa itu ada hubungannya dengan rumor sang pejalan malam?&#8221; ucap Andre disambut tatapan penuh selidik dari Pak Danang dan Pak Atang.</p>



<p>&#8220;Saya tidak tahu karena selama ini belum menemukan bukti korelasi antara keduanya,&#8221; tukas Pak Danang.</p>



<p>&#8220;Pak Mantri bertanya begitu karena pernah melihat sosok yg suka melintasi jalan itu, ya?&#8221; tanya Pak Atang.</p>



<p>&#8220;Benar, pak. Saya melihatnya semalam saat hendak ke rumah Abah Dasri,&#8221; tukas Andre.</p>



<p>&#8220;Ke rumah Abah Dasri? Jauh sekali, Pak Mantri. Aah, pasti karena Neng Ayu, ya?&#8221; ucap Pak Danang membuat Andre menepuk kening.</p>



<p>&#8220;Tentu saja bukan, pak. Semalam Abah Dasri sakit. Jadi saya diminta tolong untuk mengobati beliau,&#8221; bantah Andre.</p>



<p>&#8220;Oh, kirain,&#8221; ucap Pak Danang.</p>



<p>Saat menjelang siang, Andre berangkat untuk berkeliling dari rumah ke rumah untuk memastikan apakah ada warga yg membutuhkan pengobatan. Ia sempat mampir ke beberapa rumah saat pemiliknya membutuhkan obat.</p>



<p>Di salah satu rumah warga yg di depannya terdapat sebuah pos ronda dengan beberapa orang anak muda sedang bermain gitar dan bernyanyi.</p>



<p>seperti apa liriknya,&#8221; tukas pemuda yg tadinya sedang menyanyi.</p>



<p>&#8220;Tapi kamu merusak lagu orang. Entar kena tuntutan hukum, lho,&#8221; kata pemuda yg dipanggil &#8216;do&#8217; atau nama lengkapnya Asdo.</p>



<p>&#8220;Ya elah, kan nggak dikomersilkan, do. Hidup itu dibawa santai aja. Kalau dibawa serius terus bisa stres,&#8221; kata pemuda rekannya Asdo itu.</p>



<p>&#8220;Do, Ren, lihat tuh. Cakepnya,&#8221; kata pemuda lainnya saat melihat seorang perempuan berjilbab merah dengan pakaiannya berupa gamis yg begitu menutup seluruh tubuhnya.</p>



<p>&#8220;Iya, doi emang cakep. Tapi doi bukan tipe saya. Lagipula doi ketuaan buat saya,&#8221; tukas pemuda bernama Oren itu.</p>



<p>&#8220;Kira-kira umurnya berapa, ya?&#8221; gumam Asdo seraya memperhatikan perempuan yg kini tengah menuju rumah di mana Andre sedang memilah obat untuk warga yg sedang berobat.</p>



<p>&#8220;Dua puluh tiga?&#8221; tukas Oren. &#8220;Menurutmu berapa, din?&#8221; lanjutnya kepada temannya yg bernama Adin.</p>



<p>&#8220;Berapapun, yg jelas dia lebih tua daripada saya,&#8221; tukas Adin yg enggan menebak.</p>



<p>Sementara itu, Andre yg sedang memberikan obat berikut resepnya kepada pemilik rumah, terlihat menyalami perempuan cantik yg baru tiba itu.</p>



<p>&#8220;Eh, Neng Sarnah. Mau ambil gamisnya, ya?&#8221; ucap pemilik rumah yg merupakan seorang laki² berpakaian santai serta berkopiah hitam. &nbsp;Perempuan itu mengangguk seraya tersenyum.</p>



<p>&#8220;Ini Pak Mantri yg kemarin baru tiba, ya? Syukur alhamdulillah akhirnya di kampung kami ada mantri,&#8221; ucap perempuan bernama Sarnah itu seraya menatap ke arah Andre.</p>



<p>&#8220;Iya benar, mbak. Saya sudah mendengar kalau warga di kampung ini susah sekali mendapatkan akses kesehatan. Untuk berobat, warga harus pergi ke kecamatan, dan itu sangat jauh. Padahal akses kesehatan sangatlah penting. Saya sangat menyayangkan di sini tidak ada puskesmas sama sekali,&#8221; tukas Andre sembari menatap ke arah barisan strip obat di dalam kotak yg sedang ia pegang.</p>



<p>Sementara Sarnah menatapnya seperti sedang mencoba menghafal bagaimana rupa laki-laki yg merupakan mantri desa itu.</p>



<p>&#8220;Oh, maaf. Saya lupa memperkenalkan nama saya sendiri. Saya Andre. Mbaknya pasti mbak Sarnah, kan? Saya barusan mencuri dengar dari Pak Kholil,&#8221; ucap Andre seraya menengok ke arah Pak Kholil atau tuan rumah yg baru tiba sambil membawa pakaian yg telah dilipat rapi di dalam kantong plastik putih.</p>



<p>Sarnah tersenyum hingga menampilkan lesung pipit di pipi sebelah kirinya sehingga menambah kesan manisnya.</p>



<p>&#8220;Ini, neng. Harganya sepuluh ribu saja,&#8221; ucap Pak Kholil sambil menyerahkan bawaannya kepada Sarnah.</p>



<p>&#8220;Ini, pak. Terimakasih ya sudah menjahitkan gamis saya,&#8221; ucap Sarnah sambil memberikan selembar uang kertas dengan nominal sepuluh ribu rupiah kepada Pak Kholil.</p>



<p>&#8220;Sama-sama, neng. Terimakasih kembali,&#8221; tukas Pak Kholil.</p>



<p>&#8220;Kalau begitu saya pulang dulu ya, Pak Kholil,&nbsp; Pak Andre. Sampai ketemu lagi khususnya buat Pak</p>



<p>Andre,&#8221; ucap Sarnah seraya menggerlingkan matanya ke arah Andre.</p>



<p>&#8220;Oh, iya. Silahkan, mbak. Hati-hati di jalan,&#8221; tukas Andre.</p>



<p>&#8220;Iya, benar. Hati-hati di jalan. Kalau jatuh, bangun sendiri, ya,&#8221; timpal Pak Kholil.</p>



<p>Saat sore menjelang, Andre telah selesai berkeliling kampung. Ia pun memutuskan untuk pulang.</p>



<p>Namun ada hal yg terlupa begitu saja olehnya, yaitu menemui Pak Kades untuk mengutarakan niatnya pindah dari rumah yg saat ini menjadi tempat menetapnya. Ia baru ingat saat telah berada di dalam rumah dan hari telah gelap ditambah lagi listrik di sana padam.</p>



<p>&#8220;Aduh, mati lampu. Mana senter lupa di charges,&#8221; keluh Andre saat mengecek lampu senter satu-satunya yg kini cahayanya begitu redup. &#8220;Mana nggak bisa menelepon Pak Kades. Sinyalnya hilang,&#8221; lanjutnya seraya duduk di kursi yg berada di ruang tengah.</p>



<p>Sayup-sayup ia mendengar suara seperti pintu berderit. Ia merasa heran padahal semua pintu telah ia tutup dan ia kunci.</p>



<p>Andre pun memeriksa semua pintu dengan bantuan pencahayaan yg seadanya. Saat tiba di pintu dapur, ia melihat seperti ada sesuatu yg sedang mencoba mendorong pintu dari luar yg terlihat dari sela-sela bilik bambu yg agak jarang.</p>



<p>&#8220;Siapa itu di sana?&#8221; ucap Andre memberanikan diri.</p>



<p>Namun ia tidak berani membuka pintu tersebut karena khawatir sesuatu tersebut bisa jadi adalah binatang buas.</p>



<p>&#8220;Hrrrrrr&#8230;..&#8221;</p>



<p>Terdengar suara seperti dengkuran mirip dengkuran babi yg dipastikan adalah babi hutan mengingat di kampung ini tidak ada yg beternak babi. Tentu saja Andre memilih untuk menjauh karena babi hutan bisa saja menyerangnya jika ia membukakan pintu.</p>



<p>Mendadak dari kejauhan terdengar suara kentongan yg dipukul berulang-ulang dengan tempo yg cepat. Sepertinya di sana sedang terjadi kegemparan yg entah disebabkan oleh apa.</p>



<p>Andre sebenarnya sangat ingin keluar untuk pergi menuju asal suara kentongan tersebut. Namun ia menahan keinginannya itu karena tiadanya alat penerangan yg bisa ia gunakan untuk menembus kegelapan malam. </p>



<p>Ia hanya bisa mengintip melalui kaca jendela depan yg kebetulan mengarah ke </p>



<p><a href="https://twitter.com/acep_saep88"><br></a>arah sumber suara. Ia sangat terkejut dan penasaran saat melihat cahaya terang yg bisa dipastikan berasal dari kobaran api. &#8220;Kebakaran?&#8221; gumamnya kemudian segera menyambar tas yg berisi obat-obatan kemudian menggendongnya. </p>



<p>Selanjutnya ia keluar dari rumah kemudian pergi ke </p>



<p>arah lokasi kobaran api setelah mengunci pintu terlebih dahulu. Setengah berlari ia menuju lokasi itu dengan mengandalkan cahaya dari kobaran api yg semakin terlihat jelas.</p>



<p>Sesampainya di sana ia melihat banyak warga yg berkumpul. Sebagian di antaranya sedang berjibaku memadamkan api dari rumah yg sedang mengalami kebakaran.</p>



<p>&#8220;Lho, ini kan rumah Pak Kholil,&#8221; ucap Andre terkejut.</p>



<p>Selanjutnya ia menghampiri para warga dan menanyakan bagaimana kondisi si pemilik rumah.</p>



<p>&#8220;Hilang, Pak Mantri,&#8221; kata salah seorang warga membuat Andre heran.</p>



<p>&#8220;Hilang? Maksud ibu?&#8221; Andre menatap perempuan setengah baya itu.</p>



<p>&#8220;Ia tidak ada di dalam rumah maupun di luar rumah saat terjadi kebakaran. Semua orang telah mencarinya tapi nihil,&#8221; tukas ibu itu.</p>



<p>&#8220;Ke mana gerangan Pak Kholil?&#8221; gumam Andre. &#8220;Padahal tadi siang saya sempat mengobrol dengannya. Ia menyebut-nyebut soal rumah yg saya tempati itu. Ia menyarankan saya untuk pindah tapi saya malah lupa untuk membicarakannya dengan Pak Kades,&#8221; lanjutnya.</p>



<p>&#8220;Apa? Oh, tidak,&#8221; tukas ibu itu seraya pergi dengan tergesa-gesa.</p>



<p>&#8220;Bu? Ibu mau ke mana?&#8221; Andre berusaha mengejar ibu tersebut.</p>



<p>Andre mengurungkan langkahnya saat ibu itu menghilang di balik kegelapan. Ia hanya termangu hingga kemudian seseorang menepuk pundaknya. &#8220;Pak Andre? Apa Pak Kholil sudah ditemukan, pak?&#8221; ucap orang yg baru menepuk pundaknya yg ternyata adalah Sarnah.</p>



<p>Andre menoleh ke arah gadis itu kemudian menatapnya lekat. Saat itu gadis tersebut mengenakan piyama berwarna biru muda serta mengenakan kerudung tali berwarna cokelat.</p>



<p>&#8220;Belum, mbak Sarnah. Pak Kholil belum juga ditemukan. Beliau masih belum diketahui keberadaannya,&#8221; tukas Andre kemudian. &#8220;Mbak Sarnah nggak bisa tidur ya karena kebakaran rumah ini?&#8221; ucapnya.</p>



<p>Sarnah tersenyum kemudian berjalan ke arah&nbsp; pos ronda di mana saat itu ramai oleh warga yg berkumpul.</p>



<p>&#8220;Selamat malam, neng Sarnah. Belum tidur, nih?&#8221; ucap seorang warga yg sedang berada di sana.</p>



<p>&#8220;Iya nih, mang Udin. Sarnah susah sekali tidur. Apalagi rumah Pak Kholil kebakaran. Jadi kepikiran saya nanti mau mengobras gamis bagaimana,&#8221; tukas Sarnah seraya menoleh ke arah Andre yg datang ke arahnya.</p>



<p>&#8220;Saya juga, neng. Apalagi tadi abis angkutin air sampe pegel pundak mamang,&#8221; tukas Mang Udin. &#8220;Pak Mantri, kebetulan di sini. Tadi Pak Udhan menitipkan pesan kalau saya bertemu Pak Mantri, katanya tolong disuruh ke rumahnya. Beliau sedang butuh obat,&#8221; katanya ke Andre.</p>



<p>&#8220;Saya akan segera ke sana, mang. Kebetulan saya membawa obat-obatannya. Tapi apakah saya boleh meminjam senter mamang? Senter saya mati. Juga jarak ke rumah Pak Udhan cukup jauh. Dekat rumah Abah Dasri, kan?&#8221; tukas Andre.</p>



<p>&#8220;Waduh, maaf Pak Mantri. Bukannya tidak mau meminjamkan. Saya habis ini mau ke Desa Kayujati sama Pak Danang. Pastinya harus bawa senter karena jalanannya gelap,&#8221; kata Mang Udin sambil menatap Andre. &#8220;Oh, begitu, mang. </p>



<p>Ya, sudah saya akan membuat obor darurat saja. Saya akan mengumpulkan daun kelapa kering untuk dibuat obor,&#8221; tukas Andre seraya menghampiri sebatang pelepah kelapa yg telah jatuh dari pohonnya. Sementara Sarnah tampak memperhatikan apa yg dilakukan Andre. Ia bersidekap kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat itu.</p>



<p>Mang Udin memperhatikan ke mana arah gadis itu pergi. &#8220;Pak Mantri, saya ada koreknya. Bawa saja. Siapa tahu di jalan dibutuhkan,&#8221; ucapnya saat menghampiri Andre.</p>



<p>Andre menoleh ke arah Mang Udin. &#8220;Terimakasih, mang. Ini akan sangat membantu,&#8221; ucapnya setelah mendapatkan korek gas dari Mang Udin.</p>



<p>Beberapa lama kemudian Andre telah berada di jalur sebelumnya saat ia hendak ke rumah Abah Dasri. Ia kembali melewati jalur pinggir sungai itu.</p>



<p>Cahaya dari obor daun kelapa kering yg dibawanya menerangi tempat tersebut. Suara gemerisik air sungai diiringi suara nyanyian binatang malam terdengar syahdu di malam itu.</p>



<p>Saat mencapai salah satu sudut jalan di mana terdapat semak-semak serta rerumputan tinggi, ia mendengar suara rintihan di baliknya.</p>



<p>&#8220;Pak Mantri, tolong saya. Saya tersiksa sekarang.&#8221;</p>



<p>Andre terperanjat saat rintihan dari seseorang yg adalah laki-laki memanggil dirinya.</p>



<p>&#8220;Siapa di sana?&#8221; Andre mendekat ke arah semak-semak itu dengan obornya yg menerangi area tersebut.</p>



<p>Andre terkejut saat melihat siapa yg tengah telentang di atas tanah di antara rerumputan dengan sebelah tangannya bertumpu menahan badannya.</p>



<p>&#8220;Pak Kholil? Kenapa bapak bisa ada di sini? Apa yg telah terjadi, pak?&#8221; Andre lantas mencoba membantu Pak Kholil bangun.</p>



<p>Namun pria itu menolak.</p>



<p>&#8220;Biarkan saya di sini, Pak Mantri. Jangan mendekat! Dia di sini. Dia akan memakan saya!&#8221; kata Pak Kholil dengan kedua matanya yg menyiratkan ketakutan.</p>



<p>&#8220;Dia siapa, Pak Kholil? Memakan anda?&#8221; Andre terperangah mendengar kata-kata Pak Kholil tersebut.</p>



<p>Mendadak dari arah belakang Pak Kholil muncul sesosok makhluk asing seperti seorang perempuan berambut panjang serta telanjang dengan sekujur tubuhnya berlumuran lumpur. Makhluk tersebut seukuran dengan manusia dan berjalan dengan empat kaki yg merupakan gabungan dari sepasang kaki dan sepasang tangan.</p>



<p>Wajah makhluk tersebut sangat mengerikan. Ia menyeringai ke arah Andre sembari kedua tangan atau kaki depannya bersiap mencengkeram bahu Pak Kholil.</p>



<p>&#8220;Pak Kholil? Lari, pak! Lari!&#8221; pekik Andre dengan panik dengan nafasnya yg memburu naik-turun.</p>



<p>Pak Kholil menggeleng. Dengan wajah diliputi ketegangan bercampur pasrah, ia menatap ke arah Andre.</p>



<p>&#8220;Katakan pada para warga, saya meminta maaf&#8230;.&#8221;</p>



<p>Setelah berkata demikian, tubuh Pak Kholil disambar oleh makhluk tersebut kemudian dibawa lari ke dalam kegelapan di belakangnya.</p>



<p>&#8220;Pak Kholiiiiiil&#8230;&#8230;.!&#8221; Andre berteriak panjang saat melihat kejadian yg terjadi di depan matanya tersebut.</p>



<p>Andre kemudian pontang-panting berlari ke arah kampung yg sebentar lagi ia capai. Ia pun akhirnya tiba di rumah pertama di kampung itu yaitu rumahnya Abah Dasri. &#8220;Assalamualaikum. Abah Dasri, Bu Dasri, ada di rumahkah?&#8221; ucap Andre dengan panik. </p>



<p>&#8220;Wa&#8217;alaikumsalaam. Sebentar, ada kok,&#8221; sahut seseorang dari dalam yg rupanya adalah Bu Dasri. Wanita itu terlihat keluar dari dalam rumah dengan tergopoh menyambut Andre. &#8220;Lho, Pak Mantri? Ibu sama Abah tidak memanggil Pak Mantri, lho,&#8221; kata Bu Dasri seraya menatap heran ke arah Andre.</p>



<p>&#8220;Saya sebetulnya </p>



<p>hanya butuh ketemu Mang Dimin. Kalau Abah kan masih sakit. Ada yg harus saya kabarkan ke Mang Dimin juga ke warga sini,&#8221; tukas Andre seraya terengah-engah.</p>



<p>Bu Dasri mengerutkan keningnya sembari menatap ke arah Andre dengan heran.</p>



<p>&#8220;Pak Mantri sebaiknya duduk dulu. Mang Dimin</p>



<p>sedang ke Desa Kayujati, Pak Mantri. Ada perlu katanya. Memangnya kabar soal apa, Pak Mantri?&#8221; kata Bu Dasri penasaran.</p>



<p>&#8220;Ini soal Pak Kholil, bu,&#8221; tukas Andre kemudian menceritakan kejadian yg baru saja dialaminya.</p>



<p>Bu Dasri terlihat mengerutkan keningnya setelah mendengar penjelasan Andre.</p>



<p>&#8220;Demit Rawa yg melakukannya, Pak Mantri. Makhluk itu hanya menargetkan seseorang yg meminta orang yg tinggal di rumah tersebut untuk pindah.</p>



<p>Demit Rawa merasa orang itu akan membuat calon Sang Pejalan Malam akan gagal menjadi entitas tersebut,&#8221; tutur Bu Dasri membuat Andre terkejut.</p>



<p>&#8220;Apa? Demit Rawa?&#8221; Andre terperangah mendengar penjelasan Bu Dasri.</p>



<p>&#8220;Benar, Pak Mantri. Nama makhluk itu adalah Demit Rawa. Konon ia adalah tangan kanan Sangkasena, demit yg suka mencari korban untuk dijadikannya Pejalan Malam,&#8221; tutur Bu Dasri.</p>



<p>&#8220;Bu, ibu, suruh nak mantri masuk. Jangan dibiarkan di luar begitu. Bisa masuk angin, lho,&#8221; seru Abah Dasri dari dalam rumah.</p>



<p>&#8220;Iya, Pak Mantri sebaiknya masuk. Di luar udara sangat dingin. Apalagi sekarang ini lagi musim penyakit menular,&#8221; kata Bu Dasri mempersilahkan Andre untuk masuk ke dalam rumah.</p>



<p>&#8220;Tidak usah, Abah, ibu. Saya juga harus ke rumah Pak Udhan. Beliau ingin berobat,&#8221; tukas Andre seraya melihat ke arah Rahayu yg muncul dari balik pintu depan yg mengarah ke teras sambil membawa gelas berisi air minum.</p>



<p>&#8220;Pak Mantri minum dulu, ya. Ke rumah Pak Udhan-nya nanti saja setelah minum,&#8221; ujar Rahayu seraya menaruh gelas berisi air minum tersebut.</p>



<p>&#8220;Pak Udhan katanya sudah ke dukun, Pak Mantri. Biasalah di kampung sini mah rata-rata warga yg sakit berobatnya ke dukun. Mau ke puskesmas kan jauh. Sekarang saja meski sudah ada Pak Mantri, masih saja ada yg berobat ke dukun,&#8221; tutur Bu Dasri.</p>



<p>&#8220;Tidak apa, bu. Saya akan tetap ke sana dan kalau memang dibutuhkan, saya akan mencoba mengobati beliau,&#8221; tukas Andre sambil melirik ke arah Rahayu yg duduk di sampingnya. &#8220;Oh, iya, bu. Soal Demit Rawa itu, apakah makhluk itu datang dari rawa-rawa atau bagaimana?&#8221; ucapnya masih penasaran.</p>



<p>&#8220;Ada rawa-rawa di sebelah selatan desa ini, nak mantri. Namanya adalah Rawa Gaib. Tempat itu menjadi rawa-rawa karena menjadi tempat pertemuan dua sungai. Karena datarannya rendah maka air dari kedua sungai itu menggenanginya hingga membuatnya menjadi rawa-rawa yg cukup luas.</p>



<p>Ada sepuluh hektaran, nak mantri.&#8221; Itu adalah Abah Dasri yg menjelaskan dari dalam rumah.</p>



<p>&#8220;Kenapa bisa disebut Rawa Gaib, abah?&#8221; tanya Andre.</p>



<p>&#8220;Konon Rawa Gaib memiliki semacam portal gaib yg bisa mengantarkan kita ke alam gaib. Itu menurut mitos, ya. Abah nggak tahu benar tidaknya. Soal makhluk itu, benar itu adalah anak buahnya Sangkasena. Ia hidup di Rawa Gaib, di kedalaman lumpur rawa tersebut. Tugasnya adalah untuk memastikan siapapun yg tinggal di rumah yg berdiri di atas tanah kuburan massal itu tidak pindah dari sana. Sosok Demit Rawa ini juga sering melakukan penyerangan terhadap orang-orang yg dianggapnya bisa mengganggu ambisi Sangkasena, yaitu menjadikan banyak orang menjadi Pejalan Malam,&#8221; papar Abah Dasri.</p>



<p>&#8220;Jadi kasus Nenek Supi dan Pak Kholil adalah karena hal itu? Mereka berdua yg mengingatkan saya agar segera pindah dari rumah itu. Kalau saya tidak segera pindah, saya bisa menjadi Pejalan Malam berikutnya,&#8221; kata Andre dengan pikiran menerawang.</p>



<p>&#8220;Ini adalah kesalahan dari awal kenapa Pak Kades malah menempatkan Pak Mantri di rumah itu. Tidak heran, sih. Pak Kades itu tidak terlalu mempercayai hal-hal di luar nalar. Ia lebih percaya dengan rasionalisme. Ia tidak mempercayai hal-hal bersifat takhayul,&#8221; kata Abah Dasri.</p>



<p>&#8220;Semua sudah terjadi, abah. Apapun yg akan terjadi, saya akan menghadapinya. Tentu saja saya juga akan mencari solusi dari masalah ini. Tidak ada masalah yg kekal, bukan?&#8221; tukas Andre kemudian.</p>



<p>Setelah agak lama berbincang di rumah Abah Dasri, Andre pun pamit untuk pergi ke rumah Pak Udhan.</p>



<p>Sesampainya di rumah Pak Udhan, Andre memeriksa kesehatan Pak Udhan maupun keluarganya yg katanya juga sedang sakit</p>



<p>&#8220;Kami sekeluarga mengalami sakit yg tidak biasa. Ada demam, flu, sakit kepala, dan kadang batuk sampai muntah-muntah,&#8221; ujar Pak Udhan.</p>



<p>&#8220;Apa ada keluhan lain seperti mata berkunang-kunang atau misalnya hilangnya penciuman?&#8221; tanya Andre disambut gelengan kepala Pak Udhan.</p>



<p>Andre memberikan obat beserta resepnya kepada Pak Udhan dan keluarga. Setelah itu ia merasa sudah waktunya pulang.</p>



<p>&#8220;Pak Mantri sebaiknya menginap saja. Sudah jam 12 lewat. Bahaya pergi malam-malam sendirian. Demit Rawa bisa saja menemukan Pak Mantri,&#8221; kata Pak Udhan.</p>



<p>&#8220;Saya sudah bertemu dengannya, pak. Ia membawa Pak Kholil entah ke mana,&#8221; ucap Andre disambut tatapan penasaran Pak Udhan.</p>



<p>&#8220;Lagi-lagi kerabatnya Nyai Aspi. Kenapa selalu mereka yg menjadi korban, ya?&#8221; gumam Pak Udhan.</p>



<p>&#8220;Kerabatnya Nenek Supi, pak?&#8221; tanya Andre.</p>



<p>&#8220;Benar, Nyai Aspi adalah kerabatnya Nenek Supi juga kerabatnya Pak Kholil.&nbsp; Mereka bertiga adalah yg paling getol meminta orang yg tinggal di atas tanah itu agar pindah. Alasan mitos yg membuat mereka getol seperti itu,&#8221; kata Pak Udhan. &#8220;Kalau saya sih tidak percaya kalau orang yg tinggal di rumah yg didirikan di atas tanah itu akan menjadi entitas yg disebut sebagai Pejalan Malam,&#8221; lanjutnya.</p>



<p>&#8220;Kalau Pak Mahfud?&#8221; tanya Andre seraya melihat ke luar ke arah rumah Abah Dasri yg kedatangan beberapa orang warga.</p>



<p>&#8220;Oh, Mang Dimin dan Pak Dodon baru pulang rupanya. Hmm, Pak Mahfud, ya.&nbsp;&nbsp; Sosok itu kan belum tentu dia. Lagipula meski sering menampakkan diri, tidak ada seorang pun yg bisa melihat wajahnya,&#8221; tukas Pak Udhan. &#8220;Selain itu, tidak ada bukti kl sosok itu sebelumnya adalah orang yg tinggal di rumah di tanah terpencil itu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Mungkin saja bapak benar. Semoga saja rumah itu aman-aman saja untuk ditempati. Kalau begitu saya mau pamit, pak. Saya akan ke Mang Dimin dahulu sebelum pulang,&#8221; kata Andre kemudian.</p>



<p>&#8220;Silahkan, Pak Mantri. Hati-hati di jalan,&#8221; tukas Pak Udhan.</p>



<p>Andre kemudian keluar dari rumah Pak Udhan untuk selanjutnya menuju rumah Abah Dasri di mana Mang Dimin dan Pak Dodon sedang terlibat perbincangan dengan Bu Dasri di teras dan Abah Dasri yg sedang berada di dalam rumah.</p>



<p>&#8220;Pak Mantri? Sudah selesai dengan Pak Udhan?&#8221; ujar Bu Dasri disambut anggukan Andre.</p>



<p>&#8220;Ini sudah gawat, Pak Mantri. Kalau Pak Mantri sudah melihat kejadian orang yg dibawa Demit Rawa, itu akan menjadi pertanda buruk. Pak Mantri tidak boleh tinggal sendiri di rumah itu,&#8221; kata Mang Dimin seraya menatap dengan mimik serius ke arah</p>



<p>Singkat cerita, Mang Dimin memutuskan untuk tinggal bersama Andre di rumah yg dianggap angker itu. Di mana rumah itu baru dua hari ditempati Andre.</p>



<p>Malam itu juga Mang Dimin telah berada di rumah itu bersama Andre. Sementara Andre merasa begitu penasaran dengan kekhawatiran Mang Dimin.</p>



<p>Ia pun lantas menanyakan hal itu kepada laki-laki tersebut.</p>



<p>&#8220;Mang Dimin sepertinya merasa khawatir sekali akan terjadi apa-apa terhadap saya. Sebenarnya apakah hal itu benar-benar akan terjadi, mang?&#8221; tanya Andre saat mereka berdua sedang di ruang tengah.</p>



<p>&#8220;Kemungkinannya cukup besar, Pak Mantri. Pak Mantri sendiri sudah melihat sendiri kan makhluk itu? Nah, karena itulah kemungkinannya cukup besar. Pak Mahfud juga mengalami hal yg pernah dialami oleh Pak Mantri. Ia pernah mengatakan kepada Abah Dasri bahwa ia melihat Nyai Aspi diseret makhluk itu ke dalam kegelapan,&#8221; kata Mang Dimin menjelaskan.</p>



<p>Andre tercenung.</p>



<p>&#8220;Mungkin kesalahannya adalah kenapa Pak Mahfud tidak menolong Nyai Aspi. Dan saya mengulangi kesalahan yg sama. Seharusnya saya bisa menolong Pak Kholil apapun yg terjadi,&#8221; ucapnya disambut gelengan kepala Mang Dimin.</p>



<p>&#8220;Tidak sesederhana itu, Pak Mantri. Meskipun Pak Mantri berusaha keras menolong Pak Kholil, tetap tidak akan bisa mencegah makhluk itu untuk membawanya. Kita tidak tahu sekuat apa makhluk itu. Yang jelas manusia tidak akan bisa melawannya,&#8221;</p>



<p>jelas Mang Dimin. &#8220;Dan lagi, Pak Mahfud sebenarnya sudah berusaha menolong Nyai Aspi. Tapi yg terjadi adalah ia gagal sehingga perempuan itu berhasil dibawa makhluk itu,&#8221; lanjutnya.</p>



<p>&#8220;Begitu ya, mang. Ternyata rumit juga. Ya, sudah, mang. Sebaiknya kita tidur. Apalagi besok saya harus ke alun-alun desa. Ada festival kuliner. Pastinya akan ada banyak makanan, mang,&#8221; kata Andre seraya memasuki kamarnya.</p>



<p>&#8220;Iya, banyak makanan tapi nggak gratis, Pak Mantri,&#8221; tukas Mang Dimin.</p>



<p>Singkat cerita. Malam tersebut berhasil dilewati tanpa kejadian aneh yg diperkirakan akan muncul.</p>



<p>Tibalah pagi hari, di mana Andre telah berada di alun-alun desa, di mana di sana telah berkumpul banyak orang. Sebagian di antara mereka sedang melakukan olahraga. Sebagian lagi sedang menyaksikan para pedagang yg sedang menggelar dagangannya.</p>



<p>Andre kemudian duduk di salah satu bangku alun-alun. Sembari duduk, ia memperhatikan orang-orang yg lewat.</p>



<p>&#8220;Pak Andre, sendirian saja, nih?&#8221; tegur seseorang dari belakang, membuat Andre menoleh.</p>



<p>&#8220;Seperti yg terlihat, mbak Sarnah. Apa kabar, mbak Sarnah?&#8221; ucap Andre seraya bersalaman dengan gadis cantik yg berpakaian modis itu.</p>



<p>&#8220;Kabar baik, Pak Andre. Sayangnya keuangan lagi kurang baik. Kalau Pak Andre sih pastinya keuangannya moncer terus,&#8221; tukas Sarnah seraya duduk di samping Andre.</p>



<p>Wangi parfum gadis itu tercium semerbak saat duduk di samping Andre. Apalagi duduknya agak menempel dengan Andre sehingga membuat laki-laki itu merasa risih.</p>



<p>&#8220;Festival kulinernya masih beberapa jam lagi, Pak Andre. Padahal Pak Andre sudah lapar, ya?&#8221; ujar Sarnah disambut kekehan Andre.</p>



<p>&#8220;Benar, mbak. Padahal saya sudah berkeliling mencari pedagang nasi uduk. Ternyata belum ada yg buka,&#8221; tukas Andre seraya melihat ke arah seorang gadis yg sedang memperhatikannya seolah tidak berkedip. &#8220;Umm, saya akan menemui dia dulu, mbak. Nggak apa-apa saya tinggal?&#8221; ucapnya kemudian.</p>



<p>&#8220;Kita bareng saja, Pak Andre. Memangnya Rahayu pacarnya Pak Andre?&#8221; tukas Sarnah seraya turut berdiri ketika Andre berdiri.</p>



<p>&#8220;Ya sudah, ayo,&#8221; ucap Andre seraya berjalan menuju Rahayu yg sedang bersama temannya.</p>



<p>&#8220;Pak Mantri ke sini juga?&#8221; ucap Rahayu seraya menatap ke arah Andre kemudian melihat ke arah Sarnah. &#8220;Mbak Sarnah sama Pak Andre pacaran, ya?&#8221; lanjutnya membuat Andre menggaruk kepala.</p>



<p>Sementara Sarnah berpura-pura mengiyakan.</p>



<p>&#8220;Umm, sepertinya begitu,&#8221; katanya.</p>



<p>Rahayu terlihat sedikit terkejut dengan jawaban gadis itu.</p>



<p>&#8220;Kami tidak pacaran, kok. Lagipula kan butuh waktu untuk saling mengenal. Kami saling kenal saja baru beberapa hari,&#8221; tukas Andre seraya menatap ke arah Rahayu.</p>



<p>&#8220;Oh, begitu, ya. Saya pikir kalian berdua pacaran.</p>



<p>Soalnya saya sempat melihat kalian duduk begitu dekat,&#8221; kata Rahayu membuat Andre dan Sarnah saling pandang sambil tersenyum.</p>



<p>Waktu beranjak dari pagi ke siang. Dari siang ke sore hari. Tidak terasa hari pun telah berganti malam.</p>



<p>Setelah selesai menyaksikan festival seharian tersebut, Andre pun pulang. Dengan menggunakan senter dari hapenya, ia menyoroti bagian jalan yg tidak terkena cahaya lampu jalan.</p>



<p>Sesampainya di rumah, Andre terkejut melihat seisi rumah dalam kondisi berantakan. Mang Dimin juga tidak ada di sana.</p>



<p>Yang lebih membuat ia kaget dan khawatir adalah adanya jejak berlumpur yg sebagiannya bahkan menempel di dinding.</p>



