<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sosiolinguistik &#8211; albabbarrosa</title>
	<atom:link href="https://alba.kazu.co.id/category/sosiolinguistik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://alba.kazu.co.id</link>
	<description>Sastra, Bahasa, Filsafat, Cerita, Fotografi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Apr 2026 12:37:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.5</generator>

<image>
	<url>https://alba.kazu.co.id/wp-content/uploads/2020/01/albabbarrosa-favicon-150x150.png</url>
	<title>Sosiolinguistik &#8211; albabbarrosa</title>
	<link>https://alba.kazu.co.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pengertian dan Macam Macam Variasi Bahasa Dalam Ilmu Sosiolinguistik</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/bahasa/pengertian-dan-macam-macam-variasi-bahasa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2026 12:37:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sosiolinguistik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4517</guid>

					<description><![CDATA[albabbarrosa &#8211; Pengertian Variasi Bahasa. Sebuah bahasa menjadi bervariasi karena masyarakat bahasanya yang beragam dan bahasa itu sendiri digunakan untuk ... <p class="read-more-container"><a title="Pengertian dan Macam Macam Variasi Bahasa Dalam Ilmu Sosiolinguistik" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/bahasa/pengertian-dan-macam-macam-variasi-bahasa/#more-4517" aria-label="More on Pengertian dan Macam Macam Variasi Bahasa Dalam Ilmu Sosiolinguistik">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id">albabbarrosa </a>&#8211; Pengertian Variasi Bahasa</strong>. Sebuah bahasa menjadi bervariasi karena masyarakat bahasanya yang beragam dan bahasa itu sendiri digunakan untuk keperluan yang beragam pula. Siapa yang dimaksud dengan Masyarakat Bahasa?. <strong><a href="https://www.kompasiana.com/vilyalakstian/5517e72d81331103699de476/masyarakat-bahasa-indonesia" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Masyarakat bahasa</a></strong> adalah mereka yang merasa memiliki dan menggunakan suatu bahasa. </p>



<p>Jika dikaitkan dengan bahasa Indonesia, maka masyatakat bahasa indonesia adalah semua orang yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa indonesia. Jika kamu merasa memiliki dan menggunakan bahasa jawa, maka kamu termasuk masyarakat bahasa jawa.   </p>



<p><strong>Keberagaman masyarakat bahasa bisa dilihat dari status sosial</strong>, latar belakang budaya, tempat tinggal, jenjang pendidikan, ekonomi dan lain lain. Karena latarbelakang dan lingkungan yang tidak sama, maka akan sangat wajar jika bahasa yang mereka gunakan beragam pula. Bahkan seringkali variasi atau ragam tersebut mempunyai perbedaan yang cukup besar.  </p>



<p>Maka dapat ditarik kesimpulan tentang pengertian variasi bahasa, bahwa Variasi Bahasa adalah keragaman yang terjadi pada sebuah bahasa dalam digunakannya bahasa tersebut. Variasi bahasa inidibagi menjadi 3 macam yaitu; Idiolek, Dialek, dan Ragam Bahasa.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Pengertian dan Contoh Idiolek</h3>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Mungkin kamu tidak menyukai suara kamu, mungkin orang mengejeknya, tetapi itulah satu-satunya suara. satu-satunya sumber kekuatan kamu -Peter Elbow-</p></blockquote>



<p>Menurut Abdul Chaer dalam bukunya <em>Linguistik Umum, </em>idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Karena setiap orang tentu memiliki ciri khas bahasanya masing masing, bisa ciri khas dalam menyusun kata, atau pemilihan kata, dan juga pengucapan sebuah kata.   </p>



<p>Sedangakan menurut kridalaksana, idiolek adalah keseluruhan ciri kebahasaan pada diri seseorang. Adapun ciri kebahasaan tersebut mencakup aspek linguistik dan para linguistik. Ciri tersebut membentuk suatu identitas yang melekat pada diri penuturnya.   </p>



<p>Setiap orang tentu memiliki ciri khas bahasanya masing masing. Kalau kamu suka membaca banyak karangan, kamu akan menemukan perbedaan gaya bahasa atau gaya tutur, misalnya tulisan dari Hamka memiliki gaya bahasa yang berbeda dengan tulisan dari Sutan Takdir Alisyahbana.   </p>



<p>Ciri khas tersebut kadang berupa penambahan kata yang sebenarnya tidak memiliki makna, bukan juga sebagai penjelas, hanya sebatas imbuhan dari si penutur karena sudah menjadi kebiasaannya. Contohnya adalah, jika kamu suka nonton anime Naruto, kamu pasti tahu bahwa Naruto mempunyai ciri khas bicara. Yaitu; dia selalu memberi imbuhan kata “datte-bayo” di akhir bicaranya (tidak di setiap dia bicara, hanya pada kalimat kalimat tertentu). Kata tersebut tidak mempunyai sebuah arti, coba saja kamu perhatikan subtitelnya.   </p>



<p>Idiolek bisa juga pengulangan sebuah kata yang juga sama tidak mempunyai arti, dan bukan sebagai penjelas. Contohnya, saya punya teman (mungkin temanmu ada yang sama) dia selalu mengulang kata katat terntu dan menaruhnya diakhir kalimatnya. Misalnya dia bertanya kepada saya “kamu sudah makan kah?” namun karena idioleknya pertanyaan tersebut berubah menjadi “kamu sudah makan kah kamu?” atau pernyataann seperti “kok tadi aku ga lihat kamu” dirubahnya menjadi “kok tadi aku ga lihat kamu tadi”.   Nah apakah kamu sudah mengetahui idiolek kamu? Menarik juga kan untuk dibahas.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pengertian Dialek dan Contoh Dialek</h2>



