<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Horor Indonesia &#8211; albabbarrosa</title>
	<atom:link href="https://alba.kazu.co.id/tag/cerita-horor-indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://alba.kazu.co.id</link>
	<description>Sastra, Bahasa, Filsafat, Cerita, Fotografi</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Apr 2026 12:38:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.5</generator>

<image>
	<url>https://alba.kazu.co.id/wp-content/uploads/2020/01/albabbarrosa-favicon-150x150.png</url>
	<title>Cerita Horor Indonesia &#8211; albabbarrosa</title>
	<link>https://alba.kazu.co.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part8 &#8211; Pagelaran Tengah Wengi</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7-2/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2026 12:38:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[cerita horor gending alas mayit]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Penari]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4105</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Horor Twitter &#8211; Ini adalah part 8 dari serial cerita horor Gending Alas Mayit. Bagi yang belum membaaca part ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part8 &#8211; Pagelaran Tengah Wengi" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7-2/#more-4105" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part8 &#8211; Pagelaran Tengah Wengi">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="block-9777a0b5-9244-4156-bb68-270e56b25400"><strong><br><br>Cerita Horor Twitter &#8211;</strong> Ini adalah part 8 dari serial cerita horor <strong>Gending Alas Mayit.</strong> Bagi yang belum membaaca part 7, baca dulu ya part 7-nya &gt;&gt;&gt;</p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 7</a></strong></p>



<p id="block-da03e9d9-9d5b-4753-bbfc-197f312b33c0"><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part6/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Gending Alas Mayit Part 6</strong></a></p>



<p id="block-08338b93-a623-4ce5-8c1d-0ac5ff378d1a"><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part5/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 5</a></strong></p>



<p id="block-fc8405f1-dd64-47d5-a469-1e3aa7b0a649"><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/">Gending Alas Mayit Part 4</a></strong></p>



<p id="block-e57357c3-b276-42cf-97ac-e9ab1407fc49"><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part3-ikatan-masa-lalu/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 3</a></strong></p>



<p id="block-b392e72b-8244-483c-802e-d0cfe0645070"><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part </strong>2</a></p>



<p id="block-d34576b8-d198-448c-a648-24341756e4e7"><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 1</a></strong></p>



<p id="block-05feceb7-7b79-4396-9c44-29def1048e2e"><strong>Cerita Horor Twitter</strong></p>



<p id="block-1062b7c1-e1aa-44e3-86cb-468b44de879c"><strong>Judul</strong> : Gending Alas Mayit &#8211; Tataran Pungkasan (Pertunjukan Akhir)</p>



<p id="block-c5dd6f07-12da-460f-ae83-3394d1b5c2b1"><strong>Penulis </strong>: @Diosetta</p>



<p>Semua kenangan indah tentang Laksmi teringat dengan jelas di pikiranku ketika melihat senyumnya lagi.</p>



<p>Perlahan Laksmi berjalan di depanku , air dari sendang banyu ireng mulai menutupi hingga ke pinggangku. Namun sampai di tengah sendang, aku melepaskan tangan Laksmi.</p>



<p>Sebuah Gong tua dengan akar pohon beringin yang membatu berada di hadapanku. Sebelum Laksmi sempat menoleh aku membacakan ajian penguat raga dan memukul sekeras-kerasnya ke arah batu itu hingga hancur berkeping-keping.</p>



<p>Melihat reaksiku semua tercengang, Setan itu membalikan badanya.. wajahnya terlihat sangat kesal.</p>



<p>“ Kamu menipuku!!” Ucap setan yang bersemayam dalam tubuh Laksmi.</p>



<p>Aku mengambil bongkahan besar waturingin yang tercerai berai ,</p>



<p>bersamaan dengan itu terlihat gong tua yang sebelumnya berada di atas batu ini.</p>



<p>Sebuah tulisan terukir di benda tua itu…</p>



<p>&#8220;Ing sangisore wit ringin iki manggon layone sang prabu&#8221;</p>



<p>(Dibawah pohon beringin ini bersemayam jasad sang raja)</p>



<p>-Ki Rusman Basukarna</p>



<p>“Cahyo… Ki Rusman Basukarna! Jangan-jangan… Mbah rusman yang membuat gong ini? “ Teriaku dari tengah sendang.</p>



<p>Belum sempat mendengar jawaban Cahyo , Setan Laksmi memerintahkan anak buahnya untuk menyerangku .</p>



<p>Namun semua setan itu terbakar oleh Ayat suci yang dibacakan Pak Sardi yang mencoba mendekat ke arahku.</p>



<p>“ Benar Mas Danan… jika nama itu terukir di sana, berarti itu penginggalan beliau saat mengalahkan kutukan gending alas mayit dulu “ Ucap Pak Sardi.</p>



<p>Waturingin sudah ditanganku , namun apakah akan bekerja jika aku memukulkanya tanpa menggunakan kayu sebagai peganganya. Tapi sepertinya tidak ada pilihan lain selain mencobanya…</p>



<p>Aku mengangkat tanganku tinggi-tinggi dan bersiap memukulkanya ke gong itu.</p>



<p>Laksmi mendekat kali ini wajah mengerikanya telah menghilang</p>



<p>“ Mas Danan.. Jangan, Aku ga mau berpisah lagi” Sekali lagi pesona Laksmi mencoba mengganggu keteguhan hatiku,</p>



<p>Namun aku tetap menjatuhkan tanganku dan memukulkan sekeras mungkin gong tua yang sudah membatu di tengah sendang.</p>



<p>Suara mendengung terdengar ke seluruh hutan , sebuah distorsi besar terjadi antara alas mayit dan dimensi alam ghaib.</p>



<p>“Dengerin setan laknat! Walaupun kamu bawa puluhan wanita sepertimu ke sini, Semua itu tidak akan bisa membeli kesetiaanku pada Sang Gusti Maha Pencipta! “ Aku memperingatkan setan yang bersemayam dalam tubuh Laksmi.</p>



<p>Sekali lagi tanganku menggenggam waturingin dan memukulkanya sekeras mungkin , kali ini aku melakukanya dengan mantra penguat raga agar suaranya bisa menggema hingga ke desa.</p>



<p>Suara gamelan terhenti , suara mendengung itu menyiksa setan-setan pengikut roh penari itu.</p>



<p>Tak sanggup menahan siksaanya , Setan itu keluar dari tubuh Laksmi . Makhluk-makhluk itu tak mampu menahan kekuatan besar yang muncul dari suara ini hingga mereka memilih untuk mundur ke ruang distorsi dan kembali ke alam ghaib.</p>



<p>Sebelum meninggalkan Alas mayit , demit dari tubuh Laksmi melepaskan kekuatan hitam dan mengirimkanya kepada Iblis Andaka yang sedang bertarung dengan Eyang Widarpa.</p>



<p>&nbsp;“ Andaka! Kuberikan kekuatan patih Gardapati padamu.. habisi mereka dan bangkitkan aku lagi! “ Perintah makhluk itu sebelum meninggalkan Alas mayit.</p>



<p>Suara Gong mendengung sangat lama , warga terlepas dari&nbsp; kutukan dan segera meninggalkan alas mayit dengan bantuan sekar.</p>



<p>Setan-setan alas mayitpun tidak lagi mengikuti perintah Andaka, mereka meninggalkan sendang banyu ireng dan menjauh dari medan pertempuran ini.</p>



<p>“ Sudah, Hentikan perbuatanmu Andaka!” Ucap Cahyo yang mencoba membantu Eyang Widarpa.</p>



<p>Setan itu masih diselimuti kekuatan hitam , Eyang Widarpapun belum berani menyentuhnya.</p>



<p>“ Jangan sombong! Kekuatanku ini cukup untuk menghabisi kalian semua!” Ucap Andaka.</p>



<p>Cahyo tidak sabar,&nbsp; ia memukulkan lenganya yang telah diperkuat dengan roh wanasura dan memukulkanya ke Andaka .</p>



<p>Hanya dengan satu tanganya Andaka menahan serangan Cahyo yang seharusnya dapat menghancurkan batu yang besar dengan sekali serang.</p>



<p>Sebuah tendangan diarahkan kepada Cahyo , ia mencoba menahanya, namun terpental hingga tersungkur di tanah.</p>



<p>“ Gila… kekuatan macam apa itu?” Ucap Cahyo dengan gelisah.</p>



<p>“ Itu adalah kekuatan Andaka dan Gardapati , kedua patih kerajaan yang terkena tipu muslihat setan itu” Ucap Eyang Widarpa.</p>



<p>Merasa bahaya yang lebih besar, aku mendekat dan mencoba membantu Eyang Widarpa.</p>



<p>“ Eyang.. apa kita harus menyatukan kekuatan lagi seperti saat melawan Brakaraswana?” Ucapku pada eyang.</p>



<p>Namun sebuah tendangan dari Eyang Widarpa menyapu tubuh Cahyo dan membuatnya terpental lagi.</p>



<p>“ Itu bayaran karna sudah menyebutku demit tua gila… Kalian tidak usah ikut campur “ Eyang Widarpa memaksa.</p>



<p>Cahyo menggaruk-garuk kepalanya dan mencoba berdiri menghampirinya lagi.</p>



<p>&nbsp;“ nyimpen dendam itu ga baik lho mbah…&nbsp; “Ucapnya</p>



<p>Aku mengerti dengan maksud Eyang Widarpa, dan mencoba menahan Cahyo.</p>



<p>“ Eyang… paling ngga ,gunakan ini”</p>



<p>Sebuah Keris Ragasukma peninggalan leluhurku kulemparkan pada Eyang Widarpa.</p>



<p>Tanpa berbicara sepatah katapun Eyang Widarpa menangkap keris itu dan memulai pertarungan.</p>



<p>Sebuah tusukan dihujamkan ke tubuh Andaka, namun dihindari dengan mudah.</p>



<p>Eyang melompat mundur dan mengerjang kembali dengan lincah.</p>



<p>Terlihat sebisa mungkin Eyang Widarpa menghindari pukulan dari Andaka yang mungkin mampu memeberikan serangan yang fatal.</p>



<p>“Hentikan Widarpa… tak ada satu seranganmu yang akan melukaiku “ Ucap Andaka dengan sombong.</p>



<p>&nbsp;“ Kalau tidak akan melukaimu , tidak mungkin kamu menghindari serangan ini kan?” Eyang Widarpa menerjang sekali lagi dan kali ini tusukanya tepat di jantung Andaka.</p>



<p>Berhasil.. akhirnya keris ragasukma menembus tubuh Andaka. Namun Andaka terlihat tidak bergeming,</p>



<p>saat keris dicabut lukanya kembali menutup.</p>



<p>“ Aku sudah bilang… semua seranganmu tidak ada gunanya!” Setan itu berkata dengan sombong di hadapan kami.</p>



<p>Eyang Widarpa terlihat gentar, semua seranganya benar-benar tidak ada artinya.</p>



<p>Tanpa melewatkan kesempatan Andaka memberikan serangan bertubi-tubi pada Eyang Widarpa . Cakaran hingga pukulan tanpa henti membuat Eyang Widarpa tak berdaya.</p>



<p>Aku bersiap menolongnya , namun Eyang Widarpa tetap menahanku</p>



<p>“ Mundur! “ Eyang Widarpa tetap bersikeras menahan kami.</p>



<p>&nbsp;“ Tapi.. Eyang” aku&nbsp; mencoba melawan.</p>



<p>“ Aku iki demit , wis ora nduwe rogo “ (Aku ini demit.. sudah tidak punya raga)</p>



<p>Ucapnya pada kami.</p>



<p>“ Nanging kowe… ojo nganti mati neng kene“ (tapi kalian , jangasn sampai mati disini)</p>



<p>Benar kata eyang, dengan sedikit serangan dari Andaka saja kami bisa langsung kehilangan nyawa. Tapi aku juga tidak bisa jadi penonton saja.</p>



<p>Aku mengingat mantra penyembuh yang diajarkan pak lek dan membacakanya untuk memulihkan kondisi Eyang Widarpa.</p>



<p>Tampaknya Cahyo juga mengerti, iya melakukan hal yang sama .. semoga saja ini dapat membantu.</p>



<p>Mendadak , muncul api putih dari tubuh Andaka .. terlihat terjadi pemisahan kekuatan dari tubuhnya.</p>



<p>Itu perbuatan Pak Sardi,</p>



<p>ia juga mencoba membantu Eyang Widarpa dengan mengirimpan api geni baraloka ke tubuh Andaka.</p>



<p>Melihat hal itu , Eyang Widarpa menyadari sesuatu..</p>



<p>“Bocah asu… apa benar jasad raja dikuburkan disana?”&nbsp; Eyang Widarpa bertanya sambil menolehkan wajahnya ke arang waturingin.</p>



<p>“ I.. itu yang tertulis di gong itu eyang..” Jawabku .</p>



<p>Sekali lagi hantaman keras diarahkan kepada eyang, namun iya menghindar dan melompat sejauh mungkin. Nampaknya mantra penyembuh dari pak lek bekerja juga pada Eyang Widarpa.</p>



<p>Secepat mungkin eyang melompat menghampiri ke tengah sendang dan berdiri diatas waturingin yang telah terpecah.</p>



<p>Segera keris ragasukma ditusukan ke tengah –tengah batu itu , eyang berlutut layaknya seorang patih yang memohon kepada rajanya.</p>



<p>&nbsp;“Kulo nyuwun idin kanggo nyilih kekuwatan Sang Prabu ” (saya meminta ijin meminjam kekuatan Sang Raja)</p>



<p>Seolah menyambut perbuatan Eyang Widarpa&nbsp; , tanah mulai bergetar.. air disendang banyu ireng surut masuk ke dalam tanah..</p>



<p>terlihat akar pohon beringin yang lebih besar di bawah kaki Eyang Widarpa.</p>



<p>Sebuah kekuatan merasuki keris ragasukma yang ditancapkan oleh Eyang Widarpa.</p>



<p>Merasa akan adanya bahaya, Andaka mengejar Eyang Widarpa dan menyerangnya.</p>



<p>Namun Cahyo cukup cepat untuk memukulnya sekuat tenaga. Walapun tidak bisa melukai Andaka ,setidaknya Cahyo bisa memberi waktu.</p>



<p>“ Gunakan Api Baraloka sekali lagi sebesar yang kalian bisa! ” Perintah Eyang Widarpa.</p>



<p>Aku dan Pak Sardi membacakan mantra pembakar menggunakan api Geni Baraloka yang sudah membesar. Sekali lagi tubuh aswangga terlihat menolak kekuatan kedua demit patih dari tubuhnya.</p>



<p>Eyang Widarpa menarik keris ragasukma yang telah diselimuti kekuatan dan menghujamkan ke jantung setan itu.</p>



<p>Keris itu benar-benar menusuk dalam ke jantungnya,</p>



<p>kekuatan dari dalam keris melemahkan kekuatan kedua setan patih kerajaan itu dan kekuatan geni baraloka berhasil melepaskan tubuh aswangga dari roh Andaka .</p>



<p>Tak melewatkan kesempatan ,</p>



<p>Eyang widarpa menarik roh iblis itu&nbsp; mencabik-cabiknya dan menghabisinya dengan keris ragasuka yang tergenggam ditanganya.</p>



<p>Suarang mengerang terdengar di seluruh alas mayit, seolah menAndakan kekalahan setan itu dari pertempuran ini.</p>



<p>…</p>



<p>…</p>



<p>Keheningan yang cukup lama terasa di tengah hutan yang gelap ini. hampir tidak ada sisa kekuatan di tubuh kami setelah serangan terakhir tadi. Eyang Widarpa masih terduduk diatas waturungin tepat diamana jasad sang raja dikubut.</p>



<p>Kami mencoba berdiri dan menghampiri eyang.</p>



<p>Dan Ia mencoba berdiri sambil menatapku.</p>



<p>“Danan.. saiki wis rampung “ (Danan.. Sekarang sudah selesai)&nbsp; Ucap Eyang Widarpa&nbsp; padaku.</p>



<p>Tunggu… kali ini eyang memanggilku dengan nama , bukan lagi bocah asu!</p>



<p>“ Iya mbah.. kita bisa kembali sekarang ” aku membalas ucapan Eyang Widarpa.</p>



<p>“ Tidak… urusanku sudah selesai di alam ini “ Lanjut Eyang Widarpa.</p>



<p>“ Maksud eyang …. Apa?” Aku tidak mengerti dengan apa yang Dikatakan Eyang Widarpa.</p>



<p>&nbsp;“ Jasad sang raja sudah ditemukan , kekuatan kedua patih sudah sirna.. sudah tidak ada lagi yang bisa membangkitkan kutukan Gending alas mayit, Nyai suratmi juga sudah tenang di alam sana… aku sudah tidak ada urusan lagi di alam ini” Jelas Eyang Widarpa pada kami.</p>



<p>&nbsp;“ Berarti saat ini eyang sudah tenang?” Cahyo mencoba memperjelas maksud Eyang Widarpa.</p>



<p>Eyang hanya mengangguk , sebenarnya aku cukup sedih walaupun eyang kadang kasar dan tak terkendali, tapi ia sudah menyelamatkanku berkali-kali.</p>



<p>&nbsp;“ Danan mengerti eyang.. rasa terima kasih Danan ga akan cukup, tapi saat tau eyang sudah bisa pergi.. Danan ikut senang” Ucapku pada Eyang Widarpa</p>



<p>Sebuah kekuatan besar akan sirna dariku , entah nanti apa aku sanggup saat menghadapi musuh seperti Andaka maupun brakaraswana.</p>



<p>&nbsp;“ Simpan lagi keris ragasukma kedalam sukmamu… lafalkan mantra leluhur itu itu saat kamu dalam bahaya” Eyang widapa memberikan keris ragasukma kembali padaku.</p>



<p>“Apa Eyang Widarpa akan datang saat aku membaca mantra itu?” Tanyaku</p>



<p>Ia hanya menggeleng.</p>



<p>&nbsp;“ Keris Ragasukma itu adalah hadiah sang raja saat aku menyelamatkanya keluar dari kerajaan , dan mantra itu kubuat untuk melindungi keturunanku “ jelas Eyang Widarpa.</p>



<p>“ Saat kamu membaca mantra itu dengan keris raga sukma digenggamanmun, leluhurmu yang lain akan datang membantu”</p>



<p>Sepertinya aku mengerti dengan yang dimaksud Eyang Widarpa , namun aku khawatir … makhluk apa yang akan datang saat aku menggunakan mantra itu lagi.</p>



<p>Eyang Widarpa menoleh ke arah Pak Sardi.</p>



<p>&nbsp;“ Jaga desa windualit , jadilah kepala desa dan gunakan api geni baraloka untuk membersihkan seluruh hutan ini” Pesan Eyang kepada Pak Sardi.</p>



<p>“ sampaikan salamku pada Pakdemu…. “</p>



<p>Eyang berpaling dan berjalan meninggalkan kami, rohnya menghilang bersama rintikan hujan yang mulai reda</p>



<p>..</p>



<p>..</p>



<p>Pagi mulai datang , kami kembali ke desa, terlihat sekar masih sibuk mengurus warga desa yang terluka tapi sepertinya cukup banyak warga desa yang sudah sehat dan ikut membantu.</p>



<p>Kami memutuskan tinggal beberapa hari sambil sedikit membantu memulihkan kondisi desa setelah hilangnya kutukan gending alas mayit.</p>



<p>Di sisa waktu kami disana,&nbsp; kami saling bertukar ilmu dengan Pak Sardi dan menikmati keindahan alam di desa windualit yang sebelumnya tertutup oleh kutukan.</p>



<p>“ Mas Danan , Mas Cahyo.. yakin udah mau pulang? Tinggal disini lebih lama juga ga masalah kok”</p>



<p>Ucap Pak Sardi saat kami bersiap untuk kembali.</p>



<p>“ tuh Cahyo.. mau tinggal disini ga? Tar kangen lagi sama sekar” Ujarku sambil meledek Cahyo.</p>



<p>“Enak aja… kalo kangen kan tinggal main ke sini lagi, iya kan sekar?” Ucap Cahyo sambil melirik ke arah sekar.</p>



<p>&nbsp;“ Iya.. mas Cahyo bisa kesini kapan aja kok , langsung ngajak orangtua juga ga papa” Sekar menjawab ucapan Cahyo dengan tersipu malu.</p>



<p>Aku tertawa kecil , tapi rupanya tidak dengan Cahyo.. iya termenung saat sekar berkata mengenai orang tua Cahyo.</p>



<p>&nbsp;“ Heh… lampu ijo tuh! “ aku menepuk bahu Cahyo menyadarkanya dari lamunanya.</p>



<p>&nbsp;&nbsp;“ Eh.. iya,&nbsp; ya udah… kami ijin pamit ya , sekar jaga baik-baik kedua orangtuamu ya” Ucap Cahyo pada sekar dan segera kami meninggalkan desa windualit, desa terpencil di kaki gunung merapi yang menyimpan banyak misteri.</p>



<p class="has-text-align-center"><strong>*** Selesai ***</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>EPILOG</strong></p>



<p>“ Radio tengah malam , masih bersama saya Ardian penyiar favorit kalian..</p>



<p>&nbsp;Ada kabar baik nih dari temen kita yang bernama Cahyo, kabarnya dia sudah berhasil menyelesaikan permasalahan kutukan Gending Alas Mayit..</p>



<p>Selamat ya buat kalian dan desa windualit , Kalian memang orang-orang hebat!&nbsp;</p>



<p>Oke..&nbsp; karna sudah tiga&nbsp; cerita kita bacain , saatnya kita pamit,&nbsp; selamat beristirahat, radio tengah malam undur diri…”</p>



<p>“Oke bungkus!” Teriak Dika dari luar ruangan.</p>



<p>Secangkir kopi sudah disiapkan oleh Dika di ruang tunggu .</p>



<p>“Lu emang partner terbaik Dik , hujan-hujan gini emang paling enak ngopi” Ucapku pada Dika yang hanya dibalas dengan jempol di tanganya.</p>



<p>Aku menyeruput kopi buatan Dika dan merebahkan tubuhku di sofa.</p>



<p>Namun aku merasa ada yang aneh. Sayup sayup terdengar suara gamelan mengalun di ruangan ini.</p>



<p>“ Dik.. Dika! Kamu denger itu ga?” ucapku pada Dika</p>



<p>“Denger apaan? Gw masih ngebuat playlist nih…. “ Jawab Dika dengan santai.</p>



<p>“ I… Itu… ada suara gamelan “ Aku menghampiri Dika dan membuka headsetnya.</p>



<p>Ia berdiri menghampiri jendela dan menajamkan telinganya.</p>



<p>“ Oooh… itu di komplek sebelah lagi ada hajatan , katanya nanggep wayang kulit.. kita juga diundang kok , tuh undanganya”</p>