<p>&#8220;Mang Dimin? Mang Dimin?&#8221; Andre memanggil-manggil Mang Dimin namun tidak ada jawaban. &#8220;Celaka! Pasti Demit Rawa telah membawa Mang Dimin!&#8221;</p>



<p>Andre kemudian menelusuri jejak berlumpur yg dipastikan adalah milik Demit Rawa. Ia terus mengikuti jejak tersebut hingga semakin jauh dari rumahnya.</p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horror-twitter-sang-pejalan-malam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part8 &#8211; Pagelaran Tengah Wengi</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7-2/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2026 12:38:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[cerita horor gending alas mayit]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Penari]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4105</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Horor Twitter &#8211; Ini adalah part 8 dari serial cerita horor Gending Alas Mayit. Bagi yang belum membaaca part ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part8 &#8211; Pagelaran Tengah Wengi" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7-2/#more-4105" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part8 &#8211; Pagelaran Tengah Wengi">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="block-9777a0b5-9244-4156-bb68-270e56b25400"><strong><br><br>Cerita Horor Twitter &#8211;</strong> Ini adalah part 8 dari serial cerita horor <strong>Gending Alas Mayit.</strong> Bagi yang belum membaaca part 7, baca dulu ya part 7-nya &gt;&gt;&gt;</p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 7</a></strong></p>



<p id="block-da03e9d9-9d5b-4753-bbfc-197f312b33c0"><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part6/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Gending Alas Mayit Part 6</strong></a></p>



<p id="block-08338b93-a623-4ce5-8c1d-0ac5ff378d1a"><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part5/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 5</a></strong></p>



<p id="block-fc8405f1-dd64-47d5-a469-1e3aa7b0a649"><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/">Gending Alas Mayit Part 4</a></strong></p>



<p id="block-e57357c3-b276-42cf-97ac-e9ab1407fc49"><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part3-ikatan-masa-lalu/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 3</a></strong></p>



<p id="block-b392e72b-8244-483c-802e-d0cfe0645070"><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part </strong>2</a></p>



<p id="block-d34576b8-d198-448c-a648-24341756e4e7"><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 1</a></strong></p>



<p id="block-05feceb7-7b79-4396-9c44-29def1048e2e"><strong>Cerita Horor Twitter</strong></p>



<p id="block-1062b7c1-e1aa-44e3-86cb-468b44de879c"><strong>Judul</strong> : Gending Alas Mayit &#8211; Tataran Pungkasan (Pertunjukan Akhir)</p>



<p id="block-c5dd6f07-12da-460f-ae83-3394d1b5c2b1"><strong>Penulis </strong>: @Diosetta</p>



<p>Semua kenangan indah tentang Laksmi teringat dengan jelas di pikiranku ketika melihat senyumnya lagi.</p>



<p>Perlahan Laksmi berjalan di depanku , air dari sendang banyu ireng mulai menutupi hingga ke pinggangku. Namun sampai di tengah sendang, aku melepaskan tangan Laksmi.</p>



<p>Sebuah Gong tua dengan akar pohon beringin yang membatu berada di hadapanku. Sebelum Laksmi sempat menoleh aku membacakan ajian penguat raga dan memukul sekeras-kerasnya ke arah batu itu hingga hancur berkeping-keping.</p>



<p>Melihat reaksiku semua tercengang, Setan itu membalikan badanya.. wajahnya terlihat sangat kesal.</p>



<p>“ Kamu menipuku!!” Ucap setan yang bersemayam dalam tubuh Laksmi.</p>



<p>Aku mengambil bongkahan besar waturingin yang tercerai berai ,</p>



<p>bersamaan dengan itu terlihat gong tua yang sebelumnya berada di atas batu ini.</p>



<p>Sebuah tulisan terukir di benda tua itu…</p>



<p>&#8220;Ing sangisore wit ringin iki manggon layone sang prabu&#8221;</p>



<p>(Dibawah pohon beringin ini bersemayam jasad sang raja)</p>



<p>-Ki Rusman Basukarna</p>



<p>“Cahyo… Ki Rusman Basukarna! Jangan-jangan… Mbah rusman yang membuat gong ini? “ Teriaku dari tengah sendang.</p>



<p>Belum sempat mendengar jawaban Cahyo , Setan Laksmi memerintahkan anak buahnya untuk menyerangku .</p>



<p>Namun semua setan itu terbakar oleh Ayat suci yang dibacakan Pak Sardi yang mencoba mendekat ke arahku.</p>



<p>“ Benar Mas Danan… jika nama itu terukir di sana, berarti itu penginggalan beliau saat mengalahkan kutukan gending alas mayit dulu “ Ucap Pak Sardi.</p>



<p>Waturingin sudah ditanganku , namun apakah akan bekerja jika aku memukulkanya tanpa menggunakan kayu sebagai peganganya. Tapi sepertinya tidak ada pilihan lain selain mencobanya…</p>



<p>Aku mengangkat tanganku tinggi-tinggi dan bersiap memukulkanya ke gong itu.</p>



<p>Laksmi mendekat kali ini wajah mengerikanya telah menghilang</p>



<p>“ Mas Danan.. Jangan, Aku ga mau berpisah lagi” Sekali lagi pesona Laksmi mencoba mengganggu keteguhan hatiku,</p>



<p>Namun aku tetap menjatuhkan tanganku dan memukulkan sekeras mungkin gong tua yang sudah membatu di tengah sendang.</p>



<p>Suara mendengung terdengar ke seluruh hutan , sebuah distorsi besar terjadi antara alas mayit dan dimensi alam ghaib.</p>



<p>“Dengerin setan laknat! Walaupun kamu bawa puluhan wanita sepertimu ke sini, Semua itu tidak akan bisa membeli kesetiaanku pada Sang Gusti Maha Pencipta! “ Aku memperingatkan setan yang bersemayam dalam tubuh Laksmi.</p>



<p>Sekali lagi tanganku menggenggam waturingin dan memukulkanya sekeras mungkin , kali ini aku melakukanya dengan mantra penguat raga agar suaranya bisa menggema hingga ke desa.</p>



<p>Suara gamelan terhenti , suara mendengung itu menyiksa setan-setan pengikut roh penari itu.</p>



<p>Tak sanggup menahan siksaanya , Setan itu keluar dari tubuh Laksmi . Makhluk-makhluk itu tak mampu menahan kekuatan besar yang muncul dari suara ini hingga mereka memilih untuk mundur ke ruang distorsi dan kembali ke alam ghaib.</p>



<p>Sebelum meninggalkan Alas mayit , demit dari tubuh Laksmi melepaskan kekuatan hitam dan mengirimkanya kepada Iblis Andaka yang sedang bertarung dengan Eyang Widarpa.</p>



<p>&nbsp;“ Andaka! Kuberikan kekuatan patih Gardapati padamu.. habisi mereka dan bangkitkan aku lagi! “ Perintah makhluk itu sebelum meninggalkan Alas mayit.</p>



<p>Suara Gong mendengung sangat lama , warga terlepas dari&nbsp; kutukan dan segera meninggalkan alas mayit dengan bantuan sekar.</p>



<p>Setan-setan alas mayitpun tidak lagi mengikuti perintah Andaka, mereka meninggalkan sendang banyu ireng dan menjauh dari medan pertempuran ini.</p>



<p>“ Sudah, Hentikan perbuatanmu Andaka!” Ucap Cahyo yang mencoba membantu Eyang Widarpa.</p>



<p>Setan itu masih diselimuti kekuatan hitam , Eyang Widarpapun belum berani menyentuhnya.</p>



<p>“ Jangan sombong! Kekuatanku ini cukup untuk menghabisi kalian semua!” Ucap Andaka.</p>



<p>Cahyo tidak sabar,&nbsp; ia memukulkan lenganya yang telah diperkuat dengan roh wanasura dan memukulkanya ke Andaka .</p>



<p>Hanya dengan satu tanganya Andaka menahan serangan Cahyo yang seharusnya dapat menghancurkan batu yang besar dengan sekali serang.</p>



<p>Sebuah tendangan diarahkan kepada Cahyo , ia mencoba menahanya, namun terpental hingga tersungkur di tanah.</p>



<p>“ Gila… kekuatan macam apa itu?” Ucap Cahyo dengan gelisah.</p>



<p>“ Itu adalah kekuatan Andaka dan Gardapati , kedua patih kerajaan yang terkena tipu muslihat setan itu” Ucap Eyang Widarpa.</p>



<p>Merasa bahaya yang lebih besar, aku mendekat dan mencoba membantu Eyang Widarpa.</p>



<p>“ Eyang.. apa kita harus menyatukan kekuatan lagi seperti saat melawan Brakaraswana?” Ucapku pada eyang.</p>



<p>Namun sebuah tendangan dari Eyang Widarpa menyapu tubuh Cahyo dan membuatnya terpental lagi.</p>



<p>“ Itu bayaran karna sudah menyebutku demit tua gila… Kalian tidak usah ikut campur “ Eyang Widarpa memaksa.</p>



<p>Cahyo menggaruk-garuk kepalanya dan mencoba berdiri menghampirinya lagi.</p>



<p>&nbsp;“ nyimpen dendam itu ga baik lho mbah…&nbsp; “Ucapnya</p>



<p>Aku mengerti dengan maksud Eyang Widarpa, dan mencoba menahan Cahyo.</p>



<p>“ Eyang… paling ngga ,gunakan ini”</p>



<p>Sebuah Keris Ragasukma peninggalan leluhurku kulemparkan pada Eyang Widarpa.</p>



<p>Tanpa berbicara sepatah katapun Eyang Widarpa menangkap keris itu dan memulai pertarungan.</p>



<p>Sebuah tusukan dihujamkan ke tubuh Andaka, namun dihindari dengan mudah.</p>



<p>Eyang melompat mundur dan mengerjang kembali dengan lincah.</p>



<p>Terlihat sebisa mungkin Eyang Widarpa menghindari pukulan dari Andaka yang mungkin mampu memeberikan serangan yang fatal.</p>



<p>“Hentikan Widarpa… tak ada satu seranganmu yang akan melukaiku “ Ucap Andaka dengan sombong.</p>



<p>&nbsp;“ Kalau tidak akan melukaimu , tidak mungkin kamu menghindari serangan ini kan?” Eyang Widarpa menerjang sekali lagi dan kali ini tusukanya tepat di jantung Andaka.</p>



<p>Berhasil.. akhirnya keris ragasukma menembus tubuh Andaka. Namun Andaka terlihat tidak bergeming,</p>



<p>saat keris dicabut lukanya kembali menutup.</p>



<p>“ Aku sudah bilang… semua seranganmu tidak ada gunanya!” Setan itu berkata dengan sombong di hadapan kami.</p>



<p>Eyang Widarpa terlihat gentar, semua seranganya benar-benar tidak ada artinya.</p>



<p>Tanpa melewatkan kesempatan Andaka memberikan serangan bertubi-tubi pada Eyang Widarpa . Cakaran hingga pukulan tanpa henti membuat Eyang Widarpa tak berdaya.</p>



<p>Aku bersiap menolongnya , namun Eyang Widarpa tetap menahanku</p>



<p>“ Mundur! “ Eyang Widarpa tetap bersikeras menahan kami.</p>



<p>&nbsp;“ Tapi.. Eyang” aku&nbsp; mencoba melawan.</p>



<p>“ Aku iki demit , wis ora nduwe rogo “ (Aku ini demit.. sudah tidak punya raga)</p>



<p>Ucapnya pada kami.</p>



<p>“ Nanging kowe… ojo nganti mati neng kene“ (tapi kalian , jangasn sampai mati disini)</p>



<p>Benar kata eyang, dengan sedikit serangan dari Andaka saja kami bisa langsung kehilangan nyawa. Tapi aku juga tidak bisa jadi penonton saja.</p>



<p>Aku mengingat mantra penyembuh yang diajarkan pak lek dan membacakanya untuk memulihkan kondisi Eyang Widarpa.</p>



<p>Tampaknya Cahyo juga mengerti, iya melakukan hal yang sama .. semoga saja ini dapat membantu.</p>



<p>Mendadak , muncul api putih dari tubuh Andaka .. terlihat terjadi pemisahan kekuatan dari tubuhnya.</p>



<p>Itu perbuatan Pak Sardi,</p>



<p>ia juga mencoba membantu Eyang Widarpa dengan mengirimpan api geni baraloka ke tubuh Andaka.</p>



<p>Melihat hal itu , Eyang Widarpa menyadari sesuatu..</p>



<p>“Bocah asu… apa benar jasad raja dikuburkan disana?”&nbsp; Eyang Widarpa bertanya sambil menolehkan wajahnya ke arang waturingin.</p>



<p>“ I.. itu yang tertulis di gong itu eyang..” Jawabku .</p>



<p>Sekali lagi hantaman keras diarahkan kepada eyang, namun iya menghindar dan melompat sejauh mungkin. Nampaknya mantra penyembuh dari pak lek bekerja juga pada Eyang Widarpa.</p>



<p>Secepat mungkin eyang melompat menghampiri ke tengah sendang dan berdiri diatas waturingin yang telah terpecah.</p>



<p>Segera keris ragasukma ditusukan ke tengah –tengah batu itu , eyang berlutut layaknya seorang patih yang memohon kepada rajanya.</p>



<p>&nbsp;“Kulo nyuwun idin kanggo nyilih kekuwatan Sang Prabu ” (saya meminta ijin meminjam kekuatan Sang Raja)</p>



<p>Seolah menyambut perbuatan Eyang Widarpa&nbsp; , tanah mulai bergetar.. air disendang banyu ireng surut masuk ke dalam tanah..</p>



<p>terlihat akar pohon beringin yang lebih besar di bawah kaki Eyang Widarpa.</p>



<p>Sebuah kekuatan merasuki keris ragasukma yang ditancapkan oleh Eyang Widarpa.</p>



<p>Merasa akan adanya bahaya, Andaka mengejar Eyang Widarpa dan menyerangnya.</p>



<p>Namun Cahyo cukup cepat untuk memukulnya sekuat tenaga. Walapun tidak bisa melukai Andaka ,setidaknya Cahyo bisa memberi waktu.</p>



<p>“ Gunakan Api Baraloka sekali lagi sebesar yang kalian bisa! ” Perintah Eyang Widarpa.</p>



<p>Aku dan Pak Sardi membacakan mantra pembakar menggunakan api Geni Baraloka yang sudah membesar. Sekali lagi tubuh aswangga terlihat menolak kekuatan kedua demit patih dari tubuhnya.</p>



<p>Eyang Widarpa menarik keris ragasukma yang telah diselimuti kekuatan dan menghujamkan ke jantung setan itu.</p>



<p>Keris itu benar-benar menusuk dalam ke jantungnya,</p>



<p>kekuatan dari dalam keris melemahkan kekuatan kedua setan patih kerajaan itu dan kekuatan geni baraloka berhasil melepaskan tubuh aswangga dari roh Andaka .</p>



<p>Tak melewatkan kesempatan ,</p>



<p>Eyang widarpa menarik roh iblis itu&nbsp; mencabik-cabiknya dan menghabisinya dengan keris ragasuka yang tergenggam ditanganya.</p>



<p>Suarang mengerang terdengar di seluruh alas mayit, seolah menAndakan kekalahan setan itu dari pertempuran ini.</p>



<p>…</p>



<p>…</p>



<p>Keheningan yang cukup lama terasa di tengah hutan yang gelap ini. hampir tidak ada sisa kekuatan di tubuh kami setelah serangan terakhir tadi. Eyang Widarpa masih terduduk diatas waturungin tepat diamana jasad sang raja dikubut.</p>



<p>Kami mencoba berdiri dan menghampiri eyang.</p>



<p>Dan Ia mencoba berdiri sambil menatapku.</p>



<p>“Danan.. saiki wis rampung “ (Danan.. Sekarang sudah selesai)&nbsp; Ucap Eyang Widarpa&nbsp; padaku.</p>



<p>Tunggu… kali ini eyang memanggilku dengan nama , bukan lagi bocah asu!</p>



<p>“ Iya mbah.. kita bisa kembali sekarang ” aku membalas ucapan Eyang Widarpa.</p>



<p>“ Tidak… urusanku sudah selesai di alam ini “ Lanjut Eyang Widarpa.</p>



<p>“ Maksud eyang …. Apa?” Aku tidak mengerti dengan apa yang Dikatakan Eyang Widarpa.</p>



<p>&nbsp;“ Jasad sang raja sudah ditemukan , kekuatan kedua patih sudah sirna.. sudah tidak ada lagi yang bisa membangkitkan kutukan Gending alas mayit, Nyai suratmi juga sudah tenang di alam sana… aku sudah tidak ada urusan lagi di alam ini” Jelas Eyang Widarpa pada kami.</p>



<p>&nbsp;“ Berarti saat ini eyang sudah tenang?” Cahyo mencoba memperjelas maksud Eyang Widarpa.</p>



<p>Eyang hanya mengangguk , sebenarnya aku cukup sedih walaupun eyang kadang kasar dan tak terkendali, tapi ia sudah menyelamatkanku berkali-kali.</p>



<p>&nbsp;“ Danan mengerti eyang.. rasa terima kasih Danan ga akan cukup, tapi saat tau eyang sudah bisa pergi.. Danan ikut senang” Ucapku pada Eyang Widarpa</p>



<p>Sebuah kekuatan besar akan sirna dariku , entah nanti apa aku sanggup saat menghadapi musuh seperti Andaka maupun brakaraswana.</p>



<p>&nbsp;“ Simpan lagi keris ragasukma kedalam sukmamu… lafalkan mantra leluhur itu itu saat kamu dalam bahaya” Eyang widapa memberikan keris ragasukma kembali padaku.</p>



<p>“Apa Eyang Widarpa akan datang saat aku membaca mantra itu?” Tanyaku</p>



<p>Ia hanya menggeleng.</p>



<p>&nbsp;“ Keris Ragasukma itu adalah hadiah sang raja saat aku menyelamatkanya keluar dari kerajaan , dan mantra itu kubuat untuk melindungi keturunanku “ jelas Eyang Widarpa.</p>



<p>“ Saat kamu membaca mantra itu dengan keris raga sukma digenggamanmun, leluhurmu yang lain akan datang membantu”</p>



<p>Sepertinya aku mengerti dengan yang dimaksud Eyang Widarpa , namun aku khawatir … makhluk apa yang akan datang saat aku menggunakan mantra itu lagi.</p>



<p>Eyang Widarpa menoleh ke arah Pak Sardi.</p>



<p>&nbsp;“ Jaga desa windualit , jadilah kepala desa dan gunakan api geni baraloka untuk membersihkan seluruh hutan ini” Pesan Eyang kepada Pak Sardi.</p>



<p>“ sampaikan salamku pada Pakdemu…. “</p>



<p>Eyang berpaling dan berjalan meninggalkan kami, rohnya menghilang bersama rintikan hujan yang mulai reda</p>



<p>..</p>



<p>..</p>



<p>Pagi mulai datang , kami kembali ke desa, terlihat sekar masih sibuk mengurus warga desa yang terluka tapi sepertinya cukup banyak warga desa yang sudah sehat dan ikut membantu.</p>



<p>Kami memutuskan tinggal beberapa hari sambil sedikit membantu memulihkan kondisi desa setelah hilangnya kutukan gending alas mayit.</p>



<p>Di sisa waktu kami disana,&nbsp; kami saling bertukar ilmu dengan Pak Sardi dan menikmati keindahan alam di desa windualit yang sebelumnya tertutup oleh kutukan.</p>



<p>“ Mas Danan , Mas Cahyo.. yakin udah mau pulang? Tinggal disini lebih lama juga ga masalah kok”</p>



<p>Ucap Pak Sardi saat kami bersiap untuk kembali.</p>



<p>“ tuh Cahyo.. mau tinggal disini ga? Tar kangen lagi sama sekar” Ujarku sambil meledek Cahyo.</p>



<p>“Enak aja… kalo kangen kan tinggal main ke sini lagi, iya kan sekar?” Ucap Cahyo sambil melirik ke arah sekar.</p>



<p>&nbsp;“ Iya.. mas Cahyo bisa kesini kapan aja kok , langsung ngajak orangtua juga ga papa” Sekar menjawab ucapan Cahyo dengan tersipu malu.</p>



<p>Aku tertawa kecil , tapi rupanya tidak dengan Cahyo.. iya termenung saat sekar berkata mengenai orang tua Cahyo.</p>



<p>&nbsp;“ Heh… lampu ijo tuh! “ aku menepuk bahu Cahyo menyadarkanya dari lamunanya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;“ Eh.. iya,&nbsp; ya udah… kami ijin pamit ya , sekar jaga baik-baik kedua orangtuamu ya” Ucap Cahyo pada sekar dan segera kami meninggalkan desa windualit, desa terpencil di kaki gunung merapi yang menyimpan banyak misteri.</p>



<p class="has-text-align-center"><strong>*** Selesai ***</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>EPILOG</strong></p>



<p>“ Radio tengah malam , masih bersama saya Ardian penyiar favorit kalian..</p>



<p>&nbsp;Ada kabar baik nih dari temen kita yang bernama Cahyo, kabarnya dia sudah berhasil menyelesaikan permasalahan kutukan Gending Alas Mayit..</p>



<p>Selamat ya buat kalian dan desa windualit , Kalian memang orang-orang hebat!&nbsp;</p>



<p>Oke..&nbsp; karna sudah tiga&nbsp; cerita kita bacain , saatnya kita pamit,&nbsp; selamat beristirahat, radio tengah malam undur diri…”</p>



<p>“Oke bungkus!” Teriak Dika dari luar ruangan.</p>



<p>Secangkir kopi sudah disiapkan oleh Dika di ruang tunggu .</p>



<p>“Lu emang partner terbaik Dik , hujan-hujan gini emang paling enak ngopi” Ucapku pada Dika yang hanya dibalas dengan jempol di tanganya.</p>



<p>Aku menyeruput kopi buatan Dika dan merebahkan tubuhku di sofa.</p>



<p>Namun aku merasa ada yang aneh. Sayup sayup terdengar suara gamelan mengalun di ruangan ini.</p>



<p>“ Dik.. Dika! Kamu denger itu ga?” ucapku pada Dika</p>



<p>“Denger apaan? Gw masih ngebuat playlist nih…. “ Jawab Dika dengan santai.</p>



<p>“ I… Itu… ada suara gamelan “ Aku menghampiri Dika dan membuka headsetnya.</p>



<p>Ia berdiri menghampiri jendela dan menajamkan telinganya.</p>



<p>“ Oooh… itu di komplek sebelah lagi ada hajatan , katanya nanggep wayang kulit.. kita juga diundang kok , tuh undanganya”</p>



<p>Ucap Dika sambil menunjukan undangan yang tergeletak di meja.</p>



<p>“ owalah , gua kira itu kutukan masih nyangkut di kita… “ lanjutku yang segera melanjutkan menyeruput kopi sekali lagi.</p>



<p>Setelahnya kami hanya sibuk dengan kesibukan masing masih sebelum bersiap untuk pulang.</p>



<p>Namun tak seperti biasanya suara pintu diketuk dengan lambat…</p>



<p>“Dik&nbsp; ada yang ketok pintu? “Tanyaku pada Dika.</p>



<p>“Iya kayaknya… lu bukain dulu dah, gua dikit lagi selesai “ perintah Dika padaku.</p>



<p>&nbsp;“ wokey.. lu kelarin aja dulu” aku segera berdiri dari sofa dan mencoba mendekati pintu. Namun lampu tiba-tiba berkedip dengan tidak wajar dan angin dingin berhembus di leherku.</p>



<p>“… Jangan dibuka… “ Suara berbisik terdengar dari belakang punggungku.</p>



<p>Aku tidak menghiraukan,namun kedipan lampu menjadi semakin cepat dan mengerikan. Saat langkah kakiku mendekat menuju pintu , muncull sesosok makhluk pria seumuranku dengan wajah yang hancur..</p>



<p>Itu hantu nandar , seharusnya ia tidak akan muncul bila aku tidak menyalakan korek dari paklek…</p>



<p>Aku heran dengan apa yang terjadi , Hantu nandar hanya menatapku dan kali ini berbicara dengan berteriak di hadapan wajahku</p>



<p>“ JANGAN DIBUKA!!!”</p>



<p>….</p>



<p>….</p>



<p><strong>( Tamat)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part7 &#8211; Pagelaran Tengah Wengi</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2026 06:40:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[cerita horor gending alas mayit]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Penari]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4101</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Horor Twitter &#8211; Ini adalah part 7 dari serial cerita horor Gending Alas Mayit. Bagi yang belum membaaca part ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part7 &#8211; Pagelaran Tengah Wengi" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7/#more-4101" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part7 &#8211; Pagelaran Tengah Wengi">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="block-da0f0c5c-dbd1-4ee0-bfd9-bbd8c1a52d7d"><strong><br>Cerita Horor Twitter &#8211;</strong> Ini adalah part 7 dari serial cerita horor <strong>Gending Alas Mayit.</strong> Bagi yang belum membaaca part 6, baca dulu ya part 6-nya &gt;&gt;&gt;</p>



<p><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part6/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Gending Alas Mayit Part 6</strong></a></p>



<p id="block-756edc4a-bd2a-4d0c-a0bf-aa572438cbb0"><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part5/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 5</a></strong></p>



<p id="block-85182985-888a-4be1-a0bb-e4501b9827da"><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/">Gending Alas Mayit Part 4</a></strong></p>



<p id="block-3c60a17d-c04c-4435-a5de-74afdc5692d3"><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part3-ikatan-masa-lalu/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 3</a></strong></p>



<p id="block-576c3b89-7a80-4df1-8d5a-028a88b77367"><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part </strong>2</a></p>



<p id="block-8ee5a13d-ec70-4932-be7a-35ec14347db1"><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 1</a></strong></p>



<p id="block-9c645093-d3ea-41a0-bdde-04eefdb7e1de"><strong>Cerita Horor Twitter</strong></p>



<p id="block-5bfbc6d0-20b9-456b-adaa-67195ad2599c"><strong>Judul</strong> : Gending Alas Mayit &#8211; Oagelaran Tengah Wengi</p>



<p><strong>Penulis </strong>: @Diosetta</p>



<p>Suara alunan gamelan yang mendayu-dayu terdengar dengan sangat indah , tetesan air yang jatuh ke sendang membuat suara itu menjadi terlalu nyaman untuk didengar. Namun sayangnya suara ini berasal dari demit-demit di alas mayit.</p>



<p>Indahnya suara gamelan itu memancing seluruh penghuni alas mayit untuk berkumpul di tempat ini, mulai dari pocong, makhluk raksasa bertubuh besar, hingga mayat-mayat dengan tubuh yang tak berbentuk menyaksikan kami dari seluruh penjuru hutan, seolah menyaksikan suatu pertunjukan.</p>



<p>Aku dan Cahyo sudah bersiap untuk menyerang kedua manusia penyebab semua kutukan ini , Pak Kades dan Aswangga.</p>



<p>Namun.. serangan kami terhenti oleh sebuah kekuatan yang berwarna hitam pekat , dan itu muncul dari Aswangga yang menghadang kami.</p>



<p>&nbsp;“ Hei Aswangga, Untuk apa kamu menjual dirimu pada setan-setan laknat itu”&nbsp; Tanyaku yang masih berharap Aswangga masih bisa diselamatkan.</p>



<p>“ Untuk apa?&nbsp; Kekayaan , kekuatan, dan hidup abadi.. tentu saja untuk itu semua” Ucapnya sambil tertawa meledeku.</p>



<p>“Saat ini tidak ada satupun dari kalian yang bisa mengalahkanku…” Lanjutnya.</p>



<p>Aku heran, mengapa Aswangga menjadi percaya diri seperti itu.</p>



<p>“Danan.. lihat! bukanya itu anak buah Aswangga” Ucap Cahyo sambil menunjuk pada setumpukan mayat yang dipersembahkan di sebuah candi.</p>



<p>&nbsp;“Edan kowe… anak buahmu sendiri kamu jadiin tumbal?” Cahyo merasa emosi dengan perbuatan Aswangga.</p>



<p>“Itu salah kalian! Kalau kalian tidak mengacau.. aku tidak perlu menumbalkan mereka untuk mendapatkan kekuatan ini” Aswangga memamerkan dirinya yang diselimuti kekuatan hitam.</p>



<p>&nbsp;“Hadapi aku.. akan kuhabisi kalian satu persatu.. “</p>



<p>Suara gamelan mengiringi mulainya serangan Aswangga kepada kami .</p>



<p>Sebuah pukulan mengarah&nbsp; kepada Cahyo dan membuatnya terpental .</p>



<p>Aku mencabut keris milikku dan menusukan pada Aswangga, namun tak sedikitpun ujung keris itu masuk kedalam tubuhnya yang malah dibalas sebuah tendangan yang melemparkanku tak jauh dari tempat Cahyo tersungkur.</p>



<p>“Kamu mengorbankan nyawa anak buahmu Cuma untuk kekuatan seperti ini?”&nbsp; tantang Cahyo sambil membersikan darah yang menetes dari mulutnya.</p>



<p>&nbsp;“Udah Cahyo.. kamu istirahat dulu aja, Aswangga biar aku yang hadapi” Ucapku pada Cahyo.</p>



<p>&nbsp;“Nggak Danan, aku butuh pemanasan…” Cahyo merapalkan sebuah mantra , merubah kedua tanganya menjadi lengan kera raksasa dan segera menerjang Aswangga.</p>



<p>“Sombong sekali kalian! “ Pukulan Aswangga yang diselimuti kekuatan hitam beradu dengan lengan kera milik Cahyo,</p>



<p>namun kali ini Aswangga yang terpental.</p>



<p>Sekali lagi Aswangga mencoba menyerang Cahyo namun dibuatnya terpental lagi.</p>



<p>Untuk adu ilmu fisik Cahyo memang sangat bisa diandalkan. Hampir semua serangan Aswangga dibuat terpental Cahyo.</p>



<p>&nbsp;“Brengsek , Tidak mungkin kekuatanku kalah.. “ ucapnya yang disusul dengan pukulan berikutnya dari Cahyo.</p>



<p>“ Menyerah saja! Kekuatanmu itu tak mungkin bisa untuk mengalahkan kami” Ucap Cahyo memperingkatkan Aswangga.</p>



<p>“ Ga usah sombong kalian… Sudah berapa tumbal yang kalian berikan untuk kekuatan itu? Aku akan memberi lebih” Ucap Aswangga sambil menoleh kepada Pak Kades yang melihatnya dari belakang.</p>



<p>Wajah Cahyo terlihat emosi, sekali lagi pukulan diarahkan pada Aswangga dan membuatnya tersungkur di tanah.</p>



<p>“ Tumbal? Seenaknya kamu bicara! mbok pikir aku mau menggunakan cara biadab itu” Ucap Cahyo sambil menghampiri Aswangga dan mulai memukulinya lagi.</p>



<p>&nbsp;“Kamu tidak tahu berapa ribu hari puasa yang dilakukan oleh Danan…</p>



<p>Kamu tidak tahu berapa ayat suci yang dihafalkan dan dilantunkan&nbsp; Pak Sardi…</p>



<p>Kamu tidak tahu berapa banyak yang sudah ditolong oleh mereka hingga Yang&nbsp; mahakuasa menitipkan kekuatan ini pada kami untuk menolong orang yang lebih banyak lagi”</p>



<p>Cahyo berusaha menyadarkan Aswangga. Namun sebelum mendaratkan pukulannya lagi,</p>



<p>Pak Kades melompat dan bersiap menyerang Cahyo yang membuatnya memilih mundur.</p>



<p>“ Cukup Aswangga.. kamu belum bisa mengalahkan mereka”Ucap Pak Kades.</p>



<p>“Terus kita harus bagaimana?” Tanyanya dengan suara yang lemah karena efek dari serangan Cahyo yang bertubi-tubi.</p>



<p>&nbsp;“ Kita selesaikan perjanjian kita, kamu sudah mendapat kekayaan dan kekuatan, sekarang akan kuberikan kau kehidupan abadi” Ucap Pak Kades yang menghampiri Aswangga.</p>



<p>Sebuah pasak kayu dikeluarkan oleh Pak Kades, ujungnya diukir dengan tajam dan diarahkan kepada Aswangga.</p>



<p>“ Pak Kades.. untuk apa pasak itu?” Tanya Aswangga yang mulai merasa takut.</p>



<p>“ Tubuh kakek-kakek ini sudah sangat lemah , aku butuh tubuh yang lebih muda untuk bisa mendampingi dia dan menghabisi cecunguk itu..” Ucap Pak Kades.</p>



<p>“ Maksud Pak Kades apa? Bukanya Pak Kades berjanji akan memberikan hidup abadi?!” Tanyanya dengan putus asa.</p>



<p>“ Tubuhmu akan hidup abadi bersama rohku di dalamnya” Ucap Pak Kades yang segera menusukkan pasak ke jantung Aswangga yang tak bisa melawan.</p>



<p>Aswangga meronta kesakitan , ia merayap di tanah dan menggapaikan tanganya kepada kami.</p>



<p>“To… long “ suara rintih keluar dari mulutnya yang disusul dengan darah hitam yang bermuncratan.</p>



<p>Suara gong terdengar dipukul berkali kali seolah menandakan mulainya peperangan.</p>



<p>Setan wanita berbaju kebaya melayang menghampiri Pak Kades dan menarik roh keluar dari tubuh kakek tua itu.</p>



<p>Sesosok makhluk berwujud manusia dengan pakaian kerajaan keluar dari tubuh Pak Kades dan segera merasuki tubuh Aswangga yang masih tertancap pasak di jantungnya.</p>



<p>Suara gamelan berbunya semakin cepat, di tengah-tengah sendang terlihat roh Laksmi yang mulai menari .</p>



<p>“ Mas Danan… suara ini… “ Ucap Pak Sardi.</p>



<p>“Benar pak, ini gending alas mayit… “ ucapku sambil mengeluarkan tabuh waturingin.</p>



<p>Sebenarnya , aku penasaran dengan gong besar di tengah sendang. Suara gong yang terdengar oleh kami bukan berasal dari gong itu. Sampai akhirnya aku tersadar bahwa gong itu berdiri diatas sebuah batu yang menyerupai akar pohon.</p>



<p>&nbsp;“ Cahyo… apa batu yang dibawah gong itu yang dimaksud mbah rusman?” aku berbisik pada Cahyo.</p>