<p>Apa itu dialek? Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu. Misalnya bahsa jawa, kita tahu bahwa bahasa jawa surabaya, bahasa jawa banyumas, bahasa jawa solo, bahasa jawa tegal mempunyai dialeknya masing masing. Kalau kamu orang jawa pasti kamu bisa mengetahui dia dari mana hanya dengan dialeknya.   </p>



<p>Variasi bahasa berdasarkan tempat lazim disebut dengan istilah dialek regioanl, areal, atau dialek geografi. Sedangkan variasi bahasa yang digunakan pada waktu tertentu, misalnya bahasa indonesia zaman balai pustaka, bahasa indonesia zaman orde baru lazim disebut dengan dialek temporal atau disebut juga kronoleg. Sedangkan variasi bahasa yang digunakan masyarakat dengan status sosial tertentu lazim dikenal dengan <strong><a href="https://alba.kazu.co.id/bahasa-dan-tingkat-sosial-masyarakat" target="_blank" rel="noreferrer noopener">sosiolek</a></strong> atau dialek sosial.   </p>



<p>Dialek bahasa jawa kudus, orang kudus lazim menambahkan kata “re” “indonesia: kok” disetiap akhir kalimat yang berupa penyangkalan. Contoh “ga ono re” “indonesia: ga ada kok”. Kata “re” tersebut hanya dipakai oleh orang kudus, atau orang luar kudus yang terbiasa beraktivitas di kota kudus.   </p>



<p>Dalam bahasa Indonesia, dialek tersebut bisa dilihat pada orang orang Betawi, salah satu yang menjadi ciri khas dialek betawi adalah mengubah huruf “a” pada akhir kata dengan huruf “e”. Contoh “pergi kemana? Berubah menjadi “pergi kemane” “sama siapa” berubah menjadi “same siape” “ngopi ngapa ngopi” “emang ngapa sih ga boleh, sombong amat –mandrak-“. Kata “lo” “gue” juga menjadi dialeknya orang betawi (CMIIW).</p>



<h3 class="wp-block-heading">Pengertian Ragam Bahasa dan Penggunaan Ragam Bahasa</h3>



<p>Ragam atau ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan, aau untuk keperluan tertentu. Sedangkan untuk situasi formal digunakan ragam bahasa yang disebut ragam baku atau ragam standar. Utnuk situasi yang tidak formal digunakan ragam yang tidak baku atau ragam nonstandar atau lazim disebut dengan istilah bahasa sehari-hari. Untuk keperluan pemakaiannya antara lain ada ragam bahasa militer, ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa jurnalistik, dan ragam bahasa hukum.   </p>



<p>Pada situasi resmi ragam bahasa dikenal dengan istilah ragam bahasa tinggi (ragam bahasa T) sedangkan dalam situasi yang tidak resmi dikenal dengan ragam bahasa rendah (ragam bahasa R). Dalam bahasa Yunani ragam bahasa T dikenal dengan <em>Katherevusa</em>, ragam bahasa R disebut <em>dhimetiki</em>. Dalam bahasa Arab, ragam bahasa T dikenal dengan <em>al-fusha</em>, sedangkan ragam bahasa r dikenal dengan <em>ad-darij</em>.   Keragaman memang menciptakan sesuatu yang indah untuk ditelaah atau untuk sekedar dikagumi. Semoga artikel tentang pengertian variasi bahasa ini bermanfaat. Sampai jumpa di artikel berikutnya . . .</p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Gambar oleh Biljana Jovanovic dari Pixabay</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bahasa dan Tutur Dalam Masyarakat</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/bahasa/bahasa-dan-tutur-dalam-masyarakat/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/bahasa/bahasa-dan-tutur-dalam-masyarakat/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2026 00:43:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sosiolinguistik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/bahasa-dan-tutur-dalam-masyarakat/</guid>