<p>Ucap Dika sambil menunjukan undangan yang tergeletak di meja.</p>



<p>“ owalah , gua kira itu kutukan masih nyangkut di kita… “ lanjutku yang segera melanjutkan menyeruput kopi sekali lagi.</p>



<p>Setelahnya kami hanya sibuk dengan kesibukan masing masih sebelum bersiap untuk pulang.</p>



<p>Namun tak seperti biasanya suara pintu diketuk dengan lambat…</p>



<p>“Dik&nbsp; ada yang ketok pintu? “Tanyaku pada Dika.</p>



<p>“Iya kayaknya… lu bukain dulu dah, gua dikit lagi selesai “ perintah Dika padaku.</p>



<p>&nbsp;“ wokey.. lu kelarin aja dulu” aku segera berdiri dari sofa dan mencoba mendekati pintu. Namun lampu tiba-tiba berkedip dengan tidak wajar dan angin dingin berhembus di leherku.</p>



<p>“… Jangan dibuka… “ Suara berbisik terdengar dari belakang punggungku.</p>



<p>Aku tidak menghiraukan,namun kedipan lampu menjadi semakin cepat dan mengerikan. Saat langkah kakiku mendekat menuju pintu , muncull sesosok makhluk pria seumuranku dengan wajah yang hancur..</p>



<p>Itu hantu nandar , seharusnya ia tidak akan muncul bila aku tidak menyalakan korek dari paklek…</p>



<p>Aku heran dengan apa yang terjadi , Hantu nandar hanya menatapku dan kali ini berbicara dengan berteriak di hadapan wajahku</p>



<p>“ JANGAN DIBUKA!!!”</p>



<p>….</p>



<p>….</p>



<p><strong>( Tamat)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part7 &#8211; Pagelaran Tengah Wengi</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2026 06:40:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[cerita horor gending alas mayit]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Penari]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4101</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Horor Twitter &#8211; Ini adalah part 7 dari serial cerita horor Gending Alas Mayit. Bagi yang belum membaaca part ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part7 &#8211; Pagelaran Tengah Wengi" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7/#more-4101" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part7 &#8211; Pagelaran Tengah Wengi">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p id="block-da0f0c5c-dbd1-4ee0-bfd9-bbd8c1a52d7d"><strong><br>Cerita Horor Twitter &#8211;</strong> Ini adalah part 7 dari serial cerita horor <strong>Gending Alas Mayit.</strong> Bagi yang belum membaaca part 6, baca dulu ya part 6-nya &gt;&gt;&gt;</p>



<p><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part6/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Gending Alas Mayit Part 6</strong></a></p>



<p id="block-756edc4a-bd2a-4d0c-a0bf-aa572438cbb0"><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part5/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 5</a></strong></p>



<p id="block-85182985-888a-4be1-a0bb-e4501b9827da"><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/">Gending Alas Mayit Part 4</a></strong></p>



<p id="block-3c60a17d-c04c-4435-a5de-74afdc5692d3"><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part3-ikatan-masa-lalu/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 3</a></strong></p>



<p id="block-576c3b89-7a80-4df1-8d5a-028a88b77367"><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part </strong>2</a></p>



<p id="block-8ee5a13d-ec70-4932-be7a-35ec14347db1"><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 1</a></strong></p>



<p id="block-9c645093-d3ea-41a0-bdde-04eefdb7e1de"><strong>Cerita Horor Twitter</strong></p>



<p id="block-5bfbc6d0-20b9-456b-adaa-67195ad2599c"><strong>Judul</strong> : Gending Alas Mayit &#8211; Oagelaran Tengah Wengi</p>



<p><strong>Penulis </strong>: @Diosetta</p>



<p>Suara alunan gamelan yang mendayu-dayu terdengar dengan sangat indah , tetesan air yang jatuh ke sendang membuat suara itu menjadi terlalu nyaman untuk didengar. Namun sayangnya suara ini berasal dari demit-demit di alas mayit.</p>



<p>Indahnya suara gamelan itu memancing seluruh penghuni alas mayit untuk berkumpul di tempat ini, mulai dari pocong, makhluk raksasa bertubuh besar, hingga mayat-mayat dengan tubuh yang tak berbentuk menyaksikan kami dari seluruh penjuru hutan, seolah menyaksikan suatu pertunjukan.</p>



<p>Aku dan Cahyo sudah bersiap untuk menyerang kedua manusia penyebab semua kutukan ini , Pak Kades dan Aswangga.</p>



<p>Namun.. serangan kami terhenti oleh sebuah kekuatan yang berwarna hitam pekat , dan itu muncul dari Aswangga yang menghadang kami.</p>



<p>&nbsp;“ Hei Aswangga, Untuk apa kamu menjual dirimu pada setan-setan laknat itu”&nbsp; Tanyaku yang masih berharap Aswangga masih bisa diselamatkan.</p>



<p>“ Untuk apa?&nbsp; Kekayaan , kekuatan, dan hidup abadi.. tentu saja untuk itu semua” Ucapnya sambil tertawa meledeku.</p>



<p>“Saat ini tidak ada satupun dari kalian yang bisa mengalahkanku…” Lanjutnya.</p>



<p>Aku heran, mengapa Aswangga menjadi percaya diri seperti itu.</p>



<p>“Danan.. lihat! bukanya itu anak buah Aswangga” Ucap Cahyo sambil menunjuk pada setumpukan mayat yang dipersembahkan di sebuah candi.</p>



<p>&nbsp;“Edan kowe… anak buahmu sendiri kamu jadiin tumbal?” Cahyo merasa emosi dengan perbuatan Aswangga.</p>



<p>“Itu salah kalian! Kalau kalian tidak mengacau.. aku tidak perlu menumbalkan mereka untuk mendapatkan kekuatan ini” Aswangga memamerkan dirinya yang diselimuti kekuatan hitam.</p>



<p>&nbsp;“Hadapi aku.. akan kuhabisi kalian satu persatu.. “</p>



<p>Suara gamelan mengiringi mulainya serangan Aswangga kepada kami .</p>



<p>Sebuah pukulan mengarah&nbsp; kepada Cahyo dan membuatnya terpental .</p>



<p>Aku mencabut keris milikku dan menusukan pada Aswangga, namun tak sedikitpun ujung keris itu masuk kedalam tubuhnya yang malah dibalas sebuah tendangan yang melemparkanku tak jauh dari tempat Cahyo tersungkur.</p>



<p>“Kamu mengorbankan nyawa anak buahmu Cuma untuk kekuatan seperti ini?”&nbsp; tantang Cahyo sambil membersikan darah yang menetes dari mulutnya.</p>



<p>&nbsp;“Udah Cahyo.. kamu istirahat dulu aja, Aswangga biar aku yang hadapi” Ucapku pada Cahyo.</p>



<p>&nbsp;“Nggak Danan, aku butuh pemanasan…” Cahyo merapalkan sebuah mantra , merubah kedua tanganya menjadi lengan kera raksasa dan segera menerjang Aswangga.</p>



<p>“Sombong sekali kalian! “ Pukulan Aswangga yang diselimuti kekuatan hitam beradu dengan lengan kera milik Cahyo,</p>



<p>namun kali ini Aswangga yang terpental.</p>



<p>Sekali lagi Aswangga mencoba menyerang Cahyo namun dibuatnya terpental lagi.</p>



<p>Untuk adu ilmu fisik Cahyo memang sangat bisa diandalkan. Hampir semua serangan Aswangga dibuat terpental Cahyo.</p>



<p>&nbsp;“Brengsek , Tidak mungkin kekuatanku kalah.. “ ucapnya yang disusul dengan pukulan berikutnya dari Cahyo.</p>



<p>“ Menyerah saja! Kekuatanmu itu tak mungkin bisa untuk mengalahkan kami” Ucap Cahyo memperingkatkan Aswangga.</p>



<p>“ Ga usah sombong kalian… Sudah berapa tumbal yang kalian berikan untuk kekuatan itu? Aku akan memberi lebih” Ucap Aswangga sambil menoleh kepada Pak Kades yang melihatnya dari belakang.</p>



<p>Wajah Cahyo terlihat emosi, sekali lagi pukulan diarahkan pada Aswangga dan membuatnya tersungkur di tanah.</p>



<p>“ Tumbal? Seenaknya kamu bicara! mbok pikir aku mau menggunakan cara biadab itu” Ucap Cahyo sambil menghampiri Aswangga dan mulai memukulinya lagi.</p>



<p>&nbsp;“Kamu tidak tahu berapa ribu hari puasa yang dilakukan oleh Danan…</p>



<p>Kamu tidak tahu berapa ayat suci yang dihafalkan dan dilantunkan&nbsp; Pak Sardi…</p>



<p>Kamu tidak tahu berapa banyak yang sudah ditolong oleh mereka hingga Yang&nbsp; mahakuasa menitipkan kekuatan ini pada kami untuk menolong orang yang lebih banyak lagi”</p>



<p>Cahyo berusaha menyadarkan Aswangga. Namun sebelum mendaratkan pukulannya lagi,</p>



<p>Pak Kades melompat dan bersiap menyerang Cahyo yang membuatnya memilih mundur.</p>



<p>“ Cukup Aswangga.. kamu belum bisa mengalahkan mereka”Ucap Pak Kades.</p>



<p>“Terus kita harus bagaimana?” Tanyanya dengan suara yang lemah karena efek dari serangan Cahyo yang bertubi-tubi.</p>



<p>&nbsp;“ Kita selesaikan perjanjian kita, kamu sudah mendapat kekayaan dan kekuatan, sekarang akan kuberikan kau kehidupan abadi” Ucap Pak Kades yang menghampiri Aswangga.</p>



<p>Sebuah pasak kayu dikeluarkan oleh Pak Kades, ujungnya diukir dengan tajam dan diarahkan kepada Aswangga.</p>



<p>“ Pak Kades.. untuk apa pasak itu?” Tanya Aswangga yang mulai merasa takut.</p>



<p>“ Tubuh kakek-kakek ini sudah sangat lemah , aku butuh tubuh yang lebih muda untuk bisa mendampingi dia dan menghabisi cecunguk itu..” Ucap Pak Kades.</p>



<p>“ Maksud Pak Kades apa? Bukanya Pak Kades berjanji akan memberikan hidup abadi?!” Tanyanya dengan putus asa.</p>



<p>“ Tubuhmu akan hidup abadi bersama rohku di dalamnya” Ucap Pak Kades yang segera menusukkan pasak ke jantung Aswangga yang tak bisa melawan.</p>



<p>Aswangga meronta kesakitan , ia merayap di tanah dan menggapaikan tanganya kepada kami.</p>



<p>“To… long “ suara rintih keluar dari mulutnya yang disusul dengan darah hitam yang bermuncratan.</p>



<p>Suara gong terdengar dipukul berkali kali seolah menandakan mulainya peperangan.</p>



<p>Setan wanita berbaju kebaya melayang menghampiri Pak Kades dan menarik roh keluar dari tubuh kakek tua itu.</p>



<p>Sesosok makhluk berwujud manusia dengan pakaian kerajaan keluar dari tubuh Pak Kades dan segera merasuki tubuh Aswangga yang masih tertancap pasak di jantungnya.</p>



<p>Suara gamelan berbunya semakin cepat, di tengah-tengah sendang terlihat roh Laksmi yang mulai menari .</p>



<p>“ Mas Danan… suara ini… “ Ucap Pak Sardi.</p>



<p>“Benar pak, ini gending alas mayit… “ ucapku sambil mengeluarkan tabuh waturingin.</p>



<p>Sebenarnya , aku penasaran dengan gong besar di tengah sendang. Suara gong yang terdengar oleh kami bukan berasal dari gong itu. Sampai akhirnya aku tersadar bahwa gong itu berdiri diatas sebuah batu yang menyerupai akar pohon.</p>



<p>&nbsp;“ Cahyo… apa batu yang dibawah gong itu yang dimaksud mbah rusman?” aku berbisik pada Cahyo.</p>



<p>Cahyo memperhatikan apa yang aku maksud.</p>



<p>“oo.. Pantes aja ga keliatan, air hitam itu menutupi keberadaan waturingin itu” ucap Cahyo.</p>



<p>Mengerti dengan yang kumaksud , kami berdua segera berlari menerjang kearah sendang banyu ireng. Namun sebuah serangan menghentikan kami berdua.</p>



<p>Itu Aswangga lagi…</p>



<p>Kali ini berbeda , pasak di jantungnya sudah menghilang namun wajahnya berubah menjadi mengerikan dengan kulit wajah yang terlihat melepuh . Demit wanita itu memakaikan pusaka yang dikalungkan di dadanya dan memberikan sebuah tombak untuk Aswangga.</p>



<p>“ Tidak mungkin…. Aswangga… “ Pak Sardi tidak percaya dengan apa yang ia lihat.</p>



<p>Aswangga tertawa dengan suara yang menyeramkan “Aswangga..? Bukan… Aku Patih Andaka yang akan menghabisi kalian semua”</p>



<p>Menyambut kebangkitanya , makhluk hitam besar berwujud perempuan dengan&nbsp; cakar yang mengerikan menghampiri dan bersujud di depanya , disusul dengan setan-setan yang dari tadi hanya melihat pertarungan kami.</p>



<p>·</p>



<p>Pemandangan yang begitu mengerikan , kali ini Makhluk yang menghuni tubuh Aswangga memimpin ratusan demit bersama dengan setan penari itu di sampingnya.</p>



<p>“Gila Danan… kita harus melawan demit sebanyak ini” Ucap Cahyo.</p>



<p>Suara petir menggelegar dan memulai turunya hujan deras di hutan ini.</p>



<p>Pak Sardi membaca mantra pembakar dan melawan demit itu satu persatu , namun jumlahnya terlalu banyak. Cahyo segera menyusul Pak Sardi melawan demit-demit itu.</p>



<p>Pikirku , Satu-satunya cara adalah mengalahkan Iblis Andaka itu.</p>



<p>Segera aku membacakan ajian lebur saketi, sebuah pukulan jarak jauh untuk diarahkan pada Iblis Andaka itu , namun serangan itu tidak melukainya sama sekali ,</p>



<p>sebaliknya iblis itu menoleh ke arahku dan menyerangku degan tanganya yang sudah menggenggam tombak tua di tanganya.</p>



<p>Aku mencoba menghindar namun gerakanya terlalu cepat, sebuah tusukan menembus tanganku yang mencoba menahan serangan itu.</p>



<p>Kengerian tidak cukup sampai di sini , dari arah pintu masuk hutan terlihat seseorang yang menari tanpa sadar , tidak hanya satu… beberapa orang lagi menyusul di belakangnya.</p>



<p>Itu adalah warga desa!</p>



<p>&nbsp;“ Bapak … Maafin sekar, Sekar ga bisa jagain warga desa” ucap sekar yang berlari dan berusaha menahan warga desa.</p>



<p>“ Sekar!! Jangan ke sini! “ Ucap Pak Sardi yang berusaha menghentikan sekar.</p>



<p>Pak Sardi kehilangan konsentrasinya, sebuah serangan dari demit anak buah andaka membuatnya jatuh dan tersungkur.</p>



<p>Suasana di alas mayit semakin mencekam, kekuatan eyang widarpa dibutuhkan di sini. aku menarik keris ragasukmaku dan merapalkan mantra yang diturunkan oleh leluhurku</p>



<p>Jagad lelembut boten nduwe wujud</p>



<p>Kulo nimbali</p>



<p>Surga loka surga khayangan</p>



<p>Ketuh mulih sampun nampani</p>



<p>Tekan Asa Tekan Sedanten…</p>



<p>Di tengah hujan deras , sesosok kakek tua bungkuk berambut panjang berwarna putih muncul dari derasnya hujan.</p>



<p>“ E.. Eyang! Kulo…”</p>



<p>Belum sempat menyelesaikan kata-kataku , eyang segera&nbsp; menyerang Iblis Andaka dan membuatnya terpental.</p>



<p>“Bocah Asu… Demit iki ben dadi urusanku , kamu urusin warga desa”&nbsp; Eyang widarpa membelakangiku dan bersiap menghadapi Iblis di tubuh Aswangga.</p>



<p>..</p>



<p>&nbsp;“ Tunggu… aku kenal kamu kakek tua”&nbsp; Andaka kembali berdiri dan menghadapi kami.</p>



<p>“ Kamu … Kamu itu Patih Widarpa kan?!!! Kamu yang membawa pergi warga dan Raja dari kerajaan !” Teriak Andaka dengan menunjuk kepada Eyang widarpa.</p>



<p>Tunggu , Patih… Jadi Eyang Widarpa patih yang menyelamatkan raja dan warga dari pemberontakan . Seketika aku teringat sebuah benda yang dititipkan oleh Paklek , dan ternyata bentuk kalung&nbsp; itu tidak jauh berbeda dengan yang dipakaikan setan penari itu kepada Andaka.</p>



<p>&nbsp;“ Eyang… apa itu benar? “ tanyaku pada eyang yang tidak merespon ucapan andaka.</p>



<p>“ Bukan urusanmu bocah asu… pergi , masalah yang lebih besar ada di belakangmu” Perintah Eyang widarpa padaku.</p>



<p>“ Baik mbah , sebelumnya terima ini dulu… ini titipan nyai Suratmi “</p>



<p>Aku menyerahkan sebuah pusaka kalung kuningan ke pada eyang, ia terlihat mengenalinya dan segera mengenakanya.</p>



<p>Hal yang aneh terjadi , Tubuh eyang widarpa kembali&nbsp; tegak,&nbsp; tubuhnya terlihat menjadi lebih muda layaknya seorang patih kerajaan yang dapat diandalkan.</p>



<p>&nbsp;“ Jadi… itu benar,&nbsp; Eyang widarpa seorang patih” Tanyaku sambil sedikit tersenyum.</p>



<p>Eyang widarpa melihat dirinya yang berubah , namun iya kembali melepas kalung itu dan melemparkanya padaku.</p>



<p>&nbsp;“ Aku ora butuh , Tanpa Nyai Suratmi aku lebih suka dengan wujud ini!”&nbsp; Ucapnya yang segera mengayunkan cakarnya ke wajah busuk Iblis reinkarnasi&nbsp; Andaka itu.</p>



<p>Eyang Widarpa terlihat bisa mengimbangi patih andaka. Aku sedikit tenang dan meninggalkanya.</p>



<p>&nbsp;“ Cahyo! Serahkan tabuh waturingin pada sekar dan Tahan demit-demit&nbsp; itu! Biarkan Pak Sardi menggunakan Geni Baraloka kepada mereka! “ Perintahku pada Cahyo.</p>



<p>Cahyo memukul dengan keras ke arah tanah dan mengambil jarak dari makhluk-makhluk itu.&nbsp; Tanpa banyak berbicara ,</p>



<p>mereka melakukan semua yang aku perintahkan.</p>



<p>“Hati-hati Danan… Lawanmu perempuan , jangan lengah!” Ucap Cahyo yang mengetahui maksudku untuk menghampiri Iblis wanita yang menyebabkan semua ini terjadi.</p>



<p>Seolah mengerti kehadiranku , ia menyambutku dengan sebuah tarian yang gemulai.. tarian itu menjadi mengerikan ketika setan itu tersenyum mengerikan tanpa bola mata di wajahnya dan dilakukan diatas tumpukan mayat tumbal dari Aswangga .</p>



<p>Aku mengejarnya , namun setan itu melayang ke arah tubuh Laksmi yang tergantung , merasukinya, dan menjatuhkan dirinya ke sendang banyu ireng.</p>



<p>Roh Laksmi masih menari di sana, seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.</p>



<p>Dari dalam sendang banyu ireng , terlihat tubuh Laksmi bangkit dari dalam air , luka-luka pada tubuhnya sudah menghilang seolah tidak pernah terjadi apa-apa.</p>



<p>Satu persatu baju Laksmi yang penuh darah dilepaskan hingga tidak sehelai benangpun tertinggal di tubuh Laksmi yang indah itu.</p>



<p>“ Danan… ini aku Laksmi “</p>



<p>Dengan tubuh yang basah dan tanpa pakaian, Laksmi menghampiriku dan melemparkan senyumnya yang manis..</p>



<p>seperti saat pertama kali aku datang ke desa windualit.</p>



<p>“ Nggak.. ga mungkin , aku melihat semuanya… kamu setan yang mencuri tubuh Laksmi” Aku membacakan mantra pada tanganku dan bersiap menyerang Laksmi.</p>



<p>Namun keindahan tubuh Laksmi yang berada dihadapanku dan kenanganku bersamaya menahan itu semua.</p>



<p>“ Cukup Danan… jangan sakiti aku lebih dari ini” Ucap Laksmi dengan wajah yang memelas.</p>



<p>Ucapan Laksmi benar-benar menyentuh , aku tak tahu harus berbuat apa..</p>



<p>rasa bimbang yang amat sangat muncul. Aku tidak bisa membedakan lagi mana yang benar.</p>



<p>Di tengah sendang dan diterangi cahaya bulan , Laksmi berdiri anggun di hadapanku dengan memamerkan keindahan tubuhnya.</p>



<p>Laksmi mendekat..</p>



<p>&nbsp;“ Aku sudah tidak apa-apa Danan.. aku cuma butuh kamu “ Ucap Laksmi menempelkan badanya padaku dan memeluku.</p>



<p>Rasa bimbang&nbsp; dan kehangatan yang muncul di diriku membuatku tak mampu lagi menahan akal sehatku.</p>



<p>Tanganku membalas pelukan Laksmi , kulitnya yang halus dan pelukanya yang hangat membuatku merasa tenang. “ Laksmi… Aku ga akan ninggalin kamu lagi” </p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;..</p>



<p><strong>Bersambung Part Akhir</strong> &#8211;  <a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7-2/">Gending Alas Mayit Tataran Pungkasan</a> (Pertunjukan Akhir)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Rusin &#8211; Catatan Si Juni Part2</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part2/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part2/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2026 06:39:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Rusin]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Rusin - Catatan Si Juni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4080</guid>

					<description><![CDATA[Ini adalah part 2 dari cerita horor Rusin &#8211; Cerita Si Juni. Yang baru datang ke sini baca dulu part1. ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Rusin &#8211; Catatan Si Juni Part2" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part2/#more-4080" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Rusin &#8211; Catatan Si Juni Part2">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ini adalah part 2 dari cerita horor Rusin &#8211; Cerita Si Juni. Yang baru datang ke sini baca dulu part1.</p>



<p><strong>Cerita Horor Twitter</strong> : <strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-suami-juni-part1/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Rusin &#8211; Catatan Si Juni Part1</a></strong></p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id">Cerita Horor Twitter</a></strong></p>



<p><strong>Judul </strong>: Rusin &#8211; Catatan Si Juni</p>



<p><strong>Penulis </strong>: @ItsQiana</p>



<p><strong>CATATAN SI JUNI</strong> <strong>PART 2</strong></p>



<p>Esok hari, karena Bapak menolak autopsi maka jasad ibu dikebumikan malam itu juga. Malam dimana aku tidak sadarkan diri dan membuat heboh seisi kampung.</p>