<p>Cahyo memperhatikan apa yang aku maksud.</p>



<p>“oo.. Pantes aja ga keliatan, air hitam itu menutupi keberadaan waturingin itu” ucap Cahyo.</p>



<p>Mengerti dengan yang kumaksud , kami berdua segera berlari menerjang kearah sendang banyu ireng. Namun sebuah serangan menghentikan kami berdua.</p>



<p>Itu Aswangga lagi…</p>



<p>Kali ini berbeda , pasak di jantungnya sudah menghilang namun wajahnya berubah menjadi mengerikan dengan kulit wajah yang terlihat melepuh . Demit wanita itu memakaikan pusaka yang dikalungkan di dadanya dan memberikan sebuah tombak untuk Aswangga.</p>



<p>“ Tidak mungkin…. Aswangga… “ Pak Sardi tidak percaya dengan apa yang ia lihat.</p>



<p>Aswangga tertawa dengan suara yang menyeramkan “Aswangga..? Bukan… Aku Patih Andaka yang akan menghabisi kalian semua”</p>



<p>Menyambut kebangkitanya , makhluk hitam besar berwujud perempuan dengan&nbsp; cakar yang mengerikan menghampiri dan bersujud di depanya , disusul dengan setan-setan yang dari tadi hanya melihat pertarungan kami.</p>



<p>·</p>



<p>Pemandangan yang begitu mengerikan , kali ini Makhluk yang menghuni tubuh Aswangga memimpin ratusan demit bersama dengan setan penari itu di sampingnya.</p>



<p>“Gila Danan… kita harus melawan demit sebanyak ini” Ucap Cahyo.</p>



<p>Suara petir menggelegar dan memulai turunya hujan deras di hutan ini.</p>



<p>Pak Sardi membaca mantra pembakar dan melawan demit itu satu persatu , namun jumlahnya terlalu banyak. Cahyo segera menyusul Pak Sardi melawan demit-demit itu.</p>



<p>Pikirku , Satu-satunya cara adalah mengalahkan Iblis Andaka itu.</p>



<p>Segera aku membacakan ajian lebur saketi, sebuah pukulan jarak jauh untuk diarahkan pada Iblis Andaka itu , namun serangan itu tidak melukainya sama sekali ,</p>



<p>sebaliknya iblis itu menoleh ke arahku dan menyerangku degan tanganya yang sudah menggenggam tombak tua di tanganya.</p>



<p>Aku mencoba menghindar namun gerakanya terlalu cepat, sebuah tusukan menembus tanganku yang mencoba menahan serangan itu.</p>



<p>Kengerian tidak cukup sampai di sini , dari arah pintu masuk hutan terlihat seseorang yang menari tanpa sadar , tidak hanya satu… beberapa orang lagi menyusul di belakangnya.</p>



<p>Itu adalah warga desa!</p>



<p>&nbsp;“ Bapak … Maafin sekar, Sekar ga bisa jagain warga desa” ucap sekar yang berlari dan berusaha menahan warga desa.</p>



<p>“ Sekar!! Jangan ke sini! “ Ucap Pak Sardi yang berusaha menghentikan sekar.</p>



<p>Pak Sardi kehilangan konsentrasinya, sebuah serangan dari demit anak buah andaka membuatnya jatuh dan tersungkur.</p>



<p>Suasana di alas mayit semakin mencekam, kekuatan eyang widarpa dibutuhkan di sini. aku menarik keris ragasukmaku dan merapalkan mantra yang diturunkan oleh leluhurku</p>



<p>Jagad lelembut boten nduwe wujud</p>



<p>Kulo nimbali</p>



<p>Surga loka surga khayangan</p>



<p>Ketuh mulih sampun nampani</p>



<p>Tekan Asa Tekan Sedanten…</p>



<p>Di tengah hujan deras , sesosok kakek tua bungkuk berambut panjang berwarna putih muncul dari derasnya hujan.</p>



<p>“ E.. Eyang! Kulo…”</p>



<p>Belum sempat menyelesaikan kata-kataku , eyang segera&nbsp; menyerang Iblis Andaka dan membuatnya terpental.</p>



<p>“Bocah Asu… Demit iki ben dadi urusanku , kamu urusin warga desa”&nbsp; Eyang widarpa membelakangiku dan bersiap menghadapi Iblis di tubuh Aswangga.</p>



<p>..</p>



<p>&nbsp;“ Tunggu… aku kenal kamu kakek tua”&nbsp; Andaka kembali berdiri dan menghadapi kami.</p>



<p>“ Kamu … Kamu itu Patih Widarpa kan?!!! Kamu yang membawa pergi warga dan Raja dari kerajaan !” Teriak Andaka dengan menunjuk kepada Eyang widarpa.</p>



<p>Tunggu , Patih… Jadi Eyang Widarpa patih yang menyelamatkan raja dan warga dari pemberontakan . Seketika aku teringat sebuah benda yang dititipkan oleh Paklek , dan ternyata bentuk kalung&nbsp; itu tidak jauh berbeda dengan yang dipakaikan setan penari itu kepada Andaka.</p>



<p>&nbsp;“ Eyang… apa itu benar? “ tanyaku pada eyang yang tidak merespon ucapan andaka.</p>



<p>“ Bukan urusanmu bocah asu… pergi , masalah yang lebih besar ada di belakangmu” Perintah Eyang widarpa padaku.</p>



<p>“ Baik mbah , sebelumnya terima ini dulu… ini titipan nyai Suratmi “</p>



<p>Aku menyerahkan sebuah pusaka kalung kuningan ke pada eyang, ia terlihat mengenalinya dan segera mengenakanya.</p>



<p>Hal yang aneh terjadi , Tubuh eyang widarpa kembali&nbsp; tegak,&nbsp; tubuhnya terlihat menjadi lebih muda layaknya seorang patih kerajaan yang dapat diandalkan.</p>



<p>&nbsp;“ Jadi… itu benar,&nbsp; Eyang widarpa seorang patih” Tanyaku sambil sedikit tersenyum.</p>



<p>Eyang widarpa melihat dirinya yang berubah , namun iya kembali melepas kalung itu dan melemparkanya padaku.</p>



<p>&nbsp;“ Aku ora butuh , Tanpa Nyai Suratmi aku lebih suka dengan wujud ini!”&nbsp; Ucapnya yang segera mengayunkan cakarnya ke wajah busuk Iblis reinkarnasi&nbsp; Andaka itu.</p>



<p>Eyang Widarpa terlihat bisa mengimbangi patih andaka. Aku sedikit tenang dan meninggalkanya.</p>



<p>&nbsp;“ Cahyo! Serahkan tabuh waturingin pada sekar dan Tahan demit-demit&nbsp; itu! Biarkan Pak Sardi menggunakan Geni Baraloka kepada mereka! “ Perintahku pada Cahyo.</p>



<p>Cahyo memukul dengan keras ke arah tanah dan mengambil jarak dari makhluk-makhluk itu.&nbsp; Tanpa banyak berbicara ,</p>



<p>mereka melakukan semua yang aku perintahkan.</p>



<p>“Hati-hati Danan… Lawanmu perempuan , jangan lengah!” Ucap Cahyo yang mengetahui maksudku untuk menghampiri Iblis wanita yang menyebabkan semua ini terjadi.</p>



<p>Seolah mengerti kehadiranku , ia menyambutku dengan sebuah tarian yang gemulai.. tarian itu menjadi mengerikan ketika setan itu tersenyum mengerikan tanpa bola mata di wajahnya dan dilakukan diatas tumpukan mayat tumbal dari Aswangga .</p>



<p>Aku mengejarnya , namun setan itu melayang ke arah tubuh Laksmi yang tergantung , merasukinya, dan menjatuhkan dirinya ke sendang banyu ireng.</p>



<p>Roh Laksmi masih menari di sana, seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.</p>



<p>Dari dalam sendang banyu ireng , terlihat tubuh Laksmi bangkit dari dalam air , luka-luka pada tubuhnya sudah menghilang seolah tidak pernah terjadi apa-apa.</p>



<p>Satu persatu baju Laksmi yang penuh darah dilepaskan hingga tidak sehelai benangpun tertinggal di tubuh Laksmi yang indah itu.</p>



<p>“ Danan… ini aku Laksmi “</p>



<p>Dengan tubuh yang basah dan tanpa pakaian, Laksmi menghampiriku dan melemparkan senyumnya yang manis..</p>



<p>seperti saat pertama kali aku datang ke desa windualit.</p>



<p>“ Nggak.. ga mungkin , aku melihat semuanya… kamu setan yang mencuri tubuh Laksmi” Aku membacakan mantra pada tanganku dan bersiap menyerang Laksmi.</p>



<p>Namun keindahan tubuh Laksmi yang berada dihadapanku dan kenanganku bersamaya menahan itu semua.</p>



<p>“ Cukup Danan… jangan sakiti aku lebih dari ini” Ucap Laksmi dengan wajah yang memelas.</p>



<p>Ucapan Laksmi benar-benar menyentuh , aku tak tahu harus berbuat apa..</p>



<p>rasa bimbang yang amat sangat muncul. Aku tidak bisa membedakan lagi mana yang benar.</p>



<p>Di tengah sendang dan diterangi cahaya bulan , Laksmi berdiri anggun di hadapanku dengan memamerkan keindahan tubuhnya.</p>



<p>Laksmi mendekat..</p>



<p>&nbsp;“ Aku sudah tidak apa-apa Danan.. aku cuma butuh kamu “ Ucap Laksmi menempelkan badanya padaku dan memeluku.</p>



<p>Rasa bimbang&nbsp; dan kehangatan yang muncul di diriku membuatku tak mampu lagi menahan akal sehatku.</p>



<p>Tanganku membalas pelukan Laksmi , kulitnya yang halus dan pelukanya yang hangat membuatku merasa tenang. “ Laksmi… Aku ga akan ninggalin kamu lagi” </p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;..</p>



<p><strong>Bersambung Part Akhir</strong> &#8211;  <a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7-2/">Gending Alas Mayit Tataran Pungkasan</a> (Pertunjukan Akhir)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Rusin &#8211; Catatan Si Juni Part2</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part2/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part2/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2026 06:39:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Rusin]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Rusin - Catatan Si Juni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4080</guid>

					<description><![CDATA[Ini adalah part 2 dari cerita horor Rusin &#8211; Cerita Si Juni. Yang baru datang ke sini baca dulu part1. ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Rusin &#8211; Catatan Si Juni Part2" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part2/#more-4080" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Rusin &#8211; Catatan Si Juni Part2">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ini adalah part 2 dari cerita horor Rusin &#8211; Cerita Si Juni. Yang baru datang ke sini baca dulu part1.</p>



<p><strong>Cerita Horor Twitter</strong> : <strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-suami-juni-part1/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Rusin &#8211; Catatan Si Juni Part1</a></strong></p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id">Cerita Horor Twitter</a></strong></p>



<p><strong>Judul </strong>: Rusin &#8211; Catatan Si Juni</p>



<p><strong>Penulis </strong>: @ItsQiana</p>



<p><strong>CATATAN SI JUNI</strong> <strong>PART 2</strong></p>



<p>Esok hari, karena Bapak menolak autopsi maka jasad ibu dikebumikan malam itu juga. Malam dimana aku tidak sadarkan diri dan membuat heboh seisi kampung.</p>



<p>Mereka mulai bergunjing, menatapku iba namun penuh ketakutan. Bapak tak mau berlama lama berada disini, ia takut kondisiku akan bertambah buruk.</p>



<p>Kami segera kembali ke rumah Bapak dan perlahan aku mulai bisa berdamai dengan semua itu.</p>



<p>Memang kita tak dapat melupakan kenangan kenangan mengerikan yang telah terjadi, dan butuh waktu yang sangat lama untukku bisa menerima semuanya.</p>



<p>Akupun mulai terbiasa dengan sikap ibu tiriku, hanya Bapak yang kupunya, mau tak mau aku harus berlapang hati dengan segala siksaan yang akan ku terima kedepannya.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;..</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;..</p>



<p>Kini aku telah berusia 20 tahun, usia yang cukup untukku mulai hidup sendiri.</p>



<p>*Plakkk*</p>



<p>Tamparan keras mendarat dipipiku &#8220;Rasah kemayu nduk, raimu ki ra sepiro&#8221; (Gausah sok kecantikan, mukamu tu ga seberapa) ujar seorang seniorku dikampus.</p>



<p>Aku hanya diam, mencoba menenangkan amarahku, bukannya aku tak bisa melawan, aku bahkan sanggup membalasnya namun aku sedang malas meladeni orang orang seperti mereka.</p>



<p>Tangannya menjambak rambut panjangku, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dariku.</p>



<p>&#8220;Diapakne cah iki cuk penake?&#8221; (Diapain anak ini enaknya?) ujarnya kepada beberapa temannya yang berdiri mengelilingi kami, melihatku disiksa oleh seorang temannya.</p>



<p>Terlihat satu orang datang membawa air seember penuh dan langsung menyiramkannya ke tubuhku degan tiba tiba. Aku masih saja diam, bagiku ini semua belum ada apa apanya dengan sebelas tahun yang telah kulalui bersama ibu tiriku.</p>



<p>&#8220;Jek kurang?&#8221;</p>



<p>(Masih kurang?) ucap satunya Mungkin mereka sekitar tujuh orang, sedangkan aku sendirian.</p>



<p>*Krusekkk*</p>



<p>Suara seperti kantung plastik diremas membuat kami semua terkejut Tandanya ada seseorang yang pasti sedang bersembunyi disekitar sini, mereka mulai waswas.</p>



<p>Mereka semua pasti takut bila ada yang melihat atau bahkan melaporkan kelakuan busuk mereka ini.</p>



<p>&#8220;Goleki! Cepet!&#8221;</p>



<p>(Cari! Cepat!) perintah Okta Iya Okta adalah orang yang paling membenciku, akupun tak pernah tahu penyebabnya, tapi nampaknya ia tak suka melihatku disukai banyak orang.</p>



<p>Mereka semua berpencar mencari orang yang diam diam mengintip kegiatan mereka sedari tadi itu. Hingga akhirnya…</p>



<p>&#8220;Ketemu&#8221; teriak salah satu dari mereka sambil menyeret tangan seseorang yang kelihatannya seangkatan denganku.</p>



<p>&#8220;Babat ae rambute kesuwen&#8221; (Botakin aja rambutnya) usul seorang teman Okta.</p>



<p>&#8220;Koe roh iki opo nduk? Pengen ngrasakno gak?&#8221; (Kamu tau ini apa? Pengen ngerasain gak?) ucap Okta sambil menyodorkan gunting ke pipi anak itu.</p>



<p>Dia hanya menangis ketakutan, ia mencoba berontak namun apa daya seluruh badannya dipegangi oleh teman teman Okta.</p>



<p>&#8220;Lapo koe melu melu urusanku? Tak kei kenang kenangan yo. Nek koe nganti wanten lapor dosen yo bakal ngrasakno hadiah sing lueh kepenak ko aku&#8221; </p>



<p>(Ngapain kamu ikut ikutan urusanku? Tak kasih kenang kenangan ya. Kalo kamu sampe berani beraninya lapor ke dosen ya bakalan ngerasain hadiah yang lebih enak lagi dariku) ancam Okta tanpa perasaan manusiawi sama sekali, ia tersenyum sinis sambil menarik jilbab anak itu sampai terlepas.</p>



<p>Kelihatannya mereka lupa bahwa aku masih disini dan lebih fokus ke anak itu.&nbsp; Hampir saja ia mengguntingnya, aku yang sudah merasa muak dan tidak tega segera meraih apapun yang ada didekatku.</p>



<p>&#8220;Bruakkk&#8221; Ember tepat mengenai kepala Okta. Ya, aku melemparkannya dengan sangat kencang hingga dia jatuh ke tanah.</p>



<p>Hidungnya berdarah, teman temannya pun panik. Kondisi itu kumanfaatkan untuk menyelamatkan Septi. Kutarik tangannya dari genggaman anak anak yang terfokus pada Okta, kamipun segera berlari menjauh dari para wanita gila itu.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Di kamar mandi aku menunggu Septi yang masih saja menangis, dia ketakutan dan tak berani keluar karena jilbab yang dikenakannya tadi dilepas paksa oleh Okta.</p>



<p>Ya, namanya Septi. Dia seumuran denganku, bukan seorang yang mencolok apalagi menarik perhatian. Makanya tidak banyak yang mengenalnya disini.</p>



<p>&#8220;Wes menengo, mari iki ayo ndang bali. Anggoen jaketku&#8221; (Udah diem, abis ini ayo balik. Pake jaketku) ujarku padanya, Kami pun pulang naik ojek menuju ke rumah Bapak.&nbsp;</p>



<p>&#8220;Loh Jun.. &#8221; ucapnya ternganga. &#8220;Ssst meneng wae, age&#8221; (Ssst diem aja, ayo) jawabku singkat.</p>



<p>Kami segera masuk ke kamarku, untunglah hari ini Mamah sedang tidak ada dirumah jadi aku tak perlu malu pada kawanku. Tak perlu khawatir akan ada seseorang yang meneriakiku anak perempuan jalang.</p>



<p>&#8220;Awakmu anake wong sugeh yo? Kok gaonok sing ngerti?&#8221; (Kamu anak orang kaya ya? Kok gaada yang tau?) tanyanya.</p>



<p>&#8220;Ora bandaku&#8221; (Bukan hartaku) jawabku singkat lagi.</p>



<p>Kami ada disini sedari sore hingga jam 9 malam, namun aneh tak ada seorangpun yang pulang kerumah.</p>



<p>Meski memang Mbak Novi sudah berkeluarga, namun biasanya ia akan pulang kemari dua kali seminggu. Begitu pula dengan Bapak, ia kemana? Biasanya ia hanya akan ke kantor sesekali saja karena fisiknya sudah tak memungkinkan lagi.</p>



<p>&#8220;Jun, Bapakmu pamit&#8221; celetuk Septi tiba tiba saja Aku memalingkan wajah kearahnya, alisku berkerut heran dengan maksud ucapan Septi barusan.</p>



<p>&#8220;Nok jendelo njobo, Bapakmu pamit&#8221; (Di jendela luar, Bapakmu pamit) jelasnya kembali</p>



<p>Aku langsung menuju ke jendela seperti yang dimaksud oleh Septi, namun aneh tak ada siapapun disini.</p>



<p>*Kring kring kring* Bunyi telefon rumah dari ruang tamu terdengar hingga kamarku. Aku bergegas keluar dan mengangkatnya, terdengar suara wanita sedang berusaha untuk bicara.</p>



<p>&#8220;Nduk, Jun…&#8221; suaranya tersenggal senggal karena menahan tangis.</p>



<p>&#8220;Mbak Novi? Mbak kenapa mbak&#8221; tanyaku mulai panik mendengar kakak perempuanku itu menangis.</p>



<p>&#8220;Bapak mpun kapundut dek, sak niki awakmu mrene ya dijemput&#8221; (Bapak udah meninggal dek, sekarang kamu kesini ya dijemput) ucap Mbak Novi yang terdengar jelas sedang diliputi kesedihan.</p>



<p>Runtuh, kekuatanku kali ini benar benar runtuh. Aku tak punya siapapun lagi di dunia ini. Akhirnya kali itu aku tahu bahwa Septi memiliki kelebihan istimewa, dan dari sinilah kami mulai berteman dekat.</p>



<p>Aku segera bersiap dan mengajak Septi yang kini membisu dan hanya bisa menangis bersamaku. Kami berdua dijemput oleh sopir pribadi kakak perempuanku itu menuju rumah sakit tempat Bapak menghembuskan nafas terakhirnya.</p>



<p>Aku memang sudah lama mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan ini, aku tahu pasti suatu saat Bapak akan meninggalkanku. Namun, masih tak kusangka akan secepat ini, ia bahkan belum melihatku menjadi sarjana nanti.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Tujuh hari sepeninggal Bapak, Mamah mengusirku dari rumah. Dan ya, akupun telah memperkirakan ini semua jadi aku sudah sepenuhnya pasrah.</p>



<p>Mbak Novi mengajakku untuk tinggal bersamanya, namun kutolak karena aku tidak ingin merepotkan siapapun lagi. Akupun bahkan tak meminta hak atas warisan Bapak sedikitpun.</p>



<p>Untunglah selama ini Bapak telah meninggalkan tabungan yang cukup untukku hidup sampai beberapa tahun kedepan, aku juga masih punya rumah milik Ibu dulu.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>*Jblakkk* Suara pintu mobil kututup Aku berjalan memasuki sebuah rumah yang kini kondisinya telah berubah sepenuhnya. Karena memang aku tlah lama tak pernah kembali ke daerah sini.</p>



<p>&#8220;Assalamualaikum Paklik.. Bulik.. Mei.. &#8221; panggilku yang kini telah berada di depan pintu.</p>



<p>&#8220;Waalaikumsalam, sinten? (siapa?)&#8221; sahut seseorang dari dalam menjawab salamku. Ibu Mei berjalan kearahku, nampaknya ia lupa dengan wajahku.</p>



<p>&#8220;Sinten nggih? Rencange Mei mbak?&#8221; (Siapa ya? Temennya Mei mbak?) tanyanya kembali.</p>



<p>Aku hanya tersenyum dan segera meraih tubuh Ibu Mei, aku memeluknya dengan sangat bahagia Ia terkejut karena aku tiba tiba memeluknya.</p>



<p>&#8220;Niki Juni Bulik..&#8221; (Ini Juni Bulik..) ucapku yang masih memeluknya erat Ia nampak terdiam beberapa saat lalu segera membalas pelukanku.</p>



<p>&#8220;Ya Allah Juni… &#8221; &#8220;Bulik pangkling nduk&#8221; ujarnya yang kini menangis terharu Aku melepas peluknya dan meraih serta mencium tangannya, tak terasa akupun ikut menangis rindu dan tersenyum lega.</p>



<p>&#8220;Meeeei! Mrene nduk&#8221; (Mei sini nak) teriaknya kencang sekali memanggil mei yang kelihatannya ada di belakang. Mei datang dengan wajah kusut, ketika matanya menatapku ia mematung dan membungkam mulutnya terkejut.</p>



<p>Aku segera masuk dan memberi salam pada sahabatku itu.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Setelah beberapa lama melepas rindu, akupun mulai menceritakan semuanya. Tak lupa dengan niatku untuk menempati kembali rumah Ibuk.</p>



<p>&#8220;Bapak mpun seda Bulik, Mamah nggih piyambake mboten purun tinggal kalih Juni. Dados Juni mriki mawon, kepengen manggeni daleme Ibuk&#8221;</p>



<p>(Bapak sudah meninggal, Mamah juga gamau tinggal sama Juni. Jadi Juni kesini aja, kepengen nempatin rumahnya Ibuk) ceritaku pada mereka berdua Pastinya mereka terkejut, alasan pertama karena mendengar kematian Bapakku. Dan yang kedua pastilah karena niatku untuk menempati rumah Ibuk kembali.</p>



<p>&#8220;Innalillahi, yang sabar yo nduk&#8221; Ibu Mei berucap lirih.</p>



<p>&#8220;Tapi Jun, awakmu tenan ta arep manggon omah kono maneh? Ojok yo mending tinggal kene wae karo aku, karo bapak ibuk&#8221;</p>



<p>(Tapi Jun, kamu yakin mau tinggal dirumah itu lagi? Jangan ya mending tinggal disini aja sama aku sama bapak ibuk) bujuk Mei sembari menggenggam erat tanganku.</p>



<p>Mereka mungkin khawatir padaku, tapi itulah satu satunya sisa kenangan masa lalu yang kupunya. Aku tersenyum padanya, aku berusaha meyakinkan dia bahwa aku akan baik baik saja.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Pagi disini cerah, mataharinya lumayan terik dan cukup efektif untuk menghangatkan badan.</p>



<p>Semalam, aku bermalam dirumah orangtua Mei. Begitu mendengar kabar bahwa aku kembali, Febri dan keluarganya pun langsung menemuiku tuk melepas rindu. Ya, keluarga Mei dan Febri layaknya keluarga kedua bagiku.</p>



<p>Kini lingkungan ini terasa sedikit asing, banyak perubahan yang kulewatkan selama beberapa tahun kebelakang.</p>



<p>Aku berjalan jalan pagi sendirian di gang ini, banyak warga baru yang tak saling mengenal denganku tersenyum menyapaku.</p>



<p>Begitu pula dengan mereka yang telah mengenalku sejak kecil dulu. Suasana hangat kurasakan saat mereka menyambutku dengan haru.</p>



<p>&#8220;Pak, Bu, nuwun sewu kula badhe nyuwun izin tinggal teng mriki malih, piyambakan&#8221; (Pak Bu permisi saya mau minta izin untuk tinggal disini lagi, sendirian).</p>



<p>ucapku kepada dua orang didepanku itu Mereka adalah Pak RT beserta istrinya, ya aku meminta izin sesuai prosedur untuk menempati kembali rumah Ibuk.</p>



<p>&#8220;Nak Juni yakin nduk?&#8221;</p>



<p>Hanya sepenggal kalimat itulah yang keluar dari mulut Pak RT, ketika aku mengangguk iapun tak mau mengganggu gugat pilihanku ini.</p>



<p>Aku bergegas keluar kamar dan memilih meringkuk di bawah kursi ruang tamu&nbsp;</p>



<p>Jam menunjukan 19&nbsp; 00 , aku sempat berfikir untuk keluar dari rumah dan menginap di rumah Mei&nbsp; &nbsp;Tapi di sisi lain aku tidak mau merepotkan, akhirnya kuputuskan bertahan walaupun rasa takut menyelimutiku&nbsp;</p>



<p>Malam ini kuputuskan untuk tidur di ruang tamu&nbsp; &nbsp;Merebahkan badan dikursi panjang tanpa bantal</p>



<p>Aku yang merasakan lelah setelah seharian membersihkan rumah akhirnya terlelap</p>



<p>Namun tidurku tidak berlangsung lama, lagi-lagi aku mendengar sesuatu yang kembali membuatku terkejut</p>



<p>*Tok&nbsp; Tok&nbsp; *</p>



<p>Kali ini bunyi ketukan masih sama dua kali seperti tadi, dan bersumber dari pintu depan rumah&nbsp;</p>



<p>Ada yang bilang bahwa dua kali ketukan adalah pertanda bahwa yang mengetuk pintumu bukanlah manusia</p>



<p>Aku yang masih merasakan ketakutan enggan membuka pintu,</p>



<p>dan bertahan di kursi panjang yang ku tiduri, hanya merubah posisiku sedikit, sekarang aku hanya bisa tertunduk dan benar-benar merasakan ketakutan&nbsp;</p>



<p>“Jun&nbsp; ?” Panggilan tersebut terdengar lembut, seperti perempuan yang masih berumur 40 tahunan, namun aku belum membukakan pintu</p>



<p>karena aku pikir suara tersebut bukan tamu yang datang ke rumahku,</p>



<p>“Jun?” Lagi-lagi ada suara seperti memanggilku, namun arah suara tersebut berada di pintu belakang,</p>



<p>Badanku seketika merinding,seperti ada tiupan angin ke badanku yang membuatku merasakan dingin di seluruh tubuh</p>



<p>Hanya berdoa yang kubisa, sambil memejamkan mata berharap semoga teror yang terjadi terhadapku cepat berlalu</p>



<p>“Jun ini Ibu Rt“</p>



<p>Mendengar panggilan tersebut dengan nafas yang memburu aku bergegas lari menuju pintu belakang&nbsp; &nbsp;Berharap seseorang dapat membantu membuatku sedikit lega</p>



<p>*Klek Klek*</p>



<p>Bunyi kunci pintu belakang</p>



<p>Perlahan aku buka, dan seketika ku mematung, kakiku tak bisa bergerak, mulut seperti terkunci rapat</p>



<p>&#8220;Emm Emmm”</p>



<p>Bukannya Bu Rt yang berada di depanku saat ini, namun se sosok perempuan berambut panjang, dengan lidah menjulur ke bawah.</p>



<p>“Ooh mosok karo cecek wedi se, oiyo Jun iki maemo awakmu wingi gurung sempet blonjo dadi tak masakno&#8221;</p>



<p>( Ooh masa sama cicak takut si Jun, oiya aku kesini mau nganterin makan nih buat kamu,kan kamu belum sempet belanja jadi aku masakin buat kamu)</p>



<p>“Wah suwun Me, tak gawane nok kampus wae ya pangan kono&#8221;</p>



<p>(Wah makasih Mei, aku bawa aja ke kampus ya buat dimakan disana) jawabku sambil tersenyum</p>



<p>“Iyo Jun, tapi kui rai mbe gulumu gene ko abang abang grawukan ngono&#8221;</p>



<p>(Oiya Jun, tapi itu muka sama leher kamu kenapa kok kaya ada</p>



<p>bekas cakaran merah gitu)</p>



<p>&#8220;Emm mambengi akeh nyamuk Me. Yowes tak mangkat yo&#8221;</p>



<p>(Emmm semalem banyak nyamuk. Ya udaah aku berangkat ya) tutupku tergesa</p>



<p>………..</p>



<p>Sesampainya dikampus aku langsung menuju ke kantin, sembari menyantap makanan yg diberikan Mei aku menunggu kedatangan Septi</p>



<p>Kiranya lima belas menit menunggu terdengar panggilan lirih dari arah belakangku</p>



<p>“Juniiii” suara lembut tersebut lagi-lagi membuatku merinding, hembusan angin membuat hawa dingin mulai masuk ke dalam tubuhku, berusaha menoleh perlahan karena kupikir itu Septi yang sudah datang</p>



<p>Seketika aku memundurkan badanku sampai mentok ke meja makan, sesosok mahluk dengan rambut panjang menutup muka dan bau busuk berada di hadapanku. Badan tangan dan kakiku tak bisa ku gerakkan sedikit pun, mulutku membisu serta tiba-tiba badanku melemas tiada daya.</p>



<p>*Bruuggg*</p>



<p>Badanku pun terjatuh ke bawah meja</p>



<p>Ya aku datang ke kampus sangat pagi dan memang aku yang paling awal, di kantin pun belum ada warung yang dibuka, jadi aku orang pertama yang sampai kampus dan langsung menuju kantin</p>



<p>“Nak bangun nak”.. panggil salah satu penjaga kantin</p>



<p>sambil menepuk badanku.</p>



<p>Aku yang baru saja tak sadarkan diri merasa terkejut karena bangun dengan kondisi di bawah kursi tempat ku makan tadi</p>



<p>“Kok kamu tidur dibawah” ucap Pak Adi penjaga kantin di kampusku</p>



<p>“Maaf pak tadi saya pingsan liat sosok Perempuan berbaju putih”</p>



<p>ucapku dengan nada lirih</p>



<p>Pak Adi terheran mendengar jawabanku seakan tidak percaya dengan apa yang telah aku alami, pandangan Pak Adi pun tiba-tiba berubah menatapku dengan sinis dengan bibir seperti mengucap doa dan mata melotot kepadaku</p>



<p>“Pak kenapa lihatin Juninya kaya gini?”.</p>



<p>Terdengar tiga siraman air seperti sedang membilas badan</p>



<p>“Sep wakmu adus ta, kok iso karo petengan ngene&#8221;</p>



<p>(Sep kamu kok bisa si mandi gelap-gelapan begini) aku yang yakin itu Septi sedang mandi melontarkan sebuah pertanyaan. Bukannya jawaban yang ku dapatkan melainkan hanya</p>



<p>tawaan lirih dari dalam kamar mandi.</p>



<p>“Hihihi” terdengar jawaban Septi dari kamar mandi</p>



<p>Aku yang juga ingin buang air kecil pun menunggu Septi dari luar kamar mandi, tak berselang lama kamar mandi pun terbuka dengan sendirinya,</p>



<p>*Krieettt…*</p>



<p>Bunyi pintu kamar mandi yang mulai terbuka perlahan. Dan apa yang kudapati bukanlah Septi namun sesosok perempuan tengah berendam di bak mandi dengan muka yang sangat menyeramkan dan mata melotot, aku yang terkaget berlari menuju ke kamar karena yakin kalau Septi berada dikamar</p>



<p>“Sep tangi Sep tangio…!&#8221;</p>



<p>(Sep bangun sep bangun.!!) Teriakku di depan kamar. karena tak kunjung mendapat jawaban aku yang ketakutan pun tanpa pikir panjang memasuki kamar dan membuka selimut yang berada di kasur. Ku pikir seorang dibalik selimut itu Septi.</p>



<p>Perlahan ku raba-raba karena keadaan gelap saat itu dikamar. Namun saat kubuka dan meraba yang kuraba seperti sebuah kaki bengkok, ternyata yang kulihat sesosok anak kecil cacat dengan kaki bengkok yang dulu pernah kulihat saat masih kecil. Dengan mata hitam dan mulut lebar</p>



<p>menganga ia menatapku kosong.</p>



<p>Badanku merinding, tanpa seucap kata aku lari keluar kamar, yang kupikirkan hanyalah bagaimana caraku keluar dari dalam rumah, berlari menuju pintu depan</p>



<p>*Cklekkk Cklekk*</p>



<p>Gagang pintu berusaha ku buka namun tak berhasil, seperti ada yang mengunci</p>



<p>dari luar rumah.</p>



<p>&#8220;Sialan, Septi ngendi ki nyapo malah lungo aku dikurung ngene&#8221;</p>



<p>(Sialan.. Kemana Septi, kenapa pergi dan mengurungku gini) umpatku dengan sedikit kesal kepada Septi yang entah berada dimana</p>



<p>*Dug.dug.dug*</p>



<p>Bunyi langkah kaki terdengar dari luar rumah.</p>



<p>*Krek krek*</p>



<p>Bunyi kunci pintu yang dibuka dari luar rumah membuat dadaku sedikit merasa lega. Tak berselang lama pintu pun terbuka. Dengan rasa kesal aku bertanya kepada Septi yang baru saja masuk.</p>



<p>“Kondi koe ngopo lungo ga ngomong, lawang barang nyapo dikunci&#8221;</p>



<p>“Hihihihi” Septi hanya tertawa mendengar pertanyaanku</p>



<p>Aku yang juga ikut merasakan lapar berusaha mendekati dan ingin meminta mie instant buatannya kalau sudah matang</p>