					<description><![CDATA[Manusia adalah makhluk sosial, dikatakan sosial karena setiap dari mereka melakukan interaksi dengan yang lainnya, dan salah satu bentuk interaksi ... <p class="read-more-container"><a title="Bahasa dan Tutur Dalam Masyarakat" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/bahasa/bahasa-dan-tutur-dalam-masyarakat/#more-82" aria-label="More on Bahasa dan Tutur Dalam Masyarakat">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="line-height: 150%"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Manusia adalah makhluk sosial, dikatakan sosial karena setiap dari mereka melakukan interaksi dengan yang lainnya, dan salah satu bentuk interaksi manusia adalah berkomunikasi. Dengan berkomunikasi manusia dapat mengetahui satu sama lain, mengenal satu sama lain.</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">&nbsp;</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Kata masyarakat dapat diartikan sebagai sekelompok orang (dalam jumlah yang banyaknya relatif), yang merasa sebangsa, seketurunan, sewilayah tempat tinggal, atau yang mempunyai kepentingan sosial yang sama.</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">&nbsp;</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Masyarakat juga berkomunikasi sebagai bentuk interaksi, dan alat komunikasinya adalah bahasa. Bahasa menjadi beragam, karena masyarakat juga beragam. Sama-sama masyarakat jawa, bahasa jawa orang kudus dengan bahasa jawa orang jogja ada beberapa perbedaan, dimana salah satu perbedaan itu nantinya disebut dengat dialek.</span></span></div>
<div style="clear: both"></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">&nbsp;</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Karena itu, bahasa dalam masyarakat atau bisa disebut dengan masyarakat bahasa dan masyarakat tutur menjadi kajian yang sangat menarik bagi pakar sosiolinguistik.</span></span></div>
<h3 style="line-height: 150%"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Bahasa Dalam Masyarakat</span></span></h3>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Dalam kajian ilmu sosiolinguistik, pengertian bahasa bukan hanya sebuah s</span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">i</span><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">stem lambang, yang berupa bunyi, akan tetapi bahasa dikaitkan dengan masyarakat atau lingkup sosial dimana pengertian bahasa menjadi sebuah alat untuk berkomunikasi antar masyarakat.</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">&nbsp;</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Jadi jika kita ingat lagi tiga istilah bahasa yang diperkenalkan oleh Ferdinan De Saussure, tentang <i>langange</i>, <i>langue</i>, <i>parole</i>,<span>&nbsp; </span>maka bahasa di sini adalah sebagai <i>lang</i></span><i><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">ue</span></i><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">, yang berarti bahasa adalah </span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">sebuah </span><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">s</span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">i</span><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">stem lamb</span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">a</span><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">ng yang berupa bunyi yang </span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu </span><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span>&nbsp;</span>sebagai alat komunikasi dan berinteraksi</span><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">. </span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">&nbsp;</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Bahasa disini juga berarti sebagai <i>parole</i>, yang berarti bahasa tersebut adalah ujaran-ujaran masyarakat. Dimana <i>parole</i>merupakan bentuk nyata dari keabstrakan <i>lan</i></span><i><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">gue</span></i><i><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">. </span></i></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><i><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">&nbsp;</span></i></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Sebagai <i>lang</i></span><i><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">age</span></i><i><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">e<span>&nbsp; </span></span></i><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">bahasa itu bersifat universal, sebab dia adal</span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">a</span><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">h satu s</span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">i</span><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">stem lambang bunyi </span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">yang digunakan manusia pada umumnya, bukan manusia pada suatu tempat atau suatu masa tertentu. Tetapi bahasa sebagai <i>langue</i>, meskipun ada ciri-ciri keuniversalnya, bersifat terbatas pada satu masyarakat tertentu. Satu masyarakat tertentu ini memang agak sukar rumusannya; namun adanya ciri saling mengerti (<i>mutual intelligible</i>) barangkali bisa dipakai batasan adanya satu bahasa. </span></span></div>