<p>Mereka mulai bergunjing, menatapku iba namun penuh ketakutan. Bapak tak mau berlama lama berada disini, ia takut kondisiku akan bertambah buruk.</p>



<p>Kami segera kembali ke rumah Bapak dan perlahan aku mulai bisa berdamai dengan semua itu.</p>



<p>Memang kita tak dapat melupakan kenangan kenangan mengerikan yang telah terjadi, dan butuh waktu yang sangat lama untukku bisa menerima semuanya.</p>



<p>Akupun mulai terbiasa dengan sikap ibu tiriku, hanya Bapak yang kupunya, mau tak mau aku harus berlapang hati dengan segala siksaan yang akan ku terima kedepannya.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;..</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;..</p>



<p>Kini aku telah berusia 20 tahun, usia yang cukup untukku mulai hidup sendiri.</p>



<p>*Plakkk*</p>



<p>Tamparan keras mendarat dipipiku &#8220;Rasah kemayu nduk, raimu ki ra sepiro&#8221; (Gausah sok kecantikan, mukamu tu ga seberapa) ujar seorang seniorku dikampus.</p>



<p>Aku hanya diam, mencoba menenangkan amarahku, bukannya aku tak bisa melawan, aku bahkan sanggup membalasnya namun aku sedang malas meladeni orang orang seperti mereka.</p>



<p>Tangannya menjambak rambut panjangku, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dariku.</p>



<p>&#8220;Diapakne cah iki cuk penake?&#8221; (Diapain anak ini enaknya?) ujarnya kepada beberapa temannya yang berdiri mengelilingi kami, melihatku disiksa oleh seorang temannya.</p>



<p>Terlihat satu orang datang membawa air seember penuh dan langsung menyiramkannya ke tubuhku degan tiba tiba. Aku masih saja diam, bagiku ini semua belum ada apa apanya dengan sebelas tahun yang telah kulalui bersama ibu tiriku.</p>



<p>&#8220;Jek kurang?&#8221;</p>



<p>(Masih kurang?) ucap satunya Mungkin mereka sekitar tujuh orang, sedangkan aku sendirian.</p>



<p>*Krusekkk*</p>



<p>Suara seperti kantung plastik diremas membuat kami semua terkejut Tandanya ada seseorang yang pasti sedang bersembunyi disekitar sini, mereka mulai waswas.</p>



<p>Mereka semua pasti takut bila ada yang melihat atau bahkan melaporkan kelakuan busuk mereka ini.</p>



<p>&#8220;Goleki! Cepet!&#8221;</p>



<p>(Cari! Cepat!) perintah Okta Iya Okta adalah orang yang paling membenciku, akupun tak pernah tahu penyebabnya, tapi nampaknya ia tak suka melihatku disukai banyak orang.</p>



<p>Mereka semua berpencar mencari orang yang diam diam mengintip kegiatan mereka sedari tadi itu. Hingga akhirnya…</p>



<p>&#8220;Ketemu&#8221; teriak salah satu dari mereka sambil menyeret tangan seseorang yang kelihatannya seangkatan denganku.</p>



<p>&#8220;Babat ae rambute kesuwen&#8221; (Botakin aja rambutnya) usul seorang teman Okta.</p>



<p>&#8220;Koe roh iki opo nduk? Pengen ngrasakno gak?&#8221; (Kamu tau ini apa? Pengen ngerasain gak?) ucap Okta sambil menyodorkan gunting ke pipi anak itu.</p>



<p>Dia hanya menangis ketakutan, ia mencoba berontak namun apa daya seluruh badannya dipegangi oleh teman teman Okta.</p>



<p>&#8220;Lapo koe melu melu urusanku? Tak kei kenang kenangan yo. Nek koe nganti wanten lapor dosen yo bakal ngrasakno hadiah sing lueh kepenak ko aku&#8221; </p>



<p>(Ngapain kamu ikut ikutan urusanku? Tak kasih kenang kenangan ya. Kalo kamu sampe berani beraninya lapor ke dosen ya bakalan ngerasain hadiah yang lebih enak lagi dariku) ancam Okta tanpa perasaan manusiawi sama sekali, ia tersenyum sinis sambil menarik jilbab anak itu sampai terlepas.</p>



<p>Kelihatannya mereka lupa bahwa aku masih disini dan lebih fokus ke anak itu.&nbsp; Hampir saja ia mengguntingnya, aku yang sudah merasa muak dan tidak tega segera meraih apapun yang ada didekatku.</p>



<p>&#8220;Bruakkk&#8221; Ember tepat mengenai kepala Okta. Ya, aku melemparkannya dengan sangat kencang hingga dia jatuh ke tanah.</p>



<p>Hidungnya berdarah, teman temannya pun panik. Kondisi itu kumanfaatkan untuk menyelamatkan Septi. Kutarik tangannya dari genggaman anak anak yang terfokus pada Okta, kamipun segera berlari menjauh dari para wanita gila itu.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Di kamar mandi aku menunggu Septi yang masih saja menangis, dia ketakutan dan tak berani keluar karena jilbab yang dikenakannya tadi dilepas paksa oleh Okta.</p>



<p>Ya, namanya Septi. Dia seumuran denganku, bukan seorang yang mencolok apalagi menarik perhatian. Makanya tidak banyak yang mengenalnya disini.</p>



<p>&#8220;Wes menengo, mari iki ayo ndang bali. Anggoen jaketku&#8221; (Udah diem, abis ini ayo balik. Pake jaketku) ujarku padanya, Kami pun pulang naik ojek menuju ke rumah Bapak.&nbsp;</p>



<p>&#8220;Loh Jun.. &#8221; ucapnya ternganga. &#8220;Ssst meneng wae, age&#8221; (Ssst diem aja, ayo) jawabku singkat.</p>



<p>Kami segera masuk ke kamarku, untunglah hari ini Mamah sedang tidak ada dirumah jadi aku tak perlu malu pada kawanku. Tak perlu khawatir akan ada seseorang yang meneriakiku anak perempuan jalang.</p>



<p>&#8220;Awakmu anake wong sugeh yo? Kok gaonok sing ngerti?&#8221; (Kamu anak orang kaya ya? Kok gaada yang tau?) tanyanya.</p>



<p>&#8220;Ora bandaku&#8221; (Bukan hartaku) jawabku singkat lagi.</p>



<p>Kami ada disini sedari sore hingga jam 9 malam, namun aneh tak ada seorangpun yang pulang kerumah.</p>



<p>Meski memang Mbak Novi sudah berkeluarga, namun biasanya ia akan pulang kemari dua kali seminggu. Begitu pula dengan Bapak, ia kemana? Biasanya ia hanya akan ke kantor sesekali saja karena fisiknya sudah tak memungkinkan lagi.</p>



<p>&#8220;Jun, Bapakmu pamit&#8221; celetuk Septi tiba tiba saja Aku memalingkan wajah kearahnya, alisku berkerut heran dengan maksud ucapan Septi barusan.</p>



<p>&#8220;Nok jendelo njobo, Bapakmu pamit&#8221; (Di jendela luar, Bapakmu pamit) jelasnya kembali</p>



<p>Aku langsung menuju ke jendela seperti yang dimaksud oleh Septi, namun aneh tak ada siapapun disini.</p>



<p>*Kring kring kring* Bunyi telefon rumah dari ruang tamu terdengar hingga kamarku. Aku bergegas keluar dan mengangkatnya, terdengar suara wanita sedang berusaha untuk bicara.</p>



<p>&#8220;Nduk, Jun…&#8221; suaranya tersenggal senggal karena menahan tangis.</p>



<p>&#8220;Mbak Novi? Mbak kenapa mbak&#8221; tanyaku mulai panik mendengar kakak perempuanku itu menangis.</p>



<p>&#8220;Bapak mpun kapundut dek, sak niki awakmu mrene ya dijemput&#8221; (Bapak udah meninggal dek, sekarang kamu kesini ya dijemput) ucap Mbak Novi yang terdengar jelas sedang diliputi kesedihan.</p>



<p>Runtuh, kekuatanku kali ini benar benar runtuh. Aku tak punya siapapun lagi di dunia ini. Akhirnya kali itu aku tahu bahwa Septi memiliki kelebihan istimewa, dan dari sinilah kami mulai berteman dekat.</p>



<p>Aku segera bersiap dan mengajak Septi yang kini membisu dan hanya bisa menangis bersamaku. Kami berdua dijemput oleh sopir pribadi kakak perempuanku itu menuju rumah sakit tempat Bapak menghembuskan nafas terakhirnya.</p>



<p>Aku memang sudah lama mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan ini, aku tahu pasti suatu saat Bapak akan meninggalkanku. Namun, masih tak kusangka akan secepat ini, ia bahkan belum melihatku menjadi sarjana nanti.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Tujuh hari sepeninggal Bapak, Mamah mengusirku dari rumah. Dan ya, akupun telah memperkirakan ini semua jadi aku sudah sepenuhnya pasrah.</p>



<p>Mbak Novi mengajakku untuk tinggal bersamanya, namun kutolak karena aku tidak ingin merepotkan siapapun lagi. Akupun bahkan tak meminta hak atas warisan Bapak sedikitpun.</p>



<p>Untunglah selama ini Bapak telah meninggalkan tabungan yang cukup untukku hidup sampai beberapa tahun kedepan, aku juga masih punya rumah milik Ibu dulu.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>*Jblakkk* Suara pintu mobil kututup Aku berjalan memasuki sebuah rumah yang kini kondisinya telah berubah sepenuhnya. Karena memang aku tlah lama tak pernah kembali ke daerah sini.</p>



<p>&#8220;Assalamualaikum Paklik.. Bulik.. Mei.. &#8221; panggilku yang kini telah berada di depan pintu.</p>



<p>&#8220;Waalaikumsalam, sinten? (siapa?)&#8221; sahut seseorang dari dalam menjawab salamku. Ibu Mei berjalan kearahku, nampaknya ia lupa dengan wajahku.</p>



<p>&#8220;Sinten nggih? Rencange Mei mbak?&#8221; (Siapa ya? Temennya Mei mbak?) tanyanya kembali.</p>



<p>Aku hanya tersenyum dan segera meraih tubuh Ibu Mei, aku memeluknya dengan sangat bahagia Ia terkejut karena aku tiba tiba memeluknya.</p>



<p>&#8220;Niki Juni Bulik..&#8221; (Ini Juni Bulik..) ucapku yang masih memeluknya erat Ia nampak terdiam beberapa saat lalu segera membalas pelukanku.</p>



<p>&#8220;Ya Allah Juni… &#8221; &#8220;Bulik pangkling nduk&#8221; ujarnya yang kini menangis terharu Aku melepas peluknya dan meraih serta mencium tangannya, tak terasa akupun ikut menangis rindu dan tersenyum lega.</p>



<p>&#8220;Meeeei! Mrene nduk&#8221; (Mei sini nak) teriaknya kencang sekali memanggil mei yang kelihatannya ada di belakang. Mei datang dengan wajah kusut, ketika matanya menatapku ia mematung dan membungkam mulutnya terkejut.</p>



<p>Aku segera masuk dan memberi salam pada sahabatku itu.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Setelah beberapa lama melepas rindu, akupun mulai menceritakan semuanya. Tak lupa dengan niatku untuk menempati kembali rumah Ibuk.</p>



<p>&#8220;Bapak mpun seda Bulik, Mamah nggih piyambake mboten purun tinggal kalih Juni. Dados Juni mriki mawon, kepengen manggeni daleme Ibuk&#8221;</p>



<p>(Bapak sudah meninggal, Mamah juga gamau tinggal sama Juni. Jadi Juni kesini aja, kepengen nempatin rumahnya Ibuk) ceritaku pada mereka berdua Pastinya mereka terkejut, alasan pertama karena mendengar kematian Bapakku. Dan yang kedua pastilah karena niatku untuk menempati rumah Ibuk kembali.</p>



<p>&#8220;Innalillahi, yang sabar yo nduk&#8221; Ibu Mei berucap lirih.</p>



<p>&#8220;Tapi Jun, awakmu tenan ta arep manggon omah kono maneh? Ojok yo mending tinggal kene wae karo aku, karo bapak ibuk&#8221;</p>



<p>(Tapi Jun, kamu yakin mau tinggal dirumah itu lagi? Jangan ya mending tinggal disini aja sama aku sama bapak ibuk) bujuk Mei sembari menggenggam erat tanganku.</p>



<p>Mereka mungkin khawatir padaku, tapi itulah satu satunya sisa kenangan masa lalu yang kupunya. Aku tersenyum padanya, aku berusaha meyakinkan dia bahwa aku akan baik baik saja.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Pagi disini cerah, mataharinya lumayan terik dan cukup efektif untuk menghangatkan badan.</p>



<p>Semalam, aku bermalam dirumah orangtua Mei. Begitu mendengar kabar bahwa aku kembali, Febri dan keluarganya pun langsung menemuiku tuk melepas rindu. Ya, keluarga Mei dan Febri layaknya keluarga kedua bagiku.</p>



<p>Kini lingkungan ini terasa sedikit asing, banyak perubahan yang kulewatkan selama beberapa tahun kebelakang.</p>



<p>Aku berjalan jalan pagi sendirian di gang ini, banyak warga baru yang tak saling mengenal denganku tersenyum menyapaku.</p>



<p>Begitu pula dengan mereka yang telah mengenalku sejak kecil dulu. Suasana hangat kurasakan saat mereka menyambutku dengan haru.</p>



<p>&#8220;Pak, Bu, nuwun sewu kula badhe nyuwun izin tinggal teng mriki malih, piyambakan&#8221; (Pak Bu permisi saya mau minta izin untuk tinggal disini lagi, sendirian).</p>



<p>ucapku kepada dua orang didepanku itu Mereka adalah Pak RT beserta istrinya, ya aku meminta izin sesuai prosedur untuk menempati kembali rumah Ibuk.</p>



<p>&#8220;Nak Juni yakin nduk?&#8221;</p>



<p>Hanya sepenggal kalimat itulah yang keluar dari mulut Pak RT, ketika aku mengangguk iapun tak mau mengganggu gugat pilihanku ini.</p>



<p>Aku bergegas keluar kamar dan memilih meringkuk di bawah kursi ruang tamu&nbsp;</p>



<p>Jam menunjukan 19&nbsp; 00 , aku sempat berfikir untuk keluar dari rumah dan menginap di rumah Mei&nbsp; &nbsp;Tapi di sisi lain aku tidak mau merepotkan, akhirnya kuputuskan bertahan walaupun rasa takut menyelimutiku&nbsp;</p>



<p>Malam ini kuputuskan untuk tidur di ruang tamu&nbsp; &nbsp;Merebahkan badan dikursi panjang tanpa bantal</p>



<p>Aku yang merasakan lelah setelah seharian membersihkan rumah akhirnya terlelap</p>



<p>Namun tidurku tidak berlangsung lama, lagi-lagi aku mendengar sesuatu yang kembali membuatku terkejut</p>



<p>*Tok&nbsp; Tok&nbsp; *</p>



<p>Kali ini bunyi ketukan masih sama dua kali seperti tadi, dan bersumber dari pintu depan rumah&nbsp;</p>



<p>Ada yang bilang bahwa dua kali ketukan adalah pertanda bahwa yang mengetuk pintumu bukanlah manusia</p>



<p>Aku yang masih merasakan ketakutan enggan membuka pintu,</p>



<p>dan bertahan di kursi panjang yang ku tiduri, hanya merubah posisiku sedikit, sekarang aku hanya bisa tertunduk dan benar-benar merasakan ketakutan&nbsp;</p>



<p>“Jun&nbsp; ?” Panggilan tersebut terdengar lembut, seperti perempuan yang masih berumur 40 tahunan, namun aku belum membukakan pintu</p>



<p>karena aku pikir suara tersebut bukan tamu yang datang ke rumahku,</p>



<p>“Jun?” Lagi-lagi ada suara seperti memanggilku, namun arah suara tersebut berada di pintu belakang,</p>



<p>Badanku seketika merinding,seperti ada tiupan angin ke badanku yang membuatku merasakan dingin di seluruh tubuh</p>



<p>Hanya berdoa yang kubisa, sambil memejamkan mata berharap semoga teror yang terjadi terhadapku cepat berlalu</p>



<p>“Jun ini Ibu Rt“</p>



<p>Mendengar panggilan tersebut dengan nafas yang memburu aku bergegas lari menuju pintu belakang&nbsp; &nbsp;Berharap seseorang dapat membantu membuatku sedikit lega</p>



<p>*Klek Klek*</p>



<p>Bunyi kunci pintu belakang</p>



<p>Perlahan aku buka, dan seketika ku mematung, kakiku tak bisa bergerak, mulut seperti terkunci rapat</p>



<p>&#8220;Emm Emmm”</p>



<p>Bukannya Bu Rt yang berada di depanku saat ini, namun se sosok perempuan berambut panjang, dengan lidah menjulur ke bawah.</p>



<p>“Ooh mosok karo cecek wedi se, oiyo Jun iki maemo awakmu wingi gurung sempet blonjo dadi tak masakno&#8221;</p>



<p>( Ooh masa sama cicak takut si Jun, oiya aku kesini mau nganterin makan nih buat kamu,kan kamu belum sempet belanja jadi aku masakin buat kamu)</p>



<p>“Wah suwun Me, tak gawane nok kampus wae ya pangan kono&#8221;</p>



<p>(Wah makasih Mei, aku bawa aja ke kampus ya buat dimakan disana) jawabku sambil tersenyum</p>



<p>“Iyo Jun, tapi kui rai mbe gulumu gene ko abang abang grawukan ngono&#8221;</p>



<p>(Oiya Jun, tapi itu muka sama leher kamu kenapa kok kaya ada</p>



<p>bekas cakaran merah gitu)</p>



<p>&#8220;Emm mambengi akeh nyamuk Me. Yowes tak mangkat yo&#8221;</p>



<p>(Emmm semalem banyak nyamuk. Ya udaah aku berangkat ya) tutupku tergesa</p>



<p>………..</p>



<p>Sesampainya dikampus aku langsung menuju ke kantin, sembari menyantap makanan yg diberikan Mei aku menunggu kedatangan Septi</p>



<p>Kiranya lima belas menit menunggu terdengar panggilan lirih dari arah belakangku</p>



<p>“Juniiii” suara lembut tersebut lagi-lagi membuatku merinding, hembusan angin membuat hawa dingin mulai masuk ke dalam tubuhku, berusaha menoleh perlahan karena kupikir itu Septi yang sudah datang</p>



<p>Seketika aku memundurkan badanku sampai mentok ke meja makan, sesosok mahluk dengan rambut panjang menutup muka dan bau busuk berada di hadapanku. Badan tangan dan kakiku tak bisa ku gerakkan sedikit pun, mulutku membisu serta tiba-tiba badanku melemas tiada daya.</p>



<p>*Bruuggg*</p>



<p>Badanku pun terjatuh ke bawah meja</p>



<p>Ya aku datang ke kampus sangat pagi dan memang aku yang paling awal, di kantin pun belum ada warung yang dibuka, jadi aku orang pertama yang sampai kampus dan langsung menuju kantin</p>



<p>“Nak bangun nak”.. panggil salah satu penjaga kantin</p>



<p>sambil menepuk badanku.</p>



<p>Aku yang baru saja tak sadarkan diri merasa terkejut karena bangun dengan kondisi di bawah kursi tempat ku makan tadi</p>



<p>“Kok kamu tidur dibawah” ucap Pak Adi penjaga kantin di kampusku</p>



<p>“Maaf pak tadi saya pingsan liat sosok Perempuan berbaju putih”</p>



<p>ucapku dengan nada lirih</p>



<p>Pak Adi terheran mendengar jawabanku seakan tidak percaya dengan apa yang telah aku alami, pandangan Pak Adi pun tiba-tiba berubah menatapku dengan sinis dengan bibir seperti mengucap doa dan mata melotot kepadaku</p>



<p>“Pak kenapa lihatin Juninya kaya gini?”.</p>



<p>Terdengar tiga siraman air seperti sedang membilas badan</p>



<p>“Sep wakmu adus ta, kok iso karo petengan ngene&#8221;</p>



<p>(Sep kamu kok bisa si mandi gelap-gelapan begini) aku yang yakin itu Septi sedang mandi melontarkan sebuah pertanyaan. Bukannya jawaban yang ku dapatkan melainkan hanya</p>



<p>tawaan lirih dari dalam kamar mandi.</p>



<p>“Hihihi” terdengar jawaban Septi dari kamar mandi</p>



<p>Aku yang juga ingin buang air kecil pun menunggu Septi dari luar kamar mandi, tak berselang lama kamar mandi pun terbuka dengan sendirinya,</p>



<p>*Krieettt…*</p>



<p>Bunyi pintu kamar mandi yang mulai terbuka perlahan. Dan apa yang kudapati bukanlah Septi namun sesosok perempuan tengah berendam di bak mandi dengan muka yang sangat menyeramkan dan mata melotot, aku yang terkaget berlari menuju ke kamar karena yakin kalau Septi berada dikamar</p>



<p>“Sep tangi Sep tangio…!&#8221;</p>



<p>(Sep bangun sep bangun.!!) Teriakku di depan kamar. karena tak kunjung mendapat jawaban aku yang ketakutan pun tanpa pikir panjang memasuki kamar dan membuka selimut yang berada di kasur. Ku pikir seorang dibalik selimut itu Septi.</p>



<p>Perlahan ku raba-raba karena keadaan gelap saat itu dikamar. Namun saat kubuka dan meraba yang kuraba seperti sebuah kaki bengkok, ternyata yang kulihat sesosok anak kecil cacat dengan kaki bengkok yang dulu pernah kulihat saat masih kecil. Dengan mata hitam dan mulut lebar</p>



<p>menganga ia menatapku kosong.</p>



<p>Badanku merinding, tanpa seucap kata aku lari keluar kamar, yang kupikirkan hanyalah bagaimana caraku keluar dari dalam rumah, berlari menuju pintu depan</p>



<p>*Cklekkk Cklekk*</p>



<p>Gagang pintu berusaha ku buka namun tak berhasil, seperti ada yang mengunci</p>



<p>dari luar rumah.</p>



<p>&#8220;Sialan, Septi ngendi ki nyapo malah lungo aku dikurung ngene&#8221;</p>



<p>(Sialan.. Kemana Septi, kenapa pergi dan mengurungku gini) umpatku dengan sedikit kesal kepada Septi yang entah berada dimana</p>



<p>*Dug.dug.dug*</p>



<p>Bunyi langkah kaki terdengar dari luar rumah.</p>



<p>*Krek krek*</p>



<p>Bunyi kunci pintu yang dibuka dari luar rumah membuat dadaku sedikit merasa lega. Tak berselang lama pintu pun terbuka. Dengan rasa kesal aku bertanya kepada Septi yang baru saja masuk.</p>