<p>“Nyuwun a nek wes mateng&#8221;</p>



<p>(Aku minta ya kalau sudah matang)</p>



<p>sambil berjalan aku berusaha mendekatinya</p>



<p>namun saat mulai melihat wajahnya, ternyata bukan Septi. Yang kulihat wajah tanpa mata dan hidung,namun hanya ada mulut yang sudah membusuk dan di gerumuti belatung</p>



<p>Spontan aku berlari menjauh, kuayunkan kakiku langsung menuju ke kamar, dengan nafas memburu aku langsung naik</p>



<p>ke atas rajang, berusaha membangunkan Septi yang sedang tertidur.</p>



<p>“Sep tangi seppp!!! &#8220;</p>



<p>(Sep bangun sep!!!) teriakku untuk membangunkan Septi yang sudah tertidur pulas.</p>



<p>“Hehhh opo si, bukane tidur ih”</p>



<p>&#8220;Aku roh demit Sep!&#8221;</p>



<p>(Aku liat hantu Sep!) semua yang dari awal berusaha</p>



<p>kututupi dari Septi, kali ini aku berusaha menceritakan apa yang barusan ku lihat.</p>



<p>“Biasa wae talah ncene akeh demit nde omahmu, aku ngantuk ki lho, turu ah&#8221;</p>



<p>(Biasa aja kali emang banyak hantu dirumah kamu, aku ngantuk nih, udah tidur ah) jawaban Septi yang</p>



<p>enggan membuka matanya waktu itu.</p>



<p>Namun aku segera menepuk badannya dengan keras agar mau membuka mata dan mau mendengarkan ceritaku, akhirnya Septi pun terbangun dan duduk di kasur.</p>



<p>Aku langsung menceritakan kepadanya saat itu juga.</p>



<p>“Mau aku roh onok sing metu seko kamar iki mirip awakmu mlaku mburi, tak kiro wakmu ning mari tak cek dadakman demit&#8221;</p>



<p>(Tadi aku lihat ada yang keluar dari kamar ini mirip kamu kulihat jalan ke belakang rumah, aku pikir itu kamu tapi waktu aku cek ternyata hantu)</p>



<p>dengan memegang pundak Septi aku berusaha meyakinkan kalau yang kulihat memang hantu</p>



<p>“Haha iyo nda” lagi-lagi Septi menganggap remeh ucapanku</p>



<p>Namun kali ini aku berusaha mengajaknya kedapur agar dia juga ikut melihat sesosok hantu tersebut</p>



<p>Dengan mata kantuk Septi mengiyakan</p>



<p>“Iya udah ayo kita lihat” kami pun berjalan pelan dengan Septi didepan aku yang masih merasakan ketakutan mengikutinya dibelakang sambil memegangi bajunya,</p>



<p>*Hooookk hokkk hokkkk*</p>



<p>Terdengar bunyi seperti orang mengorok saat tidur, sumber suara tersebut seperti dari arah dapur </p>



<p>yang akan kami datangi.</p>



<p>&#8220;Suoro opo kui?&#8221; gumam Septi</p>



<p>Perlahan kami berdua mengintip bagian dapur dengan perlahan, aku pun terkejut ternyata didapur tidak ada apapa, dan tidak ada hal aneh yang terjadi,</p>



<p>“Tuhh kan gak nampak setannya! !.” Ucap Septi</p>



<p>Aku pun hanya terpaku kebingungan, padahal tadi didapur aku melihat hantu gumamku dalam hati.</p>



<p>“Udah ayo tidur lagi ngantuk nih” Septi yang masih mengantuk mengajak untuk kembali ke kamar, aku yang masih merasa ketakutan hanya mengikutinya dari belakang</p>



<p>Sesampainya dikamar…</p>



<p>*Pyakk Pyak*</p>



<p>&nbsp;Septi yang berada didepanku saat memasuki kamar terdengar seolah menginjak air</p>



<p>“Loh kok ono banyu ndek gladak Jun?&#8221;</p>



<p>(Loh kok ada air di lantai kamar Jun)</p>



<p>“Wah kok aneh yo, jal nyalakke dilahe ayok resiki&#8221;</p>



<p>(Wah kok aneh ya,&nbsp; yaudah cepet nyalain lampunya kita bersihin dulu) ucapku memerintah Septi untuk menyalakan saklar di dinding dekat ranjang.</p>



<p>Septi pun berjalan perlahan menuju saklar yang kumaksud, namun sesudah lampu dinyalakan kami berdua bingung karena dilantai tidak ada</p>



<p>cairan yang terinjak oleh Septi</p>



<p>“Gaono banyu opopo Sep&#8221;</p>



<p>(Gada cairan apa apa Sep) kataku waktu melihat lantai dihadapanku yang kering</p>



<p>Setelah kejadian itu aku dan septi memutuskan untuk tidur kembali, waktu menunujukkan pukul 23:15</p>



<p>Septi yang dari pagi belum tidur sudah terlelap disampingku.</p>



<p>“Wah sial kok susah tidur” Umpatku yang merasakan susah tidur, karena terlalu lama tidur siang sampai waktu maghrib tadi</p>



<p>Aku hanya bengong sambil memandang langit-langit rumah, mengamati setiap sudut kamar,</p>



<p>tiba-tiba mataku tertuju ke atas lemari pakaian yang ada di dekat jendela kamarku. Namun saat ku amati ternyata hanyalah kain dan kardus.</p>



<p>Mataku mulai mengantuk dan perlahan mengejamkan mata,namun tak berselang lama Septi terbangun</p>



<p>“Te ngendi Sep&#8221;</p>



<p>(Mau kemana Sep)</p>



<p>ucapku dengan mata setengah mengantuk</p>



<p>“Pipis bentar” Septi pun berjalan keluar kamar dan menuju kamar mandi</p>



<p>~~</p>



<p>Saat sedang jongkok dengan mata mengantuk tiba-tiba seperti ada yang menyangkut di wajahnya, perlahan tangan Septi meraba bagian wajahnya, sehelai rambut yang</p>



<p>sangat panjang menempel di bagian wajahnya</p>



<p>Kepala Septi perlahan mendongak, wajahnya mengarah ke bagian atap kamar mandi. Terlihat sebuah kepala putus dengan lidah menjulur sedang berayun ayun disana, rambutnya benar benar panjang dan tanpa badan, seperti digantung.</p>



<p>Septi yang terkejut pun sontak berteriak sekencang mungkin dan berusaha lari dari kamar mandi,</p>



<p>*Hhhhaaaaa.!!!!***.</p>



<p>Teriakan Septi mengagetkanku membangunkanku yang berada di kamar, aku terbangun dan berusaha menghampiri Septi, namun saat kubuka pintu kamar</p>



<p>*Hihihihi Hahhhh*</p>



<p>Kerumunan anak kecil dengan muka yang sangat seram seperti ingin mengejarku dan mengajakku bermain, aku yg ingin menghampiri Septi lantas mengurungkan niatku, menutup kembali pintu dan melompat ke ranjang, berusaha menutup kepalaku dengan selimut.</p>



<p>“Kenapa Septi ngga datang-datang dari belakang sih”&nbsp; gumamku dalam hati dengan badan yang kubenamkan dalam selimut,</p>



<p>“Sep koe ngendi se ko sui men pipise&#8221;</p>



<p>(Sep kamu dimana lama banget sih pipisnya) namun tidak ada jawaban dari Septi waktu itu,</p>



<p>tidak berselang lama terdengar suara cekikikan dari bagian belakang rumahku</p>



<p>“Hihihihi hahahahaha” suara tersebut terdengar mirip seperti suara Septi, aku sangat paham dengan suara tersebut. Tapi kenapa dia tertawa sendiri gumamku dalam hati.</p>



<p>15 menit berlalu Septi tak kunjung kembali ke kamar, aku berniat menyusulnya ke kamar mandi. Dengan rasa takut kucoba kembali membuka pintu kamar</p>



<p>“Syukur gaono popo maneh&#8221;</p>



<p>(Syukurlah sudah tidak ada apapa)</p>



<p>Kulangkahkan kakiku setapak demi setapak menuju ke kamar mandi,</p>



<p>namun Septi tidak ada. Pintu belakang rumah nampak terbuka, karena makin penasaran akan keberadaan Septi, akhirnya ku intip perlahan melalui celah pintu itu.</p>



<p>Berdiri seseorang yang nampaknya adalah Septi menghadap sebuah pohon asam jawa, disana ia seperti tengah membicarakan</p>



<p>sesuatu dengan seseorang.</p>



<p>“Sep melbuo nomah sep nyapo nok jobo bengi bengi ngene&#8221;</p>



<p>&nbsp;( Sep masuk kerumah ngapain di luar malam-malam begini) panggilku saat itu</p>



<p>Sepertinya Septi tidak mendengarkanku, dengan ragu aku mencoba mendekatinya,</p>



<p>*Hihihihi* saat aku mendekat Septi</p>



<p>hanya tertawa menghadap pohon</p>



<p>“Jun ojok nyedakkk!!!&#8221;</p>



<p>(Jun jangan mendekat) Aku mendengar panggilan itu namun badanku seperti tidak bisa digerakan untuk menoleh ke orang yang memanggilku. Badanku seperti ditarik salah satu mahkluk yang menyamar sebagai Septi tersebut.</p>



<p>*Bughhh* pukulan keras dibagian punggungku membuatku hilang kesadaran malam itu</p>



<p><strong>Bersambung Ke &gt;&gt;&gt; Cerita Horor Rusin &#8211; Catatan Si Juni part 3</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Russin &#8211; Catatan Si Juni Part1</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part1/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part1/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2026 18:38:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Rusin]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Rusin - Catatan Si Juni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4074</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Horor Twitter Judul : Rusin &#8211; Catatan Si Juni Penulis : @ItsQiana CATATAN SI JUNI PART 1 Juni namanya, ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Russin &#8211; Catatan Si Juni Part1" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part1/#more-4074" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Russin &#8211; Catatan Si Juni Part1">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id">Cerita Horor Twitter</a></strong></p>



<p><strong>Judul </strong>: Rusin &#8211; Catatan Si Juni</p>



<p><strong>Penulis </strong>: @ItsQiana</p>



<p><strong>CATATAN SI JUNI</strong> <strong>PART 1</strong></p>



<p>Juni namanya, anak perempuan periang yang dipilih Tuhan untuk menjadi istriku. Namun nyatanya Tuhan lebih sayang kepadanya, hingga harus kurelakan ia meninggalkanku untuk berada di sisi-Nya.</p>



<p>Mari kuceritakan luka busuk yang ada di keluarga kami, keluarganya dahulu yang menjadi sumber derita bagi Juni kecil.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>*Srek Srek Srek* Suara gesekan dari seikat sapu lidi yang beradu dengan paving halaman sebuah rumah terdengar nyaring hingga ke seberang jalan.</p>



<p>*Bug bug bug bug bug* Derap langkah beberapa anak disana pun menambah kebisingan di sore itu</p>



<p>&#8220;Aduuuuh, ibuk, Juni dawah buk&#8221; (Aduh ibuk, Juni jatoh buk) teriak seorang anak perempuan yang tampak menahan isak tangis dan ngilu pada luka di lututnya.</p>



<p>Sang ibu menengok kearah Juni, entah mengapa ia tersentak kaget. Matanya membelalak lebar seakan tengah melihat hantu di siang bolong.</p>



<p>Rupanya nampak sepotong tangan tengah memegangi pergelangan kaki Juni. Ya, tangan seorang anak kecil yang membiru dan putus hanya sampai siku.</p>



<p>Dalam sekejap, bayangan itu hilang dari pandangannya.</p>



<p>&#8220;Bulik mboten nopo nopo?&#8221; (Bulik gapapa?) tanya Febri, sahabat Juni &#8220;Lhaiyo toh Jun dadi bocah wadon kok pencilakan, yahmene kancane malah diajak blayon&#8221; (Jun Jun jadi anak perempuan kok gabisa diem, jam segini temennya. malah diajak lari larian) ucap perempuan yang dipanggil Ibu oleh si Juni.</p>



<p>Ibu Juni nampak berusaha terlihat baik baik saja &#8220;Gek ndang ngadeko Jun, aku tak bali yoh&#8221; (Cepet berdiri Jun, aku pulang ya) ujar Mei, tetangga Juni yang juga seumuran dengannya.</p>



<p>&#8220;Aku barang lah, pitikku gurung tak kombong&#8221; (Aku juga lah, ayam ayamku belum aku kandangin) sahut Febri yang menyusul pamit pada Juni Rumah mereka berdekatan, masih berada dalam satu gang dan kebetulan mereka semua seumuran serta sekolah ditempat yang sama.</p>



<p>&#8220;Bulik.. Kula mantuk riyen nggih&#8221; (Tante.. Saya pulang dulu ya) pamit mereka sambil berjalan menuju rumah masing masing Ibu Juni hanya mengangguk tak menjawab.</p>



<p>&#8230;&#8230;..</p>



<p>Adzan maghrib telah berkumandang Dirumah Juni, hanya ada ia dan sang ibu. Kebetulan malam itu sampai dua hari kedepan ayahnya tidak ada dirumah karena harus berada di proyek. Ayah Juni adalah seorang mandor bangunan, dan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa.</p>



<p>Kini, Juni berusia 9 tahun. Pemikirannya mulai berkembang dan ia sering mempertanyakan banyak hal. &#8220;Buk, Bapak umur pinten?&#8221; (Buk, Bapak umur berapa?) tanya juni tiba tiba.</p>



<p>Ibunya mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Juni &#8220;59, nyapo takon takon umur barang?&#8221; (59, ngapain tanya tanya umur?) ibunya justru berbalik tanya.</p>



<p>&#8220;Lah Ibuk pinten? Kok ketingale tasik timur&#8221; (Lah Ibuk berapa? Kok keliatannya masih muda) tanya Juni kembali. </p>



<p>Memang jarak usia antara Bapak dan Ibu Juni terlihat sangat jauh. Ibu Juni baru berumur sekitar 32 tahunan saat itu.</p>



<p>Ia tidak menjawab, ia hanya melanjutkan kegiatannya dengan membisu. Juni yang merasa kesal karena menunggu lama namun tak kunjung mendapat jawaban akhirnya pun berhenti bertanya dan beranjak pergi ke kamarnya.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Dikamar, Juni merebahkan dirinya diatas ranjang empuk miliknya. Malam ini ia sedang malas belajar.</p>



<p>*Ckiiit ckiiit krieet* Decit lantai kayu membuyarkan lamunan Juni, ia segera duduk dan memeriksa bawah &#8220;Opo yo mau?&#8221; (Apaan ya tadi?) tanya Juni pada dirinya sendiri.</p>



<p>Kepalanya celingukan kekanan kekiri mencari asal suara tadi Ia melangkahkan kakinya menuruni ranjang *Kreeet kreet kreet* Sementara suara itu masih terdengar jelas, kini ia menemukan sumber bunyi itu.</p>



<p>Salah satu papan kayu yang menjadi lantai dikamarnya berdecit tiada henti serta menimbulkan getaran getaran kecil, seakan ada sesuatu yang mendorongnya dari bawah. *Tok Tok Tok* Tanpa rasa takut, Juni mengetuk papan itu.</p>



<p>*Krieeet*</p>



<p>Suara decit kayu itu terdengar lagi dari papan disebelahnya. Dan lagi lagi Juni mengetuknya. Hal itu terjadi pada hampir seluruh papan di dalam kamarnya. Bukannya curiga, Juni justru merasa seakan mendapat teman baru. Ia tersenyum sambil berlari larian memburu papan yang bergiliran berdecit itu.</p>



<p>&#8230;&#8230;..</p>



<p>Pagi harinya, Juni menceritakan kejadian semalam pada sang Ibu, namun lagi lagi ibunya hanya diam dan menelan ludah dalam dalam.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Sepulang sekolah, Juni mencari keberadaan ibunya. Namun ternyata Ibu Juni sedang tidak ada dirumah.</p>



<p>&#8220;Ah paling gek menyang arisan&#8221; (Ah mungkin lagi pergi arisan) gumam Juni Anak yang tengah merasa lapar itu segera menuju meja makan dan membuka tudung saji diatasnya.</p>



<p>Tak perlu waktu lama ia telah mengisi penuh piring ditangannya. Ia dengan lahap makan sendirian dirumah itu hingga pada beberapa suap terakhir giginya merasa seperti tengah menggigit sesuatu.</p>



<p>Ia memuntahkan yang sedang ia kunyah dalam mulutnya itu. Nampak potongan sebuah jari bayi berada disekitar nasi muntahannya. Juni yang masih merasa penasaran pun meraih benda itu untuk memastikan.</p>



<p>*Aaaaaaaaaaaa…..* Ia menjerit ketakutan lalu pingsan seketika.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Juni : &#8220;Jun.. Tangio nduk, nduk tangi nduk&#8221; (Jun.. Bangun nak bangun)</p>



<p>Samar samar kudengar suara seseorang, suara itu terdengar berusaha membangunkanku. Kini telapak tangan dan kakiku pun mulai merasakan gosokan gosokan lembut yang mengenai permukaan kulitku.</p>



<p>Berat, badanku terasa berat sekali bahkan mataku sangatlah susah untuk dibuka. *Puk puk puk*</p>



<p>Tepukan ringan mendarat dipipi kecilku hingga akhirnya aku mulai tersadar. Mataku menangkap beberapa orang berada disekelilingku, mereka semua adalah tetanggaku.</p>



<p>Para orangtua, anak anak remaja mereka, tak luput pula kedua temanku Mei dan Febri yang terlihat menangis sesenggukan melihatku terbaring.</p>



<p>&#8220;Alhamdulillah pak bu bocahe tangi&#8221; (Alhamdulillah pak bu anaknya bangun) ucap ibu Mei yang duduk disebelah kiriku.</p>



<p>&#8220;Buk e wes teko gurung&#8221; (Ibunya udah dateng belom) tanya salah seorang warga.</p>



<p>&#8220;Durung i, ngendi leh jane ki&#8221; (Belom tuh, kemana sih sebenernya) kesal warga lain.</p>



<p>Dalam keadaan setengah sadar, aku mencoba mengingat ingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Saat ingatanku mulai pulih, seketika perutku terasa mual dan kumuntahkan seluruh isinya.</p>



<p>Ibu Mei yang terkejut segera memegangi tubuhku dan memijat mijat tengkukku.</p>



<p>&#8220;Lho lha Pak.. Piye iki bocahe soyo pucet ngene&#8221; (Loh Pak.. Gimana ini anaknya makin pucet gini) buru ibu Mei yang makin khawatir pada kondisiku.</p>



<p>Akhirnya akupun dibawa ke puskesmas oleh warga, kulihat diluar matahari mulai tenggelam. Jadi berapa lama aku tak sadarkan diri?.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Dokter disana hanya mengatakan bahwa aku kelelahan, jadi mereka segera membawaku pulang.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Sesampainya dirumah, ternyata ibuku tak kunjung pulang. Ibu Mei pun membawaku untuk menginap dirumahnya, dia mengurusiku seperti anak perempuannya sendiri.</p>



<p>Entah apa yang dilakukan ibu diluar sana, mengapa ia tak pulang? Ibu pergi kemana bu?</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Malam ini terasa sangat panjang untuk kulalui. Kulihat Mei telah tertidur pulas disebelahku, nampaknya ia kelelahan menangisiku sedari siang tadi.</p>



<p>Keheningan malam ini terasa berbeda, udara dingin menusuk tulang kurasakan begitu hebatnya. Untunglah ibu Mei memberiku selimut tebal yang kiranya cukup membalut tubuhku yang tak seberapa besar ini.</p>



<p>Perlahan mataku mulai terpejam, mimpi? Apakah saat ini aku benar benar sudah terlelap?</p>



<p>*Hihihihi..*</p>



<p>Suara tawa mengagetkanku Siapa? Siapa yang sedang bermain tengah malam begini? Suara itu, suara balita yang terdengar sedang asik tertawa riang.</p>



<p>Saat mulai terhanyut dalam mimpi, samar mulai kulihat seorang anak laki laki cacat tengah bermain dihadapanku.</p>



<p>Ya, anak yang bahkan terlihat baru berusia beberapa tahun dan tidak bisa berjalan normal karena cacat fisik bawaan.</p>



<p>Tangannya kecil sebelah dengan jari jari yang bengkok tak beraturan. Wajahnya terlihat normal, ia tampan dan terlihat familiar bagiku. Kakinya panjang sebelah dengan satu kaki yang putung.</p>



<p>Sungguh mengenaskan, entah mengapa melihatnya hatiku terasa amat sakit walaupun nyatanya ia terlihat sedang asyik bermain sendirian.</p>



<p>&#8220;Dek?&#8221; panggilku sembari lebih mendekat padanya Ia hanya menengok kearahku, menatap wajahku lalu tertawa kembali. &#8220;Ahihihihi&#8221;</p>



<p>Mengesot, ia berjalan dengan cara mengesot. Mendorong tubuhnya dengan satu kakinya yang normal dan menopang badannya dengan satu tangannya. Seakan mengisyaratkan padaku untuk mengikutinya, akupun melangkah keluar dari kamar Mei bersamanya.</p>



<p>Kulihat diluar rumah cahaya temaram menyinari. Bukankan ini sudah malam? Apakah ini masih sore? Atau jangan jangan ini sudah pagi? Entahlah.</p>



<p>Dia masih saja mengesot bahkan saat kami melewati jalan aspal dengan banyak kerikil kecil bertebaran, aku tak tega melihatnya. Kuangkat badan itu dengan setengah jijik, meskipun jijik namun naluriku ingin sekali membantunya.</p>



<p>Lagi lagi ia tertawa &#8220;Hi hi hi hi nono&#8221; Katanya sambil menunjuk kearah rumahku.</p>



<p>&#8220;Arep nyapo nang omahku?&#8221; (Mau ngapain kerumahku?) tanyaku padanya</p>



<p>Kini ia berada di pinggang kecilku, kurasakan badannya sama sekali tidak berat. Ternyata setelah kuperhatikan badan itu teramat kurus, banyak bekas luka pada punggungnya.</p>



<p>Akupun melangkah masuk ke halaman rumah, gelap, kenapa rumahku terlihat sangat gelap? Oh iya, ibu sedang tidak ada dirumah. Mungkin para tetangga lupa tidak menyalakan lampu dirumahku.</p>



<p>Aku melangkah masuk, namun tetiba getaran hebat terasa pada tubuhku. Seakan menolak masuk, seketika rasa takut teramat besar menyelimutiku. Tubuhku mematung, kini dadaku benar benar sesak, sama sekali tak bisa ku gerakkan sesuai kemauanku.</p>



<p>Bocah yang tadi berada di gendonganku mendadak lenyap, kini tinggal aku sendirian dirumahku ini.</p>



<p>*Oeeek oeeek oeeek*</p>



<p>Tangisan bayi, rumah ini kini sangat bising dipenuhi oleh tangisan bayi. Entah suara berapa saja anak hingga mampu membuat telingaku berdenyut pening mendengar suara tangisan yang sangat ramai itu.</p>



<p>Aku mulai menangis, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menangis. Aku ingin berontak, badanku meronta ingin bergerak bebas, namun lagi lagi aku tak bisa berkutik sedikitpun.&nbsp;</p>



<p>Tangisku mulai memuncak sejadi jadinya, hingga…</p>



<p>&#8220;Juniii&#8230; Juni.. Tolooong tolong&#8221;</p>



<p>Terdengar suara teriakan membangunkanku serta goncangan pada tubuhku. Apa ini? Tubuhku lemas saat itu juga. Kesadaranku mulai menurun dan pandanganku gelap.</p>



<p>Aku membuka mata, kulihat lagi pemandangan yang mirip seperti siang tadi.</p>



<p>Mataku silau, terasa nyeri terkena cahaya lampu diatasku. Apakah aku barusan bangun? Bukannya tadi aku sedang berada dirumahku sendiri? Banyak sekali orang yang berkumpul disekelilingku, para ibu ibu menangis tersedu memandangiku, dan beberapa orang lain mengaji diluar kamar Mei.</p>



<p>Haha, ternyata aku hanya bermimpi.</p>



<p>Esok hari Mei menceritakan padaku bahwa semalam badanku mengejang tak karuan. Aku mengerang dengan sangat keras seperti seseorang yang tengah kesurupan.</p>



<p>Benarkah demikian? Jika memang iya, apa alasan mereka mengganggu hidupku? Apa salahku?</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>agi ini, ibu belum juga nampak pulang. Mau tak mau aku harus tinggal lebih lama dirumah Mei.</p>



<p>&#8220;Jun, Mei, mreneo nduk sarapan sek&#8221; (Jun, Mei, sini nak sarapan dulu) panggil bapak Mei pada kami berdua Kami yang tengah berada di halaman depan pun masuk kerumah untuk sarapan.</p>



<p>Hari ini aku dilarang ibu dan bapak Mei untuk bersekolah, jadi saat mei sekolah aku hanya seorang diri disini.</p>



<p>Bapak Mei adalah seorang perhutani, dan ibunya adalah seorang guru. Jadi tiada seorangpun dirumah saat siang hari.</p>



<p>Waktuku kuhabiskan untuk istirahat dan membereskan pekerjaan di rumah Mei. Meskipun tiada yang menyuruhku, dan pasti mereka akan melarangku jika tahu aku melakukannya tapi aku sangat ingin berusaha tidak merepotkan mereka.</p>



<p>Tak terasa terik matahari sudah mulai menyengat, tanda bahwa siang hari telah datang.</p>



<p>&#8220;Juuun.. Aku mau ngerti ibukmu&#8221; (Juuun.. Aku tadi lihat ibumu) teriak Mei yang berlari terengah engah menghampiriku.</p>



<p>&#8220;Kapan Me? Ngendi?&#8221; (Kapan Me? Dimana?) tanyaku antusian</p>



<p>&#8220;Mau ibukmu numpak becak Jun, lewat sekolahe awak dewek&#8221; (Tadi ibumu naik becak Jun, lewat sekolah kita) jelas Mei yang terlihat masih kelelahan akibat berlari.</p>



<p>Aku hanya diam, tak tahu apa yang harus kuucapkan saat itu. Kepalaku terasa kosong, apakah orangtuaku tak lagi mempedulikanku?</p>



<p>Tak kusangka perasaan menyakitkan muncul dalam dadaku, sesak, terasa begitu sesak hingga nafas hampir tak mampu kulakukan. Kutahan air mataku, semampuku kutahan rasa ingin menangis ini.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Sore, kala aku dan Mei menunggu orangtua Mei pulang kerja tetiba sedan putih melewati jalanan depan rumah Mei.</p>



<p>&#8220;Bapak… &#8221; gumamku &#8220;Mei.. Bapakku bali Mei&#8221; (Bapakku pulang Mei) ujarku pada Mei yang segera menarikku berdiri.</p>



<p>&#8220;Gek ndang age, ayo nomahmu&#8221; (Ayo buruan, ayo ke rumahmu!) buru Mei yang antusias.</p>



<p>Kami berdua pun segera berlari menuju rumahku. Terlihat Bapak baru saja turun dari mobilnya, ia celingukan menatap rumah yang sepi itu.</p>



<p>&#8220;Pakkk… &#8221; panggilku yang segera memeluknya Ia terlihat senang melihatku yang kemudian menggendongku.</p>



<p>Mei mendekat kearah kami dan memberi salam pada Bapakku.</p>



<p>&#8220;Adek kok nganti yahmene isih dolan wae toh dik? Iki kenopo omahe kok tumben gak disapu Ibuk?&#8221; (Adek kok sampe jam segini masih main aja? Ini juga kenapa rumahnya tumben ga disapu sama Ibuk?) tanya Bapakku yang belum tahu apa apa.</p>



<p>Perasaan kecamuk kurasakan lagi, namun kini tangisku pecah. Bapak semakin bingung melihatku menangis.</p>



<p>&#8220;Budhe Septi mboten wonten Pakdhe, sampun kalih dinten niki Budhe mboten mantuk&#8221; (Budhe Septi tidak ada Pakdhe, sudah dua hari ini Budhe gak pulang)&nbsp; ucap Mei tiba tiba yang mengejutkan Bapakku.</p>



<p>Ya, nama ibuku adalah Septiani. Dan Mei memanggil orangtuaku dengan sebutan &#8220;Dhe&#8221; tentu saja karena usia bapakku jauh lebih tua dari orangtuanya.</p>



<p>*Trengteng teng teng teng….*</p>



<p>Suara motor milik ayah Mei pun terdengar nyaring hingga kerumahku. Tandanya orangtua Mei telah pulang.</p>



<p>Bapakku segera berjalan menuju rumah Mei, ia meraih tangan Mei, menggandengnya dengan tangan kanan dan aku masih berada pada gendongan tangan kirinya.</p>



<p>Ya, meskipun sudah berumur namun Bapakku masih terlihat gagah dan awet muda, tenaganya pun masih sangat kuat.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Sesampainya dirumah Mei, ia menurunkanku dari gendongannya dan berjalan menghampiri orangtua Mei. Mereka menyambut tangan Bapakku dengan perasaan bersyukur.</p>



<p>&#8220;Juni, Mei, mlebet kamar sik nggih nduk dolanan nok kamar&#8221; (Juni, Mei, masuk kamar dulu ya nak main dikamar) perintah Ayah Mei pada kami berdua, kami pun menurut.</p>



<p>Bapakku dan Ayah Mei terlihat duduk di teras dan sedang berbincang serius. Sedangkan Ibu Mei pergi ke dapur untuk membuatkan minum dan camilan.</p>



<p>Selang beberapa waktu terlihat Bapak Febri datang kemari, entah apa yang mereka bicarakan hingga berjam jam.</p>



<p>Akhirnya, Bapak masuk kedalam kamar Mei. Ia berpamitan padaku dan berjanji beberapa hari kedepan akan menjemputku kembali.&nbsp;</p>



<p>&#8220;Sing manut ya nduk, gak pareng nakal&#8221; (Yang nurut ya nak, gak boleh nakal) pesannya padaku. Kelihatannya mereka sepakat untuk menitipkanku disini.</p>



<p>Bapakku pun kembali ke rumahku lalu kembali lagi ke rumah Mei dengan membawa banyak baju serta barang barangku. Ia hanya mengelus rambutku lalu pamit pada orangtua Mei dan Bapak Febri.</p>



<p>Lagi lagi terlihat mobil Bapakku melewati jalanan depan rumah Mei ini. Entah kemana ia akan pergi lagi.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Beberapa hari pun berlalu. Aku mulai terbiasa tinggal dirumah Mei, akupun sudah bersekolah seperti biasa. Setiap hari Febri memboncengku dengan sepedanya,  sedangkan Mei mengayuh sepedanya sendiri.</p>



<p>&#8220;Feb? Gak kesel ta saben dino mboncengke aku terus?&#8221; (Feb? Gak capek apa tiap hari boncengin aku terus?) tanyaku padanya.</p>



<p>&#8220;Gak, mulane ndang gede mengko gantian aku goncekke&#8221;. (Gak, makanya cepet besar biar nanti gantian aku kamu boncengin) jawab Febri sambil tersenyum.</p>



<p>Kemanapun aku pergi, kedua temanku itu selalu menjagaku. Kami selalu bertiga, bersama sama entah itu dirumah atau disekolah kami selalu bertiga.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Ayahku kembali, namun kali ini dia bersama seseorang.</p>



<p>&#8220;Ibuk… &#8221; panggilku antusias, namun ternyata tak seperti dugaanku Perempuan itu bukan Ibu, ia tersenyum padaku dan memperkenalkan diri.</p>



<p>&#8220;Assalamualaikum dek.. Pasti kamu ya yang namanya Juni?&#8221; tanyanya. Aku hanya mengangguk tanpa berkedip. Ia kembali tersenyum dan mengelus rambutku.</p>



<p>&#8220;Mbak namanya Desi, mulai sekarang mbak yang bakal jagain kamu&#8221; terangnya padaku.</p>



<p>Ternyata Ayah membawa seorang pengasuh untukku Ia mengobrol untuk beberapa saat dengan tuan rumah lalu mengajakku untuk berpamitan.</p>



<p>Jadi, apakah sekarang adalah waktunya aku berpisah dengan kawan kawan?</p>



<p>Mei menangis mendahuluiku, ia menarik tanganku dan menyeretku kerumah Febri. Febri yang tengah bermain kelereng segera menghampiri kami.</p>



<p>Ia pun ikut menangis sesenggukan melihat Mei menangis walaupun belum tahu alasan Mei menangis.</p>



<p>Tangisku pun ikut pecah, kami bertiga menangis hingga Ibu Mei menyusul kemari. Ia mengatakan bahwa Bapakku akan segera mengajakku berangkat jadi kami harus kembali kesana. Akhirnya, kami bertiga pun berpisah.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Di dalam mobil, aku tak tahu hendak dibawa kemanakah aku. Pikiranku bercampur aduk. Mbak Desi mencoba menenangkanku, ia mengusap usap punggungku sambil mengatakan bahwa semua baik baik saja.</p>



<p>Kini, tibalah kami di satu rumah yang asing bagiku. Rumah siapa ini? Kami turun dari mobil dan Bapak menggandengku masuk.</p>



<p>*Praaaang* Suara suatu benda yang pecah menghantam dinding mengejutkanku.</p>



<p>&#8220;Wani wanine koe mas ngajak anakan lonte iku mrene?&#8221; (Berani beraninya kamu mas ngajak anak perempuan jalang itu kemari?) teriak seorang perempuan paruh baya dari dalam rumah Anak perempuan jalang? Apa maksutnya itu?</p>



<p>&#8220;Des, ajaken Juni noi kamare&#8221; (Des, ajak Juni ke kamarnya) perintah Bapak yang segera diiyakan oleh Mbak Desi.</p>



<p>&#8220;Nggih Pak&#8221; jawabnya.</p>



<p>Setibanya di kamar, suara pertengkaran Bapakku dan perempuan itu masih terdengar jelas dan sangat keras hingga ke kamarku.</p>



<p>Aku yang ketakutan hanya meringkuk di dalam dekapan Mbak Desi Banyak hal yang kudengar dari pertengkaran mereka, meskipun aku baru berusia sembilan tahun, kini aku mulai memahami semuanya.</p>



<p>Ternyata perempuan itu adalah istri pertama Bapak. Sedang Ibu, ia hanya istri simpanan Bapak. Aku tahu pasti, kehadiranku sangat tidak diinginkan oleh keluarga mereka.</p>