<div></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Jadi, misalnya, penduduk yang tinggal di Garut Selatan dengan yang tinggal di Karawang dan di lereng Gunung Salak, Bogor, masih berada dalam satu masyarakat bahasa dan dalam satu bahasa, karena mereka masih dapat mengerti dengan alat verbalnya. Mereka dapat berkomunikasi atau berinteraksi secara verbal. Begitu juga penduduk yang ada di Banyumas dengan yang berada di Semarang dan yang berada di Surabaya, masih berada dalam satu bahasa dan <b><a href="https://alba.kazu.co.id/bahasa-dan-tingkat-sosial-masyarakat" target="_blank" rel="noopener noreferrer">satu masyarakat bahasa</a></b> karena masih ada saling mengerti di antara mereka sesamanya.<sup><span><!-- [if !supportFootnotes]--><sup><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 107%">[1]</span></sup><a title="" href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=5982955332201530887#_ftn1"><!--[endif]--></a></span></sup></span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><sup><span><sup>&nbsp;</sup></span></sup></span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Dari contoh di atas, kita ketahui antara penduduk Garut Selatan dengan penduduk Karawang dapat saling mengerti dan memahami karena adanya kesamaan sistem dan subsistem (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik) di antara ujaran-ujaran mereka.</span> <span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Meskipun ada beberapa perbedaan kecil di antara kedua masyrakat tersebut, baik perbedaan<span>&nbsp; </span>secara fonologi, morfologi, sintaksis dll.</span></span><span style="font-family: inherit;font-size: 12pt;text-indent: 0.25in">&nbsp;</span></div>
<h3 style="line-height: 150%"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Tutur Dalam Masyarakat</span></span></h3>
<div style="line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Agaknya kita sudah sering mendengar tentang penggunaan istilah tutur, baik kita mengetahui secara tertulis atau dari ucapan seseorang. Seperti contoh ungkapan berikut ini “ hendaknya dalam bertutur kata haruslah melihat situasi dan kondisi” atau dalam ungkapan seperti ini “tutur katanya bagus”. Maka secara singkat dapat dipahami bahwa<span>&nbsp; </span>tutur adalah bentuk pengucapan bahasa. Dalam kamus besar bahasa indonesia, <span>&nbsp;</span>kata tutur memiliki arti ucapan, atau perkataan. </span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">&nbsp;</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Perlu juga disampaikan bahwa tuturan sesorang mencerminkan masyarakat tuturnya, oleh karenanya tuturan itupun berkaitan erat dengan norma dan nilai sosial budaya masyarakatnya. Artinya bahwa terdapat butir komponen tutur tertentu yang tidak dapat dilepaskan dari norma tutur yang berlaku dalam suatu masyarakat tutur.<sup><span><!-- [if !supportFootnotes]--><sup><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 107%">[2]</span></sup><a title="" href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=5982955332201530887#_ftn2"><!--[endif]--></a></span></sup></span></span></div>
<div style="line-height: 150%"></div>
<div><span style="line-height: 107%"><span style="font-family: inherit;line-height: 107%">Hymes (1972) dalam tulisan yang berjudul ‘<i>models of interaction of language and social life’</i>, telah menunjukkan adanya delapan komponen yang dianggapnya berpengaruh terhadap pemilihan kode dalam bertutur. Dia menyebut hal itu sebagai <i>components of speech</i></span><i style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="line-height: 107%">.<sup><b><sup><span lang="IN" style="line-height: 107%">[3]</span></sup></b></sup>&nbsp;</span></i></span></div>
<div><span style="font-family: inherit">yang pada intinya meliputi 1) tempat dan suasana tutur atau </span><i style="font-family: inherit">setting and scene</i><span style="font-family: inherit">, 2) peserta tutur atau </span><i style="font-family: inherit">participants, </i><span style="font-family: inherit">3) tujuan tutur atau </span><i style="font-family: inherit">end : purpose and goal, </i><span style="font-family: inherit">4) pokok tuturan atau </span><i style="font-family: inherit">act sqeuences,</i><span style="font-family: inherit">5)</span><span style="font-family: inherit">&nbsp; </span><span style="font-family: inherit">nada tutur atau </span><i style="font-family: inherit">key</i><span style="font-family: inherit"> : </span><i style="font-family: inherit">tone or spirit of act,</i><span style="font-family: inherit">6) sarana tutur atau </span><i style="font-family: inherit">instrumentalities,</i><span style="font-family: inherit">&nbsp; </span><span style="font-family: inherit">7) norma tutur atau </span><i style="font-family: inherit">norms of interaction and interpretation</i><span style="font-family: inherit">, dan 8) jenis tuturan atau </span><i style="font-family: inherit">genres</i><span style="font-family: inherit">. Dan jika huruf-huruf pertamanya dirangkai maka akan tersusun akronim SPEAKING.</span></div>
<div><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-family: inherit"><br /></span></p>
<hr align="left" size="1" width="33%">
<p><!--[endif]--></p>
<div>
<div style="margin-left: .25in"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span lang="IN" style="font-size: 10pt;line-height: 107%">[1]</span><!--[endif]--></span></span><span lang="IN"> Abdul Chaer dan Leonie Agustina, <i>Sosiolinguistik,</i> Jakarta: Renika Cipta, 2014, hlm. 32.</span></span></div>
</div>
<div>
<div style="margin-left: 22.5pt;text-indent: -4.5pt"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span lang="IN" style="font-size: 10pt;line-height: 107%">[2]</span><!--[endif]--></span></span><span lang="IN"> Kunjana Rahardi, Sosiolinguistik Kode dan Alih Kode, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001, hlm. 28.</span></span></div>
</div>
<div>
<div style="margin-left: .25in"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span lang="IN" style="font-size: 10pt;line-height: 107%">[3]</span><!--[endif]--></span></span><span lang="IN"> Ibid, hlm. 29.</span></span></div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/bahasa/bahasa-dan-tutur-dalam-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Verbal Repertoire Dalam Hubungannya Dengan Masyarakat</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/bahasa/verbal-repertoire-dalam-hubungannya-dengan-masyarakat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2026 18:41:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sosiolinguistik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/verbal-repertoire-dalam-hubungannya-dengan-masyarakat/</guid>