<p>“Kondi koe ngopo lungo ga ngomong, lawang barang nyapo dikunci&#8221;</p>



<p>“Hihihihi” Septi hanya tertawa mendengar pertanyaanku</p>



<p>Aku yang juga ikut merasakan lapar berusaha mendekati dan ingin meminta mie instant buatannya kalau sudah matang</p>



<p>“Nyuwun a nek wes mateng&#8221;</p>



<p>(Aku minta ya kalau sudah matang)</p>



<p>sambil berjalan aku berusaha mendekatinya</p>



<p>namun saat mulai melihat wajahnya, ternyata bukan Septi. Yang kulihat wajah tanpa mata dan hidung,namun hanya ada mulut yang sudah membusuk dan di gerumuti belatung</p>



<p>Spontan aku berlari menjauh, kuayunkan kakiku langsung menuju ke kamar, dengan nafas memburu aku langsung naik</p>



<p>ke atas rajang, berusaha membangunkan Septi yang sedang tertidur.</p>



<p>“Sep tangi seppp!!! &#8220;</p>



<p>(Sep bangun sep!!!) teriakku untuk membangunkan Septi yang sudah tertidur pulas.</p>



<p>“Hehhh opo si, bukane tidur ih”</p>



<p>&#8220;Aku roh demit Sep!&#8221;</p>



<p>(Aku liat hantu Sep!) semua yang dari awal berusaha</p>



<p>kututupi dari Septi, kali ini aku berusaha menceritakan apa yang barusan ku lihat.</p>



<p>“Biasa wae talah ncene akeh demit nde omahmu, aku ngantuk ki lho, turu ah&#8221;</p>



<p>(Biasa aja kali emang banyak hantu dirumah kamu, aku ngantuk nih, udah tidur ah) jawaban Septi yang</p>



<p>enggan membuka matanya waktu itu.</p>



<p>Namun aku segera menepuk badannya dengan keras agar mau membuka mata dan mau mendengarkan ceritaku, akhirnya Septi pun terbangun dan duduk di kasur.</p>



<p>Aku langsung menceritakan kepadanya saat itu juga.</p>



<p>“Mau aku roh onok sing metu seko kamar iki mirip awakmu mlaku mburi, tak kiro wakmu ning mari tak cek dadakman demit&#8221;</p>



<p>(Tadi aku lihat ada yang keluar dari kamar ini mirip kamu kulihat jalan ke belakang rumah, aku pikir itu kamu tapi waktu aku cek ternyata hantu)</p>



<p>dengan memegang pundak Septi aku berusaha meyakinkan kalau yang kulihat memang hantu</p>



<p>“Haha iyo nda” lagi-lagi Septi menganggap remeh ucapanku</p>



<p>Namun kali ini aku berusaha mengajaknya kedapur agar dia juga ikut melihat sesosok hantu tersebut</p>



<p>Dengan mata kantuk Septi mengiyakan</p>



<p>“Iya udah ayo kita lihat” kami pun berjalan pelan dengan Septi didepan aku yang masih merasakan ketakutan mengikutinya dibelakang sambil memegangi bajunya,</p>



<p>*Hooookk hokkk hokkkk*</p>



<p>Terdengar bunyi seperti orang mengorok saat tidur, sumber suara tersebut seperti dari arah dapur </p>



<p>yang akan kami datangi.</p>



<p>&#8220;Suoro opo kui?&#8221; gumam Septi</p>



<p>Perlahan kami berdua mengintip bagian dapur dengan perlahan, aku pun terkejut ternyata didapur tidak ada apapa, dan tidak ada hal aneh yang terjadi,</p>



<p>“Tuhh kan gak nampak setannya! !.” Ucap Septi</p>



<p>Aku pun hanya terpaku kebingungan, padahal tadi didapur aku melihat hantu gumamku dalam hati.</p>



<p>“Udah ayo tidur lagi ngantuk nih” Septi yang masih mengantuk mengajak untuk kembali ke kamar, aku yang masih merasa ketakutan hanya mengikutinya dari belakang</p>



<p>Sesampainya dikamar…</p>



<p>*Pyakk Pyak*</p>



<p>&nbsp;Septi yang berada didepanku saat memasuki kamar terdengar seolah menginjak air</p>



<p>“Loh kok ono banyu ndek gladak Jun?&#8221;</p>



<p>(Loh kok ada air di lantai kamar Jun)</p>



<p>“Wah kok aneh yo, jal nyalakke dilahe ayok resiki&#8221;</p>



<p>(Wah kok aneh ya,&nbsp; yaudah cepet nyalain lampunya kita bersihin dulu) ucapku memerintah Septi untuk menyalakan saklar di dinding dekat ranjang.</p>



<p>Septi pun berjalan perlahan menuju saklar yang kumaksud, namun sesudah lampu dinyalakan kami berdua bingung karena dilantai tidak ada</p>



<p>cairan yang terinjak oleh Septi</p>



<p>“Gaono banyu opopo Sep&#8221;</p>



<p>(Gada cairan apa apa Sep) kataku waktu melihat lantai dihadapanku yang kering</p>



<p>Setelah kejadian itu aku dan septi memutuskan untuk tidur kembali, waktu menunujukkan pukul 23:15</p>



<p>Septi yang dari pagi belum tidur sudah terlelap disampingku.</p>



<p>“Wah sial kok susah tidur” Umpatku yang merasakan susah tidur, karena terlalu lama tidur siang sampai waktu maghrib tadi</p>



<p>Aku hanya bengong sambil memandang langit-langit rumah, mengamati setiap sudut kamar,</p>



<p>tiba-tiba mataku tertuju ke atas lemari pakaian yang ada di dekat jendela kamarku. Namun saat ku amati ternyata hanyalah kain dan kardus.</p>



<p>Mataku mulai mengantuk dan perlahan mengejamkan mata,namun tak berselang lama Septi terbangun</p>



<p>“Te ngendi Sep&#8221;</p>



<p>(Mau kemana Sep)</p>



<p>ucapku dengan mata setengah mengantuk</p>



<p>“Pipis bentar” Septi pun berjalan keluar kamar dan menuju kamar mandi</p>



<p>~~</p>



<p>Saat sedang jongkok dengan mata mengantuk tiba-tiba seperti ada yang menyangkut di wajahnya, perlahan tangan Septi meraba bagian wajahnya, sehelai rambut yang</p>



<p>sangat panjang menempel di bagian wajahnya</p>



<p>Kepala Septi perlahan mendongak, wajahnya mengarah ke bagian atap kamar mandi. Terlihat sebuah kepala putus dengan lidah menjulur sedang berayun ayun disana, rambutnya benar benar panjang dan tanpa badan, seperti digantung.</p>



<p>Septi yang terkejut pun sontak berteriak sekencang mungkin dan berusaha lari dari kamar mandi,</p>



<p>*Hhhhaaaaa.!!!!***.</p>



<p>Teriakan Septi mengagetkanku membangunkanku yang berada di kamar, aku terbangun dan berusaha menghampiri Septi, namun saat kubuka pintu kamar</p>



<p>*Hihihihi Hahhhh*</p>



<p>Kerumunan anak kecil dengan muka yang sangat seram seperti ingin mengejarku dan mengajakku bermain, aku yg ingin menghampiri Septi lantas mengurungkan niatku, menutup kembali pintu dan melompat ke ranjang, berusaha menutup kepalaku dengan selimut.</p>



<p>“Kenapa Septi ngga datang-datang dari belakang sih”&nbsp; gumamku dalam hati dengan badan yang kubenamkan dalam selimut,</p>



<p>“Sep koe ngendi se ko sui men pipise&#8221;</p>



<p>(Sep kamu dimana lama banget sih pipisnya) namun tidak ada jawaban dari Septi waktu itu,</p>



<p>tidak berselang lama terdengar suara cekikikan dari bagian belakang rumahku</p>



<p>“Hihihihi hahahahaha” suara tersebut terdengar mirip seperti suara Septi, aku sangat paham dengan suara tersebut. Tapi kenapa dia tertawa sendiri gumamku dalam hati.</p>



<p>15 menit berlalu Septi tak kunjung kembali ke kamar, aku berniat menyusulnya ke kamar mandi. Dengan rasa takut kucoba kembali membuka pintu kamar</p>



<p>“Syukur gaono popo maneh&#8221;</p>



<p>(Syukurlah sudah tidak ada apapa)</p>



<p>Kulangkahkan kakiku setapak demi setapak menuju ke kamar mandi,</p>



<p>namun Septi tidak ada. Pintu belakang rumah nampak terbuka, karena makin penasaran akan keberadaan Septi, akhirnya ku intip perlahan melalui celah pintu itu.</p>



<p>Berdiri seseorang yang nampaknya adalah Septi menghadap sebuah pohon asam jawa, disana ia seperti tengah membicarakan</p>



<p>sesuatu dengan seseorang.</p>



<p>“Sep melbuo nomah sep nyapo nok jobo bengi bengi ngene&#8221;</p>



<p>&nbsp;( Sep masuk kerumah ngapain di luar malam-malam begini) panggilku saat itu</p>



<p>Sepertinya Septi tidak mendengarkanku, dengan ragu aku mencoba mendekatinya,</p>



<p>*Hihihihi* saat aku mendekat Septi</p>



<p>hanya tertawa menghadap pohon</p>



<p>“Jun ojok nyedakkk!!!&#8221;</p>



<p>(Jun jangan mendekat) Aku mendengar panggilan itu namun badanku seperti tidak bisa digerakan untuk menoleh ke orang yang memanggilku. Badanku seperti ditarik salah satu mahkluk yang menyamar sebagai Septi tersebut.</p>



<p>*Bughhh* pukulan keras dibagian punggungku membuatku hilang kesadaran malam itu</p>



<p><strong>Bersambung Ke &gt;&gt;&gt; Cerita Horor Rusin &#8211; Catatan Si Juni part 3</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part6 &#8211; Geni Baraloka</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part6/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part6/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2026 12:40:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[cerita horor gending alas mayit]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Penari]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4069</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Horor Twitter &#8211; Ini adalah part 6 dari serial cerita horor Gending Alas Mayit. Bagi yang belum membaaca part ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part6 &#8211; Geni Baraloka" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part6/#more-4069" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part6 &#8211; Geni Baraloka">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Cerita Horor Twitter &#8211;</strong> Ini adalah part 6 dari serial cerita horor  <strong>Gending Alas Mayit.</strong> Bagi yang belum membaaca part 5, baca dulu ya part 5-nya &gt;&gt;&gt; </p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part5/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 5</a></strong></p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/">Gending Alas Mayit Part 4</a></strong></p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part3-ikatan-masa-lalu/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 3</a></strong></p>



<p><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part </strong>2</a></p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 1</a></strong></p>



<p><strong>Cerita Horor Twitter</strong></p>



<p><strong>Judul</strong> : Gending Alas Mayit &#8211; Desa Terkutuk</p>



<p><strong>Penulis</strong> : @Diosetta</p>



<p>Suara gamelan mengalun tanpa henti , Terlihat sesosok demit perempuan berdiri tepat disamping sahabatku Danan. “ Kalian!! Kalian yang telah membunuh Laksmi!” Teriak Danan yang baru saja tersadar dari penglihatanya.</p>



<p>Wajah Danan terlihat merah padam , emosi terpancar jelas dari wajahnya. Sebuah mantra terucap dari mulutnya, dan itu diarahkan ke warga desa. Aku melemparkan gong kecil yang ku pegang dan segera menghalangi serangan Danan yang diarahkan ke warga desa.</p>



<p>“ Danan… eling Danan! Demit itu mempengaruhi kamu” Teriaku sambil menunjuk pada hantu Laksmi yang tertawa dengan mengerikan. “ Bunuh…. Bunuh mereka Danan, balaskan dendamku!” Demit itu terus membisikan kata itu ke Danan.</p>



<p>“ Minggir Cahyo! Jangan lindungi mereka… mereka lebih biadab dari setan-setan itu!” Ucap Cahyo yang masih berusaha menyerang Aswangga. “ Aswangga memaksa Laksmi untuk melayani nafsu bejatnya, Anak buahnya memperkosa dan meninggalkan jasad Laksmi begitu saja di Alas mayit… “ Teriak Danan dengan penuh emosi.</p>



<p>“Warga desa yang menyebabkan orang tua Laksmi mati! Terutama si kepala desa keparat itu! “ Aku menoleh kepada Pak Kepala Desa dan Aswangga memastikan kebenaranya. Mereka terlihat pucat dan berusaha meninggalkan balai desa.</p>



<p>&#8220;Bukan begini caranya Danan! “ Teriaku kepada Danan sembari melindungi Aswangga dan kepala desa. “ Kalau kamu melindungi mereka? Aku ga akan segan-segan” Ucap Danan dengan geram. “Aku ki koncomu Danan! Tenang dulu” ucapku berusaha meyakinkan Danan.</p>



<p>Namun Danan tidak peduli , ia menyerangku dan menerjang keluar mengejar Aswangga dan kepala desa. Sebuah pukulan yang diselimuti mantra penguat dihujamkan kepada Aswangga ,namun anak buah aswangga mencoba menahanya dan mereka berakhir dengan tebaring tak berdaya di tanah.</p>



<p>“Piye iki Pak Kades…?” (gimana ini Pak Kades?) Tanya Aswangga pada Pak Kades yang ada di sampingnya. “Wis, kamu tenang dulu..” Jawab Pak Kades, sambil menyiapkan sesuatu dari kantungnya.</p>



<p>Aku tidak punya pilihan, sepertinya aku harus melawan Danan dengan kekuatan penuh sebelum ia menghabisi warga desa.</p>



<p>“ Kematianpun tak cukup untuk membalaskan rasa sakit Laksmi..” Danan bersiap sekali lagi membaca mantra untuk menyerang aswangga namun aku berhasil mementalkanya.</p>



<p>“ Kalau kamu mau menghabisi warga desa, berarti lawanmu adalah aku” Ucapku berdiri tepat dihadapan Danan. “Baik Kalau itu maumu” Jawab Danan tanpa banyak bicara.</p>



<p>Ajian lebur saketi adalah ilmu pukuran jarak jauh andalan Danan , ia merapalkan itu dan mengarahkan kepadaku. Sulit untuk menghindarinya , namun dengan meminjam kekuatan Wanasura , roh kera pelindung dari hutan wanamarta aku mampu melompat setinggi tingginya dan menghindarinya.</p>



<p>Pukulan keras kuhampirkan pada tubuh Cahyo yang membuat ia terpental, secara fisik harusnya ia tidak bisa menahan pukulanku yang diselimuti kekuatan roh wanasura.</p>



<p>Suara gamelan terdengar semakin keras , Danan merespon suara itu dan bangkit lagi seolah tak terjadi apa-apa. Ia membaca mantra dan menarik sebuah keris dari sukmanya.</p>



<p>“ Heh Danan! Edan Kowe… Arep mateni aku ?” (gila kamu.. mau ngebunuh aku?) teriaku. Danan tidak menjawab , kali ini ia sudah benar-benar dikuasai oleh setan Laksmi itu.</p>



<p>Iya menghujamkan keris itu, dan setiap seranganya menimbulkan getaran yang sangat kuat. Aku hanya bisa menghindar dan menghindar, satu tusukan keris itu bisa saja langsung mengakhiri nyawaku.</p>



<p>Sesekali aku berhasil menyerang Danan , bahkan dengan kekuatan penuh, Namun suara gamelan kembali memaksa Cahyo untuk menyerangku.</p>



<p>&#8220;Mati… kalian semua harus mati” hanya ucapan itu yang terus keluar dari mulut Danan saat menyerang dengan kerisnya. Seandainya aku punya mantra pemanggil seperti Danan, mungkin aku bisa memanggil Geni Baraloka untuk memulihkannya.</p>



<p>Tapi sepertinya tidak ada pilihan lain , aku harus memanggil tubuh fisik Wanasura untuk melawan Danan walau dengan bayaran sebagian dari sisa umurku.</p>



<p>Sebuah pukulan kuhantamkan ke tanah, Danan dan seluruh benda yang ada di sekitarku terpental. Setidaknya jarak ini cukup untuk membuatku melakukan pemanggilan.</p>



<p>“ Danan… jangan dendam padaku “ Aku membentuk posisi meditasi dan merapalkan sebuah mantra pemanggil , namun belum sempat selesai, suara pukulan gong besar terdengar dari dalam hutan.</p>



<p>Nada gamelan mulai berubah , rasa panas terasa dari dalam tubuhku … alunan nada gamelan terngiang tanpa henti di kepalaku yang memaksa tubuh ini untuk mengikuti iramanya.</p>



<p>“ Arrrgh… Pak Sardi! gunakan Tabuh waturingin itu!” perintahku pada Pak Sardi untuk menghilangkan kutukan ini dari tubuhku, namun sepertinya tidak sempat.</p>



<p>Pukulan Danan sudah di hadapan wajahku dan membuatku terpental, ia mengejar dengan keris di tanganya dan bersiap menghunuskanya kepadaku.</p>



<p>Suara pukulan gong dari tabuh waturingin mendengung , kutukanku terlepas.. aku berhasil menggerakan tanganku dan menahan keris Danan walau dengan luka di tanganku.</p>



<p>Sekali lagi pukulan keras dihujamkan Danan padaku , kali ini dari jarak dekat yang membuatku memuntahkan darah kental berwarna merah dari mulutku Mati di tangan sahabatku sendiri sama sekali hal yang tak pernah kupikirkan, namun saat ini keris pusaka yang sudah berkali-kali menyelamatkan nyawa kami sudah berada di depan wajahku untuk menghabisi nyawaku.</p>



<p>Tepat sebelum keris itu menusuk jantungku , sesosok makhluk terbang dari arah hutan dan menendang Danan hingga terpental.</p>



<p>“ E.. Eyang Widarpa” Ucapku yang terheran dengan kemunculan sesosok demit kakek tua berambut putih, ia sama sekali tidak menoleh kepadaku dan terus mengejar dan menghajar Danan.</p>



<p>Terlihat Danan kewalahan menghadapi makhluk yang mengaku sebagai leluhurnya itu. “ Bocah asu… iso isone kowe dipengaruhi demit koyo ngene” ( bocah asu… bisa-bisanya kamu dipengaruhi setan kaya begini) Makinya sambil tetap menghajar Danan.</p>



<p>Merasa terancam dengan kehadiran Eyang Widarpa , Roh Laksmi meninggalkan Danan dan bersiap menyerang Pak Kades. Aku mencoba berdiri, namun sepertinya lukaku cukup serius.</p>



<p>Pak Kades berlari hingga terjatuh. “ Sekarang saatnya kamu mati!” Ucap roh Laksmi yang menerjang merasuki Pak Kades.</p>



<p>Kami semua panik, Pak Sardi tak mampu mengejar mereka. Namun tak disangka, roh Laksmi terpental. Sebuah pasak tergenggam dari tangan pak kepala desa.</p>



<p>Pria itu berdiri dan terlihat senyum di wajahnya. “ Dasar demit.. sudah mati masih bikin masalah” Pak Kades mengangkat pasaknya tinggi-tinggi dan menusukan pada dada setan Laksmi itu. Suara gamelan yang meneror desa terhenti.</p>



<p>Setan itu tersungkur meronta dan menahan rasa sakit.</p>



<p>T.. tunggu ada apa ini? Aku tidak mengerti dengan apa yang kulihat. “ Pak Kades.. apa maksudnya semua ini?” Pak Sardi mendekat mencari penjelasan namun ditahan oleh anak buah aswangga.</p>



<p>&#8220;Hahaha… Warga desa bodoh, seharusnya kalian bisa hidup lebih lama dengan kutukan ini..” “ tapi karena semua sudah terbongkar , malam ini kalian semua akan mati sebagai tumbal untuk menguasai kerajaan demit di alas mayit… “</p>



<p>Ucap Pak Kades dengan raut wajah yang berbeda dari biasanya. Pak Kades menarik rambut roh Laksmi yang tersungkur dan menyeretnya ke arah alas mayit. “ Ayo aswangga… jangan lama-lama di sini” Perintah Pak Kades pada aswangga.</p>



<p>Danan mulai tersadar , terlihat tak sedikit luka di tubuhnya akibat perbuatan Eyang Widarpa. “ Cahyo.. “ Danan segera menghampiriku yang tergeletak tak berdaya. “ Maafin aku Cahyo… “ ucapnya yang segera menolongku untuh duduk.</p>



<p>Danan menempelkan tanganya pada punggungku dan menyalurkan tenaga untuk memulihkan kondisiku. “ Ra mungkin tak maafin… “ ucapku pada Danan. Rasa bersalah terlihat dengan jelas di wajah Danan.</p>



<p>“ Tukokno sate klatak sek.. baru tak maafin “(traktir aku sate klatak dulu batu tak maafin ) Danan menghela nafas seperti merasa sedikit lega. “ Tenang.. tak tukokno sak weduse, sak bakule” (tenang, tak beliin se kambingnya se warungnya juga) Jawab Danan.</p>



<p>Pak Sardi terlihat menenangkan warga desa dan membubarkanya . Demit Eyang Widarpa masih terlihat mencari sesuatu. “Eyang… terima kasih eyang” Ucap Danan.</p>



<p>Eyang masih terlihat gelisah seolah berusaha membicarakan sesuatu.</p>



<p>“ Deso iki ora iso diselamatke… “ (Desa ini tidak bisa diselamatkan) Eyang Widarpa memulai kata-katanya.</p>



<p>Aku dan Danan menghampiri Eyang Widarpa , Pak Sardi menyusul kami. “ Maksud eyang apa… ?” Danan memastikan pernyataan Eyang Widarpa.</p>



<p>“Gending alas mayit ki kutukan pencari tumbal , Laksmi itu perantaranya..” Jelas eyang .</p>



<p>“Maksud eyang?” tanyaku memotong penjelasanya. “Kutukan ini sudah disiapkan sejak lama , sejak desa ini didirikan… Kepala desa itu adalah jelmaan iblis penghuni alas mayit, dia bermaksud menumbalkan seluruh warga desa”</p>



<p>Kami semua tak mampu berkata apa-apa. “tidak mungkin , Pak Kades selama ini orang yang ramah dan selalu membantu warga desa” Pak Sardi berkata dengan tidak percaya.</p>



<p>“ Nggak Pak Sardi , saya sudah lihat perbuatan Pak Kades dan aswangga di masa lalu,itu benar-benar perbuatan iblis” Cerita Danan dengan wajah yang mulai dikuasai emosi lagi.</p>



<p>“Eyang.. kami sudah bawa tabuh waturingin, dan kita diharuskan membuat lagi yang lebih besar, apa ini bisa membantu” Tanyaku.</p>



<p>“mungkin bisa… Tabuh waturingin itu bisa menahan warga dari kutukan , namun demit-demit di alas mayit itu tetap harus kalian hadapi sendiri…” Jawab Eyang Widarpa.</p>