<p>Kini aku pun tahu alasan Bapak jarang pulang kerumah Ibu bukan karena ia sedang berada di proyek bangunan seperti yang kutahu selama ini, melainkan ia harus berada disini, dirunah istri pertamanya yang lebih berhak atas dirinya.</p>



<p>Bapak bukan pula seorang mandor bangunan, nyatanya ia adalah seorang pengusaha kaya raya di daerah kami.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Mentari telah terbit, cahayanya terlihat menembus tirai jendela kamar yang masih terasa asing bagiku ini.</p>



<p>Mbak Desi telah tiada disebelahku, aku pun beranjak menuju kamar mandi. Dikaca, kulihat mataku membengkak karena menangis semalaman&nbsp;.</p>



<p>Aku membasuh mukaku dengan air lalu berjalan keluar kamar untuk mencari Bapak. Namun ditengah perjalanan aku bertemu dengan seorang perempuan muda, mungkin ia baru berusia dua puluh tahunan.</p>



<p>Ia tersenyum padaku dan menghampiriku. &#8220;Juni toh?&#8221; tanyanya. Aku mengangguk ketakutan, aku takut akan ada seseorang yang mengamuk seperti semalam ketika melihatku.</p>



<p>&#8220;Aku Novi, ojo wedi ya nduk aku mbakyu mu&#8221; (Aku Novi, jangan takut ya dek aku kakak perempuanmu) jelasnya. Kakak perempuanku?&nbsp;</p>



<p>&#8220;Awakmu lesu ya mesti, ayo mrene sarapan disik&#8221; (Kamu laper ya pasti, ayo sarapan dulu) ujarnya padaku.</p>



<p>Aku pun duduk dengannya di meja makan yang berada di dapur. Diatasnya sudah tertata rapi banyak makanan, namun kemana semua orang?</p>



<p>Ia mengambil satu piring dan mengisinya dengan berbagai lauk dan nasi, ia menaruhnya dihadapanku.</p>



<p>&#8220;Maemo&#8221; (Makanlah) perintahnya Akupun segera memakannya sampai habis, lalu ia pun mengajakku berkeliling.</p>



<p>Sampailah kami di taman belakang rumah, kulihat Bapak ada disana, ia tengah membaca koran dan meminum kopi dari cangkir disampingnya.</p>



<p>&#8220;Bapak… &#8220;</p>



<p>Ia nampak menengok ke arahku, senyum cerah mengambang disudut bibirnya. Akupun berlari mendekat.</p>



<p>&#8220;Pak, Juni pengen mantuk&#8221; (Pak, Juni pengen pulang) keluhku pada Bapak yang memelukku hangat. Ia mengendurkan rangkulannya, seraya menatapku dan berkata.</p>



<p>&#8220;Ini kan ya rumahe Juni, ada Bapak ada Mbak Novi&#8221; jawabnya &#8220;Tapi Juni kangen Ibuk Pak&#8221; tegasku pada Bapak yang seperti menghalangiku untuk bertemu Ibu.</p>



<p>&#8220;Bapak arep mangkat kerja sek ya nduk&#8221;</p>



<p>(Bapak mau berangkat kerja dulu ya nak) ujarnya tanpa sepatah kata pun menjawab keluhanku Aku berlari ke arah kamarku dan menangis disana, aku kangen ibuk, Juni kangen ibuk…</p>



<p>&#8230;&#8230;..</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Beberapa bulan ku lalui disini dengan sangat berat hati. Sekolahku dipindahkan kemari, hari hariku terasa menguras emosi.</p>



<p>Ibu tiriku masih saja memperlakukanku seperti bukan anak manusia, ia selalu mengumpat dan memaki tiap kali aku melakukan kesalahan. Ia pun acap kali memukulku bila Bapak dan Mbak Novi sedang tidak berada dirumah.</p>



<p>Hanya Mbak Desi lah satu satunya tempatku bersandar, ia pun sering menangisi nasibku, namun bagaimanapun ia tak dapat melawan nyonya rumah ini.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Hingga suatu pagi, datang beberapa anggota polisi kerumah kami. Mereka mengabarkan sesuatu pada Bapak.</p>



<p>Entah apa yang mereka katakan hingga membuat bapak terkejut seketika. Badannya terlihat lemas hingga kakinya tak mampu lagi menopang beban diatasnya. Bapak ambruk dan sesak napas untuk beberapa saat sampai semua orang dirumah merasa panik.</p>



<p>Bapak diangkat beberapa orang rumah dan direbahkan ke sofa&nbsp; &#8220;Juni.. Juni.. Nak&#8221; panggil Bapak lirih.</p>



<p>&#8220;Dalem pak niki Juni pak&#8221; (Iya pak ini Juni pak) sahutku yang mulai menangis melihat Bapak Ia pun mencoba untuk duduk dan ikut menangis menatapku.</p>



<p>&#8220;Ibukmu ninggal nduk&#8221; ucapnya dengan berat hati.</p>



<p>Kini giliranku yang harus merasakan kejutan rasa sakit. Dadaku seperti tersengat oleh listrik secara spontan, aku masih tidak bisa mempercayainya namun hanya dengan mendengar kata itu perasaanku bagai kaca yang telah remuk hancur berkeping keping.</p>



<p>Di sisi lain ibu tiriku justru terawa terbahak bahak merasakan puas yang teramat sangat mengetahui hal ini. Ia kini merasa bahagia karena perempuan yang merebut suaminya telah pergi dan taakan kembali.</p>



<p>&#8220;Hoho wes mati toh? Yo apik lah sundel nyapo urip sue sue. Nek perlu koe pisan ndang nyusul bukmu nduk&#8221;</p>



<p>(Hoho udah mati ya? Ya bagus lah jalang ngapain hidup lama lama. Kalo perlu kamu sekalian ikut nyusul ibumu nak) ucapnya dengan semangat sembari mengelus rambut kepalaku.</p>



<p>Baru kali ini aku merasakan sentuhan halus ibu tiriku, sentuhan dengan rasa puas mendendam.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Kami semua pun segera pergi menuju tempat jenazah ibuku berada. Ternyata rumah Ibuk…</p>



<p>Terlihat banyak sekali warga dari seluruh penjuru desa mengerumuni rumah Ibuk. Gang yang sempit ini terisi oleh banyak manusia yang berebut melihat pemandangan tidak wajar disana.</p>



<p>Keluarga kami berjalan kearah rumah, telah terpasang garis polisi yang membentang panjang mengelilingi pagar dan halaman sekeliling rumah.</p>



<p>Bapak menggendongku, aku terus saja menangis tanpa henti. Kami langsung diijinkan masuk oleh para petugas.</p>



<p>Kulihat di dalam rumah jenazah ibuku tergantung tinggi dengan tali menjerat lehernya.Tali yang diikat kencang pada kerangka atap rumah ini, rumah yang menjadi tempat semua kenanganku bersama ibu berada.</p>



<p>&#8220;Bapak.. Ibuk pak Ibuk… &#8220;</p>



<p>&#8220;Ibuuukk.. Ampun ninggalke Juni Buk, Juni janji Juni mboten nakal malih Buk, tulungi ibukku tulung ibuk mesakke nok nduwur kono. Ibuk….&#8221;</p>



<p>(Ibuk.. Jangan tinggalin Juni Buk, Juni janji Juni gak nakal lagi Buk, tolongin ibu Juni om tolongin kasihan ibuk diatas sana. Ibuk… ) jeritku teriakku pada Ibuk dan semua orang yang ada disana.</p>



<p>Aku merasa emosi tak karuan mengapa mereka hanya melihat dan tak segera membantu ibu turun. Ibu pasti bisa dihidupkan, ibu pasti bisa diselamatkan kembali, pikirku kala itu.</p>



<p>Tubuh kecilku meronta menendang nendang Bapak. Ia hanya menangis dan sekuat tenaga mencoba menahan gerakku. Aku memukul mukuli badannya dan semakin berontak.</p>



<p>Kulihat para petugas dibantu beberapa warga mencoba menurunkan tubuh Ibu bersama sama. Mbak Desi masuk dan meraihku dari Bapak, ia menggendongku menuju keluar rumah dan pemandangan terakhir yang kulihat justru adalah kenangan terburukku akan sosok Ibuk.</p>



<p>Matanya melotot lebar dan mengarah keatas seakan hampir copot dan lidahnya menjulur panjang hingga melebihi dagunya sendiri. Sungguh tak pernah ku bayangkan nasib seperti ini akan terjadi dalam hidupku.</p>



<p>Proses pembersihan berlangsung sampai malam, dan mau tak mau kami melangsungkan takziah dirumah ini, &#8216;omah bekas kendat&#8217; kata warga. Jam terus berdetik dan menunjukkan pukul tujuh malam. Aku masih sangat terpukul dan tak sanggup lagi melihat jenazah Ibuk.</p>



<p>Dikamarku sendiri, aku ditemani oleh Mbak Desi yang terus berusaha membujukku untuk makan.</p>



<p>&#8220;Jun, kamu kalo gak maem nanti sakit&#8221; ucapnya yang duduk disampingku dengan mata iba.</p>



<p>&#8220;Juni pengen Ibuk&#8221; tegasku Akhirnya ia menyerah dan memilih diam membiarkanku.</p>



<p>*Cklek.. Kreeet* suara pintu kamarku dibuka.</p>



<p>Kulempar pandangan kearahnya, Ibu Mei. Ibu Mei berjalan kemari dan mengajakku untuk tidur dirumahnya bersama Mei, ia nampak berbicara dengan berusaha mempertahankan nadanya yang mulai bergetar karena tangis.</p>



<p>&#8220;Nduk Jun, bobok wene Bulik nggih kalih Mei&#8221; (Nak Juni, tidur dirumah Tante ya sama Mei) ajaknya membujuk.</p>



<p>&#8220;Mboten. Juni pengen Ibuk&#8221; tolakku tanpa basa basi Akhirnya Ibu Mei keluar, ia tak mau memaksaku.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Yasinan dimulai, kudengar suaranya jelas menyebar ke segala arah. Aku mengintip sejenak untuk melihat keadaan luar, tampak puluhan orang sedang mengaji disana.</p>



<p>Mbak Novi pun terlihat duduk diantara mereka, ia mengaji bersama. Sedangkan Bapak, entah dimana gerangan.</p>



<p>Tetiba…&nbsp; *Hi hi hi hi…* Tawa seorang bocah. Siapa yang justru tertawa pada saat seperti ini?</p>



<p>Aku membalikkan badan, Mbak Desi tak bergeser sedikitpun dari posisinya sedari awal tidur tadi, ia terlihat pulas.</p>



<p>*Hi hi hi hi… * Terdengar lagi, kini lebih jelas.</p>



<p>Aku memutari ranjang, mencari ke semua tempat di kamar ini. Tak kutemukan siapapun disana hingga bau busuk mulai menusuk hidungku.</p>



<p>&#8220;Opo se ambune sek koyo mengene&#8221; (Apasih baunya ko sampe kaya gini) gumamku sendiri Aku mencari darimana bau itu berasal.</p>



<p>Namun bau bau ini tercium dari segala arah. Baunya benar benar menyebar memenuhi seisi kamar.</p>



<p>Tampak bercak merah aliran darah berasal dari bawah ranjangku, karena merasa sangat penasaran tanpa pikir panjang akupun berjalan kearah meja dan mengambil senter diatasnya, lalu langkahku kuarahkan ke ranjang itu.</p>



<p>Aku menunduk sampai dadaku menyentuh lantai. Kunyalakan senter yang dalam genggamanku dan kuarahkan kebawah sana.</p>



<p>Bau! Sangat sangat bau! Apa itu?!&nbsp; Mataku mulai terfokus pada banyak gumpalan gumpalan yang terlihat seperti daging berceceran memenuhi bawah ranjangku itu.</p>



<p>Daging berlumuran darah yang mulai membusuk. Darahnya sangat banyak hingga mampu mengalir membasahi lantai.</p>



<p>Kamarku berlantaikan kayu, rumah ini adalah rumah lama yang turun temurun diwariskan oleh leluhur ibu, kata ibu.</p>



<p>Aku yang benar benar terkejut seketika beringsut mundur, menarik tubuhku kebelakang dengan cepat hingga tak sengaja punggungku menabrak lemari bajuku. Lemari kayu besar setinggi dua meter dengan empat pintu yang terlihat sangat gagah meskipun sudah tua.</p>



<p>*Nuni Nuni Hehehe* (Juni Juni Hehehe) belum kelar jantungku beristirahat kini kembali dikejutkan oleh suara yang tertangkap pendengaranku.</p>



<p>Aku bersimpuh ketakutan didepan lemari itu. Badanku berkeringat dingin, aku memberanikan diri untuk mendongak keatas dimana suara itu berasal.</p>



<p>Ketika kepalaku telah mendongak sempurna, kulihat bayangan seseorang. Dia! Bukankah dia anak yang waktu itu muncul dalam mimpiku? Anak yang penuh cacat.</p>



<p>Dia menyeringai menatapku dari atas lemari. Matanya terlihat hitam gelap dan senyumnya sungguh membuatku gemetar hebat.</p>



<p>Badanku mengejang hingga menimbulkan bunyi gemertak pada lantai kayu di bawahku ini.</p>



<p>Kepalaku tak dapat kugerakkan sesuka hati, mataku tak dapat kupejamkan bahkan untuk menelan ludahku sendiripun tak mampu. Aku seperti dibuat mematung.</p>



<p>Anak itu terlihat bergerak dari tempatnya, ia menarik kepalanya dan melompat dari atas sana ke pangkuanku secara tiba tiba hingga akhirnya aku bisa berteriak.</p>



<p>*Aaaaaaaaa…*</p>



<p>Teriakku sangat kencang tanpa sengaja sebelum badanku melemas dan tiba tiba pandanganku menjadi gelap.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Lanjut ke Cerita Horor Twitter ; Rusin Part 2 &gt;&gt;&gt; <strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part2/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Cerita Horor Rusin &#8211; Catatan Si Juni Part 2</a></strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part6 &#8211; Geni Baraloka</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part6/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part6/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2026 12:40:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[cerita horor gending alas mayit]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Penari]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4069</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Horor Twitter &#8211; Ini adalah part 6 dari serial cerita horor Gending Alas Mayit. Bagi yang belum membaaca part ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part6 &#8211; Geni Baraloka" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part6/#more-4069" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part6 &#8211; Geni Baraloka">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Cerita Horor Twitter &#8211;</strong> Ini adalah part 6 dari serial cerita horor  <strong>Gending Alas Mayit.</strong> Bagi yang belum membaaca part 5, baca dulu ya part 5-nya &gt;&gt;&gt; </p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part5/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 5</a></strong></p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/">Gending Alas Mayit Part 4</a></strong></p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part3-ikatan-masa-lalu/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 3</a></strong></p>



<p><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part </strong>2</a></p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 1</a></strong></p>



<p><strong>Cerita Horor Twitter</strong></p>



<p><strong>Judul</strong> : Gending Alas Mayit &#8211; Desa Terkutuk</p>



<p><strong>Penulis</strong> : @Diosetta</p>



<p>Suara gamelan mengalun tanpa henti , Terlihat sesosok demit perempuan berdiri tepat disamping sahabatku Danan. “ Kalian!! Kalian yang telah membunuh Laksmi!” Teriak Danan yang baru saja tersadar dari penglihatanya.</p>



<p>Wajah Danan terlihat merah padam , emosi terpancar jelas dari wajahnya. Sebuah mantra terucap dari mulutnya, dan itu diarahkan ke warga desa. Aku melemparkan gong kecil yang ku pegang dan segera menghalangi serangan Danan yang diarahkan ke warga desa.</p>



<p>“ Danan… eling Danan! Demit itu mempengaruhi kamu” Teriaku sambil menunjuk pada hantu Laksmi yang tertawa dengan mengerikan. “ Bunuh…. Bunuh mereka Danan, balaskan dendamku!” Demit itu terus membisikan kata itu ke Danan.</p>



<p>“ Minggir Cahyo! Jangan lindungi mereka… mereka lebih biadab dari setan-setan itu!” Ucap Cahyo yang masih berusaha menyerang Aswangga. “ Aswangga memaksa Laksmi untuk melayani nafsu bejatnya, Anak buahnya memperkosa dan meninggalkan jasad Laksmi begitu saja di Alas mayit… “ Teriak Danan dengan penuh emosi.</p>



<p>“Warga desa yang menyebabkan orang tua Laksmi mati! Terutama si kepala desa keparat itu! “ Aku menoleh kepada Pak Kepala Desa dan Aswangga memastikan kebenaranya. Mereka terlihat pucat dan berusaha meninggalkan balai desa.</p>



<p>&#8220;Bukan begini caranya Danan! “ Teriaku kepada Danan sembari melindungi Aswangga dan kepala desa. “ Kalau kamu melindungi mereka? Aku ga akan segan-segan” Ucap Danan dengan geram. “Aku ki koncomu Danan! Tenang dulu” ucapku berusaha meyakinkan Danan.</p>



<p>Namun Danan tidak peduli , ia menyerangku dan menerjang keluar mengejar Aswangga dan kepala desa. Sebuah pukulan yang diselimuti mantra penguat dihujamkan kepada Aswangga ,namun anak buah aswangga mencoba menahanya dan mereka berakhir dengan tebaring tak berdaya di tanah.</p>



<p>“Piye iki Pak Kades…?” (gimana ini Pak Kades?) Tanya Aswangga pada Pak Kades yang ada di sampingnya. “Wis, kamu tenang dulu..” Jawab Pak Kades, sambil menyiapkan sesuatu dari kantungnya.</p>



<p>Aku tidak punya pilihan, sepertinya aku harus melawan Danan dengan kekuatan penuh sebelum ia menghabisi warga desa.</p>



<p>“ Kematianpun tak cukup untuk membalaskan rasa sakit Laksmi..” Danan bersiap sekali lagi membaca mantra untuk menyerang aswangga namun aku berhasil mementalkanya.</p>



<p>“ Kalau kamu mau menghabisi warga desa, berarti lawanmu adalah aku” Ucapku berdiri tepat dihadapan Danan. “Baik Kalau itu maumu” Jawab Danan tanpa banyak bicara.</p>



<p>Ajian lebur saketi adalah ilmu pukuran jarak jauh andalan Danan , ia merapalkan itu dan mengarahkan kepadaku. Sulit untuk menghindarinya , namun dengan meminjam kekuatan Wanasura , roh kera pelindung dari hutan wanamarta aku mampu melompat setinggi tingginya dan menghindarinya.</p>



<p>Pukulan keras kuhampirkan pada tubuh Cahyo yang membuat ia terpental, secara fisik harusnya ia tidak bisa menahan pukulanku yang diselimuti kekuatan roh wanasura.</p>



<p>Suara gamelan terdengar semakin keras , Danan merespon suara itu dan bangkit lagi seolah tak terjadi apa-apa. Ia membaca mantra dan menarik sebuah keris dari sukmanya.</p>



<p>“ Heh Danan! Edan Kowe… Arep mateni aku ?” (gila kamu.. mau ngebunuh aku?) teriaku. Danan tidak menjawab , kali ini ia sudah benar-benar dikuasai oleh setan Laksmi itu.</p>



<p>Iya menghujamkan keris itu, dan setiap seranganya menimbulkan getaran yang sangat kuat. Aku hanya bisa menghindar dan menghindar, satu tusukan keris itu bisa saja langsung mengakhiri nyawaku.</p>



<p>Sesekali aku berhasil menyerang Danan , bahkan dengan kekuatan penuh, Namun suara gamelan kembali memaksa Cahyo untuk menyerangku.</p>



<p>&#8220;Mati… kalian semua harus mati” hanya ucapan itu yang terus keluar dari mulut Danan saat menyerang dengan kerisnya. Seandainya aku punya mantra pemanggil seperti Danan, mungkin aku bisa memanggil Geni Baraloka untuk memulihkannya.</p>



<p>Tapi sepertinya tidak ada pilihan lain , aku harus memanggil tubuh fisik Wanasura untuk melawan Danan walau dengan bayaran sebagian dari sisa umurku.</p>



<p>Sebuah pukulan kuhantamkan ke tanah, Danan dan seluruh benda yang ada di sekitarku terpental. Setidaknya jarak ini cukup untuk membuatku melakukan pemanggilan.</p>



<p>“ Danan… jangan dendam padaku “ Aku membentuk posisi meditasi dan merapalkan sebuah mantra pemanggil , namun belum sempat selesai, suara pukulan gong besar terdengar dari dalam hutan.</p>



<p>Nada gamelan mulai berubah , rasa panas terasa dari dalam tubuhku … alunan nada gamelan terngiang tanpa henti di kepalaku yang memaksa tubuh ini untuk mengikuti iramanya.</p>



<p>“ Arrrgh… Pak Sardi! gunakan Tabuh waturingin itu!” perintahku pada Pak Sardi untuk menghilangkan kutukan ini dari tubuhku, namun sepertinya tidak sempat.</p>



<p>Pukulan Danan sudah di hadapan wajahku dan membuatku terpental, ia mengejar dengan keris di tanganya dan bersiap menghunuskanya kepadaku.</p>



<p>Suara pukulan gong dari tabuh waturingin mendengung , kutukanku terlepas.. aku berhasil menggerakan tanganku dan menahan keris Danan walau dengan luka di tanganku.</p>



<p>Sekali lagi pukulan keras dihujamkan Danan padaku , kali ini dari jarak dekat yang membuatku memuntahkan darah kental berwarna merah dari mulutku Mati di tangan sahabatku sendiri sama sekali hal yang tak pernah kupikirkan, namun saat ini keris pusaka yang sudah berkali-kali menyelamatkan nyawa kami sudah berada di depan wajahku untuk menghabisi nyawaku.</p>



<p>Tepat sebelum keris itu menusuk jantungku , sesosok makhluk terbang dari arah hutan dan menendang Danan hingga terpental.</p>



<p>“ E.. Eyang Widarpa” Ucapku yang terheran dengan kemunculan sesosok demit kakek tua berambut putih, ia sama sekali tidak menoleh kepadaku dan terus mengejar dan menghajar Danan.</p>



<p>Terlihat Danan kewalahan menghadapi makhluk yang mengaku sebagai leluhurnya itu. “ Bocah asu… iso isone kowe dipengaruhi demit koyo ngene” ( bocah asu… bisa-bisanya kamu dipengaruhi setan kaya begini) Makinya sambil tetap menghajar Danan.</p>



<p>Merasa terancam dengan kehadiran Eyang Widarpa , Roh Laksmi meninggalkan Danan dan bersiap menyerang Pak Kades. Aku mencoba berdiri, namun sepertinya lukaku cukup serius.</p>



<p>Pak Kades berlari hingga terjatuh. “ Sekarang saatnya kamu mati!” Ucap roh Laksmi yang menerjang merasuki Pak Kades.</p>



<p>Kami semua panik, Pak Sardi tak mampu mengejar mereka. Namun tak disangka, roh Laksmi terpental. Sebuah pasak tergenggam dari tangan pak kepala desa.</p>



<p>Pria itu berdiri dan terlihat senyum di wajahnya. “ Dasar demit.. sudah mati masih bikin masalah” Pak Kades mengangkat pasaknya tinggi-tinggi dan menusukan pada dada setan Laksmi itu. Suara gamelan yang meneror desa terhenti.</p>



<p>Setan itu tersungkur meronta dan menahan rasa sakit.</p>



<p>T.. tunggu ada apa ini? Aku tidak mengerti dengan apa yang kulihat. “ Pak Kades.. apa maksudnya semua ini?” Pak Sardi mendekat mencari penjelasan namun ditahan oleh anak buah aswangga.</p>



<p>&#8220;Hahaha… Warga desa bodoh, seharusnya kalian bisa hidup lebih lama dengan kutukan ini..” “ tapi karena semua sudah terbongkar , malam ini kalian semua akan mati sebagai tumbal untuk menguasai kerajaan demit di alas mayit… “</p>



<p>Ucap Pak Kades dengan raut wajah yang berbeda dari biasanya. Pak Kades menarik rambut roh Laksmi yang tersungkur dan menyeretnya ke arah alas mayit. “ Ayo aswangga… jangan lama-lama di sini” Perintah Pak Kades pada aswangga.</p>



<p>Danan mulai tersadar , terlihat tak sedikit luka di tubuhnya akibat perbuatan Eyang Widarpa. “ Cahyo.. “ Danan segera menghampiriku yang tergeletak tak berdaya. “ Maafin aku Cahyo… “ ucapnya yang segera menolongku untuh duduk.</p>



<p>Danan menempelkan tanganya pada punggungku dan menyalurkan tenaga untuk memulihkan kondisiku. “ Ra mungkin tak maafin… “ ucapku pada Danan. Rasa bersalah terlihat dengan jelas di wajah Danan.</p>



<p>“ Tukokno sate klatak sek.. baru tak maafin “(traktir aku sate klatak dulu batu tak maafin ) Danan menghela nafas seperti merasa sedikit lega. “ Tenang.. tak tukokno sak weduse, sak bakule” (tenang, tak beliin se kambingnya se warungnya juga) Jawab Danan.</p>



<p>Pak Sardi terlihat menenangkan warga desa dan membubarkanya . Demit Eyang Widarpa masih terlihat mencari sesuatu. “Eyang… terima kasih eyang” Ucap Danan.</p>



<p>Eyang masih terlihat gelisah seolah berusaha membicarakan sesuatu.</p>



<p>“ Deso iki ora iso diselamatke… “ (Desa ini tidak bisa diselamatkan) Eyang Widarpa memulai kata-katanya.</p>



<p>Aku dan Danan menghampiri Eyang Widarpa , Pak Sardi menyusul kami. “ Maksud eyang apa… ?” Danan memastikan pernyataan Eyang Widarpa.</p>



<p>“Gending alas mayit ki kutukan pencari tumbal , Laksmi itu perantaranya..” Jelas eyang .</p>



<p>“Maksud eyang?” tanyaku memotong penjelasanya. “Kutukan ini sudah disiapkan sejak lama , sejak desa ini didirikan… Kepala desa itu adalah jelmaan iblis penghuni alas mayit, dia bermaksud menumbalkan seluruh warga desa”</p>



<p>Kami semua tak mampu berkata apa-apa. “tidak mungkin , Pak Kades selama ini orang yang ramah dan selalu membantu warga desa” Pak Sardi berkata dengan tidak percaya.</p>



<p>“ Nggak Pak Sardi , saya sudah lihat perbuatan Pak Kades dan aswangga di masa lalu,itu benar-benar perbuatan iblis” Cerita Danan dengan wajah yang mulai dikuasai emosi lagi.</p>



<p>“Eyang.. kami sudah bawa tabuh waturingin, dan kita diharuskan membuat lagi yang lebih besar, apa ini bisa membantu” Tanyaku.</p>



<p>“mungkin bisa… Tabuh waturingin itu bisa menahan warga dari kutukan , namun demit-demit di alas mayit itu tetap harus kalian hadapi sendiri…” Jawab Eyang Widarpa.</p>



<p>“ Baik mbah, kami sudah bersiap untuk itu “ ucap Danan.</p>



<p>“Jangan sombong ! yang nanti kalian hadapi itu satu kerajaan demit! Sekarang terserah kalian mau apa” Eyang widarpa terlihat bingung. </p>



<p>Tanpa kami sadar sekar sudah mulai sadar dan mendengarkan perbincangan kami. “ Bapak… warga desa biar sekar yang jaga, Bapak bantu mas Danan dan mas Cahyo saja” ucap sekar.</p>



<p>Dengan berat hati Pak Sardi menyanggupi permintaan sekar. Semakin banyak yang membantu harusnya semakin besar peluang kami menyelesaikan permasalahan ini.</p>



<p>“ Eyang… biasanya kan eyang dateng bikin masalah, kok ini tiba-tiba dateng bantuin kami” Tanyaku pada eyang dengan sedikit penasaran.</p>



<p>“ Heh bocah gemblung! Rungokno omonganku “ (dengerin omonganku) Eyang Widarpa berkata dengan wajah serius.</p>



<p>“Ucapanku kudu mbok inget…”</p>



<p>Aku dan Danan memperhatikan benar-benar apa yang dikatakan Eyang Widarpa. “Uwong edan… Kuwi… Bebas…”</p>



<p>Eyang Widarpa menyelesaikan perkataanya dan meninggalkan kami.</p>



<p>Aku dan Danan masih tertegun dengan apa yang ia ucapkan. “ Danan… aku baru tau , ternyata demit bisa ngelucu..” ucapku pada Danan. “ Podo… wis , mbuhlah…” (sama.. masa bodo lah) balasnya.</p>



<p>Hari semakin malam , nampaknya kami harus memasuki hutan malam ini. Kami melakukan beberapa persiapan dan berkumpul di tempat masuk alas mayit.</p>



<p>“ Mas Danan, mas Cahyo… sudah yakin?” Tanya Pak Sardi. “ Yakin pak… Pak Sardi.. jangan memaksakan diri ya” Ucapku padanya, sejenak aku teringat dengan kejadian di imah leuweung saat Brakaraswana membunuh pak kuswara.</p>



<p>“Hati-hati , kita… udah disambut” ucap Danan pada kami. Dari dalam sebuah hutan yang gelap , terlihat makhluk – makhluk halus penunggu hutan sudah menanti kami.</p>



<p>Yang mengerikan setan-setan ini tidak memiliki tubuh yang utuh dan bentuk yang bermacam-macam.</p>



<p>“Cahyo jangan diserang dulu… aku mau mencari tahu sesuatu” ucap Danan.</p>



<p>Danan menarik sebagian dari api Geni Baraloka yang tumbuh besar di perbatasan hutan dan menyerang sesosok makhluk berwujud nenek tua yang hanya memiliki satu tangan.</p>



<p>Setan itu terbakar dan meronta , namun tak lama wajah busuk makhluk itu kembali menyerupai manusia.</p>



<p>“ jadi… ini kekuatan geni baraloka milik paklek?” Tanyaku pada Danan. “ Kekuatan yang luar biasa, pemilik ilmu ini pasti sudah mencapai tingkat kebajikan “ Ucap Pak Sardi yang terkesima dengan ilmu milik paklek itu.</p>



<p>Danan menghentikan seranganya ketika makhluk itu mulai tenang. “ Benar.. . tapi bukan itu yang mau tak pastikan” ucap Danan sambil mendekat ke roh nenek itu.</p>



<p>“Nek… apa nenek sudah tenang? Tanya Danan. “terima kasih cu… nenek ga ngerasain sakit lagi” Ucap makhluk itu kepada Danan.</p>



<p>“Maaf nek… sebelum nenek pergi, bisa sedikit membantu kami menceritakan ada apa di alas mayit” Ucap Danan pada makhluk itu. Danan benar, ada baiknya kami mencari tahu kondisi terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam.</p>



<p>Nenek itu mengangguk dan mulai bercerita pada kami.</p>



<p>“ Jauh di jaman dulu… jauh sebelum ada desa di tempat ini , hutan ini adalah sebuah kerajaan” layaknya sebuah kerajaan , mereka memiliki patih yang memegang wilahnya masing-masing.</p>



<p>Kerajaan ini yang sangat kuat dan hampir tidak pernah kalah perang. </p>



<p>Namun semua berubah ketika saat perayaan kemenangan, sang raja memanggil sekelompok pemain gamelan ,sinden, dan penari untuk menghibur para prajuritnya. Para pejabat sangat senang dengan permainan dari mereka,</p>



<p>Hampir semua keinginan para pemain ini dipenuhi oleh para pejabat, sampai akhirnya keinginan mereka berubah menjadi hal yang mengerikan. Untuk memainkan pertunjukan , kelompok gamelan ini meminta 27 pasang telinga yang harus dipersembahakan sebelum pertunjukan.</p>



<p>Awalnya para pejabat heran, namun karena kerajaan masih memiliki tahanan perang , akhirnya dipotonglah kedua daun telinga tahanan itu untuk memenuhi permintaan mereka.</p>



<p>Namun ternyata itu hanya permulaan… permintaan menjadi semakin mengerikan , telinga , lengan, jari dalam jumlah yang tidak sedikit. Ketika kehabisan tahanan, mereka menggunakan warganya sendiri untuk diambil bagian tubuhnya.</p>



<p>Maka setiap terdengar suara gamelan dari istana, warga akan bersembunyi atau meninggalkan kerajaan untuk menghindarkan diri dari permintaan kelompok gamelan itu.</p>



<p>Semua menjadi mengerikan ketika tanpa sepengetahuan raja , kedua patih jatuh cinta dengan si penari.</p>



<p>Mereka berebut untuk menarik perhatian wanita itu dengan memberikan apa yang dia mau. Warga yang harusnya dilindungi oleh patih kerajaan dibantai dan dimutilasi untuk diberikan kepada si penari. Apabila penari itu puas , ia akan menemani sang patih semalaman.</p>



<p>Hal mengerikan terjadi lagi ketika si penari meminta untuk menjadi ratu kepada dua patih itu. Pemberontakan terjadi , korban bergelimpangan dimana-mana. Kedua patih mencoba membunuh raja , namun diselamatkan oleh seorang patih yang masih setia.</p>



<p>Karna tak mampu menahan pergolakan yang terjadi , sang patih dan raja mengajak warga yang masih bisa diselamatkan untuk meninggalkan kerajaan. Namun karena merasa bersalah dengan apa yang terjadi , raja kembali ke kerajaan seorang diri.</p>



<p>Sang Raja menantang kedua patih untuk bertarung dengan posisi raja sebagi hadiahnya. Dengan syarat pertarungan dilaksanakan di benteng istana , disaksikan semua para pengikut patih , dan diiringi oleh kelompok gamelan itu.</p>



<p>Permintaan disanggupi , seluruh pengikut kedua patih berkumpul menyaksikan . benteng istana menjadi dipenuhi oleh orang-orang yang sebelumnya saling bertarung.</p>



<p>Rupanya sang raja memiliki rencana, i tengah pertarungan ia menggeser beberapa batu pondasi dan menggunakan ajian ilmu peremuk bumi untuk menghancurkan benteng dan mengubur semua manusia yang ada disana termasuk dirinya.“ Nenek itu mencoba menyelesaikan ceritanya.</p>