					<description><![CDATA[Pengertian Masyarakat Tutur Image by Gerd Altmann from Pixabay Kalau suatu kelompok orang atau suatu masyarakat mempunyai verbal repertoir yang ... <p class="read-more-container"><a title="Verbal Repertoire Dalam Hubungannya Dengan Masyarakat" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/bahasa/verbal-repertoire-dalam-hubungannya-dengan-masyarakat/#more-83" aria-label="More on Verbal Repertoire Dalam Hubungannya Dengan Masyarakat">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3><span style="font-size: 12pt;text-align: justify"><span style="font-family: inherit">Pengertian Masyarakat Tutur</span></span></h3>
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto;margin-right: auto;text-align: center">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center"><a href="https://1.bp.blogspot.com/-lnQ8h4Q2Qts/XaxNVnOoEJI/AAAAAAAAAN8/y6EBlNabuHw_xgFZDnHphT_U8ro-RJKtQCLcBGAsYHQ/s1600/crowd-2045498_640.jpg" style="margin-left: auto;margin-right: auto"><span style="font-family: inherit"><img fetchpriority="high" decoding="async" border="0" data-original-height="426" data-original-width="640" height="426" src="https://1.bp.blogspot.com/-lnQ8h4Q2Qts/XaxNVnOoEJI/AAAAAAAAAN8/y6EBlNabuHw_xgFZDnHphT_U8ro-RJKtQCLcBGAsYHQ/s640/crowd-2045498_640.jpg" width="640" /></span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center"><span style="font-family: inherit">Image by <a href="https://pixabay.com/users/geralt-9301/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=2045498">Gerd Altmann</a> from <a href="https://pixabay.com/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=2045498">Pixabay</a></span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Kalau suatu kelompok orang atau suatu masyarakat mempunyai verbal repertoir yang relatif sama serta mereka mempunyai penilaian yang sama terhadap norma-norma pemakaian bahasa yang digunakan di dalam masyarakat itu, maka dapat disimpulkan bahwa kelompok orang itu atau masyarakat itu adalah sebuah <i>masyarakat tutur</i> (Inggris: <i>Speech Community</i>). Jadi masyarakat tutur&nbsp; itu bukan hanya sekelompok orang yang menggunakan bahasa yang sama, melainkan kelompok orang yang mempunyai norma yang sama dalm menggunakan bentuk-bentuk bahasa. Satu hal lagi yang patut di catat, untuk dapat disebut satu masyarakat tutur adalah adanya perasaan di antara penuturnya, bahwa mereka merasa menggunakan tutur yang sama (Lihat Djokokentjono 1982).&nbsp;</span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Dengan konsep adanya perasaan menggunakan tutur yang sama ini, maka dua buah dialek yang secara linguistik merupakan satu bahasa dianggap menjadi dua bahasa dari dua masyarakat tutur yang berbeda. Misalnya, bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia, yang masing-masing oleh para penuturnya dianggap dua bahasa yang berbeda.<span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 107%">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 22.5pt;text-align: justify;text-indent: 13.5pt"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><b>Sementara menurut pendapat lain bahwa : </b></span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"></span></span></div>
<div dir="RTL" style="direction: rtl;line-height: 27.0pt;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0in;margin-left: 0in;margin-right: .6pt;margin-top: 0in;text-align: justify;text-indent: 13.7pt"><span lang="AR-SA" style="font-family: inherit"><span style="font-size: large">&nbsp; يعد مصطلح الجامعة الكلامية من المصطلحات شائعة الاستخدام في علم اللغة الاجتماعي, وهو مصطلح يستخدم للدلالة على جماعة من الناس تستعمل لغة واحدة للتفاهم بين افرادها. ويستخدم مصطلح الجماعة اللغوية ينفس المعنى أيضا. فلو استطعنا القيام بتحديد الجماعة الكلامية لأمكننا القيام بدراستها. ومن الممكن أن نجد اختلافات هامة بين الجماعة, وعادة تتلازم هذه الاختلافات مع الاختلافات اللغوية. ورأى جون ليونز كما نقل عنه هدسون أن الجماعة الكلامية هي كل الناس يستخدمون لغة (أو لهجة) بعينه.</span><span><span dir="LTR"><!--[if !supportFootnotes]--><span><span lang="IN" style="line-height: 107%"><span style="font-size: large">[2]</span></span></span><!--[endif]--></span></span><span style="font-size: 14pt"></span></span></div>
<div dir="RTL" style="direction: rtl;line-height: 27.0pt;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0in;margin-left: 0in;margin-right: 22.3pt;margin-top: 0in;text-align: justify;text-indent: 13.7pt"><span style="font-family: inherit"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span dir="LTR"></span><span dir="LTR"></span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><span dir="LTR"></span><span dir="LTR"></span>“Istilah masyarakat tutur adalah istilah yang umum digunakan dalam sosiolinguistik, istilah yang digunakan untuk menunjukkan sekelompok orang yang menggunakan satu bahasa untuk saling memahami di antara anggotanya. Istilah masyarakat bahasa menggunakan makna yang sama. Jika kita bisa mengidentifikasi kelompok kata-kata yang bisa kita pelajari. Hal ini dimungkinkan untuk menemukan perbedaan yang signifikan antara kelompok, dan perbedaan ini biasanya bertepatan dengan perbedaan bahasa. John Lions, seperti dikutip Hudson, mengemukakan bahwa kata masyarakat tutur adalah semua orang yang menggunakan bahasa tertentu (atau nada)”.