<p>“ Baik mbah, kami sudah bersiap untuk itu “ ucap Danan.</p>



<p>“Jangan sombong ! yang nanti kalian hadapi itu satu kerajaan demit! Sekarang terserah kalian mau apa” Eyang widarpa terlihat bingung. </p>



<p>Tanpa kami sadar sekar sudah mulai sadar dan mendengarkan perbincangan kami. “ Bapak… warga desa biar sekar yang jaga, Bapak bantu mas Danan dan mas Cahyo saja” ucap sekar.</p>



<p>Dengan berat hati Pak Sardi menyanggupi permintaan sekar. Semakin banyak yang membantu harusnya semakin besar peluang kami menyelesaikan permasalahan ini.</p>



<p>“ Eyang… biasanya kan eyang dateng bikin masalah, kok ini tiba-tiba dateng bantuin kami” Tanyaku pada eyang dengan sedikit penasaran.</p>



<p>“ Heh bocah gemblung! Rungokno omonganku “ (dengerin omonganku) Eyang Widarpa berkata dengan wajah serius.</p>



<p>“Ucapanku kudu mbok inget…”</p>



<p>Aku dan Danan memperhatikan benar-benar apa yang dikatakan Eyang Widarpa. “Uwong edan… Kuwi… Bebas…”</p>



<p>Eyang Widarpa menyelesaikan perkataanya dan meninggalkan kami.</p>



<p>Aku dan Danan masih tertegun dengan apa yang ia ucapkan. “ Danan… aku baru tau , ternyata demit bisa ngelucu..” ucapku pada Danan. “ Podo… wis , mbuhlah…” (sama.. masa bodo lah) balasnya.</p>



<p>Hari semakin malam , nampaknya kami harus memasuki hutan malam ini. Kami melakukan beberapa persiapan dan berkumpul di tempat masuk alas mayit.</p>



<p>“ Mas Danan, mas Cahyo… sudah yakin?” Tanya Pak Sardi. “ Yakin pak… Pak Sardi.. jangan memaksakan diri ya” Ucapku padanya, sejenak aku teringat dengan kejadian di imah leuweung saat Brakaraswana membunuh pak kuswara.</p>



<p>“Hati-hati , kita… udah disambut” ucap Danan pada kami. Dari dalam sebuah hutan yang gelap , terlihat makhluk – makhluk halus penunggu hutan sudah menanti kami.</p>



<p>Yang mengerikan setan-setan ini tidak memiliki tubuh yang utuh dan bentuk yang bermacam-macam.</p>



<p>“Cahyo jangan diserang dulu… aku mau mencari tahu sesuatu” ucap Danan.</p>



<p>Danan menarik sebagian dari api Geni Baraloka yang tumbuh besar di perbatasan hutan dan menyerang sesosok makhluk berwujud nenek tua yang hanya memiliki satu tangan.</p>



<p>Setan itu terbakar dan meronta , namun tak lama wajah busuk makhluk itu kembali menyerupai manusia.</p>



<p>“ jadi… ini kekuatan geni baraloka milik paklek?” Tanyaku pada Danan. “ Kekuatan yang luar biasa, pemilik ilmu ini pasti sudah mencapai tingkat kebajikan “ Ucap Pak Sardi yang terkesima dengan ilmu milik paklek itu.</p>



<p>Danan menghentikan seranganya ketika makhluk itu mulai tenang. “ Benar.. . tapi bukan itu yang mau tak pastikan” ucap Danan sambil mendekat ke roh nenek itu.</p>



<p>“Nek… apa nenek sudah tenang? Tanya Danan. “terima kasih cu… nenek ga ngerasain sakit lagi” Ucap makhluk itu kepada Danan.</p>



<p>“Maaf nek… sebelum nenek pergi, bisa sedikit membantu kami menceritakan ada apa di alas mayit” Ucap Danan pada makhluk itu. Danan benar, ada baiknya kami mencari tahu kondisi terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam.</p>



<p>Nenek itu mengangguk dan mulai bercerita pada kami.</p>



<p>“ Jauh di jaman dulu… jauh sebelum ada desa di tempat ini , hutan ini adalah sebuah kerajaan” layaknya sebuah kerajaan , mereka memiliki patih yang memegang wilahnya masing-masing.</p>



<p>Kerajaan ini yang sangat kuat dan hampir tidak pernah kalah perang. </p>



<p>Namun semua berubah ketika saat perayaan kemenangan, sang raja memanggil sekelompok pemain gamelan ,sinden, dan penari untuk menghibur para prajuritnya. Para pejabat sangat senang dengan permainan dari mereka,</p>



<p>Hampir semua keinginan para pemain ini dipenuhi oleh para pejabat, sampai akhirnya keinginan mereka berubah menjadi hal yang mengerikan. Untuk memainkan pertunjukan , kelompok gamelan ini meminta 27 pasang telinga yang harus dipersembahakan sebelum pertunjukan.</p>



<p>Awalnya para pejabat heran, namun karena kerajaan masih memiliki tahanan perang , akhirnya dipotonglah kedua daun telinga tahanan itu untuk memenuhi permintaan mereka.</p>



<p>Namun ternyata itu hanya permulaan… permintaan menjadi semakin mengerikan , telinga , lengan, jari dalam jumlah yang tidak sedikit. Ketika kehabisan tahanan, mereka menggunakan warganya sendiri untuk diambil bagian tubuhnya.</p>



<p>Maka setiap terdengar suara gamelan dari istana, warga akan bersembunyi atau meninggalkan kerajaan untuk menghindarkan diri dari permintaan kelompok gamelan itu.</p>



<p>Semua menjadi mengerikan ketika tanpa sepengetahuan raja , kedua patih jatuh cinta dengan si penari.</p>



<p>Mereka berebut untuk menarik perhatian wanita itu dengan memberikan apa yang dia mau. Warga yang harusnya dilindungi oleh patih kerajaan dibantai dan dimutilasi untuk diberikan kepada si penari. Apabila penari itu puas , ia akan menemani sang patih semalaman.</p>



<p>Hal mengerikan terjadi lagi ketika si penari meminta untuk menjadi ratu kepada dua patih itu. Pemberontakan terjadi , korban bergelimpangan dimana-mana. Kedua patih mencoba membunuh raja , namun diselamatkan oleh seorang patih yang masih setia.</p>



<p>Karna tak mampu menahan pergolakan yang terjadi , sang patih dan raja mengajak warga yang masih bisa diselamatkan untuk meninggalkan kerajaan. Namun karena merasa bersalah dengan apa yang terjadi , raja kembali ke kerajaan seorang diri.</p>



<p>Sang Raja menantang kedua patih untuk bertarung dengan posisi raja sebagi hadiahnya. Dengan syarat pertarungan dilaksanakan di benteng istana , disaksikan semua para pengikut patih , dan diiringi oleh kelompok gamelan itu.</p>



<p>Permintaan disanggupi , seluruh pengikut kedua patih berkumpul menyaksikan . benteng istana menjadi dipenuhi oleh orang-orang yang sebelumnya saling bertarung.</p>



<p>Rupanya sang raja memiliki rencana, i tengah pertarungan ia menggeser beberapa batu pondasi dan menggunakan ajian ilmu peremuk bumi untuk menghancurkan benteng dan mengubur semua manusia yang ada disana termasuk dirinya.“ Nenek itu mencoba menyelesaikan ceritanya.</p>



<p>“Lantas mengapa sekarang tempat itu dipenuhi oleh banyak demit nek..?” Tanyaku. “ Penari itu ternyata jelmaan iblis laknat… semua permintaan itu adalah tumbal untuknya, semua warga yang mati karna permintaanya kini menjadi demit,  dan kami hanya bisa menghilangkan rasa sakit bila meminum darah manusia..” Jelasnya.</p>



<p>“ Sekarang ia tinggal di sendang banyu ireng tempat dimana kerajaan itu hancur, dan seorang patih biadab itu menjelma menjadi manusia yang mendirikan desa di ujung hutan ini, ia sudah beberapa kali merubah wujudnya “</p>



<p>Kami segera memikirkan tentang kepala desa, bisa jadi setan patih kerajaan ini yang menjelma menjadi seorang kepala desa untuk mengumpulkan tumbal si demit berwujud penari itu.</p>



<p>“ Terima kasih nek… semoga tenang di alam sana” Ucap Danan sambil melepaskan roh nenek itu yang perlahan menghilang.</p>



<p>Setelah mengetahui kondisi di alas mayit, kami masuk ke dalam hutan yang di kelilingi oleh makhluk halus korban pembantaian yang diceritakan tadi.</p>



<p>“Mas Danan, Demit-demit ini jangan dihabisi… biarkan geni baraloka bertambah besar dulu , biar nanti saya yang menenangkan mereka” Ucap Pak Sardi pada Danan. Terlihat rasa simpatik muncul dari ucapan Pak Sardi setelah mendengar cerita dari hantu nenek tadi.</p>



<p>“ Baik Pak Sardi , kita gunakan geni baraloka seperlunya saja” balas Danan. Kami membaca ajian pelindung dan berusaha meninggalkan demit itu tanpa pertarungan dan terhenti di sebuah sendang yang digenangi air berwarna hitam.</p>



<p>Diatas sendang itu telah berdiri bangunan candi dengan batu berwarna hitam dan sebuah Gong besar yang terletak di tengah sendang. Mataku melihat sekitar , mencari kayu pohon beringin tua yang sudah membatu seperti yang diceritakan Mbah Rusman.</p>



<p>Kami mendekat , namun langkah kakiku terhenti ketika muncuk dua makhluk yang kami kenali. Pak kepala desa , dan Aswangga… .</p>



<p>Dibelakangnya muncul wanita berpakaian sinden lengkap dengan sanggulnya , wajahnya semakin mengerikan ketika tidak terlihat bola mata di lubang matanya.</p>



<p>Tak berhenti sampai di situ , pada sebuah pohon tergantung jasad seorang wanita yang sudah membusuk dengan tubuh yang mengenaskan. Itu jasad Laksmi…</p>



<p>Danan terlihat geram, namun kali ini ia tidak terbakar emosi. “ Cahyo… Kali ini kamu ga akan menghalangiku kan? “ Tanya Danan padaku.</p>



<p>“ Menghalangi? Aku yang akan menghabisi mereka duluan!” Jawabku sambil menerjang setan-setan itu.</p>



<p>(<strong>Bersambung part 7</strong> &#8211; <a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part7/">Pagelaran Tengah Wengi</a>..) </p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part6/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part5 &#8211; Desa Terkutuk</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part5/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part5/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2026 06:45:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[cerita horor gending alas mayit]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4062</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Horor Twitter &#8211; Ini adalah part 5 dari serial cerita horor Gending Alas Mayit. Bagi yang belum membaaca part ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part5 &#8211; Desa Terkutuk" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part5/#more-4062" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part5 &#8211; Desa Terkutuk">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Cerita Horor Twitter &#8211;</strong> Ini adalah part 5 dari serial cerita horor  <strong>Gending Alas Mayit.</strong> Bagi yang belum membaaca part 4, baca dulu ya part 4-nya &gt;&gt;&gt; </p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/">Gending Alas Mayit Part 4</a></strong></p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part3-ikatan-masa-lalu/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 3</a></strong></p>



<p><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part </strong>2</a></p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 1</a></strong></p>



<p><strong>Cerita Horor Twitter</strong></p>



<p><strong>Judul</strong> : Gending Alas Mayit &#8211; Desa Terkutuk</p>



<p><strong>Penulis</strong> : @Diosetta</p>



<blockquote class="twitter-tweet"><p lang="in" dir="ltr">Gending Alas Mayit<br>Part 5 &#8211; Desa Terkutuk<br><br>Penyebab kutukan gending alas mayit , akan terkuak di part ini<a href="https://twitter.com/bacahorror?ref_src=twsrc%5Etfw">@bacahorror</a> <a href="https://twitter.com/IDN_Horor?ref_src=twsrc%5Etfw">@IDN_Horor</a> <a href="https://twitter.com/qwertyping?ref_src=twsrc%5Etfw">@qwertyping</a> <a href="https://twitter.com/malam_kisah?ref_src=twsrc%5Etfw">@malam_kisah</a> <a href="https://twitter.com/Penikmathorror?ref_src=twsrc%5Etfw">@Penikmathorror</a> <a href="https://twitter.com/HorrorTweetID?ref_src=twsrc%5Etfw">@HorrorTweetID</a> <a href="https://twitter.com/horrornesia?ref_src=twsrc%5Etfw">@horrornesia</a> <br><br>ga lupa ngingetin cerita ini juga bisa dinikmati di podcast <a href="https://twitter.com/bagihorror?ref_src=twsrc%5Etfw">@bagihorror</a> <a href="https://t.co/IYruJueqU0">pic.twitter.com/IYruJueqU0</a></p>— Diosetta (@diosetta) <a href="https://twitter.com/diosetta/status/1418027296661786627?ref_src=twsrc%5Etfw">July 22, 2021</a></blockquote> 



<p>Sekumpulan orang datang menghampiri Cahyo dan Paklek. Sepertinya , mereka dari kota yang cukup jauh. “ Paklek , Cahyo… sudah lama sekali ya , dulu kamu masih sekecil ini lho cahyo” Ucap seorang pria yang datang menghampiri rumah Paklek.</p>



<p>Mereka berbincang panjang lebar seolah sedang bernostalgia akan sesuatu. Aku? Aku hanya duduk termenung di ujung ruangan. Cerita sekar mengenai Laksmi sungguh membuatku sangat terpuruk.</p>



<p>Tidak mungkin seorang laksmi yang baik dan ramah bisa mati di tangan anak buah seseorang bernama Aswangga itu.</p>



<p>“Danan… sini lho , tak kenalin sama mas-masku “ Panggil Cahyo dari ruang tamu. Aku menghampiri mereka sambil berusaha menyembunyikan wajah murungku.</p>



<p>“ Saya Danan mas… majikanya Cahyo” ucapku sambil menjabat tangan teman-teman cahyo.</p>



<p>Cahyo segera menoleh dan melemparkan sarungnya ke arahku. “Enak aja… majikan mbahmu , emangnya aku mbok gaji piro?” Jawab cahyo yang mengerti maksud candaanku.</p>



<p>“ wah.. mas danan bisa aja .. saya Ardian , ini Nizar dan Ramto… “ Ucap mereka memperkenalkan diri. Paklek mendekat sambil membawakan minuman yang telah disiapkan Bulek dari dapur.</p>



<p>“Ini.. Diminum dulu, terima kasih lho sudah jauh-jauh mau mampir ke sini” Ucap Paklek menyambut mas ardian dan teman-temanya.</p>



<p>Perbincangan-perbincarang ringan terbentuk diantara kami , hampir sebagian besar merupakan cerita tentang bagaimana paklek dan cahyo waktu masih kecil sempat menyelamatkan mereka dari bahaya di pabrik gula.</p>



<p>“Cahyo , Paklek… kami sudah mencoba mencarikan informasi semampu kami, dan berujung kepada seseorang bernama Mbah Rusman” Ucap mas ardian. “Katanya dulu dia warga desa windualit yang bertahan dari kutukan yang sedang kalian hadapi itu”</p>



<p>Sebagian besar, kami sudah mengetahui cerita mas ardian lewat telepon , namun dengan bertemu langsung , cerita mereka tentang mbah rusman terasa lebih menyedihkan.</p>



<p>“Sebentar mas ardian , sebelum dilanjutin ceritanya biar saya panggil sekar dulu “ Ucap cahyo memotong cerita mas ardian.</p>



<p>Sambil Mas Ardian melanjutkan ceritanya, Mas Nizar masuk kedalam mobil dan mengambil sebuah benda yang terlihat cukup besar. “Nah… ini barangnya “ ucap mas adrian membukakan sebua bungkusan yang berisi sebuah gong kecil dan pemukulnya.</p>



<p>“ Menurut cerita mbah rusman , pemukul ini yang disebut dengan tabuh waturingin.. namun ini tidak cukup untuk satu warga desa.</p>



<p>kalian harus membuatnya dari kayu pohon beringin tua di sebuah sendang di hutan” Cerita mas Ardian. Paklek terlihat terfokus pada benda itu dan memperhatikan energi yang keluar darinya.</p>



<p>“Sendang banyu ireng… saya pernah ke sana paklek” Ucapku pada paklek. Aku mengingat sebuah tempat yang digenangi air berwarna hitam di dalam Alas Mayit.</p>



<p>“ ya sudah mas ardian, benda ini kami terima ya.. terima kasih banyak” Ucap paklek kepada mas ardian. Terlihat paklek sengaja memotong ceritaku agar mereka tidak terlalu terjun ke dalam permasalah mengerikan ini.</p>



<p>“ Iya mbah, kami sangat senang bisa membantu” Ucap Mas Ranto menggantikan Mas Ardian yang sedang berfikir.</p>



<p>“Paklek.. mas danan… cahyo , kami tau ini tidak mudah tapi kalau bisa selesaikan ini sebelum purnama berikutnya, sebelum kutukan itu menyerang mbah rusman lagi” Pinta mas ardian dengan wajah yang serius.</p>



<p>Kami mengerti maksud mas ardian dan berjanji menyelesaikan ini secepat mungkin.</p>



<p>“ Oiya paklek.. mohon maaf, Korek pemberian paklek saya serahkan kepada mbah rusman dan cucunya.. safa pikir, mungkin itu bisa membantu mereka” Ucap mas ardian lagi.</p>



<p>“Yang kamu lakukan sudah benar, korek itu sudah seharusnya berada di tangan mereka yang membutuhkan” Balas paklek sambil menepuk mundak mas ardian.</p>



<p>Setelah perbincangan serius itu.. kami berpisah , Cahyo mengajak teman-temanya itu melihat pabrik gula tempat kerjanya yang sudah direnovasi dan sore harinya mereka sudah berpamitan pergi.</p>



<p>“ Gak nyangka, kamu punya teman-teman sehebat itu” Ucapku pada cahyo. “ iya donk, tapi sayangnya temanku yang paling hebat lagi galau gara-gara kehilangan perempuan.. “ Cahyo menyindirku , namun aku tahu maksud baiknya untuk menyemangatiku.</p>



<p>“ Panjul, Danan, Sekar… Kita kumpul di pendopo” Teriak paklek sambil berjalan ke halaman belakang.</p>



<p>Kami menyusul paklek ke pendopo dan duduk lesehan sekenanya. Suara pohon yang ditiup Hembusan angin malam memecah keheningan di halaman belakang rumah.</p>



<p>“Paklek sudah mampir ke desa windualit…” Paklek berbicara dengan wajah serius. Kami saling menatap , sudah jelas paklek tidak pernah menginggalkan desa ini, Tapi kenapa paklek bisa berkata seperti itu.</p>



<p>“ Paklek ke sana dalam raga sukma, Warga disana masih selamat, namun banyak yang terbaring tak berdaya seolah kehilangan rohnya..</p>



<p>Di sana seseorang, mungkin itu adalah ayahnya sekar… ia terlihat sibuk menjaga tubuh korban-korban itu siang dan malam” cerita paklek sambil menoleh pada sekar.” Sekar terlihat menghela nafas , seolah lega mendengar kabar mengenai ayahnya.</p>



<p>“ Danan… walaupun kemarin eyang widarpa terlihat acuh , ternyata saat ini ia sedang berkeliling alas mayit mencari sesuatu , temui dia sebelum kamu masuk ke dalam hutan itu” Perintah Paklek.</p>



<p>“ Baik Paklek “ aku mengerti maksud paklek, eyang widarpa memang sama sekali tidak bisa ditebak.</p>



<p>“o iya, dan satu lagi… ini peninggalan nyai suratmi , tolong berikan pada eyang nanti “ Paklek menyerahkan sebuah kalung kuningan seperti yang biasa dipakai prajurit-prajurit jaman dulu.</p>



<p>Aku segera mengambil dan menyimpanya. Sebenarnya aku penasaran , apa reaksi eyang widarpa saat menerima ini.</p>



<p>Paklek menutup perbincangan kami dengan mengajarkan sebuah mantra penyembuh kutukan, termasuk kepada sekar. Paklek bilang, mungkin nanti ayah sekar akan membantu kami di alas mayit, jadi sekar harus bisa membantu warga untuk menahan kutukan yang diterima warga desa.</p>



<p>Paklek tidak ikut, ia masih bertugas menjaga pabrik gula yang ia kelola. Namun Paklek bilang bahwa ia sudah meninggalkan sesuatu untuk membantu kami di sana.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Kami berganti angkutan beberapa kali sampai akhirnya kami turun di sebuah persimpangan yang terdapat jalan setapak menuju hutan hutan.</p>



<p>“ Dari sini masih berapa lama?” Tanya cahyo pada sekar. “ kalo jalanya cepet, mungkin bisa 2-3 jam” Jawab sekar.</p>



<p>“ Ya udah, kalo sekar capek bilang ya… nanti mas gendong” Goda cahyo dengan memasang wajah genit yang kususul dengan pukulan di kepalanya.</p>



<p>“ Inget , kita mau nolong orang.. jangan sampai ilmumu ga bisa dipake gara-gara kualat” Aku memperingatkan cahyo.. “iya.. mudeng kok, maksudnya biar ga terlalu tegang aja” jawab cahyo.</p>



<p>Aku tahu benar, cahyo memang tidak mungkin berbuat aneh aneh , daritadi ia memang terus memperhatikan sekar yang terlihat cemas selama perjalanan.</p>



<p>Kami melalui hutan-hutan yang rindang, sesekali kami beristirahat di pinggir sungai untuk sekedar menarik nafas dan mencuci muka sampai akhirnya kami sampai di desa sekar tepat sebelum malam.</p>



<p>Aku sedikit bernostalgia dengan desa ini, sudah ada kemajuan saat aku tersesat disini listrik masih belum menerangi desa ini. Selain itu tidak banyak yang berbeda , selain sebuah rumah yang terlihat cukup besar di tengah-tengah desa. Mungkin saja itu rumah juragan kaya yang bernama Aswangga.</p>



<p>Beberapa orang terlihat berkumpul di balai desa. Sekar segera berlari menuju kesana. “ Bapak! Sekar pulang” teriak sekar yang bergegas menemui ayahnya di tempat itu.</p>



<p>“Sekar…” Ucap ayah sekar yang segera memeluknya , sepertinya ia juga sadar dengan keberadaanku. Aku dan cahyo segera menyusul untuk menemui ayahnya sekar itu.</p>



<p>“ Mas Danan… kamu bener mas danan kan?” ucap pak sardi dengan senyuman di wajahnya. “ Iya Pak Sardi , ini saya.. dan ini teman saya cahyo” jawabku sambil memperkenalkan cahyo.</p>



<p>Sekar menceritakan tentang bagaimana dia diselamatkan oleh cahyo dan dipertemukan denganku, termasuk mengenai mbah rusman.</p>