<p>“Lantas mengapa sekarang tempat itu dipenuhi oleh banyak demit nek..?” Tanyaku. “ Penari itu ternyata jelmaan iblis laknat… semua permintaan itu adalah tumbal untuknya, semua warga yang mati karna permintaanya kini menjadi demit,  dan kami hanya bisa menghilangkan rasa sakit bila meminum darah manusia..” Jelasnya.</p>



<p>“ Sekarang ia tinggal di sendang banyu ireng tempat dimana kerajaan itu hancur, dan seorang patih biadab itu menjelma menjadi manusia yang mendirikan desa di ujung hutan ini, ia sudah beberapa kali merubah wujudnya “</p>



<p>Kami segera memikirkan tentang kepala desa, bisa jadi setan patih kerajaan ini yang menjelma menjadi seorang kepala desa untuk mengumpulkan tumbal si demit berwujud penari itu.</p>



<p>“ Terima kasih nek… semoga tenang di alam sana” Ucap Danan sambil melepaskan roh nenek itu yang perlahan menghilang.</p>



<p>Setelah mengetahui kondisi di alas mayit, kami masuk ke dalam hutan yang di kelilingi oleh makhluk halus korban pembantaian yang diceritakan tadi.</p>



<p>“Mas Danan, Demit-demit ini jangan dihabisi… biarkan geni baraloka bertambah besar dulu , biar nanti saya yang menenangkan mereka” Ucap Pak Sardi pada Danan. Terlihat rasa simpatik muncul dari ucapan Pak Sardi setelah mendengar cerita dari hantu nenek tadi.</p>



<p>“ Baik Pak Sardi , kita gunakan geni baraloka seperlunya saja” balas Danan. Kami membaca ajian pelindung dan berusaha meninggalkan demit itu tanpa pertarungan dan terhenti di sebuah sendang yang digenangi air berwarna hitam.</p>



<p>Diatas sendang itu telah berdiri bangunan candi dengan batu berwarna hitam dan sebuah Gong besar yang terletak di tengah sendang. Mataku melihat sekitar , mencari kayu pohon beringin tua yang sudah membatu seperti yang diceritakan Mbah Rusman.</p>



<p>Kami mendekat , namun langkah kakiku terhenti ketika muncuk dua makhluk yang kami kenali. Pak kepala desa , dan Aswangga… .</p>



<p>Dibelakangnya muncul wanita berpakaian sinden lengkap dengan sanggulnya , wajahnya semakin mengerikan ketika tidak terlihat bola mata di lubang matanya.</p>



<p>Tak berhenti sampai di situ , pada sebuah pohon tergantung jasad seorang wanita yang sudah membusuk dengan tubuh yang mengenaskan. Itu jasad Laksmi…</p>



<p>Danan terlihat geram, namun kali ini ia tidak terbakar emosi. “ Cahyo… Kali ini kamu ga akan menghalangiku kan? “ Tanya Danan padaku.</p>



<p>“ Menghalangi? Aku yang akan menghabisi mereka duluan!” Jawabku sambil menerjang setan-setan itu.</p>



<p>(<strong>Bersambung part 7</strong> &#8211; <a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7/">Pagelaran Tengah Wengi</a>..) </p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part6/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part5 &#8211; Desa Terkutuk</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part5/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part5/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2026 06:45:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[cerita horor gending alas mayit]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4062</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Horor Twitter &#8211; Ini adalah part 5 dari serial cerita horor Gending Alas Mayit. Bagi yang belum membaaca part ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part5 &#8211; Desa Terkutuk" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part5/#more-4062" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part5 &#8211; Desa Terkutuk">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Cerita Horor Twitter &#8211;</strong> Ini adalah part 5 dari serial cerita horor  <strong>Gending Alas Mayit.</strong> Bagi yang belum membaaca part 4, baca dulu ya part 4-nya &gt;&gt;&gt; </p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/">Gending Alas Mayit Part 4</a></strong></p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part3-ikatan-masa-lalu/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 3</a></strong></p>



<p><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part </strong>2</a></p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 1</a></strong></p>



<p><strong>Cerita Horor Twitter</strong></p>



<p><strong>Judul</strong> : Gending Alas Mayit &#8211; Desa Terkutuk</p>



<p><strong>Penulis</strong> : @Diosetta</p>



<blockquote class="twitter-tweet"><p lang="in" dir="ltr">Gending Alas Mayit<br>Part 5 &#8211; Desa Terkutuk<br><br>Penyebab kutukan gending alas mayit , akan terkuak di part ini<a href="https://twitter.com/bacahorror?ref_src=twsrc%5Etfw">@bacahorror</a> <a href="https://twitter.com/IDN_Horor?ref_src=twsrc%5Etfw">@IDN_Horor</a> <a href="https://twitter.com/qwertyping?ref_src=twsrc%5Etfw">@qwertyping</a> <a href="https://twitter.com/malam_kisah?ref_src=twsrc%5Etfw">@malam_kisah</a> <a href="https://twitter.com/Penikmathorror?ref_src=twsrc%5Etfw">@Penikmathorror</a> <a href="https://twitter.com/HorrorTweetID?ref_src=twsrc%5Etfw">@HorrorTweetID</a> <a href="https://twitter.com/horrornesia?ref_src=twsrc%5Etfw">@horrornesia</a> <br><br>ga lupa ngingetin cerita ini juga bisa dinikmati di podcast <a href="https://twitter.com/bagihorror?ref_src=twsrc%5Etfw">@bagihorror</a> <a href="https://t.co/IYruJueqU0">pic.twitter.com/IYruJueqU0</a></p>— Diosetta (@diosetta) <a href="https://twitter.com/diosetta/status/1418027296661786627?ref_src=twsrc%5Etfw">July 22, 2021</a></blockquote> 



<p>Sekumpulan orang datang menghampiri Cahyo dan Paklek. Sepertinya , mereka dari kota yang cukup jauh. “ Paklek , Cahyo… sudah lama sekali ya , dulu kamu masih sekecil ini lho cahyo” Ucap seorang pria yang datang menghampiri rumah Paklek.</p>



<p>Mereka berbincang panjang lebar seolah sedang bernostalgia akan sesuatu. Aku? Aku hanya duduk termenung di ujung ruangan. Cerita sekar mengenai Laksmi sungguh membuatku sangat terpuruk.</p>



<p>Tidak mungkin seorang laksmi yang baik dan ramah bisa mati di tangan anak buah seseorang bernama Aswangga itu.</p>



<p>“Danan… sini lho , tak kenalin sama mas-masku “ Panggil Cahyo dari ruang tamu. Aku menghampiri mereka sambil berusaha menyembunyikan wajah murungku.</p>



<p>“ Saya Danan mas… majikanya Cahyo” ucapku sambil menjabat tangan teman-teman cahyo.</p>



<p>Cahyo segera menoleh dan melemparkan sarungnya ke arahku. “Enak aja… majikan mbahmu , emangnya aku mbok gaji piro?” Jawab cahyo yang mengerti maksud candaanku.</p>



<p>“ wah.. mas danan bisa aja .. saya Ardian , ini Nizar dan Ramto… “ Ucap mereka memperkenalkan diri. Paklek mendekat sambil membawakan minuman yang telah disiapkan Bulek dari dapur.</p>



<p>“Ini.. Diminum dulu, terima kasih lho sudah jauh-jauh mau mampir ke sini” Ucap Paklek menyambut mas ardian dan teman-temanya.</p>



<p>Perbincangan-perbincarang ringan terbentuk diantara kami , hampir sebagian besar merupakan cerita tentang bagaimana paklek dan cahyo waktu masih kecil sempat menyelamatkan mereka dari bahaya di pabrik gula.</p>



<p>“Cahyo , Paklek… kami sudah mencoba mencarikan informasi semampu kami, dan berujung kepada seseorang bernama Mbah Rusman” Ucap mas ardian. “Katanya dulu dia warga desa windualit yang bertahan dari kutukan yang sedang kalian hadapi itu”</p>



<p>Sebagian besar, kami sudah mengetahui cerita mas ardian lewat telepon , namun dengan bertemu langsung , cerita mereka tentang mbah rusman terasa lebih menyedihkan.</p>



<p>“Sebentar mas ardian , sebelum dilanjutin ceritanya biar saya panggil sekar dulu “ Ucap cahyo memotong cerita mas ardian.</p>



<p>Sambil Mas Ardian melanjutkan ceritanya, Mas Nizar masuk kedalam mobil dan mengambil sebuah benda yang terlihat cukup besar. “Nah… ini barangnya “ ucap mas adrian membukakan sebua bungkusan yang berisi sebuah gong kecil dan pemukulnya.</p>



<p>“ Menurut cerita mbah rusman , pemukul ini yang disebut dengan tabuh waturingin.. namun ini tidak cukup untuk satu warga desa.</p>



<p>kalian harus membuatnya dari kayu pohon beringin tua di sebuah sendang di hutan” Cerita mas Ardian. Paklek terlihat terfokus pada benda itu dan memperhatikan energi yang keluar darinya.</p>



<p>“Sendang banyu ireng… saya pernah ke sana paklek” Ucapku pada paklek. Aku mengingat sebuah tempat yang digenangi air berwarna hitam di dalam Alas Mayit.</p>



<p>“ ya sudah mas ardian, benda ini kami terima ya.. terima kasih banyak” Ucap paklek kepada mas ardian. Terlihat paklek sengaja memotong ceritaku agar mereka tidak terlalu terjun ke dalam permasalah mengerikan ini.</p>



<p>“ Iya mbah, kami sangat senang bisa membantu” Ucap Mas Ranto menggantikan Mas Ardian yang sedang berfikir.</p>



<p>“Paklek.. mas danan… cahyo , kami tau ini tidak mudah tapi kalau bisa selesaikan ini sebelum purnama berikutnya, sebelum kutukan itu menyerang mbah rusman lagi” Pinta mas ardian dengan wajah yang serius.</p>



<p>Kami mengerti maksud mas ardian dan berjanji menyelesaikan ini secepat mungkin.</p>



<p>“ Oiya paklek.. mohon maaf, Korek pemberian paklek saya serahkan kepada mbah rusman dan cucunya.. safa pikir, mungkin itu bisa membantu mereka” Ucap mas ardian lagi.</p>



<p>“Yang kamu lakukan sudah benar, korek itu sudah seharusnya berada di tangan mereka yang membutuhkan” Balas paklek sambil menepuk mundak mas ardian.</p>



<p>Setelah perbincangan serius itu.. kami berpisah , Cahyo mengajak teman-temanya itu melihat pabrik gula tempat kerjanya yang sudah direnovasi dan sore harinya mereka sudah berpamitan pergi.</p>



<p>“ Gak nyangka, kamu punya teman-teman sehebat itu” Ucapku pada cahyo. “ iya donk, tapi sayangnya temanku yang paling hebat lagi galau gara-gara kehilangan perempuan.. “ Cahyo menyindirku , namun aku tahu maksud baiknya untuk menyemangatiku.</p>



<p>“ Panjul, Danan, Sekar… Kita kumpul di pendopo” Teriak paklek sambil berjalan ke halaman belakang.</p>



<p>Kami menyusul paklek ke pendopo dan duduk lesehan sekenanya. Suara pohon yang ditiup Hembusan angin malam memecah keheningan di halaman belakang rumah.</p>



<p>“Paklek sudah mampir ke desa windualit…” Paklek berbicara dengan wajah serius. Kami saling menatap , sudah jelas paklek tidak pernah menginggalkan desa ini, Tapi kenapa paklek bisa berkata seperti itu.</p>



<p>“ Paklek ke sana dalam raga sukma, Warga disana masih selamat, namun banyak yang terbaring tak berdaya seolah kehilangan rohnya..</p>



<p>Di sana seseorang, mungkin itu adalah ayahnya sekar… ia terlihat sibuk menjaga tubuh korban-korban itu siang dan malam” cerita paklek sambil menoleh pada sekar.” Sekar terlihat menghela nafas , seolah lega mendengar kabar mengenai ayahnya.</p>



<p>“ Danan… walaupun kemarin eyang widarpa terlihat acuh , ternyata saat ini ia sedang berkeliling alas mayit mencari sesuatu , temui dia sebelum kamu masuk ke dalam hutan itu” Perintah Paklek.</p>



<p>“ Baik Paklek “ aku mengerti maksud paklek, eyang widarpa memang sama sekali tidak bisa ditebak.</p>



<p>“o iya, dan satu lagi… ini peninggalan nyai suratmi , tolong berikan pada eyang nanti “ Paklek menyerahkan sebuah kalung kuningan seperti yang biasa dipakai prajurit-prajurit jaman dulu.</p>



<p>Aku segera mengambil dan menyimpanya. Sebenarnya aku penasaran , apa reaksi eyang widarpa saat menerima ini.</p>



<p>Paklek menutup perbincangan kami dengan mengajarkan sebuah mantra penyembuh kutukan, termasuk kepada sekar. Paklek bilang, mungkin nanti ayah sekar akan membantu kami di alas mayit, jadi sekar harus bisa membantu warga untuk menahan kutukan yang diterima warga desa.</p>



<p>Paklek tidak ikut, ia masih bertugas menjaga pabrik gula yang ia kelola. Namun Paklek bilang bahwa ia sudah meninggalkan sesuatu untuk membantu kami di sana.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Kami berganti angkutan beberapa kali sampai akhirnya kami turun di sebuah persimpangan yang terdapat jalan setapak menuju hutan hutan.</p>



<p>“ Dari sini masih berapa lama?” Tanya cahyo pada sekar. “ kalo jalanya cepet, mungkin bisa 2-3 jam” Jawab sekar.</p>



<p>“ Ya udah, kalo sekar capek bilang ya… nanti mas gendong” Goda cahyo dengan memasang wajah genit yang kususul dengan pukulan di kepalanya.</p>



<p>“ Inget , kita mau nolong orang.. jangan sampai ilmumu ga bisa dipake gara-gara kualat” Aku memperingatkan cahyo.. “iya.. mudeng kok, maksudnya biar ga terlalu tegang aja” jawab cahyo.</p>



<p>Aku tahu benar, cahyo memang tidak mungkin berbuat aneh aneh , daritadi ia memang terus memperhatikan sekar yang terlihat cemas selama perjalanan.</p>



<p>Kami melalui hutan-hutan yang rindang, sesekali kami beristirahat di pinggir sungai untuk sekedar menarik nafas dan mencuci muka sampai akhirnya kami sampai di desa sekar tepat sebelum malam.</p>



<p>Aku sedikit bernostalgia dengan desa ini, sudah ada kemajuan saat aku tersesat disini listrik masih belum menerangi desa ini. Selain itu tidak banyak yang berbeda , selain sebuah rumah yang terlihat cukup besar di tengah-tengah desa. Mungkin saja itu rumah juragan kaya yang bernama Aswangga.</p>



<p>Beberapa orang terlihat berkumpul di balai desa. Sekar segera berlari menuju kesana. “ Bapak! Sekar pulang” teriak sekar yang bergegas menemui ayahnya di tempat itu.</p>



<p>“Sekar…” Ucap ayah sekar yang segera memeluknya , sepertinya ia juga sadar dengan keberadaanku. Aku dan cahyo segera menyusul untuk menemui ayahnya sekar itu.</p>



<p>“ Mas Danan… kamu bener mas danan kan?” ucap pak sardi dengan senyuman di wajahnya. “ Iya Pak Sardi , ini saya.. dan ini teman saya cahyo” jawabku sambil memperkenalkan cahyo.</p>



<p>Sekar menceritakan tentang bagaimana dia diselamatkan oleh cahyo dan dipertemukan denganku, termasuk mengenai mbah rusman.</p>



<p>“Wah ada tamu dari jauh nih… “ seorang pria paruh baya datang menghampiri kami. “Eh pak kades.. lama sekali ndak ketemu “ ucapku menyambutnya.</p>



<p>Pak Kades dan Pak Sardi menceritakan panjang lebar mengenai apa yang terjadi di tempat ini dan bagaimana bisa banyak warga terbaring tak berdaya di tempat ini.</p>



<p>“ Mas Danan, Mas Cahyo ayo mampir ke rumah dulu… nanti tidur di rumah saya saja, ada kamar kosong disana” Ucap Pak Sardi.</p>



<p>“ Waduh ga usah repot-repot pak , nanti saya tidur di rumah singgah aja.. mau nostalgia “ Balasku pada pak sardi . “ Pak Sardi , Istirahat dulu… warga yang terkena kutukan biar kami yang mengobati” ucap Cahyo kepada pak sardi.</p>



<p>Ternyata dari tadi cahyo memperhatikan kondisi pak sardi yang sudah terlihat sangat kelelahan, rasa capek kami selama perjalanan sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding yang pak sardi rasakan.</p>



<p>“Bener nih, kalian habis perjalanan jauh lho.. pasti capek” Pak sardi memastikan pada kami. “bener pak.. Sekar , tolong antar Bapak ke rumah ya.. suruh istirahat, biar kami ditemani sama pak kades.. “ Perintahku pada sekar.</p>



<p>Sekar mengangguk dan mengerti maksud kami , memang wajah kami terlihat serius setelah memasuki desa ini. Tak ada lagi candaan keluar dari mulut cahyo.</p>



<p>“Pak Kades.. saya mohon ijin memeriksa warga desa” Ucap cahyo sambil mepersiapkan peralatan dari ranselnya. “Monggo mas… tapi jangan memaksakan diri ya” Jawab pak kades yang di susul dengan beberapa makanan ringan dan teh hangat yang diantar oleh warga desa.</p>



<p>Kami memeriksa seluruh warga yang terbaring disini , jelas terlihat.. roh mereka tidak berada pada tubuhnya, namun sebuah kekuatan menjaga agar tidak ada entitas lain yang masuk ke tubuh mereka. Mungkin itu adalah perbuatan pak sardi.</p>



<p>Kami hanya membacakan mantra pelindung untuk menahan serangan-serangan yang mungkin datang ke tempat ini.</p>



<p>“Danan… kita harus beresin ini semua , ini keterlaluan” Ucap Cahyo padaku. “ Sabar jangan gegabah… malam ini kita persiapan dulu , malam ini bukan bulan purnama.. seharusnya aman” aku mencoba menahan emosi cahyo.</p>



<p>Setelah selesai memeriksa warga, kami berpamitan ke rumah singgah yang terletak tak jauh dari balai desa. Setelah membereskan semua peralatan , kami melakukan persiapan untuk esok malam.</p>



<p>“ Cahyo.. tak coba cek dulu, paklek ninggalin apa di sini” ucapku pada cahyo sambil memasang posisi meditasi. “ ya sudah sana… aku jagain” balas cahyo.</p>



<p>Aku memisahkan sukmaku dari raga, sebuah aura kelam terlihat mengelilingi hampir seluruh sudut desa ini, dan benar sumbernya dari alas mayit. aku mencoba berkeliling desa dan mencari tahu lebih dalam mengenai aura kelam ini.</p>



<p>Dari perbatasan desa dan alas mayit, terlihat nyala api berwarna putih yang menambah besar secara perlahan. Geni Baraloka , salah satu ilmu terhebat milik pakde.. dengan api ini, kami bisa menenangkan roh-roh penasaran yang belum tenang tanpa harus bertempur, Tapi aku ragu besar api ini akan cukup besar untuk melawan seisi penghuni hutan ini.</p>



<p><br>Belum sempat menemukan petunjuk yang berarti , perlahan terdengar suara mendengung dari dalam hutan. Itu adalah suara gong yang dipukul pelan dan disusul dengan suara gamelan, persis seperti apa yang kudengar saat sekar kesurupan.</p>



<p>Tapi.. bukanya malam ini bukan purnama?</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Layaknya iring-iringan kerajaan , dari dalam hutan muncul kereta kencana bersama dengan sinden yang melakukan tarian-tarian gemulai. Bahaya semakin kurasakan, segera aku menarik sukmaku kedalam tubuh untuk memberitahu cahyo dan pak sardi.</p>



<p>“Cahyo… sepertinya kita harus bersiap , suara gamelan muncul dari dalam hutan.. “ aku memberi tahu cahyo dengan apa yang kulihat.</p>



<p>“ tapi sekarang bukan bulan purnama? “ bantah cahyo.</p>



<p>“ Sepertinya mereka merasakan ancaman, iring-iringan kereta demit itu juga mengarah kesini.. pokoknya siap-siap” perintahku Kami mengambil tabuh waringin dan gong kecil yang kami bawa dan keluar dari rumah singgah.</p>



<p>Suara gamelan sudah terdengar dengan semakin jelas, semua warga termasuk pak sardi juga serentak keluar dari kediamanya dan berkumpul ke balai desa.</p>



<p>“ Mas danan, gimana ini.. jangan sampai ada korban lagi” Ucap pak kades yang menghampiri kami. “Tenang pak , tidak akan kami biarkan.. “</p>



<p>aku menenangkan pak kades sambil memperhatikan gelagat warga mencari apakah ada yang terpengaruh suara gending itu. “Pak Sardi… Sekar ? Mana sekar?” Cahyo yang tidak menemukan keberadaan sekar menanyakan kepada pak sardi yang datang bersama warga.</p>



<p>“ Lah nak cahyo, tadi sekar pamit mau mengantarkan makanan untuk kalian” ucap pak sardi yang mulai cemas.</p>



<p>Insting cahyo memaksanya untuk berlari ke balai desa, dan mendobrak pintu kayu yang tertutup disana. “ Danan! Disini!” teriak Cahyo memanggilku. Aku berlari dan segera memperhatikan apa yang dilihat oleh cahyo.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Di tengah-tengah warga yang terbaring , Sekar menari dengan gemulai mengikuti irama gamelan dan mengelilingi warga yang terkena kutukan. “ Sekar , lawan sekar! “ teriak pak sardi yang mencoba menghentikan anaknya itu, namun itu semua sia-sia.</p>



<p>Pak sardi terpental dengan kekuatan besar yang memancar dari tubuh sekar, sekar menoleh dengan senyum mengerikan di wajahnya. “ satu persatu kalian akan mati&#8230; tidak ada tempat bagi kalian untuk lari “ suara mengerikan terdengar dari mulut sekar.</p>



<p>cahyo berlari mendekat dan memukul gong dengan tabuh waringin pemberian mbah rusman. Suara mendengung panjang terdengar ke seluruh penjuru ruangan.</p>



<p>Tarian sekar sempat terhenti.. ia terjatuh dan memuntahkan cairan berwarna hitam. Sekar mencoba menari lagi , dan dihentikan dengan suara gong yang dipukul oleh cahyo.</p>



<p>Sekar yang kesurupan terlihat semakin kesakitan, namun samar-samar terlihat bayangan wanita yang hampir terpisah dari tubuh sekar.</p>



<p>“ Laksmi… roh laksmi yang merasuki sekar!” Teriaku pada pak sardi. Pak sardi mengambil posisi dan membacakan doa-doa untuk menghentikan pergerakan demit yang ada di tubuh sekar.</p>



<p>Aku teringat geni baraloka yang ditinggalkan paklek, sebuah mantra pemanggil kuucapkan untuk menarik sebagian dari api itu dan melemparkan kepada sekar. Sekar yang merasa kepanasan mulai terjatuh dan kehilangan kesadaran.</p>



<p>Dihadapanku ada sesosok roh wanita berpakaian kebaya memandangku dengan wajah yang pucat. Aku mengenalnya… itu Laksmi. Suara gamelan terdengar semakin keras , Demit berwujud laksmi itupun mendekat hingga menembus tubuhku. Aku kehilangan kesadaran, namun sebuah penglihatan muncul di kepalaku.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Terlihat seorang laki-laki berbicara dengan laksmi. “ Lihat.. ini foto orang tuamu? “ aku pastikan mereka akan di hukum mati setelah ini. Ucap orang itu mengancam laksmi.</p>



<p>“Jangan Aswangga… tolong, wis cukup kamu mengurung mereka bertahun tahun.. ” Laksmi memohon sambil menangis. “ kesalahan mereka ra iso dimaafke, kecuali… kowe arep nuruti semua perintahku” Aswangga mencoba mengintimidasi laksmi.</p>



<p>“Apa…? Apa yang kamu mau?? Tak lakuin semua .. asal kamu berjanji membebaskan mereka” Ucap laksmi sambil menutup wajahnya menahan air mata yang menetes di pipinya.</p>



<p>“ Aku membangun sebuah rumah di sisi belakang hutan… temui aku di sana setiap malam bulan purnama” Perintah aswangga sambil melemparkan foto kedua orangtua laksmi dan meninggalkanya.</p>



<p>Sebuah rumah kecil terlihat di sisi belakang hutan, sebuah lampu minyak sudah menyala dengan terang di dalam. Seorang wanita berjalan dengan ragu menuju rumah itu, ia sempat terhenti di depan pintu , namun rasa sayangnya kepada kedua orang tuanya memaksanya untuk masuk.</p>



<p>“Aku sudah di sini… apa yang kamu mau?” Tanya laksmi. Aswangga tidak menjawab , ia hanya berjalan ke arah pintu dan menguncinya.</p>



<p>“Harusnya kamu sudah tau apa yang aku mau…” Ucap aswangga sambil menyentuh pipi Laksmi. Laksmi mundur , namun Aswangga menahan kedua tanganya…</p>



<p>Aku tak sanggup melihatnya , bibir mungil laksmi di lumat dengan paksa oleh aswangga .</p>



<p>Tangan biadab itu meraba ke seluruh tubuh laksmi dengan penuh nafsu. Laksmi mencoba melawan, namun tamparan keras menghantam ke pipinya. “Jangan coba melawan! Kecuali.. kamu mau orang tuamu pulang tanpa nyawa” Ancam aswangga.</p>



<p>Laksmi ketakutan dan tak berani melawan , ia hanya pasrah saat kesucianya direnggut dan tubuhnya di nikmati oleh aswangga. Terlihat air mata laksmi tak henti-henti membasahi tempat itu.</p>



<p>Setiap malam purnama, laksmi harus melayani nafsu bejat Aswangga. Sampai akhirnya ia merasakan hal yang aneh pada tubuhnya. Laksmi mengandung anak dari aswangga…</p>



<p>Beberapa kali laksmi memberi tahu aswangga secara diam diam, namun Aswangga menentangnya tidak percaya. Sampai akhirnya , ia mengatakanya di depan warga desa.</p>



<p>“ Ini anakmu mas! Anakmu!” Ucap laksmi yang kepada aswangga yang dibalas dengan pukulan keras yang menyebabkan laksmi terjatuh. Melihat kejadian itu, warga berkerumun dan anak buah aswangga segera menyusul menghampiri aswangga.</p>



<p>“ Perempuan brengsek! “ Aswangga memukuli laksmi tak hanya sekali, setiap ia akan berbicara aswangga menghentikanya dengan menghajarnya. Tidak ada satupun warga yang berani percaya dengan kata-kata laksmi , temasuk istri aswangga.</p>



<p>“Uwis , Pateni wae” (sudah, bunuh saja) Teriak salah seorang anak buah Aswangga memanaskan emosi warga. “Jangan pak , bicarakan baik-baik dulu” ucap salah seorang warga ,Sekali lagi pukulan yang keras menghantam laksmi, dan wanita itu hanya diam berlutut sambil melindungi janin di perutnya.</p>



<p>“ Sudah pak , Sudah… jangan sampai ada yang mati, kalau terpaksa.. usir saja dia dari desa ini” Ucap kepala desa yang merasa takut dengan pengaruh Aswangga dan anak buahnya yang terlihat bengis.</p>



<p>“Baik… Bawa dia! Usir dia dari desa ini!” Perintah Aswangga kepada anak buahnya. Tiga orang bertubuh besar dengan kasar menarik tubuh Laksmi menyeretnya membawanya keluar dari desa.</p>



<p>Di tengah perjalanan, salah seorang anak buah aswangga tergoda dengan tubuh Laksmi yang terlihat dari bajunya yang terkoyak.</p>



<p>“ Gowo ning alas wae piye?” (Bawa ke hutan aja gimana?) ucap salah seorang anak buah aswangga sambil memberikan isyarat kepada teman temanya. “Wah… pinter kowe “ Ucap temanya sambil tersenyum.</p>



<p>Laksmi dipaksa berjalan menyusuri hutan di perbatasan desa itu, sampai di kedalaman hutan anak buah aswangga melucuti pakaian laksmi hingga tak sehelipun benang ada ditubuhnya.</p>



<p>Laksmi menangis sejadi-jadinya melindungi tubuhnya , satu persatu anak buah aswangga memperkosa laksmi dengan kejam… Pukulan demi pukulan menghantam tubuh laksmi hanya untuk memuaskan nafsu anak buah aswangga yang biadab itu.</p>



<p>“ Emang dasar perempuan goblok! Orang tuamu itu udah mati! “ Ucap salah satu anak buah aswangga. Ditengah tangisanya, laksmi mencoba melawan. “ Gak mungkin, Aswangga sudah janji tidak akan membunuh mereka!” Teriak laksmi.</p>



<p>“ Bukan Aswangga yang membunuh mereka… warga desa kesayanganmu itu yang membuat kedua orang tuamu mati!” lanjut anak buah aswangga sambil tertawa.</p>



<p>“ Ibumu itu , selingkuh dengan kepala desa… dan ayahmu menghamili bocah dibawah umur saat di kota”</p>



<p>“ ayahmu dihukum rajam oleh warga dan kepala desa , yang akhirnya melarikan diri ke hutan ini yang akhirnya gantung diri , ibumu tak berani menahan malu.. dia menenggalamkan diri di sungai”</p>



<p>Aku tidak percaya akan semua cerita ini, warga desa windualit yang begitu ramah ternyata begitu kejam terhadap laksmi dan kedua orang tuanya. Aku emosi, jika ini benar .. aku harus membuat perhitungan pada aswangga , pak kades dan warga desa..</p>



<p>“ Brengsek kalian! Bajingan kalian warga desa windualit! Aku akan membalas semua ini… “ Teriak laksmi yang dibalas dengan jambakan anak buah aswangga yang masih ingin melampiasakan nafsunya.</p>



<p>“ Dendam! Aku dendam! Kalian harus mati!!” Teriak laksmi dengan wajah yang putus asa.</p>



<p>Setelah puas menyiksa dan memperkosa tubuh laksmi, anak buah aswangga meninggalkan laksmi tergeletak begitu saja.</p>



<p>Hari semakin malam… tak ada satupun cahaya masuk ke hutan itu. Laksmi tersadar dan menyeret tubuhnya sedikit demi sedikit.</p>



<p>Di tengah rasa dendam yang menyelimutinya, ia sampai ke sebuah sendang yang digenangi dengan air yang berwarna hitam. Bau busuk mengelilingi tempat itu. “ mati… warga desa harus mati…” bisik laksmi di setiap langkahnya.</p>



<p>Suara gemericik air terdengar, riak air muncul dari genangan air yang berwarna hitam itu. Sebuah kepala dengan sanggul di kepala muncul dari dalam sendang, namun tak ada bola mata di wajah itu. Makhluk itu berdiri dan semakin mendekat ke laksmi.</p>



<p>“ khikhikhi…. Aku iso nulungi kowe mateni wong wong kuwi” (aku bisa nolongin kamu membunuh orang-orang itu) ucap makhluk itu pada laksmi. Laksmi memandang setan itu, setelah semua yang iya lalui , wajah seram setan itu sama sekali tidak membuatnya takut.</p>



<p>“ Tak wenehi opo wae.. sing penting warga desa mati!” (saya kasi apa saja.. yang penting warga desa mati!) Ucap Laksmi kepada makhluk itu.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Suara gong berbunyi , penglihatanku menjadi kabur.. Mataku kembali melihat orang-orang di balai desa, Aku masih terbawa emosi..</p>



<p>selain itu roh laksmi masih berdiri di depanku, dan wajahnya tidak lebih dari sejengkal dari wajahku. “ Kamu sudah tau semuanya danan… kamu masih mau membantu warga desa yang biadab itu” ucap demit itu kepadaku.</p>



<p>Wajahku merah padam, terlihat di pintu ruangan pak kades berdiri dengan seseorang yang dijaga oleh beberapa anak buahnya.. Itu pasti Aswangga… aku merapalkan ajian lebur saketi pada tanganku dan bersiap menyerang mereka.</p>



<p>“ Balaskan dendamku danan! Balaskan rasa sakitku! Dan jadi lah pangeranku di Alas Mayit!” Ucap Roh laksmi diikuti dengan tawanya yang mengerikan. </p>



<p>(Bersambung Part 6 &#8211; Geni Baraloka) &gt;&gt;&gt; <strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part6/">Gending Alas Mayit Part6</a></strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part5/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part4 &#8211; Tabuh Waturingin</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2026 00:40:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[cerita horor gending alas mayit]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4059</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Horor Twitter &#8211; Ini adalah part 4 dari serial cerita horor Gending Alas Mayit. Bagi yang belum membaaca part ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part4 &#8211; Tabuh Waturingin" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/#more-4059" aria-label="More on Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part4 &#8211; Tabuh Waturingin">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Cerita Horor Twitter &#8211;</strong> Ini adalah part 4 dari serial cerita horor  <strong>Gending Alas Mayit.</strong> Bagi yang belum membaaca part 3, baca dulu ya part 3-nya &gt;&gt;&gt; </p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part3-ikatan-masa-lalu/">Gending Alas Mayit Part 3</a></strong></p>



<p><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part </strong>2</a></p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 1</a></strong></p>



<p><strong>Cerita Horor Twitter</strong></p>



<p><strong>Judul</strong> : Gending Alas Mayit &#8211; Tabuh Watuingin</p>



<p><strong>Penulis </strong>: @Diosetta</p>



<p></p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-twitter wp-block-embed-twitter"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true"><p lang="in" dir="ltr">“ Kalian tau musik gamelan? Sebuah musik dengan alunan nada yang mampu membuat pendengarnya merasa nyaman.. Namun bagaimana kalau ada musik gamelan yang membawa kutukan?<br>Cerita ini adalah kiriman dari teman lama saya yang bernama cahyo.. <a href="https://t.co/ncBLsHRfeb">pic.twitter.com/ncBLsHRfeb</a></p>&mdash; Diosetta (@diosetta) <a href="https://twitter.com/diosetta/status/1416553908336349185?ref_src=twsrc%5Etfw">July 18, 2021</a></blockquote><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script>
</div></figure>



<p>Desa windualit , sebuah desa di pedalaman kaki gunung merapi yang menyimpan banyak misteri..</p>