</span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"></span></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Namun j</span><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">ika kita mengingat mata kuliah linguistik tahun lalu, maka kita mendapatkan dua istilah yang hampir sama, yaitu <i>masyarakat bahasa </i>dengan <i>masyarakat tutur.</i> Dijelaskan di dalam buku linguistik umum karya Abdul Chaer yang dimaksud dengan masyarakat bahasa adalah, sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Dengan demikian kalau </span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">a</span><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">da sekelompok orang yang merasa sama-sama menggunakan bahasa Sunda, maka bisa dikatakan mereka adalah masyarakat </span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">bahasa </span><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">sunda.<span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 107%">[3]</span></span><a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=5982955332201530887#_ftn3" title=""><!--[endif]--></a></span></span></span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"></span></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><span><span><span style="font-family: inherit"><br /></span></span></span></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Maka bisa diambil kesimpulan bagi pemakalah bahwa masyarakat tutur juga berarti masyarakat bahasa, dan masyarakat bahasa belum tentu disebut dengan masyarakat tutur. Sebagai contoh, masyarakat kudus menggunakan bahasa jawa dalam berkomunikasi sehari-hari, jadi masyarakat kudus disebut sebagai masyarakat tutur bahasa jawa. Akan tetapi masyarakat kudus juga mengerti dan menguasai bahasa indonesia, hanya saja masyarakat kudus tidak menggunakan bahasa indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari, jadi masyarakat kudus tidak bisa disebut sebagai masyarakat tutur bahasa indonesia.</span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Addul Chaer dan Leoni Agustina memberikan contoh dalam bukunya <i>Sosiolinguistik Perkenalawan Awal</i> tentang masyarakat tutur berikut ini; setiap hari tenaga kerja yang berasal dari berbagai daerah dan berbagai bahasa daerah yang berbeda-beda, bekerja di sebuah pabrik di Jakarta dan di sekitar Jakarta, dan mereka sesama rekan sekerjanya menggunakan bahasa indonesia dalam berinteraksi. Jadi, meskipun mereka berbahasa ibu yang berbeda, mereka adalah pendukung masyarakat tutur bahasa indonesia. Dalam hal ini memang tidak terlepas dari fungsi ganda bahasa indonesia: sebagai bahasa nasional, bahasa negara, dan bahasa persatuan.</span></div>
<h3 style="line-height: 150%;text-align: justify"><span style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Pengertian Verbal Repertoire dan Hubungannya Dengan Masyarakat</span></h3>
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto;margin-right: auto;text-align: center">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center"><a href="https://1.bp.blogspot.com/-iD-9gkOx6_w/XaxOCj-PkrI/AAAAAAAAAOE/9-pfC79CE4Ulejj5GhT03n3bY_FW6zzuACLcBGAsYHQ/s1600/logos-990390_640.jpg" style="margin-left: auto;margin-right: auto"><span style="font-family: inherit"><img decoding="async" border="0" data-original-height="227" data-original-width="640" src="https://1.bp.blogspot.com/-iD-9gkOx6_w/XaxOCj-PkrI/AAAAAAAAAOE/9-pfC79CE4Ulejj5GhT03n3bY_FW6zzuACLcBGAsYHQ/s1600/logos-990390_640.jpg" /></span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center"><span style="font-family: inherit">Image by <a href="https://pixabay.com/users/Merio-1480566/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=990390">Merio</a> from <a href="https://pixabay.com/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=990390">Pixabay</a></span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div><span style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Dari keterangan-keterangan di atas kita tahu bahwa Ferdinan De Saussure membedakan antara <i>langue</i> dan <i>parole</i>, membedakan antara bahasa sebagai siste</span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">m, sebagai alat komunikasi yang masih bersifat abstrak dengan bahasa sebagai bentuk nyata dari bahasa sebaiagi alat komunikasi, atau kita sebut dengan tutur.</span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Dari tindak tutur inilah munculnya <b><a href="https://alba.kazu.co.id/2019/10/variasi-bahasa-pengertian-macam-dan-penggunaan-variasi-bahasa.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">ragam bahasa atau variasi bahasa</a></b>, baik secara fonologi ataupun morfologi, yang pada nantinya akan dikenal dengan ragam diolek dan ragam idiolek. Sebagai contoh, bahasa jawa masyarakat kudus dengan bahasa jawa masyarakat jepara memiliki perbedaan, perbedaan itu deisebut dengan diolek. Masyarakat kudus dalam mengungkapkan “ini punyamu” dalam bahasa jawa diungkapkan dengan ‘iki genem’, sedangkan masyarakat jepara mengungkapkannya dengan ‘iki gonamu’. Masyarakat wonogiri dalam mengungkapkan “ mau kemana ndre” dalam bahasa jawa diungkapkan dengan ‘ arep nyang ndi ta ndre’, sedangkan orang kudus mengungkapkanya ‘ape rindi dre’ meski dengan dialek yang berbeda jika ketiga masyarakat tersebut dapat saling memahami dan saling mengerti ketika berbicara, maka kemampuan tersebut disebut Verbal Repertoire.