<p>“Wah ada tamu dari jauh nih… “ seorang pria paruh baya datang menghampiri kami. “Eh pak kades.. lama sekali ndak ketemu “ ucapku menyambutnya.</p>



<p>Pak Kades dan Pak Sardi menceritakan panjang lebar mengenai apa yang terjadi di tempat ini dan bagaimana bisa banyak warga terbaring tak berdaya di tempat ini.</p>



<p>“ Mas Danan, Mas Cahyo ayo mampir ke rumah dulu… nanti tidur di rumah saya saja, ada kamar kosong disana” Ucap Pak Sardi.</p>



<p>“ Waduh ga usah repot-repot pak , nanti saya tidur di rumah singgah aja.. mau nostalgia “ Balasku pada pak sardi . “ Pak Sardi , Istirahat dulu… warga yang terkena kutukan biar kami yang mengobati” ucap Cahyo kepada pak sardi.</p>



<p>Ternyata dari tadi cahyo memperhatikan kondisi pak sardi yang sudah terlihat sangat kelelahan, rasa capek kami selama perjalanan sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding yang pak sardi rasakan.</p>



<p>“Bener nih, kalian habis perjalanan jauh lho.. pasti capek” Pak sardi memastikan pada kami. “bener pak.. Sekar , tolong antar Bapak ke rumah ya.. suruh istirahat, biar kami ditemani sama pak kades.. “ Perintahku pada sekar.</p>



<p>Sekar mengangguk dan mengerti maksud kami , memang wajah kami terlihat serius setelah memasuki desa ini. Tak ada lagi candaan keluar dari mulut cahyo.</p>



<p>“Pak Kades.. saya mohon ijin memeriksa warga desa” Ucap cahyo sambil mepersiapkan peralatan dari ranselnya. “Monggo mas… tapi jangan memaksakan diri ya” Jawab pak kades yang di susul dengan beberapa makanan ringan dan teh hangat yang diantar oleh warga desa.</p>



<p>Kami memeriksa seluruh warga yang terbaring disini , jelas terlihat.. roh mereka tidak berada pada tubuhnya, namun sebuah kekuatan menjaga agar tidak ada entitas lain yang masuk ke tubuh mereka. Mungkin itu adalah perbuatan pak sardi.</p>



<p>Kami hanya membacakan mantra pelindung untuk menahan serangan-serangan yang mungkin datang ke tempat ini.</p>



<p>“Danan… kita harus beresin ini semua , ini keterlaluan” Ucap Cahyo padaku. “ Sabar jangan gegabah… malam ini kita persiapan dulu , malam ini bukan bulan purnama.. seharusnya aman” aku mencoba menahan emosi cahyo.</p>



<p>Setelah selesai memeriksa warga, kami berpamitan ke rumah singgah yang terletak tak jauh dari balai desa. Setelah membereskan semua peralatan , kami melakukan persiapan untuk esok malam.</p>



<p>“ Cahyo.. tak coba cek dulu, paklek ninggalin apa di sini” ucapku pada cahyo sambil memasang posisi meditasi. “ ya sudah sana… aku jagain” balas cahyo.</p>



<p>Aku memisahkan sukmaku dari raga, sebuah aura kelam terlihat mengelilingi hampir seluruh sudut desa ini, dan benar sumbernya dari alas mayit. aku mencoba berkeliling desa dan mencari tahu lebih dalam mengenai aura kelam ini.</p>



<p>Dari perbatasan desa dan alas mayit, terlihat nyala api berwarna putih yang menambah besar secara perlahan. Geni Baraloka , salah satu ilmu terhebat milik pakde.. dengan api ini, kami bisa menenangkan roh-roh penasaran yang belum tenang tanpa harus bertempur, Tapi aku ragu besar api ini akan cukup besar untuk melawan seisi penghuni hutan ini.</p>



<p><br>Belum sempat menemukan petunjuk yang berarti , perlahan terdengar suara mendengung dari dalam hutan. Itu adalah suara gong yang dipukul pelan dan disusul dengan suara gamelan, persis seperti apa yang kudengar saat sekar kesurupan.</p>



<p>Tapi.. bukanya malam ini bukan purnama?</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Layaknya iring-iringan kerajaan , dari dalam hutan muncul kereta kencana bersama dengan sinden yang melakukan tarian-tarian gemulai. Bahaya semakin kurasakan, segera aku menarik sukmaku kedalam tubuh untuk memberitahu cahyo dan pak sardi.</p>



<p>“Cahyo… sepertinya kita harus bersiap , suara gamelan muncul dari dalam hutan.. “ aku memberi tahu cahyo dengan apa yang kulihat.</p>



<p>“ tapi sekarang bukan bulan purnama? “ bantah cahyo.</p>



<p>“ Sepertinya mereka merasakan ancaman, iring-iringan kereta demit itu juga mengarah kesini.. pokoknya siap-siap” perintahku Kami mengambil tabuh waringin dan gong kecil yang kami bawa dan keluar dari rumah singgah.</p>



<p>Suara gamelan sudah terdengar dengan semakin jelas, semua warga termasuk pak sardi juga serentak keluar dari kediamanya dan berkumpul ke balai desa.</p>



<p>“ Mas danan, gimana ini.. jangan sampai ada korban lagi” Ucap pak kades yang menghampiri kami. “Tenang pak , tidak akan kami biarkan.. “</p>



<p>aku menenangkan pak kades sambil memperhatikan gelagat warga mencari apakah ada yang terpengaruh suara gending itu. “Pak Sardi… Sekar ? Mana sekar?” Cahyo yang tidak menemukan keberadaan sekar menanyakan kepada pak sardi yang datang bersama warga.</p>



<p>“ Lah nak cahyo, tadi sekar pamit mau mengantarkan makanan untuk kalian” ucap pak sardi yang mulai cemas.</p>



<p>Insting cahyo memaksanya untuk berlari ke balai desa, dan mendobrak pintu kayu yang tertutup disana. “ Danan! Disini!” teriak Cahyo memanggilku. Aku berlari dan segera memperhatikan apa yang dilihat oleh cahyo.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Di tengah-tengah warga yang terbaring , Sekar menari dengan gemulai mengikuti irama gamelan dan mengelilingi warga yang terkena kutukan. “ Sekar , lawan sekar! “ teriak pak sardi yang mencoba menghentikan anaknya itu, namun itu semua sia-sia.</p>



<p>Pak sardi terpental dengan kekuatan besar yang memancar dari tubuh sekar, sekar menoleh dengan senyum mengerikan di wajahnya. “ satu persatu kalian akan mati&#8230; tidak ada tempat bagi kalian untuk lari “ suara mengerikan terdengar dari mulut sekar.</p>



<p>cahyo berlari mendekat dan memukul gong dengan tabuh waringin pemberian mbah rusman. Suara mendengung panjang terdengar ke seluruh penjuru ruangan.</p>



<p>Tarian sekar sempat terhenti.. ia terjatuh dan memuntahkan cairan berwarna hitam. Sekar mencoba menari lagi , dan dihentikan dengan suara gong yang dipukul oleh cahyo.</p>



<p>Sekar yang kesurupan terlihat semakin kesakitan, namun samar-samar terlihat bayangan wanita yang hampir terpisah dari tubuh sekar.</p>



<p>“ Laksmi… roh laksmi yang merasuki sekar!” Teriaku pada pak sardi. Pak sardi mengambil posisi dan membacakan doa-doa untuk menghentikan pergerakan demit yang ada di tubuh sekar.</p>



<p>Aku teringat geni baraloka yang ditinggalkan paklek, sebuah mantra pemanggil kuucapkan untuk menarik sebagian dari api itu dan melemparkan kepada sekar. Sekar yang merasa kepanasan mulai terjatuh dan kehilangan kesadaran.</p>



<p>Dihadapanku ada sesosok roh wanita berpakaian kebaya memandangku dengan wajah yang pucat. Aku mengenalnya… itu Laksmi. Suara gamelan terdengar semakin keras , Demit berwujud laksmi itupun mendekat hingga menembus tubuhku. Aku kehilangan kesadaran, namun sebuah penglihatan muncul di kepalaku.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Terlihat seorang laki-laki berbicara dengan laksmi. “ Lihat.. ini foto orang tuamu? “ aku pastikan mereka akan di hukum mati setelah ini. Ucap orang itu mengancam laksmi.</p>



<p>“Jangan Aswangga… tolong, wis cukup kamu mengurung mereka bertahun tahun.. ” Laksmi memohon sambil menangis. “ kesalahan mereka ra iso dimaafke, kecuali… kowe arep nuruti semua perintahku” Aswangga mencoba mengintimidasi laksmi.</p>



<p>“Apa…? Apa yang kamu mau?? Tak lakuin semua .. asal kamu berjanji membebaskan mereka” Ucap laksmi sambil menutup wajahnya menahan air mata yang menetes di pipinya.</p>



<p>“ Aku membangun sebuah rumah di sisi belakang hutan… temui aku di sana setiap malam bulan purnama” Perintah aswangga sambil melemparkan foto kedua orangtua laksmi dan meninggalkanya.</p>



<p>Sebuah rumah kecil terlihat di sisi belakang hutan, sebuah lampu minyak sudah menyala dengan terang di dalam. Seorang wanita berjalan dengan ragu menuju rumah itu, ia sempat terhenti di depan pintu , namun rasa sayangnya kepada kedua orang tuanya memaksanya untuk masuk.</p>



<p>“Aku sudah di sini… apa yang kamu mau?” Tanya laksmi. Aswangga tidak menjawab , ia hanya berjalan ke arah pintu dan menguncinya.</p>



<p>“Harusnya kamu sudah tau apa yang aku mau…” Ucap aswangga sambil menyentuh pipi Laksmi. Laksmi mundur , namun Aswangga menahan kedua tanganya…</p>



<p>Aku tak sanggup melihatnya , bibir mungil laksmi di lumat dengan paksa oleh aswangga .</p>



<p>Tangan biadab itu meraba ke seluruh tubuh laksmi dengan penuh nafsu. Laksmi mencoba melawan, namun tamparan keras menghantam ke pipinya. “Jangan coba melawan! Kecuali.. kamu mau orang tuamu pulang tanpa nyawa” Ancam aswangga.</p>



<p>Laksmi ketakutan dan tak berani melawan , ia hanya pasrah saat kesucianya direnggut dan tubuhnya di nikmati oleh aswangga. Terlihat air mata laksmi tak henti-henti membasahi tempat itu.</p>



<p>Setiap malam purnama, laksmi harus melayani nafsu bejat Aswangga. Sampai akhirnya ia merasakan hal yang aneh pada tubuhnya. Laksmi mengandung anak dari aswangga…</p>



<p>Beberapa kali laksmi memberi tahu aswangga secara diam diam, namun Aswangga menentangnya tidak percaya. Sampai akhirnya , ia mengatakanya di depan warga desa.</p>



<p>“ Ini anakmu mas! Anakmu!” Ucap laksmi yang kepada aswangga yang dibalas dengan pukulan keras yang menyebabkan laksmi terjatuh. Melihat kejadian itu, warga berkerumun dan anak buah aswangga segera menyusul menghampiri aswangga.</p>



<p>“ Perempuan brengsek! “ Aswangga memukuli laksmi tak hanya sekali, setiap ia akan berbicara aswangga menghentikanya dengan menghajarnya. Tidak ada satupun warga yang berani percaya dengan kata-kata laksmi , temasuk istri aswangga.</p>



<p>“Uwis , Pateni wae” (sudah, bunuh saja) Teriak salah seorang anak buah Aswangga memanaskan emosi warga. “Jangan pak , bicarakan baik-baik dulu” ucap salah seorang warga ,Sekali lagi pukulan yang keras menghantam laksmi, dan wanita itu hanya diam berlutut sambil melindungi janin di perutnya.</p>



<p>“ Sudah pak , Sudah… jangan sampai ada yang mati, kalau terpaksa.. usir saja dia dari desa ini” Ucap kepala desa yang merasa takut dengan pengaruh Aswangga dan anak buahnya yang terlihat bengis.</p>



<p>“Baik… Bawa dia! Usir dia dari desa ini!” Perintah Aswangga kepada anak buahnya. Tiga orang bertubuh besar dengan kasar menarik tubuh Laksmi menyeretnya membawanya keluar dari desa.</p>



<p>Di tengah perjalanan, salah seorang anak buah aswangga tergoda dengan tubuh Laksmi yang terlihat dari bajunya yang terkoyak.</p>



<p>“ Gowo ning alas wae piye?” (Bawa ke hutan aja gimana?) ucap salah seorang anak buah aswangga sambil memberikan isyarat kepada teman temanya. “Wah… pinter kowe “ Ucap temanya sambil tersenyum.</p>



<p>Laksmi dipaksa berjalan menyusuri hutan di perbatasan desa itu, sampai di kedalaman hutan anak buah aswangga melucuti pakaian laksmi hingga tak sehelipun benang ada ditubuhnya.</p>



<p>Laksmi menangis sejadi-jadinya melindungi tubuhnya , satu persatu anak buah aswangga memperkosa laksmi dengan kejam… Pukulan demi pukulan menghantam tubuh laksmi hanya untuk memuaskan nafsu anak buah aswangga yang biadab itu.</p>



<p>“ Emang dasar perempuan goblok! Orang tuamu itu udah mati! “ Ucap salah satu anak buah aswangga. Ditengah tangisanya, laksmi mencoba melawan. “ Gak mungkin, Aswangga sudah janji tidak akan membunuh mereka!” Teriak laksmi.</p>



<p>“ Bukan Aswangga yang membunuh mereka… warga desa kesayanganmu itu yang membuat kedua orang tuamu mati!” lanjut anak buah aswangga sambil tertawa.</p>



<p>“ Ibumu itu , selingkuh dengan kepala desa… dan ayahmu menghamili bocah dibawah umur saat di kota”</p>



<p>“ ayahmu dihukum rajam oleh warga dan kepala desa , yang akhirnya melarikan diri ke hutan ini yang akhirnya gantung diri , ibumu tak berani menahan malu.. dia menenggalamkan diri di sungai”</p>



<p>Aku tidak percaya akan semua cerita ini, warga desa windualit yang begitu ramah ternyata begitu kejam terhadap laksmi dan kedua orang tuanya. Aku emosi, jika ini benar .. aku harus membuat perhitungan pada aswangga , pak kades dan warga desa..</p>



<p>“ Brengsek kalian! Bajingan kalian warga desa windualit! Aku akan membalas semua ini… “ Teriak laksmi yang dibalas dengan jambakan anak buah aswangga yang masih ingin melampiasakan nafsunya.</p>



<p>“ Dendam! Aku dendam! Kalian harus mati!!” Teriak laksmi dengan wajah yang putus asa.</p>



<p>Setelah puas menyiksa dan memperkosa tubuh laksmi, anak buah aswangga meninggalkan laksmi tergeletak begitu saja.</p>



<p>Hari semakin malam… tak ada satupun cahaya masuk ke hutan itu. Laksmi tersadar dan menyeret tubuhnya sedikit demi sedikit.</p>



<p>Di tengah rasa dendam yang menyelimutinya, ia sampai ke sebuah sendang yang digenangi dengan air yang berwarna hitam. Bau busuk mengelilingi tempat itu. “ mati… warga desa harus mati…” bisik laksmi di setiap langkahnya.</p>



<p>Suara gemericik air terdengar, riak air muncul dari genangan air yang berwarna hitam itu. Sebuah kepala dengan sanggul di kepala muncul dari dalam sendang, namun tak ada bola mata di wajah itu. Makhluk itu berdiri dan semakin mendekat ke laksmi.</p>



<p>“ khikhikhi…. Aku iso nulungi kowe mateni wong wong kuwi” (aku bisa nolongin kamu membunuh orang-orang itu) ucap makhluk itu pada laksmi. Laksmi memandang setan itu, setelah semua yang iya lalui , wajah seram setan itu sama sekali tidak membuatnya takut.</p>



<p>“ Tak wenehi opo wae.. sing penting warga desa mati!” (saya kasi apa saja.. yang penting warga desa mati!) Ucap Laksmi kepada makhluk itu.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Suara gong berbunyi , penglihatanku menjadi kabur.. Mataku kembali melihat orang-orang di balai desa, Aku masih terbawa emosi..</p>



<p>selain itu roh laksmi masih berdiri di depanku, dan wajahnya tidak lebih dari sejengkal dari wajahku. “ Kamu sudah tau semuanya danan… kamu masih mau membantu warga desa yang biadab itu” ucap demit itu kepadaku.</p>



<p>Wajahku merah padam, terlihat di pintu ruangan pak kades berdiri dengan seseorang yang dijaga oleh beberapa anak buahnya.. Itu pasti Aswangga… aku merapalkan ajian lebur saketi pada tanganku dan bersiap menyerang mereka.</p>



<p>“ Balaskan dendamku danan! Balaskan rasa sakitku! Dan jadi lah pangeranku di Alas Mayit!” Ucap Roh laksmi diikuti dengan tawanya yang mengerikan. </p>



<p>(Bersambung Part 6 &#8211; Geni Baraloka) &gt;&gt;&gt; <strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part6/">Gending Alas Mayit Part6</a></strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part5/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part4 &#8211; Tabuh Waturingin</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2026 00:40:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[cerita horor gending alas mayit]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4059</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Horor Twitter &#8211; Ini adalah part 4 dari serial cerita horor Gending Alas Mayit. Bagi yang belum membaaca part ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part4 &#8211; Tabuh Waturingin" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/#more-4059" aria-label="More on Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part4 &#8211; Tabuh Waturingin">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Cerita Horor Twitter &#8211;</strong> Ini adalah part 4 dari serial cerita horor  <strong>Gending Alas Mayit.</strong> Bagi yang belum membaaca part 3, baca dulu ya part 3-nya &gt;&gt;&gt; </p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part3-ikatan-masa-lalu/">Gending Alas Mayit Part 3</a></strong></p>



<p><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part </strong>2</a></p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 1</a></strong></p>



<p><strong>Cerita Horor Twitter</strong></p>



<p><strong>Judul</strong> : Gending Alas Mayit &#8211; Tabuh Watuingin</p>



<p><strong>Penulis </strong>: @Diosetta</p>



<p></p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-twitter wp-block-embed-twitter"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true"><p lang="in" dir="ltr">“ Kalian tau musik gamelan? Sebuah musik dengan alunan nada yang mampu membuat pendengarnya merasa nyaman.. Namun bagaimana kalau ada musik gamelan yang membawa kutukan?<br>Cerita ini adalah kiriman dari teman lama saya yang bernama cahyo.. <a href="https://t.co/ncBLsHRfeb">pic.twitter.com/ncBLsHRfeb</a></p>&mdash; Diosetta (@diosetta) <a href="https://twitter.com/diosetta/status/1416553908336349185?ref_src=twsrc%5Etfw">July 18, 2021</a></blockquote><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script>
</div></figure>



<p>Desa windualit , sebuah desa di pedalaman kaki gunung merapi yang menyimpan banyak misteri..</p>



<p>Sekilas desa ini hanya terlihat seperti desa biasa seperti desa pada umumnya, namun siapa sangka.. saat ini terdapat kutukan yang menyerang desa itu Ketika malam purnama tiba seluruh warga sudah mengurung diri dirumah masing-masing , membaca doa dan menutup telinga berharap saat itu bukan giliran mereka.</p>



<p>Setelah matahari terbenam sayup-sayup terdengar suara gamelan dari dalam hutan yang disebut Alas mayit… Satu dari antara warga desa akan menari kesetanan tanpa henti , memaksa tubuhnya untuk memutar seluruh sendi-sendi tubuhnya hingga patah dan berlari menuju hutan.</p>



<p>Keesokan harinya jasad orang itu akan muncul di mulut hutan dalam kondisi yang tidak utuh.</p>



<p>Seluruh daya upaya sudah dilakukan, namun setiap tindakan malah menimbulkan korban yang semakin banyak.. Kutukan ini bernama… <strong>Gending Alas Mayit</strong>…</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Gila.. ini cerita kiriman dari cahyo , sangat mengerikan kalau mengetahui kisah ini benar-benar terjadi. Buat para pendengar , saat ini Cahyo , Paklek dan teman-temanya sedang membantu untuk menghentikan kutukan gending alas mayit ini.</p>



<p>Yang saya kenal , mereka adalah orang-orang hebat dan selalu membantu siapa saja yang membutuhkan… termasuk saya yang sempat ditolong oleh mereka.</p>



<p>Apabila mereka sampai membutuhkan bantuan, tandanya ini dalah sesuatu yang gawat..   jadi apabila ada yang mengetahui petunjuk mengenai Gending Alas Mayit silahkan hubungi saya di hotline telpon atau di media sosial..</p>



<p>Oh iya, satu lagi yang penting .. mereka mencari petunjuk mengenai Tabuh Waturingin .. Untuk malam ini sekian dari saya, radio tengah malam undur diri… “</p>



<p>“ Oke.. close!” Ucap dika dari luar ruangan. Aku membuka headsetku , menarik nafas sebentar dan segera keluar ruangan. “Gua bikin kopi dulu ya dik , kalo ada telpon masuk tolong terima dulu…” ucapku. “beres .. nyantai dulu sana” jawab dika.</p>



<p>Aku pergi ke dapur , mengambil gelas dan menyeduh kopi hangat . Sekilas kejadian di pabrik gula terlintas kembali di pikiranku. Seandainya tidak ada Cahyo dan Paklek , entah bagaimana nasib kami saat ini.</p>



<p>Sebuah aroma kopi sangat mampu menghilangkan lelahku seharian ini. Mungkin sudah belasan tahun semenjak aku bertemu mereka , saat itu cahyo hanya bocah smp yang masih sering bermain dengan monyetnya. Aku penasaran, seperti apa dia sekarang?</p>



<p>“ Gimana dik , ada yang nelpon?” Tanyaku sambil menghampiri dika. “ada, tapi rata-rata gak serius.. nawarin jasa lah , minta alamat desa lah..” Jawab dika. “ya sudah , kita juga udah tau bakal begini.. yang penting usaha dulu aja” Lanjutku.</p>



<p>Suara langkah kaki terburu-buru terdengar menuju tempat ini yang berujung pada pintu ruangan yang dibuka dengan buru-buru.</p>



<p>“Ardian.. woi!” Teriak seseorang … tidak.. ada dua orang lagi menyusul lagi dari belakang. Itu Didi , Ranto, dan Nizar!</p>



<p>“Eh.. kalian, ngapain kalian ke sini? Buru-buru lagi… dikejar debt collector lu?” Tanyaku “nggak lah… gua denger siaran lu tadi, itu bener cerita dari Cahyo ? gua langsung gas kesini waktu tau dia yang minta tolong” Tanya nizar.</p>