<p>Sekilas desa ini hanya terlihat seperti desa biasa seperti desa pada umumnya, namun siapa sangka.. saat ini terdapat kutukan yang menyerang desa itu Ketika malam purnama tiba seluruh warga sudah mengurung diri dirumah masing-masing , membaca doa dan menutup telinga berharap saat itu bukan giliran mereka.</p>



<p>Setelah matahari terbenam sayup-sayup terdengar suara gamelan dari dalam hutan yang disebut Alas mayit… Satu dari antara warga desa akan menari kesetanan tanpa henti , memaksa tubuhnya untuk memutar seluruh sendi-sendi tubuhnya hingga patah dan berlari menuju hutan.</p>



<p>Keesokan harinya jasad orang itu akan muncul di mulut hutan dalam kondisi yang tidak utuh.</p>



<p>Seluruh daya upaya sudah dilakukan, namun setiap tindakan malah menimbulkan korban yang semakin banyak.. Kutukan ini bernama… <strong>Gending Alas Mayit</strong>…</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Gila.. ini cerita kiriman dari cahyo , sangat mengerikan kalau mengetahui kisah ini benar-benar terjadi. Buat para pendengar , saat ini Cahyo , Paklek dan teman-temanya sedang membantu untuk menghentikan kutukan gending alas mayit ini.</p>



<p>Yang saya kenal , mereka adalah orang-orang hebat dan selalu membantu siapa saja yang membutuhkan… termasuk saya yang sempat ditolong oleh mereka.</p>



<p>Apabila mereka sampai membutuhkan bantuan, tandanya ini dalah sesuatu yang gawat..   jadi apabila ada yang mengetahui petunjuk mengenai Gending Alas Mayit silahkan hubungi saya di hotline telpon atau di media sosial..</p>



<p>Oh iya, satu lagi yang penting .. mereka mencari petunjuk mengenai Tabuh Waturingin .. Untuk malam ini sekian dari saya, radio tengah malam undur diri… “</p>



<p>“ Oke.. close!” Ucap dika dari luar ruangan. Aku membuka headsetku , menarik nafas sebentar dan segera keluar ruangan. “Gua bikin kopi dulu ya dik , kalo ada telpon masuk tolong terima dulu…” ucapku. “beres .. nyantai dulu sana” jawab dika.</p>



<p>Aku pergi ke dapur , mengambil gelas dan menyeduh kopi hangat . Sekilas kejadian di pabrik gula terlintas kembali di pikiranku. Seandainya tidak ada Cahyo dan Paklek , entah bagaimana nasib kami saat ini.</p>



<p>Sebuah aroma kopi sangat mampu menghilangkan lelahku seharian ini. Mungkin sudah belasan tahun semenjak aku bertemu mereka , saat itu cahyo hanya bocah smp yang masih sering bermain dengan monyetnya. Aku penasaran, seperti apa dia sekarang?</p>



<p>“ Gimana dik , ada yang nelpon?” Tanyaku sambil menghampiri dika. “ada, tapi rata-rata gak serius.. nawarin jasa lah , minta alamat desa lah..” Jawab dika. “ya sudah , kita juga udah tau bakal begini.. yang penting usaha dulu aja” Lanjutku.</p>



<p>Suara langkah kaki terburu-buru terdengar menuju tempat ini yang berujung pada pintu ruangan yang dibuka dengan buru-buru.</p>



<p>“Ardian.. woi!” Teriak seseorang … tidak.. ada dua orang lagi menyusul lagi dari belakang. Itu Didi , Ranto, dan Nizar!</p>



<p>“Eh.. kalian, ngapain kalian ke sini? Buru-buru lagi… dikejar debt collector lu?” Tanyaku “nggak lah… gua denger siaran lu tadi, itu bener cerita dari Cahyo ? gua langsung gas kesini waktu tau dia yang minta tolong” Tanya nizar.</p>



<p>“ iya… cahyo yang dulu dipanggil Panjul” jawabku “Pokoknya kita harus bantuin dia , kita utang nyawa sama dia… “ Lanjut Didi. Dika terlihat sedang menerima telepon , kali ini cukup panjang semoga saja ada informasi mengenai Kutukan itu.</p>



<p>“ eh gua bikin kopi dulu ya… “ Ucap didi sambil menuju ke dapur. “ok , sekalian bikinin juga nih buat dua kurcaci” jawabku “beres…” Kami santai sejenak , terlihat nizar dan Ranto sibuk dengan Hpnya. Sepertinya mereka juga mencari informasi melalui internet dan media sosial.</p>



<p>“ Ar.. kalau info yang gua dapet, tabuh itu berarti pemukul gamelan ya?” Tanya Nizar. “Bisa jadi , kalo bener berarti emang berhubungan sama suara gamelan itu… tapi pasti ada yang membuat tabuh itu jadi spesial” jawabku. “Waturingin … itu bisa jadi nama tempat” ucap Ranto.</p>



<p>Kami berdiskusi cukup lama namun tak ada gunanya, semua yang keluar dari mulut kami hanya dugaan saja. “ Ardian.. ini tadi ada yang nelpon lagi , kali ini kayaknya beneran…” Ucap dika menghampiriku. “ Ada info apa dik?” tanyaku.</p>



<p>“Sebenernya ga detail… yang nelpon seorang perempuan ngaku namanya Ismi , dia cuman bilang kalau mau tau tentang tabuh waturingin dan gending alas mayit bisa datang ke desaku di selatan pulau jawa” Cerita Dika.</p>



<p>“ Yah… kalau Cuma begitu bisa jadi orang iseng yang mau ngerjain kita” ucap Ranto dengan pesimis. “tapi… terakhir dia ngomong, salam juga buat cowo yg sering ngikutin ardian.. nandar” lanjut dika.</p>



<p>Aku melihat dika dengan serius , terlihat kedua temanku lainya menatap curiga kepadaku. “Gimana dia bisa tau hantu nandar masih ngikutin gua?” Tanyaku pada dika. “Gua ga tau dik, bisa jadi dia emang tahu tentang hal gaib…</p>



<p>makanya gua sampein ke elu” Ucap dika sambil menyerahkan kertas tertulis alamat desa di selatan pulau jawa.</p>



<p>“ Ardian… setanya Nandar masih ngikutin elu?” ucap Nizar sambil berbisik. “iya… tapi ya udahlah, ga ganggu ini..”ucapku.</p>



<p>Suasana berubah menjadi hening , kami sibuk dengan hp masing-masing sampai terdengar suara jendela yang di hantam dengan keras. Kami berlari menghampiri jendela, tidak ada satupu hal yang aneh hanya angin kencang berhembus dari luar.</p>



<p>Namun saat akan kembali mendadak listrik seluruh ruangan mati. “Dik.. mati lampu?” Teriaku sambil menyalakan senter dari handphoneku. “Sebentar gua cek…” jawabnya .</p>



<p>Kami kembali duduk di sofa menunggu kabar dari dika, namun sekali lagi terdengar suara benda keras menghantam jendela. Namun kali ini tidak hanya itu…</p>



<p>Sayup-sayup terdengar suara gamelan , entah darimana asal suara itu.. “ Ardian.. itu suara dari mana? Komputer lu belum mati?” Tanya Nizar. “listrik mati Nizar… gimana komputer bisa nyala? “ Jawabku</p>



<p>Aku mencari asal suara gamelan itu , namun sama sekali tidak ada petunjuk. Ditengah gelapnya ruangan, terdengar suara pecahan kaca dari dapur… “Didi!&#8230; dia masih di dapur!” Teriak Ranto.</p>



<p>Kami segera bergegas berlari menghampiri Didi , namun suara gamelan terdengar semakin keras ketika kami mendekat ke sana.</p>



<p>“ Ada apa Di??” aku menyapa didi yang terlihat membelakangi pintu dapur. Gelapnya ruangan membuat suasana semakin mencekam. </p>



<p>Didi menoleh , kami menyorotnya dengan cahaya lampu dari hanphone. Namun yang terlihat sungguh mengerikan , sebuah gelas kaca pecah tergenggam di tanganya , ia mengangkat dan memasukan ke dalam mulutnya yang sudah bercucuran darah.</p>



<p>Mata didi melotot dengan tajam, memandang kami sambil melumat pecahan kaca itu.</p>



<p>“Di.. jangan di! Stop di!” Ucap Nizar yang segera menghentikan tangan didi. Aku dan ranto menyusul nizar , menarik didi dan menahanya di lantai namun tenaganya terlalu keras..</p>



<p>Didi berdiri membelakangi tembok sambil tetap menggengam pecahan kaca ditanganya. “ Kalian tidak usah ikut campur!!” Didi berbicara dengan suara yang mengerikan. Suara gamelan terdengar semakin kencang.</p>



<p>“Ini peringatan! Gending Alas mayit juga akan menghampiri kalian jika kalian ikut campur!” Ucap makhluk itu lagi. Setan itu tertawa dengan keras , Nizar dan Ranto terlihat ketakutan di ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya kecil..</p>



<p>“Ardian… gimana nih, kalo gini terus Didi bisa celaka” Ucap nizar. Aku berfikir sejenak, teringat korek api pemberian paklek masih tersimpan di tasku. “ Ranto , Nizar.. tahan Didi sebisa kalian” Perintahku pada mereka.</p>



<p>Aku segera berlari ke ruangan rekaman , mencari tasku dan segera membawa kembali ke ruangan dapur. Terlihat Ranto dan Nizar kewalahan menahan Didi. Sebuah korek api dengan ukiran kuno kukeluarkan dari tas, pemantiknya cukup keras namun aku tetap berhasil menyalakanya.</p>



<p>“Nizar .. mundur” ucapku pada nizar yang masih menahan Didi. Terlihat dari sudut-sudut ruangan makhluk halus bermunculan , begitu juga Nandar yang ada di belakangku. “singkirkan!! Singkirkan benda itu!” ucap Didi meringkuk di ujung ruangan.</p>



<p>Makhluk itu terganggu dengan cahaya dari api ini. perlahan terlihat sosok makhluk bertubuh serba hitam mengenakan pakaian sinden keluar dari tubuh didi.</p>



<p>“ Ini peringatan! Atau kalian juga akan mati!” Ucap makhluk itu pergi menjauh dari ruang yang diselimuti cahaya korek ini.</p>



<p>Suasana mulai tenang disusul dengan listrik yang mulai menyala. Kami membopong didi dan membawanya ke ruang tamu. “Dik.. tolong P3K” Ucapku pada dika. “Ini.. itu didi kenapa?” tanya dika sambil menyerahkan kotak obat.</p>



<p>“ Kesurupan… kayaknya urusan yang kita lakuin ini benar-benar bahaya” jawabku. “ Tapi kenapa didi yang langganan kesurupan ya?” Tanya dika dengan polos. Kami menoleh ke arah secara serentak seolah setuju dengan ucapanya dika.</p>



<p>“Iya Di.. kok elu melulu yang kesurupan? Kenapa sih lu?” tanyaku. “aduh… mana gua tau, besok besok gantian lu pada aja… gua ikhlas!” Jawabnya dengan wajah yang menahan sakit. “ Dih ogah… amit-amit”Jawab Ranto sambil mengikatkan perban di tangan Dika.</p>



<p>“Besok gua mau coba nyamperin lokasi yang dikasi dika tadi… siapa tau bisa ada petunjuk” Ucapku. “ Gua ikut… pokonya gua bantu sampai selesai “ucap nizar “ Iya kita semua ikut…” sambung didi juga.</p>



<p>“Lu udah babak belur kayak gini… mendingan standby aja di sini sama dika… biar Gua, Nizar, sama Ranto yang ke sana” ucapku melarang niat Didi.</p>



<p>Esok harinya kami berkumpul kembali di studio , Dika dan Didi bertugas memantau informasi dari telepon dan medsos , dan sisanya berangkat menuju suatu desa di selatan pulau jawa.</p>



<p>Perjalanan menuju tempat tersebut tidak terlalu lama, hanya saja saat mendekati lokasi medan semakin berat , jalanan tidak ditutup dengan aspal sepenuhnya. Sepanjang jalan dihiasi dengan hutan-hutan jati yang tersusun rapi.</p>



<p>“ Ini bro lokasinya…” ucap nizar kepadaku. “Yakin? Udah bener sesuai di peta?” Aku memastikan sekali lagi “ Bener… tinggal lu cari perempuan yang telepon kemarin, siapa namanya? Ismi?” Lanjut Nizar.</p>



<p>Segera aku turun dari mobil dan menanyakan mengenai perempuan bernama ismi pada warga yang lewat. Ia menunjuk pada sebuah rumah kayu di sudut desa.</p>



<p>“Disana rumahnya… katanya mobil masih bisa masuk kok..” ucapku pada nizar. Kami melanjutkan perjalanan dan berhenti pada sebuat rumah kayu dengan lahan yang cukup luas. Terlihat seorang wanita, masih muda sedang menjemur pakaian di halaman rumah itu.</p>



<p>“Permisi mbak… bener ini rumah mbak ismi?” Tanyaku sesopan mungkin. “Ya saya sendiri, saya ismi… ada yang bisa saya bantu?” wanita itu menjawab dengan sopan. “Kami dari radio tengah malam, benar kemarin mbak ismi yang nelpon?” tanyaku sekali lagi.</p>



<p>“Oh mas ardian ya? Masuk dulu mas… maaf rumahnya berantakan” Ucap Ismi dengan mempersilahkan kami masuk.</p>



<p>Sebuah rumah tua, namun tidak kumuh… rumah yang terawat dengan baik, hawa sejuk tetap terasa walau di tengah panasnya udara siang hari.</p>



<p>Secangkir teh hangat disajikan kepada kami , tak terlihat orang lain selain ismi di rumah ini. “Mbak ismi… terima kasih kami udah disambut, maaf saya agak lancang.. tapi mungkin mbak ismi bisa menceritakan yang mbak ismi tau mengenai Gending alas mayit maupun tabuh waturingin” Nizar mencoba membuka perbincangan.</p>



<p>“Masnya istirahat dulu saja , diminum tehnya… yang cerita nanti bukan saya. Tunggu sebentar ya” Ucap ismi dengan sopan dan meninggalkan kami. Kami menurut dan menikmati secangkir teh yang disediakan oleh Ismi.</p>



<p>Seorang kakek tua berjalan perlahan menghampiri kami, Ismi terlihat menggandengnya berjalan dengan hati hati dan mendudukanya di dekat kami.</p>



<p>“ Ini kakek saya… mbah Rusman, dia yang akan menceritakan semuanya” Jelas Ismi pada kami.</p>



<p>Mbah rusman memperhatikan kami satu per satu sepertinya ia juga menyadari keberadaan hantu nandar yang terus mengikutiku , kami merapikan posisi duduk dan memberikan senyum seramah mungkin kepada mbah rusman.</p>



<p>“ Setelah kalian tau semuanya, apa yang akan kalian lakukan?” Tanya mbah rusman kepada kami.</p>



<p>“Kami hanya mencari informasi mbah , teman kami di jawa tengah, mereka yang ahli soal hal ghaib yang akan mencoba menghentikan kutukan itu” jelasku pada pak rusman.</p>



<p>“ Bagus.. jika kalian yang ikut campur, sudah pasti kalian mati” Ucapnya. Kami sangat mengerti akan hal itu, namun setidaknya aku harus mendapatkan informasi yang bisa membantu cahyo.</p>



<p>“Menginaplah semalam disini, nanti malam kalian akan tahu semua” Ucap mbah rusman. Kami saling menoleh dan sepakat menyetujui ucapan mbah rusman.</p>



<p>Cara mereka menyambut kami terasa sangat tulus sehingga kami tidak sedikitpun merasa curiga kepada meraka. Kami melalui siang hari dengan berbincang hal-hal kecil , Ismipun menyediakan keperluan kami mulai dari makanan dan air untuk mandi.</p>



<p>Semua berjalan normal hingga akhirnya malampun tiba. Kami menyelesaikan makan malam kami, bohlam yang redup di ruangkan ini cukup menyulitkan penglihatanku i. Aku membereskan piring sisa makan malam tadi dan mengumpulkanya di pawon belakang rumah.</p>



<p>Sebelum sempat kembali ke depan, pintu belakang rumah terbanting dengan keras. Sebuah bayangan hitam mencoba masuk ke dapur melalui pintu belakang , semakin lama semakin mendekat. Aku mengawasi dengan hati-hati. Lampu pawon mulai menerangi bayangan yang mendekat itu.</p>



<p>Ternyata itu adalah mbah rusman. Sayup sayup suara gamelan terdengar.. persis seperti di studio kemarin. Mata mbah rusman terbelalak dengan mengerikan kearahku dan mulai menggerakan tubuhnya perlahan.</p>



<p>“ Ismi , Nizar, Ranto… !! “ Aku memanggil orang di rumah untuk membantuku.</p>



<p>Mereka segera datang menghampiriku , namun mbah rusman keluar menuju halaman dan menari dengan lincah . kami mengejar mbah rusman, Cahaya bulan purnama menyinari pekarangan.</p>



<p>Mbah rusman menari dan terus menari , ismi masuk kerumah dan keluar membawa sebuah gong kecil di tanganya dan sebuah pemukul. “Ismi.. itu mbah rusman kenapa?” Tanya nizar. “ Ini yang kalian ingin tahu… Kutukan gending alas mayit&#8221;</p>



<p>Mbah rusman dulunya berasal dari desa windualit , sebenarnya kutukan ini sudah sirna.. namun entah beberapa bulan lalu tiba-tiba saat bulan purnama mbah jadi seperti ini” Cerita Ismi kepada kami.</p>



<p>Mbah Rusman menari dengan mengerikan, ia mencoba memutar kepalanya hingga hampir patah. Namun sebelum itu terjadi Ismi memukul gong kecil yang menggantung di tanganya.</p>



<p>Suara mendengung panjang terdengar dari benda itu. Mbah Rusman terliihat menghentikan tarianya namun ia mencoba bangkit untuk menari lagi, sebelum itu terjadi Ismi kembali memukul gong itu sehingga gerakan mbah rusman bisa tertahan. Hal itu terjadi berulang kali hingga Mbah rusman tak sadarkan diri.</p>



<p>Kami menggendong tubuh mbah rusman ke dalam rumah, Ismi menyiapkan segelas minuman rempah-rempah untuk diberikan kepada mbah rusman dan segera menghampiri kami.</p>



<p>“ Dulu sewaktu muda mbah rusman hidup di desa windualit, saat desa itu terkena kutukan mbah rusman adalah salah satu warga yang membantu menghentikan kutukan itu.. tapi karena tidak ingin mengambil resiko , mbah rusman memilih untuk meninggalkan desa “ Cerita ismi.</p>



<p>Terlalu mengerikan , Sesuatu yang dihadapi oleh cahyo dan paklek kali ini benar-benar mengerikan. “ Ismi… bantu mbah” Ucap mbah Rusman mencoba menghampiri kami dengan tubuhnya yang lemah.</p>



<p>Serentak kami berdiri membantu memegangi mbah rusman dan mendudukanya di posisi yang nyaman. “ Ismi… serahkan gong dan pemukulnya ke mereka” Perintah mbah rusman. </p>



<p>Kami saling menoleh, ismi terlihat tidak setuju. “ Tapi mbah , nanti kalo kumat lagi?” ucap ismi. “Sudah serahkan saja, mbah juga ga tau bisa hidup sampai kapan… mereka lebih butuh itu” Ucap mbah rusman dengan suara yang lemah.</p>



<p>“ Pemukul itu adalah tabuh waturingin, ujungnya dibuat menggunakan kayu pohon beringin yang sudah menjadi batu dan gong itu hanya gong biasa..” cerita Mbah Rusman.</p>



<p>Kami memperhatikan benda yang diserahkan kepada kami , kami berfikir keras… seandainya ini kami bawa, apa mbah rusman bisa melewatkan purnama berikutnya?</p>



<p>“Nggak mbah, kita ga bisa bawa benda ini.. mbah butuh ini” Ucapku “Walaupun ini adalah tabuh waturingin, ini tidak cukup untuk membersihkan kutukan di desa windualit…</p>



<p>Orang yang meminta bantuan kalian harus membuat kembali tabuh yang lebih besar dari batu pohon beringin yang ada sebuah sendang di alas mayit, dan kalian harus bawa ini agar bisa sampai ke sana hidup-hidup” Mbah rusman melanjutkan ceritanya tanpa mempedulikan pendapat kami.</p>



<p>Ismi terlihat sedih , ia mengerti maksud mbah rusman namun belum siap apabila harus kehilangan kakeknya itu.</p>



<p>Aku mengambil telepon genggamku mencoba menghubungi cahyo dan menceritakan mengenai kejadian malam ini kepadanya , awalnya cahyo sependapat dengan kami.. namun tiba-tiba telpon disambungkan kepada seorang wanita.</p>



<p>“ Mbah Rusman… “Ucap wanita dari telepon cahyo. Mbah rusman hanya mendengarkan saja suara dari telepon itu. “ Mbah.. Kulo Sekar.. anak Pak sardi” ucap wanita itu sekali lagi.</p>



<p>“Sar..di , Sardi sudah punya anak?” ucap mbah rusman dengan sedikit senyum muncul di wajahnya. “iya mbah.. Bapak sering cerita kalau bapak belajar ngaji dari mbah rusman , sesepuh yang pernah nyelamatin desa windualit..” cerita sekar .</p>



<p>“ Piye kabar sardi nak sekar , masih rajin ngaji?” Ucap mbah rusman dengan semangat walau dengan tubuhnya yang lemah “Masih mbah… bapak rajin banget, sekarang bapak masih di desa nyoba bantuin sebisanya disana” Jawab sekar.</p>



<p>Mata mbah rusman berkaca-kaca , ia terlihat sedang mencoba mengingat tentang masa lalunya “ Nak Ardian, Nak Cahyo… kamu harus bawa benda ini, kamu harus selamatkan desa windualit… selamatkan sekar dan semua orang disana” Mbah rusman berkata dengan paksaan.</p>



<p>Sepertinya aku mengerti yang diinginkan mbah rusman, setidaknya mungkin ia bisa menyelamatkan desa asalnya yang ia sayangi walau harus mengorbankan sisa umurnya.</p>



<p>“Baik mbah rusman, Amanah mbah saya terima.. benda ini akan saya bawa ke cahyo dan sekar” Ucapku.</p>



<p>“berarti kalo gitu umur mbah Rusman Cuma tinggl 1 purnama lagi? “ Ranto memastikan kepadaku. “ Nggak , hanya Tuhan yang berhak menentukan umur manusia… bukan demit-demit itu” Jawab mbah Rusman. Aku mengambil tasku, memasukan gong dan tabuh waturingin kedalam tas.</p>



<p>“ Ismi , Mbah Rusman… setidaknya tolong terima pemberian saya ini” Sebuah korek api dengan motif kuno pemberian paklek dulu kuserahkan kepada mereka. “Ada kekuatan pada api korek ini… kamu yakin?” Ucap mbah rusman.</p>



<p>“Saat purnama datang lagi dan mbah mulai seperti tadi coba kamu nyalakan ini , benda ini sudah menyelamatkanku berkali-kali.. semoba bisa menolong kalian juga” ucapku.</p>



<p>Nizar mendekatiku seolah kurang setuju. “ Ardian kamu yakin? “ tanyanya dengan berbisik.</p>



<p>Nizar tahu benar bagaimana benda itu menyelamatkanya di pabrik gula. “ iya .. aku yakin Paklekpun pasti juga tidak keberatan” Jawabku. Ismi menerima korek api pusaka pemberian pak lek , kami menutup perbincangan kami dan beristirahat.</p>



<p>Paginya kami ijin pamit ke Mbah Rusman dan Ismi , kami berjanji suatu saat akan mampir kembali kemari setidaknya sebelum purnama berikutnya. Namun sebelumnya kami harus mengantarkan benda ini ke Cahyo dan Paklek , semoga saja ini bisa benar-benar berguna untuk mereka.</p>



<p><strong>(Bersambung Part 5 – Desa Terkutuk)</strong> &gt;&gt;&gt; <strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part5/">Gending Alas Mayit Part 5 &#8211; Desa Terkutuk</a></strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part3 &#8211; Ikatan Masa lalu</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part3-ikatan-masa-lalu/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part3-ikatan-masa-lalu/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2026 18:37:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[cerita horor gending alas mayit]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4049</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Horor Twitter &#8211; Ini adalah part 3 dari serial cerita horor Gending Alas Mayit. Bagi yang belum membaaca part ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part3 &#8211; Ikatan Masa lalu" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part3-ikatan-masa-lalu/#more-4049" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part3 &#8211; Ikatan Masa lalu">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Cerita Horor Twitter &#8211;</strong> Ini adalah part 3 dari serial cerita horor  <strong>Gending Alas Mayit.</strong> Bagi yang belum membaaca part 2, baca dulu ya part 2-nya &gt;&gt;&gt; <a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part </strong>2</a></p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 1</a></strong></p>



<p><strong>Cerita Horor Twitter</strong></p>



<p><strong>Judul</strong> : Gending Alas Mayit &#8211; Ikatan Masa Lalu</p>



<p><strong>Penulis</strong> : @Diosetta</p>



<p>Gending alas mayit Part 3 : Ikatan masa lalu (mohon maaf part ini agak menyinggung tentang cerita imah leuweung, di bio ad link threadnya sambil saya rapikan utk d share di twitter) lebih lengkap ada di podcast @bagihorror juga.</p>



<p>Sayup-sayup terdengar suara gamelan terdengar di antara hutan di sekitar pabrik gula , terlihat seorang wanita muda menari dengan gemulai di tengah-tengah cahaya bulan purnama..</p>



<p>Tapi… darimana asal suara gamelan itu? Tidak ada satupun tanda-tanda pemain maupun alat musik gamelan di sekitar sini? Yang anehnya lagi , mereka.. makhluk halus para penunggu pabrik yang sudah lama tidak menampakan diri, kini berkumpul di sekitar wanita itu ..</p>



<p>Aneh.. tidak, lebih tepatnya mengerikan! Tarian wanita itu semakin menggila.. ia memaksa memutar sendi-sendi tubuhnya ke arah yang tidak wajar.. Aku berlari mendekati wanita itu mencoba menahan gerakanya , namun tenaganya terlalu besar..</p>



<p>Sesuatu sedang merasuki tubuh wanita ini.. Sebuah doa dan ayat-ayat suci kubacakan untuk menenangkan wanita itu.. Cukup lama.. hingga akhirnya wanita itu terbaring lemas dan tak berdaya.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Kota jogja , sebuah kota yang pasti akan sulit dilupakan oleh siapapun yang berkunjung ke tempat ini. Rasa nyaman kota ini takkan pudar walaupun hanya dinikmati dengan berjalan-jalan dengan vespa tua ini. Terlihat sebuah kereta telah berhenti di stasiun , aku memarkirkan motor dan menunggu seseorang keluar mengenali vespa tua ini.</p>



<p>“ Cahyo!” teriak seseorang seumuranku yang baru saja keluar dari stasiun. “Ojek mas…? “ Jawabku dengan sedikit meledek. “iya , ojek mas… ke pemakaman ya” balasnya “asem.. mbok pikir aku demit” jawabku sambil menepuk helm yang sedang dipakainya.</p>



<p>Danan adalah teman seperjuanganku saat bekerja di pabrik gula walaupun sekarang ia memilih berhenti dan mencoba peruntungan untuk melamar di perusahaan swasta di jogja.</p>



<p>“Cahyo… perempuan yang kamu ceritain itu masih di rumah Paklek?” Tanya Danan kepadaku. Aku memang sudah menceritakan mengenai seorang perempuan aneh yang di temukan di hutan belakang pabrik gula.</p>



<p>“ Masih , makanya kamu temuin dulu… tanggung jawab kamu!” Jawabku meledek “ ngeledek aja kamu… “ balasnya.</p>



<p>“lha piye.. ditemukan seorang perempuan yang ga inget apa-apa , petunjuknya cuma di tasnya ada fotomu…” Jelasku.</p>



<p>“ yowis… tar kita temuin dulu aja, cepetan gas..” jawab danan dengan raut muka yang penasaran. Vespa tua kulaju dengan santai menuju ke rumah paklek di klaten.</p>



<p>topik-topik ringan tak berhenti bermunculan saat perjalanan. Wajar saja, selama kejadian di imah leuweung kita hanya membahas masalah-masalah yang serius. Perjalanan yang harusnya cukup lama jadi terasa cukup singkat , tanpa terasa kami sudah sampai di rumah paklek.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>“Kulo nuwun… “ Aku mengetuk pintu rumah paklek yang tak jauh dari rumahku. Seorang pria berambut putih terlihat buru-buru keluar membukakan pintu.</p>



<p>“ Eh Danan.. udah sampe, yuk masuk dulu “ Sambut pria itu. “Danan doang Paklek? Aku ra diajak masuk” Tanyaku setengah merajuk.</p>



<p>“Eh.. ono kowe to panjul , omahmu kan ning kono…” Ucap pakde menunjuk ke rumahku sambil meledek. “Ya.. mbok diajak masuk dulu gitu, toh bulek udah masak bandeng kan? Ambune tekan kene lho..” Jawabku merayu pakle.</p>



<p>“Giliran makanan cepet banget kamu.. yowis ayo masuk “ Lanjut paklek sambil membukakakan pintu. Danan yang melihat tingkah laku paklek kepadaku hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng. </p>



<p>Aku membantu danan memberes-bereskan barang bawaan sembari bulek menyiapkan makan malam untuk kami.</p>



<p>Paklek Bimo adalah adik dari ayah Danan , dulu dia sengaja meminta tolong danan untuk bekerja di pabrik gula dekat sini setelah lulus kuliah. Alasanya sudah jelas, selain membantu menjadi buruh di sana, kami juga membantu untuk memindahkan roh-roh halus penunggu pabrik itu agar tidak mengganggu pekerja di sana.</p>



<p>“ Danan , cahyo.. sini , ayo makan!” Suara Bulek memanggil dari pawon rumah. “Nggih bulek..” Danan menjawab dengan sopan.</p>



<p>Kami segera keluar kamar dan bergegas menuju meja makan, terlihat disana bulek sedang mempersiapkan makanan dibantu dengan seorang wanita yang tidak kukenal .</p>



<p>“itu perempuan yang kamu ceritain? “ bisik danan kepadaku. “ Gak usah pura-pura kamu, ngaku aja.. udah kamu apain dia? balasku dengan suara yang keras hingga terdengar oleh Paklek dan Bulek. Sontak danan memukul kepalaku , tentunya dengan muka yang sedikit memerah.</p>



<p>“Udah-udah , ayo makan dulu “ ucap paklek memotong pembicaraan kami. Masakan bulek selalu ngangenin , walaupun tidak ada danan, kadang aku masih sering numpang makan di sini . Sambel buatan bulek memang paling enak se tanah jawa.</p>



<p>“ Mbak… kenal sama mas mas ganteng ini?” ucapku kepada wanita di samping bulek. Wanita itu menoleh pada danan menggelengkan kepala.</p>



<p>“ Tuh kan, makanya jangan nuduh macem-macem” ucap danan. “lha itu.. dia bawa – bawa fotomu , coba mbak.. tunjukin ke danan” Ucap cahyo.</p>



<p>Wanita itu meninggalkan bangkunya, berlari ke kamar dan menunjukan sebuah foto yang berisi gambar danan sedang berpose di puncak merapi, dibaliknya tertulis dananjaya sambara , merapi 6 juni 2016.</p>



<p>“ tuh kan! Itu foto kamu kan? Mau alasan apalagi kamu?” Ucapku setengah meledek pada danan. Namun danan tidak merespon, ia mengambil foto itu dan melihatnya dengan tatapan serius.</p>



<p>“ i.. ini , foto ini.. aku ingat, aku mengirimkan foto ini ke seseorang di desa terpencil di lereng merapi” ucap danan “ Pak Sardi! Iya.. aku mengirimkan foto ini saat berhasil mendaki ke puncak merapi , setelah sebelumnya aku tersesat di desa.. windualit…”</p>



<p>Danan terlihat serius, ia menoleh ke arah wanita itu seolah berhasil mengingat sesuatu. “Sekar… jangan-jangan kamu dek sekar?” tanya danan kepada wanita itu.</p>



<p>Wanita itu hanya menunduk, seolah tidak mampu mengingat apapun tentang dirinya. “ku.. kulo boten inget mas…” jawabnya “Pak sardi, desa Windualit… apa yang terjadi di sana? “ tanya danan dengan suara yang semakin keras.</p>



<p>Sekar terlihat ketakutan seolah tidak mampu menjawab pertanyaan danan. Bulek memeluk pundak sekar, berusaha menenangkan sekar yang berusaha keras mengingat sebisanya.</p>



<p>“ Udah , selesaikan dulu makanya… habis ini kita kumpul di pendopo” ucap paklek dengan tegas. Suasana setelahnya menjadi semakin serius, terlihat dari mata danan seolah sedang mengingat sesuatu.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Pendopo pakde terletak di halaman belakang rumah yang bersebelahan langsung dengan hutan , tempat yang nyaman untuk menikmati suasana malam. Kami berkumpul dan duduk dengan seadanya, terlihat beberapa benda-benda antik terpajang di dinding pendopo.</p>



<p>“Nah danan… coba ceritakan apa yang kamu tau “ tanya paklek kepada danan. “ Nggih Paklek, dulu sewaktu saya lulus kuliah saya sempat tersesat ke desa windualit di kaki gunung merapi…”</p>



<p>Ucap danan memulai ceritanya tentang sebuah desa terpencil yang di luarnya terdapat sebuah hutan misterius bernama Alas mayit.</p>



<p>Danan menceritakan kisahnya saat mencoba membantu warga desa mencari seorang anak yang diculik makhluk halus ke dalam hutan dengan bantuan Pak Sardi yang kemungkinan adalah ayah Sekar.</p>



<p>“Yowis..Besok kita kesana aja, kita anter sekar sekaligus kita cari tau ada masalah apa di sana” Ucapku kepada danan.</p>



<p>“Jangan buru-buru, kamu ingat bagaimana kamu menemukan sekar.. salah-salah kita bisa bernasib sama”. Ucap pakde memperingatkanku.</p>



<p>“ Sekar, kamu benar tidak ingat sama sekali soal desamu?” Tanya pakde pada sekar. Wanita itu hanya menggeleng tanpa mengeluarkan sepatah katapun. “nah kan.. kalu begini bagaimana kita bisa dapat petunjuk” Tanyaku pada paklek.</p>