</span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Definisi Verbal Repertoire tidak hanya sampai disitu saja, secara istilah Verbal Reperotire adalah kemampuan berbahasa sesuai dengan konteks dan situasi beserta ragam-ragam bahasa yang dimiliki atau dikuasai oleh penutur. </span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Pakar lain, Chomsky, tokoh tata bahasa generatif transformasi, menyebutkan adanya<i> kompetens </i>(Inggris: <i>competence</i>) disamping performans (Inggris: <i>performance</i>). Yang dimaksud dengan kompetens adalah kemampuan, yakni pengetahuan yang dimiliki pemakai bahasa mengenai bahasanya. Sedangkan performans adalah perbuatan berbahasa atau pemakaian bahasa itu sendiri dalam keadaan yang sebenarnya di dalam masyarakat.&nbsp;</span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Haaliday, tokoh linguistik sistemik, tidak secara eksplisit membedakan bahasa sebagai sistem dan bahasa (tuturan) sebagai keterampilan. Dia hanya menyebut adanya kemampuan komunikatif (Inggris: <i>Communicative Competence</i>), yang kira-kira merupakan perpaduan atau gabungan antara kedua pengertian itu. Yang dimaksud dengan kemampuan komunikatif adalah kemampuan bertutur atau kemampuan untuk menggunakan bahasa sesuai dengan fungsi dan situasi serta norma-norma penggunaan bahasa dengan konteks situasi dan konteks sosialnya (<i>Halliday</i>1972:269-293).<span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 107%">[4]</span></span><a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=5982955332201530887#_ftn4" title=""><!--[endif]--></a></span></span> </span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><span><span><span style="font-family: inherit"><br /></span></span></span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Maka bisa disimpulkan bahwa istilah Verbal Repertoire dapat dipandankan dengan Kemampuan Komunikatif. Untuk bisa dikatakan bahwa seseorang mempunyai kemampuan komunikatif, sesorang itu haruslah bisa membedakan kalimat yang gramatikal dan yang tidak gramatikal, serta mempunyai kemampuan untuk memilih bentu-bentuk bahasa yang sesuai dengan situasi dan kondisinya. </span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><b>Sebagai contoh, berikut percakapan anatara dua penutur bahasa jawa:</b></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><b>Maza</b> : arep nyang ndi mbah?</span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><b>Mbah Zuha</b> : arep nang sawah nang tunggu manuk.</span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Mendengar jawaban Mbah Zuha tersebut, maza malah kebingungan, untuk apa dia pergi ke sawah menunggu manuk. Dari ketidakfahaman atau ketidaktahuan Maza tentang penggunaan kata “tunggu” yang artinya bisa berubah sesuai konteks ini, maka ada keterbatasan tentang verbal repertoirnya. Karena kata “tunggu” pada percakapan diatas maknanya berubah menjadi “menjaga sawah dari datangnya burung-burung yang ingin memakan padi”.</span></div>
<div><span style="font-family: inherit"><br /></span></div>
<div><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-family: inherit"><br /></span></p>
<div>
<div style="margin-left: .25in"><span style="font-family: inherit"><span><span lang="IN"><span><span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt;line-height: 107%">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span><span lang="IN"> <b>Op. Cit.,</b> hlm. 36.</span></span></div>
</div>
<div>
<div dir="RTL" style="direction: rtl;text-align: right"><span style="font-family: inherit"><span><span dir="LTR" lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt;line-height: 107%">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span><span dir="LTR" lang="IN"> </span><span dir="RTL"></span><span lang="AR-SA"><span dir="RTL"></span>. محمد عفيف الدين دميلطى, <i>محاضرة في علم اللغة الاجتماعى</i>, سورابايا: مطبعة دار العلوم اللغوية, 2010, ص. 31.</span><span dir="LTR" lang="IN"></span></span></div>
</div>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt;line-height: 107%">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span><span lang="IN"> Abdul Chaer<i>, Linguistik Umum</i>, Jakarta: Renika Cipta, 2014, hlm. 60.</span></span></div>
</div>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt;line-height: 107%">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span><span lang="IN"> Abdul Chaer dan Leonie Agustina, <b>Op. Cit.,</b> hlm. 34.</span></span></div>
</div>
</div>
<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hubungan Bahasa Dengan Tingkat Sosial Masyarakat</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/bahasa/bahasa-dan-tingkat-sosial-masyarakat/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/bahasa/bahasa-dan-tingkat-sosial-masyarakat/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2026 12:41:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sosiolinguistik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/hubungan-bahasa-dengan-tingkat-sosial-masyarakat/</guid>