<p>“ iya… cahyo yang dulu dipanggil Panjul” jawabku “Pokoknya kita harus bantuin dia , kita utang nyawa sama dia… “ Lanjut Didi. Dika terlihat sedang menerima telepon , kali ini cukup panjang semoga saja ada informasi mengenai Kutukan itu.</p>



<p>“ eh gua bikin kopi dulu ya… “ Ucap didi sambil menuju ke dapur. “ok , sekalian bikinin juga nih buat dua kurcaci” jawabku “beres…” Kami santai sejenak , terlihat nizar dan Ranto sibuk dengan Hpnya. Sepertinya mereka juga mencari informasi melalui internet dan media sosial.</p>



<p>“ Ar.. kalau info yang gua dapet, tabuh itu berarti pemukul gamelan ya?” Tanya Nizar. “Bisa jadi , kalo bener berarti emang berhubungan sama suara gamelan itu… tapi pasti ada yang membuat tabuh itu jadi spesial” jawabku. “Waturingin … itu bisa jadi nama tempat” ucap Ranto.</p>



<p>Kami berdiskusi cukup lama namun tak ada gunanya, semua yang keluar dari mulut kami hanya dugaan saja. “ Ardian.. ini tadi ada yang nelpon lagi , kali ini kayaknya beneran…” Ucap dika menghampiriku. “ Ada info apa dik?” tanyaku.</p>



<p>“Sebenernya ga detail… yang nelpon seorang perempuan ngaku namanya Ismi , dia cuman bilang kalau mau tau tentang tabuh waturingin dan gending alas mayit bisa datang ke desaku di selatan pulau jawa” Cerita Dika.</p>



<p>“ Yah… kalau Cuma begitu bisa jadi orang iseng yang mau ngerjain kita” ucap Ranto dengan pesimis. “tapi… terakhir dia ngomong, salam juga buat cowo yg sering ngikutin ardian.. nandar” lanjut dika.</p>



<p>Aku melihat dika dengan serius , terlihat kedua temanku lainya menatap curiga kepadaku. “Gimana dia bisa tau hantu nandar masih ngikutin gua?” Tanyaku pada dika. “Gua ga tau dik, bisa jadi dia emang tahu tentang hal gaib…</p>



<p>makanya gua sampein ke elu” Ucap dika sambil menyerahkan kertas tertulis alamat desa di selatan pulau jawa.</p>



<p>“ Ardian… setanya Nandar masih ngikutin elu?” ucap Nizar sambil berbisik. “iya… tapi ya udahlah, ga ganggu ini..”ucapku.</p>



<p>Suasana berubah menjadi hening , kami sibuk dengan hp masing-masing sampai terdengar suara jendela yang di hantam dengan keras. Kami berlari menghampiri jendela, tidak ada satupu hal yang aneh hanya angin kencang berhembus dari luar.</p>



<p>Namun saat akan kembali mendadak listrik seluruh ruangan mati. “Dik.. mati lampu?” Teriaku sambil menyalakan senter dari handphoneku. “Sebentar gua cek…” jawabnya .</p>



<p>Kami kembali duduk di sofa menunggu kabar dari dika, namun sekali lagi terdengar suara benda keras menghantam jendela. Namun kali ini tidak hanya itu…</p>



<p>Sayup-sayup terdengar suara gamelan , entah darimana asal suara itu.. “ Ardian.. itu suara dari mana? Komputer lu belum mati?” Tanya Nizar. “listrik mati Nizar… gimana komputer bisa nyala? “ Jawabku</p>



<p>Aku mencari asal suara gamelan itu , namun sama sekali tidak ada petunjuk. Ditengah gelapnya ruangan, terdengar suara pecahan kaca dari dapur… “Didi!&#8230; dia masih di dapur!” Teriak Ranto.</p>



<p>Kami segera bergegas berlari menghampiri Didi , namun suara gamelan terdengar semakin keras ketika kami mendekat ke sana.</p>



<p>“ Ada apa Di??” aku menyapa didi yang terlihat membelakangi pintu dapur. Gelapnya ruangan membuat suasana semakin mencekam. </p>



<p>Didi menoleh , kami menyorotnya dengan cahaya lampu dari hanphone. Namun yang terlihat sungguh mengerikan , sebuah gelas kaca pecah tergenggam di tanganya , ia mengangkat dan memasukan ke dalam mulutnya yang sudah bercucuran darah.</p>



<p>Mata didi melotot dengan tajam, memandang kami sambil melumat pecahan kaca itu.</p>



<p>“Di.. jangan di! Stop di!” Ucap Nizar yang segera menghentikan tangan didi. Aku dan ranto menyusul nizar , menarik didi dan menahanya di lantai namun tenaganya terlalu keras..</p>



<p>Didi berdiri membelakangi tembok sambil tetap menggengam pecahan kaca ditanganya. “ Kalian tidak usah ikut campur!!” Didi berbicara dengan suara yang mengerikan. Suara gamelan terdengar semakin kencang.</p>



<p>“Ini peringatan! Gending Alas mayit juga akan menghampiri kalian jika kalian ikut campur!” Ucap makhluk itu lagi. Setan itu tertawa dengan keras , Nizar dan Ranto terlihat ketakutan di ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya kecil..</p>



<p>“Ardian… gimana nih, kalo gini terus Didi bisa celaka” Ucap nizar. Aku berfikir sejenak, teringat korek api pemberian paklek masih tersimpan di tasku. “ Ranto , Nizar.. tahan Didi sebisa kalian” Perintahku pada mereka.</p>



<p>Aku segera berlari ke ruangan rekaman , mencari tasku dan segera membawa kembali ke ruangan dapur. Terlihat Ranto dan Nizar kewalahan menahan Didi. Sebuah korek api dengan ukiran kuno kukeluarkan dari tas, pemantiknya cukup keras namun aku tetap berhasil menyalakanya.</p>



<p>“Nizar .. mundur” ucapku pada nizar yang masih menahan Didi. Terlihat dari sudut-sudut ruangan makhluk halus bermunculan , begitu juga Nandar yang ada di belakangku. “singkirkan!! Singkirkan benda itu!” ucap Didi meringkuk di ujung ruangan.</p>



<p>Makhluk itu terganggu dengan cahaya dari api ini. perlahan terlihat sosok makhluk bertubuh serba hitam mengenakan pakaian sinden keluar dari tubuh didi.</p>



<p>“ Ini peringatan! Atau kalian juga akan mati!” Ucap makhluk itu pergi menjauh dari ruang yang diselimuti cahaya korek ini.</p>



<p>Suasana mulai tenang disusul dengan listrik yang mulai menyala. Kami membopong didi dan membawanya ke ruang tamu. “Dik.. tolong P3K” Ucapku pada dika. “Ini.. itu didi kenapa?” tanya dika sambil menyerahkan kotak obat.</p>



<p>“ Kesurupan… kayaknya urusan yang kita lakuin ini benar-benar bahaya” jawabku. “ Tapi kenapa didi yang langganan kesurupan ya?” Tanya dika dengan polos. Kami menoleh ke arah secara serentak seolah setuju dengan ucapanya dika.</p>



<p>“Iya Di.. kok elu melulu yang kesurupan? Kenapa sih lu?” tanyaku. “aduh… mana gua tau, besok besok gantian lu pada aja… gua ikhlas!” Jawabnya dengan wajah yang menahan sakit. “ Dih ogah… amit-amit”Jawab Ranto sambil mengikatkan perban di tangan Dika.</p>



<p>“Besok gua mau coba nyamperin lokasi yang dikasi dika tadi… siapa tau bisa ada petunjuk” Ucapku. “ Gua ikut… pokonya gua bantu sampai selesai “ucap nizar “ Iya kita semua ikut…” sambung didi juga.</p>



<p>“Lu udah babak belur kayak gini… mendingan standby aja di sini sama dika… biar Gua, Nizar, sama Ranto yang ke sana” ucapku melarang niat Didi.</p>



<p>Esok harinya kami berkumpul kembali di studio , Dika dan Didi bertugas memantau informasi dari telepon dan medsos , dan sisanya berangkat menuju suatu desa di selatan pulau jawa.</p>



<p>Perjalanan menuju tempat tersebut tidak terlalu lama, hanya saja saat mendekati lokasi medan semakin berat , jalanan tidak ditutup dengan aspal sepenuhnya. Sepanjang jalan dihiasi dengan hutan-hutan jati yang tersusun rapi.</p>



<p>“ Ini bro lokasinya…” ucap nizar kepadaku. “Yakin? Udah bener sesuai di peta?” Aku memastikan sekali lagi “ Bener… tinggal lu cari perempuan yang telepon kemarin, siapa namanya? Ismi?” Lanjut Nizar.</p>



<p>Segera aku turun dari mobil dan menanyakan mengenai perempuan bernama ismi pada warga yang lewat. Ia menunjuk pada sebuah rumah kayu di sudut desa.</p>



<p>“Disana rumahnya… katanya mobil masih bisa masuk kok..” ucapku pada nizar. Kami melanjutkan perjalanan dan berhenti pada sebuat rumah kayu dengan lahan yang cukup luas. Terlihat seorang wanita, masih muda sedang menjemur pakaian di halaman rumah itu.</p>



<p>“Permisi mbak… bener ini rumah mbak ismi?” Tanyaku sesopan mungkin. “Ya saya sendiri, saya ismi… ada yang bisa saya bantu?” wanita itu menjawab dengan sopan. “Kami dari radio tengah malam, benar kemarin mbak ismi yang nelpon?” tanyaku sekali lagi.</p>



<p>“Oh mas ardian ya? Masuk dulu mas… maaf rumahnya berantakan” Ucap Ismi dengan mempersilahkan kami masuk.</p>



<p>Sebuah rumah tua, namun tidak kumuh… rumah yang terawat dengan baik, hawa sejuk tetap terasa walau di tengah panasnya udara siang hari.</p>



<p>Secangkir teh hangat disajikan kepada kami , tak terlihat orang lain selain ismi di rumah ini. “Mbak ismi… terima kasih kami udah disambut, maaf saya agak lancang.. tapi mungkin mbak ismi bisa menceritakan yang mbak ismi tau mengenai Gending alas mayit maupun tabuh waturingin” Nizar mencoba membuka perbincangan.</p>



<p>“Masnya istirahat dulu saja , diminum tehnya… yang cerita nanti bukan saya. Tunggu sebentar ya” Ucap ismi dengan sopan dan meninggalkan kami. Kami menurut dan menikmati secangkir teh yang disediakan oleh Ismi.</p>



<p>Seorang kakek tua berjalan perlahan menghampiri kami, Ismi terlihat menggandengnya berjalan dengan hati hati dan mendudukanya di dekat kami.</p>



<p>“ Ini kakek saya… mbah Rusman, dia yang akan menceritakan semuanya” Jelas Ismi pada kami.</p>



<p>Mbah rusman memperhatikan kami satu per satu sepertinya ia juga menyadari keberadaan hantu nandar yang terus mengikutiku , kami merapikan posisi duduk dan memberikan senyum seramah mungkin kepada mbah rusman.</p>



<p>“ Setelah kalian tau semuanya, apa yang akan kalian lakukan?” Tanya mbah rusman kepada kami.</p>



<p>“Kami hanya mencari informasi mbah , teman kami di jawa tengah, mereka yang ahli soal hal ghaib yang akan mencoba menghentikan kutukan itu” jelasku pada pak rusman.</p>



<p>“ Bagus.. jika kalian yang ikut campur, sudah pasti kalian mati” Ucapnya. Kami sangat mengerti akan hal itu, namun setidaknya aku harus mendapatkan informasi yang bisa membantu cahyo.</p>



<p>“Menginaplah semalam disini, nanti malam kalian akan tahu semua” Ucap mbah rusman. Kami saling menoleh dan sepakat menyetujui ucapan mbah rusman.</p>



<p>Cara mereka menyambut kami terasa sangat tulus sehingga kami tidak sedikitpun merasa curiga kepada meraka. Kami melalui siang hari dengan berbincang hal-hal kecil , Ismipun menyediakan keperluan kami mulai dari makanan dan air untuk mandi.</p>



<p>Semua berjalan normal hingga akhirnya malampun tiba. Kami menyelesaikan makan malam kami, bohlam yang redup di ruangkan ini cukup menyulitkan penglihatanku i. Aku membereskan piring sisa makan malam tadi dan mengumpulkanya di pawon belakang rumah.</p>



<p>Sebelum sempat kembali ke depan, pintu belakang rumah terbanting dengan keras. Sebuah bayangan hitam mencoba masuk ke dapur melalui pintu belakang , semakin lama semakin mendekat. Aku mengawasi dengan hati-hati. Lampu pawon mulai menerangi bayangan yang mendekat itu.</p>



<p>Ternyata itu adalah mbah rusman. Sayup sayup suara gamelan terdengar.. persis seperti di studio kemarin. Mata mbah rusman terbelalak dengan mengerikan kearahku dan mulai menggerakan tubuhnya perlahan.</p>



<p>“ Ismi , Nizar, Ranto… !! “ Aku memanggil orang di rumah untuk membantuku.</p>



<p>Mereka segera datang menghampiriku , namun mbah rusman keluar menuju halaman dan menari dengan lincah . kami mengejar mbah rusman, Cahaya bulan purnama menyinari pekarangan.</p>



<p>Mbah rusman menari dan terus menari , ismi masuk kerumah dan keluar membawa sebuah gong kecil di tanganya dan sebuah pemukul. “Ismi.. itu mbah rusman kenapa?” Tanya nizar. “ Ini yang kalian ingin tahu… Kutukan gending alas mayit&#8221;</p>



<p>Mbah rusman dulunya berasal dari desa windualit , sebenarnya kutukan ini sudah sirna.. namun entah beberapa bulan lalu tiba-tiba saat bulan purnama mbah jadi seperti ini” Cerita Ismi kepada kami.</p>



<p>Mbah Rusman menari dengan mengerikan, ia mencoba memutar kepalanya hingga hampir patah. Namun sebelum itu terjadi Ismi memukul gong kecil yang menggantung di tanganya.</p>



<p>Suara mendengung panjang terdengar dari benda itu. Mbah Rusman terliihat menghentikan tarianya namun ia mencoba bangkit untuk menari lagi, sebelum itu terjadi Ismi kembali memukul gong itu sehingga gerakan mbah rusman bisa tertahan. Hal itu terjadi berulang kali hingga Mbah rusman tak sadarkan diri.</p>



<p>Kami menggendong tubuh mbah rusman ke dalam rumah, Ismi menyiapkan segelas minuman rempah-rempah untuk diberikan kepada mbah rusman dan segera menghampiri kami.</p>



<p>“ Dulu sewaktu muda mbah rusman hidup di desa windualit, saat desa itu terkena kutukan mbah rusman adalah salah satu warga yang membantu menghentikan kutukan itu.. tapi karena tidak ingin mengambil resiko , mbah rusman memilih untuk meninggalkan desa “ Cerita ismi.</p>



<p>Terlalu mengerikan , Sesuatu yang dihadapi oleh cahyo dan paklek kali ini benar-benar mengerikan. “ Ismi… bantu mbah” Ucap mbah Rusman mencoba menghampiri kami dengan tubuhnya yang lemah.</p>



<p>Serentak kami berdiri membantu memegangi mbah rusman dan mendudukanya di posisi yang nyaman. “ Ismi… serahkan gong dan pemukulnya ke mereka” Perintah mbah rusman. </p>



<p>Kami saling menoleh, ismi terlihat tidak setuju. “ Tapi mbah , nanti kalo kumat lagi?” ucap ismi. “Sudah serahkan saja, mbah juga ga tau bisa hidup sampai kapan… mereka lebih butuh itu” Ucap mbah rusman dengan suara yang lemah.</p>



<p>“ Pemukul itu adalah tabuh waturingin, ujungnya dibuat menggunakan kayu pohon beringin yang sudah menjadi batu dan gong itu hanya gong biasa..” cerita Mbah Rusman.</p>



<p>Kami memperhatikan benda yang diserahkan kepada kami , kami berfikir keras… seandainya ini kami bawa, apa mbah rusman bisa melewatkan purnama berikutnya?</p>



<p>“Nggak mbah, kita ga bisa bawa benda ini.. mbah butuh ini” Ucapku “Walaupun ini adalah tabuh waturingin, ini tidak cukup untuk membersihkan kutukan di desa windualit…</p>



<p>Orang yang meminta bantuan kalian harus membuat kembali tabuh yang lebih besar dari batu pohon beringin yang ada sebuah sendang di alas mayit, dan kalian harus bawa ini agar bisa sampai ke sana hidup-hidup” Mbah rusman melanjutkan ceritanya tanpa mempedulikan pendapat kami.</p>



<p>Ismi terlihat sedih , ia mengerti maksud mbah rusman namun belum siap apabila harus kehilangan kakeknya itu.</p>



<p>Aku mengambil telepon genggamku mencoba menghubungi cahyo dan menceritakan mengenai kejadian malam ini kepadanya , awalnya cahyo sependapat dengan kami.. namun tiba-tiba telpon disambungkan kepada seorang wanita.</p>



<p>“ Mbah Rusman… “Ucap wanita dari telepon cahyo. Mbah rusman hanya mendengarkan saja suara dari telepon itu. “ Mbah.. Kulo Sekar.. anak Pak sardi” ucap wanita itu sekali lagi.</p>



<p>“Sar..di , Sardi sudah punya anak?” ucap mbah rusman dengan sedikit senyum muncul di wajahnya. “iya mbah.. Bapak sering cerita kalau bapak belajar ngaji dari mbah rusman , sesepuh yang pernah nyelamatin desa windualit..” cerita sekar .</p>



<p>“ Piye kabar sardi nak sekar , masih rajin ngaji?” Ucap mbah rusman dengan semangat walau dengan tubuhnya yang lemah “Masih mbah… bapak rajin banget, sekarang bapak masih di desa nyoba bantuin sebisanya disana” Jawab sekar.</p>



<p>Mata mbah rusman berkaca-kaca , ia terlihat sedang mencoba mengingat tentang masa lalunya “ Nak Ardian, Nak Cahyo… kamu harus bawa benda ini, kamu harus selamatkan desa windualit… selamatkan sekar dan semua orang disana” Mbah rusman berkata dengan paksaan.</p>



<p>Sepertinya aku mengerti yang diinginkan mbah rusman, setidaknya mungkin ia bisa menyelamatkan desa asalnya yang ia sayangi walau harus mengorbankan sisa umurnya.</p>



<p>“Baik mbah rusman, Amanah mbah saya terima.. benda ini akan saya bawa ke cahyo dan sekar” Ucapku.</p>



<p>“berarti kalo gitu umur mbah Rusman Cuma tinggl 1 purnama lagi? “ Ranto memastikan kepadaku. “ Nggak , hanya Tuhan yang berhak menentukan umur manusia… bukan demit-demit itu” Jawab mbah Rusman. Aku mengambil tasku, memasukan gong dan tabuh waturingin kedalam tas.</p>



<p>“ Ismi , Mbah Rusman… setidaknya tolong terima pemberian saya ini” Sebuah korek api dengan motif kuno pemberian paklek dulu kuserahkan kepada mereka. “Ada kekuatan pada api korek ini… kamu yakin?” Ucap mbah rusman.</p>



<p>“Saat purnama datang lagi dan mbah mulai seperti tadi coba kamu nyalakan ini , benda ini sudah menyelamatkanku berkali-kali.. semoba bisa menolong kalian juga” ucapku.</p>



<p>Nizar mendekatiku seolah kurang setuju. “ Ardian kamu yakin? “ tanyanya dengan berbisik.</p>



<p>Nizar tahu benar bagaimana benda itu menyelamatkanya di pabrik gula. “ iya .. aku yakin Paklekpun pasti juga tidak keberatan” Jawabku. Ismi menerima korek api pusaka pemberian pak lek , kami menutup perbincangan kami dan beristirahat.</p>



<p>Paginya kami ijin pamit ke Mbah Rusman dan Ismi , kami berjanji suatu saat akan mampir kembali kemari setidaknya sebelum purnama berikutnya. Namun sebelumnya kami harus mengantarkan benda ini ke Cahyo dan Paklek , semoga saja ini bisa benar-benar berguna untuk mereka.</p>



<p><strong>(Bersambung Part 5 – Desa Terkutuk)</strong> &gt;&gt;&gt; <strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part5/">Gending Alas Mayit Part 5 &#8211; Desa Terkutuk</a></strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part4-tabuh-waturingin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part 2 &#8220;Sendang Banyu Ireng&#8221;</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2026 18:39:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[cerita horor gending alas mayit]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Penari]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4031</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Horor Twitter &#8211; Ini adalah part 2 dari serial cerita horor Gending Alas Mayit. Bagi yang belum membaaca part ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part 2 &#8220;Sendang Banyu Ireng&#8221;" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/#more-4031" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part 2 &#8220;Sendang Banyu Ireng&#8221;">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Cerita Horor Twitter &#8211;</strong> Ini adalah part 2 dari serial cerita horor  <strong>Gending Alas Mayit.</strong> Bagi yang belum membaaca part 1, baca dulu ya part 1-nya &gt;&gt;&gt; <strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part 1</a></strong></p>



<p><strong>Cerita Horor Twitter</strong></p>



<p><strong>Judul&nbsp;</strong>:&nbsp;<strong>Gending Alas Mayit</strong></p>



<p><strong>Penulis&nbsp;</strong>:&nbsp;<a href="https://twitter.com/diosetta" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@diosetta</a></p>



<p><strong>Agustus 2009</strong>… Lulus dari universitas ternama di Jogja merupakan mimpi yang menjadi kenyataan, walaupun.. aku lulus hanya dengan nilai seadanya. aku benar-benar semangat untuk memulai dunia baru , melupakan tugas-tugas semasa kuliah dan mulai bekerja.</p>



<p>Sebenarnya Pakde sudah mengajaku untuk membantunya bekerja di sebuah pabrik gula , Namun kupikir tidak ada salahnya sedikit refreshing sebelum mulai bekerja.</p>



<p><strong>Namaku Dananjaya Sambara</strong>, Panggil saja aku Danan. Hari ini aku berniat pergi mendaki sebuah gunung yang berdiri tegak di hadapanku saat ini… Merapi. Rama dan Yanto , kedua temanku ini memang maniak mendaki.</p>



<p>Selama masa kuliah mereka sudah mendaki lebih dari 10 gunung di Indonesia , mulai dari yang terpendek seperti Gunung Andong hingga ke Puncak Mahameru. Tapi khusus kali ini , kami memilih Merapi sebagai ucapan terima kasih karena indahnya pemandangan gunung ini selalu menemani di masa-masa berjuang kami.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Santai menikmati pemandangan di sekitar sini. “Danan.. Kamu kan katanya bisa liat lelembut, ga takut naik gunung begini? Katanya di gunung banyak” Tanya Rama dengan nada iseng.</p>