<p>Paklek masih berusaha berfikir untuk menemukan sesuatu yang bias dijadikan petunjuk. .. “Sebenarnya ada satu cara… tapi sepertinya cukup berbahaya” ucap danan. Kami menoleh dan mulai memperhatikan danan.</p>



<p>“ Cahyo , kamu inget eyang widarpa? “ tanya danan kepadaku. “Maksudmu , demit kakek tua gila yang membantu kita melawan Brakaraswana?” Jawabku memastikan kepada Danan.</p>



<p>“Iya… aku baru ingat, di desa itu aku pertama kali bertemu dengan eyang widarpa , mungkin dia tau sesuatu” Lanjut danan. Paklek mengernyitkan dahi ,terlihat ia tidak mengerti dengan apa yang kami bicarakan.</p>



<p>“ Waduh… repot juga ya , nek mbok panggil terus dianya ngamuk bisa hancur satu desa” Ucapku pada danan.</p>



<p>Paklek seolah mengerti sesuati, ia masuk ke sebuah ruangan dan kembali keluar dengan membawa sebuah keris. Ia segera mengikat keris itu di pinggang seolah bersiap untuk sesuatu.</p>



<p>“opo kakek tua yang kamu maksud ada hubungan dengan keris ragasukma?” Tanya paklek. “Iya paklek… kok paklek tau?” Tanya danan.</p>



<p>“wis .. panggil wae, itu ditengah kebun.. ojo nong kene” ucap paklek. Aku dan Danan saling berpandangan seolah masih ragu. “Sekar… sini sekar, jangan jauh-jauh dari mas cahyo “ Ucapku sekedar menggoda sekar.</p>



<p>Tak menunggu lama , sebuah sandal jepit dilemparkan oleh paklek ke arahku. “Dasar Panjul.. jangan cari-cari kesempatan kamu!” bentak pakde kepadaku. Aku menringis kesakitan, terlihat tawa kecil yang manis terpancar dari mulut sekar.</p>



<p>Jagad lelembut boten nduwe wujud </p>



<p>Kulo nimbali </p>



<p>Surga loka surga khayangan </p>



<p>Ketuh mulih sampun nampani </p>



<p>Tekan Asa Tekan Sedanten…</p>



<p>Sebuah mantra terdengar dari mulut danan yang sedang berdiri di tengah kebun , terlihat sebuah keris telah tergenggam di tanganya.</p>



<p>Rintik-rintik hujan mulai turun , terlihat sosok mengerikan muncul dari kegelapan hutan di belakang kebun Paklek. Kakek tua dengan ramput putih panjang berjalan dengan bungkuk menuju danan.</p>



<p>“ Bocah Asu ra tau sopan santun ..! wis bosen urip? ”</p>



<p>ucap kakek itu sambil mendekat dan mencengkram kepala danan. Aku bersiap melepas sarung dari pundaku dan menerjang Kakek tua itu, namun kakek itu terlalu cepat iya melompat keatas pendopo dengan membawa tubuh danan seperti boneka.</p>



<p>Merespon perbuatan kakek tua itu , Paklek segera berlari “ Eyang.. enek sing arep ketemu “ paklek mendekat dengan menggenggam keris yang tadi ia pegang. “Sopo? Sopo kowe? “ ucap makhluk itu.</p>



<p>“Kulo Bimo sambara.. Sing arep ketemu ki , Nyai Suratmi..”</p>



<p>Ucap Paklek sambil menunjukan keris itu kepada kakek tua itu. Terlihat kakek tua itu memperhatikan keris yang dibawa Paklek , raut wajahnya berubah menjadi panik.</p>



<p>Iya menjatuhkan danan, dan aku segera menangkapnya.</p>



<p>“ Ojo , ojo kowe celuk demit wedok kuwi&#8230;!” Kakek tua itu melompat menjauh dan mencoba bersembunyi. Danan kembali berdiri dan menghampiri paklek.</p>



<p>“ Nyai suratmi ki sopo to paklek?” tanyaku pada Paklek Paklek tak menjawab , ia hanya tersenyum seolah menahan tawa.</p>



<p>“ rene sik mbak , Cucu buyutmu ki mung arep takon” (kesini dulu mbah, cucu buyutmu ini Cuma mau bertanya) ucap paklek. Eyang Widarpa mendekat, tapi kali ini ia mendekat dengan sedikit ragu. Danan mendekat dan memanggil sekar.</p>



<p>“Eyang… iki sekar, seko desa windualit … apa eyang tau enek masalah opo ning kono?” (eyang , ini sekar dari desa windualit, apa eyang tau ada masalah apa di sana?) tanya danan pada eyang widarpa.</p>



<p>Terlihat eyang widarpa memperhatikan sekar, namun tatapan sekar berubah menjadi mengerikan. Hujan menjadi semakin deras… sayup-sayup terdengar suara gamelan yang tidak diketahui dari mana sumber suaranya.</p>



<p>Merasa ada yang aneh , Eyang Widarpa segera membelakangiku dan Paklek. </p>



<p>“heh.. Bocah asu , Bimo .. ndelik ning mburiku!” Ucap eyang widarpa kepada kami seolah memberi tahu akan adanya bahaya.</p>



<p>“Aku ora mbah? “ Ucapku. “Ora usah , kowe sing nyeluk aku demit kakek tua gila kan?” ucap kakek itu padaku. Aku menepuk dahiku , rupanya eyang widarpa mendengar perbincanganku dengan danan tadi.</p>



<p>Mata sekar terlihat semakin terbelalak, ia mundur menjauh mendekat kehutan &amp; membentuk sebuah tarian. Suara gamelan terdengar semakin cepat, lebih cepat dari saat pertama aku menemukan sekar.</p>



<p>Aku berlari menerjangnya , namun tenaga yang kuat muncul dari tubuh sekar mendorongku menjauh.</p>



<p>“ … Kowe ora isa nolong bocah iki meneh…” (kamu tidak bias menolong bocah ini lagi) Ucap sekar dengan suara yang menyeramkan.</p>



<p>Di tengah hujan deras, Sekar menari kesetanan mengikuti irama gamelan. Suara gong menggema begitu keras serentak dengan pinggang sekar yang hampir patah karna memaksa memutar tubuhnya.</p>



<p>“ To.. tolong” terdengar suara sekar kembali seperti biasa namun terlihat tangis kesakitan dari matanya. Sekali lagi suara gamelan terdengar semakin cepat, kami tahu akhir ini akan diakhiri dengan gong yang akan melukai sekar.</p>



<p>“ E.. eyang” ucap danan kepada kakek tua itu. Eyang melompat ke arah sekar , menabraknya , mencengkram kepalanya dan menariknya seolah bersiap memutuskanya.</p>



<p>“ Tu.. tunggu jangan sakiti sekar” ucapku pada kakek tua itu. Namun ternyata salah , Eyang menarik sesosok makhluk hitam berpakaian sinden dari tubuh sekar.</p>



<p>Tanpa menunggu , kakek tua itu meremas kepala setan itu , memakan tubuhnya hingga tidak berdaya.</p>



<p>“<strong>Gending alas mayit…</strong>” Ucap Eyang widarpa. “ Apa itu mbah? “ tanya danan “ Tanya sama bocah itu , sudah tidak ada yang mengahalangi ingatanya” ucap kakek itu.</p>



<p>Paklek membacakan doa pada sebuah air dan meminumkanya pada sekar, aku tahu itu adalah mantra penyembuh. Paklek paling ahli soal penyembuhan. Terlihat wajah sekar kembali pulih, tapi entah dengan luka-lukanya saat menari tadi.</p>



<p>“ Pak… Sekar inget pak “ ucap sekar saat tersadar. Ia segera menoleh ke arah danan.</p>



<p>“ Mas… Desa mas, desa kena kutukan.. tiap malam purnama satu persatu warga desa menari masuk hutan, dan paginya ditemukan tewas dengan tubuh yang tidak utuh” ucap sekar dengan histeris kepada danan.</p>



<p>“ Bapak? Pak sardi? Bagaimana keadaanya?” Tanya danan. “Bapak tinggal di desa membantu warga yang kesurupan , Sekar disuruh lari keluar desa untuk mencari mas danan.. katanya mungkin mas danan bisa bantu” jawab sekar.</p>



<p>Terlihat danan mencoba mengingat sesuatu. “ Alas mayit… di sana ada sendang banyu ireng dan tempat asal eyang widarpa… mungkin eyang widarpa bisa membantu” ucap danan.</p>



<p>Seolah mengerti maksud danan Eyang widarpa berbicara “ Ora , Gending alas mayit kuwi kutukan amergo duso.. aku ora iso nulungi opo-opo” (Tidak , gending alas mayit itu kutukan karena perbuatan dosa, aku tidak bisa menolong apa apa).</p>



<p>Kami menjadi semakin bingung, sekar terliihat sedih dan menangis. “Mbah.. mosok ora ono tenan jalan keluar untuk mengakhiri kutukan itu?” tanyaku mendekat.</p>



<p>Kakek tua itu menoleh ke arahku dengan muka yang masih kesal. “Tabuh waturingin .. biyen kuwi sing ngilangi kutukan gending alas mayit, ojo takok ning endi”.</p>



<p>ucap eyang widarpa menjauh dan bersiap pergi meninggalkan kami. Hujan semakin mereda, sosok eyang widarpa mulai perlahan menghilang.</p>



<p>“Eyang..!” Paklek berlari mengejar eyang. “ Nyai suratmi … wis tenang, wis ora ning alam kene.. Ngapunter yo mbah”. Teriak Paklek kepada Eyang Widarpa yang sudah hampir menghilang.</p>



<p>“Uasuu.. pancen asu , Ngapusi aku to kowe ! awas kowe” Umpat Eyang widarpa sebelum menghilang. Paklek tertawa dan mendekati danan “ Udah simpen kerismu , tar Paklek bisa dijewer sama eyang widarpa”</p>



<p>“Paklek , emang nyai suratmi ki si sopo to?” tanyaku penasaran. “Udah ga usah tau, itu kisah cinta kakek-kakek.. eyang widarpa itu orang baik, tapi entah kenapa wujudnya menjadi demit seperti itu.”Ucap paklek.</p>



<p>“Iya paklek, kalo ga ada dia dulu aku pasti udah mati” ucap Danan.</p>



<p>Sekar mendekat , air mata masih mengalir dari matanya. “ mas… gimana mas, tolongin desa sekar mas”</p>



<p>“Iya danan, kita harus bantuin sekar… kamu ada petunjuk mengenai tabuh waturingin itu?” Tanyaku. “Nggak , tenan.. blas aku ra ngerti benda apa itu” jawab danan.</p>



<p>Hampir tak ada petunjuk mengenai benda itu , namun apabila kami nekad menuju desa windualit sudah pasti kutukan itu akan mengenai kami juga. Bahkan mahkluk sehebat dan sesombong eyang widarpapun angkat tangan.</p>



<p>“Sudah.. kita istirahat dulu, paklek coba meditasi siapa tau nanti dapet petunjuk” ucap paklek. Paklek masuk lagi ke rumah dan meninggalkan kami di pendopo.</p>



<p>“Sebenernya aku tau seseorang yang bisa mencari indormasi mengenai Tabuh Waturingin, dia bisa mengumpulkan informasi dari seluruh negeri” Ucapku pada Danan.</p>



<p>“Nah itu… coba cahyo, tolong bantu kalau perlu kita samperin orangnya” Ucap danan.</p>



<p>“Coba aku cari nomor Hpnya, dulu nomornya ditulis di radio lamaku.. sempet telpon-telponan beberapa kali&#8230; coba besok tak telpon” Jawabku.</p>



<p>Kami kembali ke dalam rumah , Danan terlihat sangat kelelahan.. wajar saja , dia baru datang dari luar kota dan sudah berurusan dengan hal seperti ini.</p>



<p>“ O.. iya sekar, aku baru inget.. <strong>gimana kabar laksmi?</strong> Kok aku kangen ya sama dia..” Tanya danan</p>



<p> ..</p>



<p> .. </p>



<p><strong>(Bersambung part 4-)</strong> <strong>Cerita Horor Twitter <a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 4 &#8211; Tabuh Waru Ringin</a></strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part3-ikatan-masa-lalu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part 2 &#8220;Sendang Banyu Ireng&#8221;</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2026 18:39:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[cerita horor gending alas mayit]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Penari]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4031</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Horor Twitter &#8211; Ini adalah part 2 dari serial cerita horor Gending Alas Mayit. Bagi yang belum membaaca part ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part 2 &#8220;Sendang Banyu Ireng&#8221;" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/#more-4031" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part 2 &#8220;Sendang Banyu Ireng&#8221;">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Cerita Horor Twitter &#8211;</strong> Ini adalah part 2 dari serial cerita horor  <strong>Gending Alas Mayit.</strong> Bagi yang belum membaaca part 1, baca dulu ya part 1-nya &gt;&gt;&gt; <strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part 1</a></strong></p>



<p><strong>Cerita Horor Twitter</strong></p>



<p><strong>Judul&nbsp;</strong>:&nbsp;<strong>Gending Alas Mayit</strong></p>



<p><strong>Penulis&nbsp;</strong>:&nbsp;<a href="https://twitter.com/diosetta" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@diosetta</a></p>



<p><strong>Agustus 2009</strong>… Lulus dari universitas ternama di Jogja merupakan mimpi yang menjadi kenyataan, walaupun.. aku lulus hanya dengan nilai seadanya. aku benar-benar semangat untuk memulai dunia baru , melupakan tugas-tugas semasa kuliah dan mulai bekerja.</p>



<p>Sebenarnya Pakde sudah mengajaku untuk membantunya bekerja di sebuah pabrik gula , Namun kupikir tidak ada salahnya sedikit refreshing sebelum mulai bekerja.</p>



<p><strong>Namaku Dananjaya Sambara</strong>, Panggil saja aku Danan. Hari ini aku berniat pergi mendaki sebuah gunung yang berdiri tegak di hadapanku saat ini… Merapi. Rama dan Yanto , kedua temanku ini memang maniak mendaki.</p>



<p>Selama masa kuliah mereka sudah mendaki lebih dari 10 gunung di Indonesia , mulai dari yang terpendek seperti Gunung Andong hingga ke Puncak Mahameru. Tapi khusus kali ini , kami memilih Merapi sebagai ucapan terima kasih karena indahnya pemandangan gunung ini selalu menemani di masa-masa berjuang kami.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Santai menikmati pemandangan di sekitar sini. “Danan.. Kamu kan katanya bisa liat lelembut, ga takut naik gunung begini? Katanya di gunung banyak” Tanya Rama dengan nada iseng.</p>



<p>“ Halah Ram , Makhluk halus itu dimana-mana ada.. kalo udah biasa ya kayak ngeliat orang asing aja” Jawabku. “Heh , udah mau maghrib.. jangan ngomongin yang nggak2” Ucap Yanto dari belakang.</p>



<p>Satu jam perjalanan mengantarkan kami ke pos satu , Selokopo Ngisor. Untung saja langit belum gelap sehingga kami bisa melihat pemandangan beberapa gunung dari sini.</p>



<p>Setelah sedikit mengambil nafas, minum, kami melanjutkan perjalanan lagi berharap sebelum tengah malam kami sudah bisa sampai di pasar bubrah dan bermalam di sana sebelum menuju puncak.</p>



<p><strong>Tak terasa langit mulai gelap</strong>, kami mengenakan perlengkapan untuk menerangi jalan yang kami tempuh. Aku melihat sekeliling, nampaknya ada beberapa makhluk yang mengawasi kami. “ Danan… diem aja, ga usah cerita kamu liat apa” Ucap Rama memperingatkanku.</p>



<p>Tak berapa lama hujan mulai menurun deras , jarak pandang menjadi sangat terbatas namun kami terus berjalan mengikuti jalur yang sudah terbentuk. Semua berjalan biasa saja, hingga jalan yang kami lalui berujung ke jalan setapak di pinggir jurang.</p>



<p>“ Yanto , emang dulu ada jalur begini” Tanya Rama pada Yanto yang pernah mendaki merapi bersamanya. “Ndak, aku ndak inget… Coba balik wis” Jawab Yanto. Kami berbali ke belakang ke mencoba kembali ke jalur semula , namun jalan yang kami lalui menghilang, yang ada hanya jalan yang berujung pada jurang.</p>



<p>“Kok bisa begini? Danan.. tadi kamu liat kan jalanya” Ucap rama padaku. Aku mengangguk dan melihat sekeliling dan merasa curiga dengan apa yang terjadi. “ Kita dikerjain..” Ucapku pada mereka.</p>



<p><strong>Terlihat makhluk jadi-jadian</strong> berbentuk seperti kera , berukuran seperti manusa dengan badan yang kurus mengawasi kami dari belakang Rama. aku membacakan beberapa doa dan mantra pelindung, berharap bisa menghilangkan kami bertiga dari pengaruh gaib ini.</p>



<p>Jalan yang kami lalui terlihat kembali , dan jalur yang kami lihat sebelumnya, berubah jurang yang dalam. <strong>Namun sepertinya</strong> yang kulakukan memancing perhatian makhluk-makhluk lain. Sepanjang jalan yang kami lalui dipenuhi oleh makhluk halus penunggu gunung ini.</p>



<p>Secepat mungkin kami berlari meninggalkan jurang itu , namun kondisi tanah yang terlalu licin mengaburkan pijakanku dan menjatuhkanku ke sebuah jurang yang dalam. “ Danan! Danan!”Teriakan Rama terdengar dari jauh,namun suara itu sayup-sayup menghilang bersama dengan kesadaranku.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>“ <strong>Mas… bangun mas..</strong>” Terdengar suara perempuan mencoba membangunkanku. Rasa sakit masih terasa dari kepala dan sekujur tubuh, namun aku tetap memaksa untuk membuka mata.</p>



<p>“i.. ini dimana?” Tanyaku pada perempuan yang mencoba membangunkanku. “Udah tenang dulu , ini diminum… “ Ucap perempuan itu sambil menyerahkan segelas teh hangat. Aku meminumnya sampai habis , terasa rasa haus yang amat sangat dari tenggorokanku.</p>



<p>“Masnya udah pingsan seharian, warga nemuin mas pingsan di hutan kemaren” Jelasnya. Aku menyentuh dahiku yang ditutupi perban , mulai teringat kejadian saat aku terjatuh ke dalam jurang.</p>



<p>“ Kalau udah bisa berdiri , itu ditunggu pak kades.. udah disiapin makanan di sana” ucapnya sambil menunjuk ke sebuah rumah. Aku mencoba berdiri , mencuci muka dan mencari baju ganti dari ranselku. Sejujurnya, aku cemas dengan keadaan Rama dan Yanto . Mereka pasti mencariku selama pingsan.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>“ Permisi … “ucapku memasuki sebuah rumah yang tadi ditunjukkan oleh perempuan yang membangunkanku. “ eh..monggo, masnya udah sehat? Sini makan dulu“ Ucap seorang pria paruh baya menyambutku.</p>



<p>Aku menghampiri mereka, dengan ramah sepiring nasi disiapkan dan diberikan kepadaku. “Udah kenalanya nanti dulu,makan dulu aja pasti laper kan?Lha wong pingsan seharian”ucap bapak itu. “Njih.. maaf ya pak , ngapunten” Jawabku sambil mengambil lauk yang terlihat begitu menggoda.</p>



<p>“ Kulo nuwon… <strong>permisi</strong>“ suwara wanita terdengar dari depan pintu rumah. “ Eh , Laksmi… sini ikut makan” Ucap sang pemilik rumah memanggilnya.</p>



<p>Ternyata Itu adalah perempuan yang tadi membangunkanku. “Makan yang banyak mas… ” ucapnya sambil melempar senyum. Aku mengangguk dengan sedikit malu , namun sepertinya rasa lapar lebih berkuasa terhadapku.</p>



<p>“ Saya kepala desa di sini, panggil aja pak Kades… Sampai masnya benar-benar pulih istirahat di sini dulu saja” Ucap pria itu dengan ramah.</p>



<p>“Matur nuwun pak , nama saya Danan, memangnya ini di mana ya pak?” tanyaku. “<strong>Ini desa Windualit</strong> … pasti belum pernah denger” jawab pak Kades.</p>



<p>“Iya pak , saya baru tau ada desa di dekat posko pendakian” Lanjutku. Pak Kades mengerutkan dahi seolah merasa heran. “ Posko apa maksud mas danan” tanya pak kades.</p>



<p>“Lha… saya terjatuh di jalur pendakian merapi… bukanya bapak nemuin saya di jalur pendakian?” Tanyaku pada mereka. Laksmi dan pak kades saling memandang.</p>



<p>“Desa ini jauh dari posko pendakian manapun mas, apalagi sama kota.. kendaraan aja ga bisa masuk ke sini. Tadi kami nemuin masnya di hutan perbatasan desa..” Jelas Laksmi. </p>



<p>Aku merasa heran dengan apa yang mereka katakan , segera saja kuceritakan apa yang terjadi. Mereka terlihat heran karena jarak dari posko ke desa ini berpuluh puluh kilo jauhnya.</p>



<p>“Ya sudah, mas danan tinggal di sini dulu saja sampai pulih.. kalau sudah sehat , nanti kami antar” Ucap pak kades.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Desa yang sungguh damai, terlihat warga –warga yang sangat ramah satu sama lain. Hawa yang sejuk dan pemandangan indah gunung merapi selalu setia menemani pagi setiap warga di desa ini. Hanya saja di sini masih serba tradisional penerangan menggunakan lampu minyak. Dan bentuk rumah-rumah yang masih dari kayu merupakan pemandangan yang tidak biasa untuku.</p>



<p>“Pagi Mas Danan… “ Ucap Laksmi memecah lamunanku di pagi hari. “ Pagi mbak laksmi…” Jawabku Sepertinya senyuman manis laksmi akan tetap membekas selepas aku pergi dari sini nanti.</p>



<p><strong>Sudah tiga hari</strong> aku tinggal di desa ini , di sebuah rumah singgah yang sepertinya diperuntukan untuk tamu yang mampir ke sini, rasanya aku mulai merasa cukup nyaman. Akupun mulai Akrab dengan warga di desa ini.</p>



<p>Namun aku tidak mau membuat teman-temanku lebih khawatir lagi. Setidaknya besok aku harus sudah pamit.</p>



<p>Seharian ini aku habiskan untuk berkeliling desa dan menyapa warga-warga di sini, namun ada sedikit yang mengganggu inderaku, yaitu sebuah hutan yang terletak di sudut perbatasan desa.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Hari mulai malam , desa sudah mulai sepi oleh warga. Aku tetap menikmati suasana ini dari teras rumah sampai akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat. <strong>Belum sempat tertidur</strong>, suara ketukan berkali-kali di pintu rumah pak kades.</p>



<p>Aku keluar mencari tahu apa yang terjadi . Terlihat perbincangan singkat antara warga dan pak kades. “ya udah, coba panggil Pak Sardi juga… “ Nanti saya menyusul Aku keluar menghampiri Pak Kades penasaran dengan apa yang terjadi.</p>



<p>“ Pak , ada apa to pak ?” tanyaku pada pak kades. “Katanya ada anak kecil hilang, seperti ditarik sesuatu ke dalam hutan” Ucapnya “Mas Danan, saya ke sana dulu ya… istirahat aja” Lanjutnya. “ Nggak pak, saya ikut…” Bantahku.</p>



<p>Kami sedikit berlari menuju mulut hutan, tempat warga berkumpul. Terlihat warga sudah siap di sana dengan kentongan dan obor. Aku menerobos kerumunan dan melihat ke dalam hutan.</p>



<p>Belum sampai masuk ke dalam, terlihat dari mataku dua makhluk halus penjaga dengan kaki sepanjang hampir manusia dewasa menunggu di tengah gelapnya hutan itu. Warga desa ,sepertinya tidak sadar dengan keberadaan makhluk itu.</p>



<p>“<strong>Kita bagi , </strong>sebagian masuk ke hutan dan sisanya berjaga di desa” ucap pak kades kepada warga. Aku berfikir , sangat berbahaya apabila warga masuk ke hutan. Bisa jadi anak yang di culik tadi hanya umpan untuk mencari tumbal lainya.</p>



<p>“P..Pak… jangan dulu bahaya” Ucapku pada pak kades. “Kapa mas danan, keburu anak itu kenapa-kenapa ?” ucap pak kades “Jangan pak bahaya, bisa-bisa warga lain juga jadi korban..” Jelasku Pak Kades tetap bersikukuh untuk masuk , namun aku tetap menghalanginya.</p>



<p>“Kalau begitu kita harus bagaimana mas danan?” tanyanya dengan menahan emosi. Aku menoleh kearah hutan , mencoba mengamati apa saja yang ada di sana. </p>



<p>“ Biar saya yang mencari ke dalam…” jawabku. “Gak.. gak mungkin kita biarkan mas danan sendirian ke sana “ tentang pak kades yang terlihat tidak setuju.</p>



<p>“ Gak sendiran, saya akan ikut ke dalam” Terdengar suara dari seorang pria paruh baya yang baru datang. “Pak Sardi… benar mau masuk ke sana ?” Tanya pak kades. Ternyata beliau adalah Pak Sardi, seseorang yang diminta tolong dipanggilkan oleh pak kades.</p>



<p>“ Jangan pak, berbahaya… kalau memaksa masuk lebih baik pagi hari , biar saya mencari tahu dulu kondisi di dalam” Ucapku pada orang itu. Pak sardi tidak menghiraukan ucapanku.</p>



<p>Berjalan maju ke mulut hutan dan membacakan doa-doa yang cukup panjang. Terlihat kedua makhluk penjaga di mulut hutan itu geram dan menghampiri Pak Sardi , namun sebelum sempat mendekat kedua makhluk itu terbakar habis.</p>



<p>“ Mas , jadi ikut ke dalam?” Ucap pak sardi dengan menoleh ke arahku. Aku yang terkesima dengan apa yang Pak sardi lakukan segera meminta obor dari warga dan berjalan masuk ke dalam hutan.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Gelap , <strong>sangat gelap</strong>. Bila tanpa obor di tanganku mungkin rasanya seperti menutup mata. “Pak , kok bisa segelap ini ya.. harusnya masih ada cahaya bulan” Tanyaku pada pak Sardi. “Entah mas.. berhati-hati saja” ucap pak sardi.</p>



<p>Belum sempat menjawab perkataan pak sardi , kami terhenti oleh sebuah pemakaman tua yang tersusun berbukit-bukit dengan nisan yang hampir tak berbentuk.</p>



<p>Yang membuat semakin mengerikan, seorang kakek tua bungkuk dengan rambut putih panjang terlihat bergerak merangkak di antara makam, memakan sisa-sisa jasad yang tidak sudah tidak berbentuk.</p>



<p>Pak Sardi mencoba mendekat, namun makhluk itu menghampiri dan bersiap memberi perlawanan. “<strong>Lungo! Kowe ra ndue urusan karo aku</strong> “ (Pergi , urusanmu bukan sama aku) Ucap makhluk itu. “Sing mbok cari ono ning kono, nek kowe wani…” (yang kamu cari ada di sana , kalau kamu berani).</p>



<p>Kami mengerti , sepertinya memang bukan makhluk ini yang kami cari. Tapi dia menunjuk ke sebuah sendang tak jauh dari tempat dia berada. Makam demi makam kami lewati , sebuah gong gamelan tua besar mulai terlihat berdiri diantara sendang yang mengalirkan air berwarna hitam.</p>



<p>“Hati-hati mas Danan, makhluk itu masih terus memperhatikan kamu” ucap pak sardi. Benar , walaupun tidak mengikuti , makhluk itu terus memperhatikan ke arahku.</p>



<p>“itu.. itu pak sardi! Ada anak kecil di sana” Ucapku ke pada pak sardi. Terlihat seorang anak balita tanpa pakaian tergeletak di tengah-tengah sendang. Terlihat air berwarna hitam mengalir melewati tubuh anak kecil itu.</p>



<p>Aku segera melepas jaketku dan segera menghampiri bocah itu. Namun sebelum sampai ke sana terlihat menyerupai wanita raksasa berjalan bungkuk dengan tanganya dengan payudara yang menggelambir menahan bocah yang tidak sadarkan diri itu.</p>



<p>“ Hati-hati.. sepertinya makhluk itu yang berniat jahat” Ucap pak Sardi padaku. Belum sempat menjaga jarak tangan besar makhluk itu meraih wajahkudan menariku.</p>



<p>Pak sardi segera bergegas membacakan doa dan mengayunkan tanganya , terlihat cahaya putih menyelimuti kepalanya berhasil melepaskan cengkeraman makhuk itu. Setan itu berlari ke belakang dengan menyeret bocah kecil di tanganya.</p>



<p>Kami mengikutinya namun terdengar suara gong dipukul berkali-kali seolah memberikan isyarat. Kami berhent di tak jauh dari sendang, dan mulai terlihat pemandangan yang sangat mengerikan di sekeliling tempat ini.</p>



<p>Semua makhluk halus penunggu hutan memperhatikan kami dari balik pohon seolah mengikuti tanda dari suara gong tadi. Pocong dengan badan yang tidak utuh, perempuan tua begantungan dengan tangan tanpa kaki ditubuhnya. Sepertinya mereka korban-korban pembantaian di jaman dulu. Mungkin saja jasad dan keberadaan mereka yang membuat air di sendang tadi menjadi hitam pekat.</p>



<p>Aku gentar, begitu juga dengan Pak Sardi. Dendam makhluk-makhluk itu terlalu kuat . “ini yang aku takutkan pak , anak itu hanya pancingan agar banyak warga masuk ke sini menjadi tumbal mereka” ucapku dengan gemetar.</p>



<p>“ Kalau kita bertarung sekarang, kita pasti mati” ucap pak sardi. Benar kata pak sardi , tidak mungkin kita melawan mereka semua. Satu persatu makhluk itu mendekat bersiap menghabisi kami. Pak Sardi membacakan mantra pembakar, menyerang satu persatu demit di sana, tapi itu tak cukup.</p>



<p>Aku membacakan ajian pelindung dan berlari menerjang bocah kecil yang di bawa setan wanita itu. Tangkapanku berhasil , segera kuangkat anak itu dan berlari secepat mungkin.</p>



<p>Namun tidak lama , pukulan besar menghantamku dari belakang. Aku terjatuh , Pak sardi menghampiriku dan mencoba melindungi dengan doa-doa yang dia baca. Namun ilmu pak sardipun tak cukup kuat, Tangan tangan makhluk buas mulai merobek tubuh kami.</p>



<p>Rasa sakit menjalar di seluruh tubuhku , terlihat setan wanita mengambil batu besar bersiap menghantamkan ke arahku. Sakit.. sangat sakit , Aku menutup mata, seolah pasrah dengan apa yang terjadi. Ku pikir inilah akhirnya , tapi tiba-tiba mendadak semua serangan itu terhenti.</p>



<p>Pak sardi dengan tubuh yang penuh luka mencoba berdiri dan melihat apa yang sedang terjadi. Kakek tua bungkuk berambut putih di pemakaman tadi menghampiri kami. Demit-demit yang menyerang kami mundur perlahan seolah ketakutan.</p>



<p>“ Bocah asu , <strong>Sopo jenengmu!</strong>” (Bocah anjing! Siapa namamu) Tanya kakek tua itu padaku. “Danan.. Dananjaya Sambara “ jawabku dengan lemah. “ Sambara… wong wong goblog sing ora sayang karo uripe” (Sambara.. orang orang bodoh, yang tidak sayang dengan hidupnya.</p>



<p>Aku tidak mengerti dengan apa yang ia bicarakan. “Mulih! demit-demit iki ben dadi urusanku” (Pulang! Setan-setan ini biar menjadi urusanku!) Perintahnya kepadaku. “Ta.. tapi, mbah iki sopo?” (tapi , mbah ini siapa?) tanyaku penasaran.</p>



<p>“Ora usah kakean cangkem , jogo wae keris Ragasukma sing mbok pegang” (Tidak usah banya bicara , jaga saja keris raga sukma yang kamu pegang) Ucap Kakek tua itu.</p>



<p>Pak Sardi terheran dengan apa yang terjadi , namun ia segera membantuku berdiri dan meninggalkan hutan ini. </p>



<p>“Keris Ragasukma? Bagaimana kakek itu tahu tentang keris yang tersimpan di sukmaku.” Sekilas aku menolah, terlihat kakek tua itu tertawa seperti orang gila melompat dari pohon-ke pohon membasmi setan-setan itu dengan brutal.</p>



<p>Matahari mulai terlihat , hanya sebagian warga desa yang masih menunggu di mulut hutan. Warga terlihat lega setelah mengetahui kami dan anak yang diculik selamat dari hutan. Tidak banyak yang kami ceritakan ke warga tentang apa yang terjadi di dalam hutan.</p>



<p>“ Bapak .. Bapak gapapa? “ Tanya seorang anak wanita yang berlari menghampiri pak sardi. “Gapapa Sekar , Cuma luka sedikit “ Jawabnya dengan melemparkan senyum pada anaknya itu, walaupun aku tahu luka pak Sardi juga cukup serius.</p>



<p>Aku memutuskan untuk istirahat semalam lagi dan pulang besoknya.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Barang dan perlengkapanku sudah siap, terlihat beberapa warga sudah siap mengantarku ke kota. “ Pak Sardi, Pak Kades.. saya ijin pamit dulu ya.Maaf sudah merepotkan “ Ucapku berpamitan.</p>



<p>“Mas Danan , Terima kasih sudah membantu warga di sini.. sering-sering mampir ya” Ucap pak kades. “Iya pak , semoga saya bisa mampir ke sini lagi… toh saya masih ingin mendaki ke puncak merapi” Balasku.</p>



<p>Ingatanku kembali teringat akan hutan dan sendang dengan air yang begitu hitam . Cepat atau lambat tempat itu pasti akan menjadi bencana untuk desa atau bahkan lebih besar lagi.</p>



<p>Aku berpamitan dan meninggalkan desa terpencil di lereng kaki gunung merapi yang menyimpan banyak misteri ini… desa windualit…</p>



<p>Bersambung ke part 3 &gt;&gt;&gt; <strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part3-ikatan-masa-lalu/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 3 &#8211; Ikatan Masa Lalu</a></strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