					<description><![CDATA[  Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kajian tentang masyarakat tutur dipusatkan pada bahasanya, tentang berbagai cara yang dimiliki oleh ... <p class="read-more-container"><a title="Hubungan Bahasa Dengan Tingkat Sosial Masyarakat" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/bahasa/bahasa-dan-tingkat-sosial-masyarakat/#more-84" aria-label="More on Hubungan Bahasa Dengan Tingkat Sosial Masyarakat">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="clear: both;text-align: center"></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span lang="IN" style="font-family: 'times new roman' , 'serif';font-size: 12.0pt;line-height: 150%"> </span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Seperti yang sudah kita ketahui bahwa <b>kajian tentang <a href="https://alba.kazu.co.id/bahasa-dan-tutur-dalam-masyarakat/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">masyarakat tutur </a>dipusatkan pada bahasanya</b>, tentang berbagai cara yang dimiliki oleh anggota masyarakat tertentu untuk berbicara sesuai dengan konteks sosial. Pakar sosiolinguistik sepakat tentang adanya hubungan sebuah bahasa dengan masyarakat penuturnya. Lalu hubungan yang bagaimanakah yang terdapat di antara bahasa dengan masyarakt itu?</span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Menurut Addul Chaer dan Leoni Agustina, <b>hubungannya adalah</b> adanya hubungan antara bentuk-bentuk bahasa tertentu, yang disebut variasi, ragam atau dialek dengan penggunaannya untuk fungsi-fungsi tertentu di dalam masyarakat. Misalnya untuk kegiatan pendidikan kita menggunakan ragam baku, untuk kegiatan sehari-hari di rumah kita menggunakan ragam tak baku, untuk kegiatan berbisnis kita menggunakan ragam usaha, dan untuk kegiatan mencipta karya seni (puisi atau novel) kita menggunakan ragam sastra.<sup><span><!-- [if !supportFootnotes]--><sup><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 115%">[1]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><b>Selain berhubungan dengan kondisi,</b> atau konteks kejadian tindak tutur, bahasa juga mempunyai hubungan dengan tingkatan sosial masyarakat. Hal ini memungkinkan penggunaan <b><a href="https://alba.kazu.co.id/variasi-bahasa/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">variasi bahasa</a></b> yang berbeda terhadap tingkat sosial yang berbeda pula. </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span style="font-family: inherit"><b><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Startifikasi so</span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">s</span></b><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><b>ial dalam suatu masyarakat menimbulkan ragam bahasa</b>, dan selanjutnya ragam bahasa memperkokoh startifikasi so</span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">s</span><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">ial. Di inggris anak-anak yang berasal orang tua yang berstatus kerja di pabrik tidak diperkenankan masuk universitas. Startifikasi so</span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">s</span><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">ial mempengaruhi pemilihan bahasa dalam tingkatan-tingkatan bahasa disebut unda-usuk. Unda-usuk dapat kita lihat pada bahasa jawa, seperti yang dikatakan oleh Soepomo, “bahasa mempunyai tingkat tutur yang sangat kompleks”. </span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Perbedaan tingkat tutur ini disebabkan karena startifikasi sosial.<sup><span><!-- [if !supportFootnotes]--><sup><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 115%">[2]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Dalam bahasa jawa kita bisa melihat perbedaan penggunaan variasi bahasa ketika berbicara dengan yang sederajat dan dengan orang lain yang derajatnya lebih tinggi. Ketika seorang anak berbicara dengan ayahnya maka anak tersebut harusnya menggunakan bahasa krama sesuai dengan adat sosial. Dan ketika anak tersebut berbicara dengan temannya maka anak tersebut menggunakan bahasa ngoko.</span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><b>Ragam bahasa tersebut</b> (yang berkaitan dengan strata sosial) bukan hanya terjadi dalam masyarakat tutur bahasa indonesia saja, atau masyarakat tutur bahasa jawa saja, akan tetapi juga terjadi di berbagai negara. Seperti yang terjadi pada masyarakat tutur bahasa arab (Bangsa Arab). Seperti yang kita tahu bahwa Bangsa Arab juga mengenal sistem kerajaan, dan juga memiliki kabilah-kabilah besar, selain itu juga ada masyarakat Bangsa Arab yang hanya sebagai pedagang biasa atau tukang bangunan biasa Perbedaan-perbedaan strata sosial itu memunculkan ragam-ragam bahasa berdasarkan tingkatan sosial. Begitupun pada masyarakat keturunan Arab yang di indonesia.</span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Tingkatan sosial dalam masyarakat keturunan Arab tersebut menimbulkan variasi-variasi bahasa yang penggunaannya disesuaikan dengan strata sosialnya. Adanya tingkatan sosial tersebut bisa dilihat dari dua segi, <i>pertama </i>dari segi keningratan atau kebangsawanan dan <i>kedua </i>dari segi pendidikan dan keadaan ekonomi yang dimiliki (Agustina, 2004: 39). Ragam bahasa yang digunakan oleh <i>Dhu’afa wa Miskin </i>bisa jadi berbeda dengan ragam bahasa yang digunakan oleh <i>sayyid</i> atau <i>syarif</i>.<sup><span><!-- [if !supportFootnotes]--><sup><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 115%">[3]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Sebagai contoh, dalam sebuah forum resmi, misalnya ketika ada tamu dari Yaman asli datang ke komunitas mereka. Kalimat penghormatan yang mereka sampaikan</span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><span>  </span></span><span lang="AR-SA" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><span> </span><span dir="RTL"><span>  </span>سماحة الشيخ السيد الأستاذ زيد</span></span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"> (kepada yang terhormat Sayyid Profesor Zaid) walaupun belum profesor. Dibandingkan dengan sambutan kepada tamu undangan umum dari masyarakat keturunan Arab cukup diungkapkan dengan kalimat<span>   </span></span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">السادة والسادات الكرام </span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><span> </span>(bapak-bapak dan ibu-ibu yang kami hormati). Kalimat </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">سماحة الشيخ السيد الأستاذ زيد</span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"> ini menunjukkan bahwa orang yang ditunjuk berada pada strata sosial yang tinggi ditunjukkan dengan kata </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">سماحة</span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><span>  </span>karena ketinggian ilmunya, dibandingakn dengan kebanyakan orang umum yang cukup dengan kata </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">الكرام</span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">.<sup><span><!-- [if !supportFootnotes]--><sup><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 115%">[4]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></span></span></div>
<div><span style="font-family: inherit"> </span></div>
<div><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-family: inherit"><br /></span></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p><!--[endif]--></p>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span style="font-family: 'times new roman' , 'serif'"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-size: 10.0pt;line-height: 115%">[1]</span><!--[endif]--></span></span><span style="font-family: 'times new roman' , 'serif'"> Ibid, hlm. 39.</span></span></div>
</div>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span style="font-family: 'times new roman' , 'serif'"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-size: 10.0pt;line-height: 115%">[2]</span><!--[endif]--></span></span><span style="font-family: 'times new roman' , 'serif'"> Tangson Pangaribuan,<span>  </span><i>Hubungan Variasi Bahasa dengan Kelompok Sosial dan Pemakaian Bahasa</i>, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan, hlm. 4.</span></span></div>
</div>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span style="font-family: 'times new roman' , 'serif'"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-size: 10.0pt;line-height: 115%">[3]</span><!--[endif]--></span></span><span style="font-family: 'times new roman' , 'serif'"> Azzuhri, <i>Relasi Bahasa Arab dengan Strata Sosial<span>  </span>Masyarakat dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Sosial, Ekonomi, Politik, dan Agama</i>, STAIN Pekalongan: 2013,<span>  </span>hlm. 316.</span></span></div>
</div>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span style="font-family: 'times new roman' , 'serif'"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-size: 10.0pt;line-height: 115%">[4]</span><!--[endif]--></span></span><span style="font-family: 'times new roman' , 'serif'"> Ibid, hlm. 217.</span></span></div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/bahasa/bahasa-dan-tingkat-sosial-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