<p>“ Halah Ram , Makhluk halus itu dimana-mana ada.. kalo udah biasa ya kayak ngeliat orang asing aja” Jawabku. “Heh , udah mau maghrib.. jangan ngomongin yang nggak2” Ucap Yanto dari belakang.</p>



<p>Satu jam perjalanan mengantarkan kami ke pos satu , Selokopo Ngisor. Untung saja langit belum gelap sehingga kami bisa melihat pemandangan beberapa gunung dari sini.</p>



<p>Setelah sedikit mengambil nafas, minum, kami melanjutkan perjalanan lagi berharap sebelum tengah malam kami sudah bisa sampai di pasar bubrah dan bermalam di sana sebelum menuju puncak.</p>



<p><strong>Tak terasa langit mulai gelap</strong>, kami mengenakan perlengkapan untuk menerangi jalan yang kami tempuh. Aku melihat sekeliling, nampaknya ada beberapa makhluk yang mengawasi kami. “ Danan… diem aja, ga usah cerita kamu liat apa” Ucap Rama memperingatkanku.</p>



<p>Tak berapa lama hujan mulai menurun deras , jarak pandang menjadi sangat terbatas namun kami terus berjalan mengikuti jalur yang sudah terbentuk. Semua berjalan biasa saja, hingga jalan yang kami lalui berujung ke jalan setapak di pinggir jurang.</p>



<p>“ Yanto , emang dulu ada jalur begini” Tanya Rama pada Yanto yang pernah mendaki merapi bersamanya. “Ndak, aku ndak inget… Coba balik wis” Jawab Yanto. Kami berbali ke belakang ke mencoba kembali ke jalur semula , namun jalan yang kami lalui menghilang, yang ada hanya jalan yang berujung pada jurang.</p>



<p>“Kok bisa begini? Danan.. tadi kamu liat kan jalanya” Ucap rama padaku. Aku mengangguk dan melihat sekeliling dan merasa curiga dengan apa yang terjadi. “ Kita dikerjain..” Ucapku pada mereka.</p>



<p><strong>Terlihat makhluk jadi-jadian</strong> berbentuk seperti kera , berukuran seperti manusa dengan badan yang kurus mengawasi kami dari belakang Rama. aku membacakan beberapa doa dan mantra pelindung, berharap bisa menghilangkan kami bertiga dari pengaruh gaib ini.</p>



<p>Jalan yang kami lalui terlihat kembali , dan jalur yang kami lihat sebelumnya, berubah jurang yang dalam. <strong>Namun sepertinya</strong> yang kulakukan memancing perhatian makhluk-makhluk lain. Sepanjang jalan yang kami lalui dipenuhi oleh makhluk halus penunggu gunung ini.</p>



<p>Secepat mungkin kami berlari meninggalkan jurang itu , namun kondisi tanah yang terlalu licin mengaburkan pijakanku dan menjatuhkanku ke sebuah jurang yang dalam. “ Danan! Danan!”Teriakan Rama terdengar dari jauh,namun suara itu sayup-sayup menghilang bersama dengan kesadaranku.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>“ <strong>Mas… bangun mas..</strong>” Terdengar suara perempuan mencoba membangunkanku. Rasa sakit masih terasa dari kepala dan sekujur tubuh, namun aku tetap memaksa untuk membuka mata.</p>



<p>“i.. ini dimana?” Tanyaku pada perempuan yang mencoba membangunkanku. “Udah tenang dulu , ini diminum… “ Ucap perempuan itu sambil menyerahkan segelas teh hangat. Aku meminumnya sampai habis , terasa rasa haus yang amat sangat dari tenggorokanku.</p>



<p>“Masnya udah pingsan seharian, warga nemuin mas pingsan di hutan kemaren” Jelasnya. Aku menyentuh dahiku yang ditutupi perban , mulai teringat kejadian saat aku terjatuh ke dalam jurang.</p>



<p>“ Kalau udah bisa berdiri , itu ditunggu pak kades.. udah disiapin makanan di sana” ucapnya sambil menunjuk ke sebuah rumah. Aku mencoba berdiri , mencuci muka dan mencari baju ganti dari ranselku. Sejujurnya, aku cemas dengan keadaan Rama dan Yanto . Mereka pasti mencariku selama pingsan.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>“ Permisi … “ucapku memasuki sebuah rumah yang tadi ditunjukkan oleh perempuan yang membangunkanku. “ eh..monggo, masnya udah sehat? Sini makan dulu“ Ucap seorang pria paruh baya menyambutku.</p>



<p>Aku menghampiri mereka, dengan ramah sepiring nasi disiapkan dan diberikan kepadaku. “Udah kenalanya nanti dulu,makan dulu aja pasti laper kan?Lha wong pingsan seharian”ucap bapak itu. “Njih.. maaf ya pak , ngapunten” Jawabku sambil mengambil lauk yang terlihat begitu menggoda.</p>



<p>“ Kulo nuwon… <strong>permisi</strong>“ suwara wanita terdengar dari depan pintu rumah. “ Eh , Laksmi… sini ikut makan” Ucap sang pemilik rumah memanggilnya.</p>



<p>Ternyata Itu adalah perempuan yang tadi membangunkanku. “Makan yang banyak mas… ” ucapnya sambil melempar senyum. Aku mengangguk dengan sedikit malu , namun sepertinya rasa lapar lebih berkuasa terhadapku.</p>



<p>“ Saya kepala desa di sini, panggil aja pak Kades… Sampai masnya benar-benar pulih istirahat di sini dulu saja” Ucap pria itu dengan ramah.</p>



<p>“Matur nuwun pak , nama saya Danan, memangnya ini di mana ya pak?” tanyaku. “<strong>Ini desa Windualit</strong> … pasti belum pernah denger” jawab pak Kades.</p>



<p>“Iya pak , saya baru tau ada desa di dekat posko pendakian” Lanjutku. Pak Kades mengerutkan dahi seolah merasa heran. “ Posko apa maksud mas danan” tanya pak kades.</p>



<p>“Lha… saya terjatuh di jalur pendakian merapi… bukanya bapak nemuin saya di jalur pendakian?” Tanyaku pada mereka. Laksmi dan pak kades saling memandang.</p>



<p>“Desa ini jauh dari posko pendakian manapun mas, apalagi sama kota.. kendaraan aja ga bisa masuk ke sini. Tadi kami nemuin masnya di hutan perbatasan desa..” Jelas Laksmi. </p>



<p>Aku merasa heran dengan apa yang mereka katakan , segera saja kuceritakan apa yang terjadi. Mereka terlihat heran karena jarak dari posko ke desa ini berpuluh puluh kilo jauhnya.</p>



<p>“Ya sudah, mas danan tinggal di sini dulu saja sampai pulih.. kalau sudah sehat , nanti kami antar” Ucap pak kades.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Desa yang sungguh damai, terlihat warga –warga yang sangat ramah satu sama lain. Hawa yang sejuk dan pemandangan indah gunung merapi selalu setia menemani pagi setiap warga di desa ini. Hanya saja di sini masih serba tradisional penerangan menggunakan lampu minyak. Dan bentuk rumah-rumah yang masih dari kayu merupakan pemandangan yang tidak biasa untuku.</p>



<p>“Pagi Mas Danan… “ Ucap Laksmi memecah lamunanku di pagi hari. “ Pagi mbak laksmi…” Jawabku Sepertinya senyuman manis laksmi akan tetap membekas selepas aku pergi dari sini nanti.</p>



<p><strong>Sudah tiga hari</strong> aku tinggal di desa ini , di sebuah rumah singgah yang sepertinya diperuntukan untuk tamu yang mampir ke sini, rasanya aku mulai merasa cukup nyaman. Akupun mulai Akrab dengan warga di desa ini.</p>



<p>Namun aku tidak mau membuat teman-temanku lebih khawatir lagi. Setidaknya besok aku harus sudah pamit.</p>



<p>Seharian ini aku habiskan untuk berkeliling desa dan menyapa warga-warga di sini, namun ada sedikit yang mengganggu inderaku, yaitu sebuah hutan yang terletak di sudut perbatasan desa.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Hari mulai malam , desa sudah mulai sepi oleh warga. Aku tetap menikmati suasana ini dari teras rumah sampai akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat. <strong>Belum sempat tertidur</strong>, suara ketukan berkali-kali di pintu rumah pak kades.</p>



<p>Aku keluar mencari tahu apa yang terjadi . Terlihat perbincangan singkat antara warga dan pak kades. “ya udah, coba panggil Pak Sardi juga… “ Nanti saya menyusul Aku keluar menghampiri Pak Kades penasaran dengan apa yang terjadi.</p>



<p>“ Pak , ada apa to pak ?” tanyaku pada pak kades. “Katanya ada anak kecil hilang, seperti ditarik sesuatu ke dalam hutan” Ucapnya “Mas Danan, saya ke sana dulu ya… istirahat aja” Lanjutnya. “ Nggak pak, saya ikut…” Bantahku.</p>



<p>Kami sedikit berlari menuju mulut hutan, tempat warga berkumpul. Terlihat warga sudah siap di sana dengan kentongan dan obor. Aku menerobos kerumunan dan melihat ke dalam hutan.</p>



<p>Belum sampai masuk ke dalam, terlihat dari mataku dua makhluk halus penjaga dengan kaki sepanjang hampir manusia dewasa menunggu di tengah gelapnya hutan itu. Warga desa ,sepertinya tidak sadar dengan keberadaan makhluk itu.</p>



<p>“<strong>Kita bagi , </strong>sebagian masuk ke hutan dan sisanya berjaga di desa” ucap pak kades kepada warga. Aku berfikir , sangat berbahaya apabila warga masuk ke hutan. Bisa jadi anak yang di culik tadi hanya umpan untuk mencari tumbal lainya.</p>



<p>“P..Pak… jangan dulu bahaya” Ucapku pada pak kades. “Kapa mas danan, keburu anak itu kenapa-kenapa ?” ucap pak kades “Jangan pak bahaya, bisa-bisa warga lain juga jadi korban..” Jelasku Pak Kades tetap bersikukuh untuk masuk , namun aku tetap menghalanginya.</p>



<p>“Kalau begitu kita harus bagaimana mas danan?” tanyanya dengan menahan emosi. Aku menoleh kearah hutan , mencoba mengamati apa saja yang ada di sana. </p>



<p>“ Biar saya yang mencari ke dalam…” jawabku. “Gak.. gak mungkin kita biarkan mas danan sendirian ke sana “ tentang pak kades yang terlihat tidak setuju.</p>



<p>“ Gak sendiran, saya akan ikut ke dalam” Terdengar suara dari seorang pria paruh baya yang baru datang. “Pak Sardi… benar mau masuk ke sana ?” Tanya pak kades. Ternyata beliau adalah Pak Sardi, seseorang yang diminta tolong dipanggilkan oleh pak kades.</p>



<p>“ Jangan pak, berbahaya… kalau memaksa masuk lebih baik pagi hari , biar saya mencari tahu dulu kondisi di dalam” Ucapku pada orang itu. Pak sardi tidak menghiraukan ucapanku.</p>



<p>Berjalan maju ke mulut hutan dan membacakan doa-doa yang cukup panjang. Terlihat kedua makhluk penjaga di mulut hutan itu geram dan menghampiri Pak Sardi , namun sebelum sempat mendekat kedua makhluk itu terbakar habis.</p>



<p>“ Mas , jadi ikut ke dalam?” Ucap pak sardi dengan menoleh ke arahku. Aku yang terkesima dengan apa yang Pak sardi lakukan segera meminta obor dari warga dan berjalan masuk ke dalam hutan.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Gelap , <strong>sangat gelap</strong>. Bila tanpa obor di tanganku mungkin rasanya seperti menutup mata. “Pak , kok bisa segelap ini ya.. harusnya masih ada cahaya bulan” Tanyaku pada pak Sardi. “Entah mas.. berhati-hati saja” ucap pak sardi.</p>



<p>Belum sempat menjawab perkataan pak sardi , kami terhenti oleh sebuah pemakaman tua yang tersusun berbukit-bukit dengan nisan yang hampir tak berbentuk.</p>



<p>Yang membuat semakin mengerikan, seorang kakek tua bungkuk dengan rambut putih panjang terlihat bergerak merangkak di antara makam, memakan sisa-sisa jasad yang tidak sudah tidak berbentuk.</p>



<p>Pak Sardi mencoba mendekat, namun makhluk itu menghampiri dan bersiap memberi perlawanan. “<strong>Lungo! Kowe ra ndue urusan karo aku</strong> “ (Pergi , urusanmu bukan sama aku) Ucap makhluk itu. “Sing mbok cari ono ning kono, nek kowe wani…” (yang kamu cari ada di sana , kalau kamu berani).</p>



<p>Kami mengerti , sepertinya memang bukan makhluk ini yang kami cari. Tapi dia menunjuk ke sebuah sendang tak jauh dari tempat dia berada. Makam demi makam kami lewati , sebuah gong gamelan tua besar mulai terlihat berdiri diantara sendang yang mengalirkan air berwarna hitam.</p>



<p>“Hati-hati mas Danan, makhluk itu masih terus memperhatikan kamu” ucap pak sardi. Benar , walaupun tidak mengikuti , makhluk itu terus memperhatikan ke arahku.</p>



<p>“itu.. itu pak sardi! Ada anak kecil di sana” Ucapku ke pada pak sardi. Terlihat seorang anak balita tanpa pakaian tergeletak di tengah-tengah sendang. Terlihat air berwarna hitam mengalir melewati tubuh anak kecil itu.</p>



<p>Aku segera melepas jaketku dan segera menghampiri bocah itu. Namun sebelum sampai ke sana terlihat menyerupai wanita raksasa berjalan bungkuk dengan tanganya dengan payudara yang menggelambir menahan bocah yang tidak sadarkan diri itu.</p>



<p>“ Hati-hati.. sepertinya makhluk itu yang berniat jahat” Ucap pak Sardi padaku. Belum sempat menjaga jarak tangan besar makhluk itu meraih wajahkudan menariku.</p>



<p>Pak sardi segera bergegas membacakan doa dan mengayunkan tanganya , terlihat cahaya putih menyelimuti kepalanya berhasil melepaskan cengkeraman makhuk itu. Setan itu berlari ke belakang dengan menyeret bocah kecil di tanganya.</p>



<p>Kami mengikutinya namun terdengar suara gong dipukul berkali-kali seolah memberikan isyarat. Kami berhent di tak jauh dari sendang, dan mulai terlihat pemandangan yang sangat mengerikan di sekeliling tempat ini.</p>



<p>Semua makhluk halus penunggu hutan memperhatikan kami dari balik pohon seolah mengikuti tanda dari suara gong tadi. Pocong dengan badan yang tidak utuh, perempuan tua begantungan dengan tangan tanpa kaki ditubuhnya. Sepertinya mereka korban-korban pembantaian di jaman dulu. Mungkin saja jasad dan keberadaan mereka yang membuat air di sendang tadi menjadi hitam pekat.</p>



<p>Aku gentar, begitu juga dengan Pak Sardi. Dendam makhluk-makhluk itu terlalu kuat . “ini yang aku takutkan pak , anak itu hanya pancingan agar banyak warga masuk ke sini menjadi tumbal mereka” ucapku dengan gemetar.</p>



<p>“ Kalau kita bertarung sekarang, kita pasti mati” ucap pak sardi. Benar kata pak sardi , tidak mungkin kita melawan mereka semua. Satu persatu makhluk itu mendekat bersiap menghabisi kami. Pak Sardi membacakan mantra pembakar, menyerang satu persatu demit di sana, tapi itu tak cukup.</p>



<p>Aku membacakan ajian pelindung dan berlari menerjang bocah kecil yang di bawa setan wanita itu. Tangkapanku berhasil , segera kuangkat anak itu dan berlari secepat mungkin.</p>



<p>Namun tidak lama , pukulan besar menghantamku dari belakang. Aku terjatuh , Pak sardi menghampiriku dan mencoba melindungi dengan doa-doa yang dia baca. Namun ilmu pak sardipun tak cukup kuat, Tangan tangan makhluk buas mulai merobek tubuh kami.</p>



<p>Rasa sakit menjalar di seluruh tubuhku , terlihat setan wanita mengambil batu besar bersiap menghantamkan ke arahku. Sakit.. sangat sakit , Aku menutup mata, seolah pasrah dengan apa yang terjadi. Ku pikir inilah akhirnya , tapi tiba-tiba mendadak semua serangan itu terhenti.</p>



<p>Pak sardi dengan tubuh yang penuh luka mencoba berdiri dan melihat apa yang sedang terjadi. Kakek tua bungkuk berambut putih di pemakaman tadi menghampiri kami. Demit-demit yang menyerang kami mundur perlahan seolah ketakutan.</p>



<p>“ Bocah asu , <strong>Sopo jenengmu!</strong>” (Bocah anjing! Siapa namamu) Tanya kakek tua itu padaku. “Danan.. Dananjaya Sambara “ jawabku dengan lemah. “ Sambara… wong wong goblog sing ora sayang karo uripe” (Sambara.. orang orang bodoh, yang tidak sayang dengan hidupnya.</p>



<p>Aku tidak mengerti dengan apa yang ia bicarakan. “Mulih! demit-demit iki ben dadi urusanku” (Pulang! Setan-setan ini biar menjadi urusanku!) Perintahnya kepadaku. “Ta.. tapi, mbah iki sopo?” (tapi , mbah ini siapa?) tanyaku penasaran.</p>



<p>“Ora usah kakean cangkem , jogo wae keris Ragasukma sing mbok pegang” (Tidak usah banya bicara , jaga saja keris raga sukma yang kamu pegang) Ucap Kakek tua itu.</p>



<p>Pak Sardi terheran dengan apa yang terjadi , namun ia segera membantuku berdiri dan meninggalkan hutan ini. </p>



<p>“Keris Ragasukma? Bagaimana kakek itu tahu tentang keris yang tersimpan di sukmaku.” Sekilas aku menolah, terlihat kakek tua itu tertawa seperti orang gila melompat dari pohon-ke pohon membasmi setan-setan itu dengan brutal.</p>



<p>Matahari mulai terlihat , hanya sebagian warga desa yang masih menunggu di mulut hutan. Warga terlihat lega setelah mengetahui kami dan anak yang diculik selamat dari hutan. Tidak banyak yang kami ceritakan ke warga tentang apa yang terjadi di dalam hutan.</p>



<p>“ Bapak .. Bapak gapapa? “ Tanya seorang anak wanita yang berlari menghampiri pak sardi. “Gapapa Sekar , Cuma luka sedikit “ Jawabnya dengan melemparkan senyum pada anaknya itu, walaupun aku tahu luka pak Sardi juga cukup serius.</p>



<p>Aku memutuskan untuk istirahat semalam lagi dan pulang besoknya.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Barang dan perlengkapanku sudah siap, terlihat beberapa warga sudah siap mengantarku ke kota. “ Pak Sardi, Pak Kades.. saya ijin pamit dulu ya.Maaf sudah merepotkan “ Ucapku berpamitan.</p>



<p>“Mas Danan , Terima kasih sudah membantu warga di sini.. sering-sering mampir ya” Ucap pak kades. “Iya pak , semoga saya bisa mampir ke sini lagi… toh saya masih ingin mendaki ke puncak merapi” Balasku.</p>



<p>Ingatanku kembali teringat akan hutan dan sendang dengan air yang begitu hitam . Cepat atau lambat tempat itu pasti akan menjadi bencana untuk desa atau bahkan lebih besar lagi.</p>



<p>Aku berpamitan dan meninggalkan desa terpencil di lereng kaki gunung merapi yang menyimpan banyak misteri ini… desa windualit…</p>



<p>Bersambung ke part 3 &gt;&gt;&gt; <strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/cerita-horor-twitter-gending-alas-mayit-part3-ikatan-masa-lalu/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gending Alas Mayit Part 3 &#8211; Ikatan Masa Lalu</a></strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit-part2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2026 00:38:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Penari]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4027</guid>

					<description><![CDATA[CERITA HOROR TWITTER FULL Desa Windualit , Sebuah desa terpencil yang jauh dari sosok hiruk pikuk Perkotaan. Pemandangan indah gunung ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/#more-4027" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<a href="https://clankallegation.com/dfk9b048e?key=c2031f3338aace221466dc315d869319"><b>CERITA HOROR TWITTER FULL</b></a>



<p><strong>Desa Windualit</strong> , Sebuah desa terpencil yang jauh dari sosok hiruk pikuk Perkotaan. Pemandangan indah gunung merapi selalu setia menemani pagi setiap warga di desa ini. Sama sekali tidak ada yang istimewa di tempat ini, bahkan desa ini masih jauh dari kesan modern. Rumah-rumah disini masih dibangun dari kayu , bahkan listrikpun baru masuk beberapa tahun yang lalu itupun hanya cukup untuk lampu-lampu rumah.</p>



<p>Wajar saja , untuk keluar atau masuk <strong>Desa Windualit</strong> kami harus melalui jurang sejauh ratusan meter. Kendaraan bermotor hampir mustahil mencapai desa kami. Namun warga desa ini sudah terbiasa memenuhi kebutuhan hidup dari hasil bercocok tanam.</p>



<p>Uang? Maaf saja benda itu tidak terlalu berharga di sini. <strong>Namaku </strong>Sekar, hanya perempuan biasa yang masih menumpang hidup dari orang tua. Keseharianku layaknya wanita desa biasa. Memasak , mencuci baju di sungai, menimba air dan kadang membantu di kebun bapak.</p>



<p>“Bu.. Sekar nyuci klambi ning kalen disik yo” (Bu, sekar ke kali sebentar nyuci baju ya…) Pamitku pada ibu “Yo , ojo kesuwen..” (ya, jangan lama-lama) Jawab ibu. Aku mengangkat cucianku segera menuju sungai . Semua hal di desa ini terlihat biasa saja.</p>



<p>Selain sebuah pantangan yang harus dipatuhi oleh warga desa ini, yaitu untuk tidak memasuki satu tempat terlarang di perbatasan desa.Warga menyebut tempat itu dengan nama “<strong>Alas Mayit</strong>” (<strong>Hutan Mayat</strong>). </p>



<p>“ Dek sekar,mampir” ucap Bu Retno yang sedang bersih-bersih di teras rumahnya. “Njih bu.. Tak Nyuci baju dulu “ Jawabku sekedarnya. Warga di sini memang sangat ramah, hampir setiap berpapasan kami selalu memberi salam atau sekedar perbincangan basa-basi.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>



<p>“<strong>duh… mas, piye iki?</strong>” (duh.. mas, gimana ini). Terdengar suara wanita berbisik dari balik pepohonan , tanpa sengaja sedikit perkataanya terdengar olehku. “arrgh.. kok iso dadi koyo ngene!” ( Kok bisa jadi begini!) terdengar suara seorang pria membalas ucapan wanita itu.</p>



<p>Aku mencoba menghampiri, namun seperti sadar akan kehadiranku mereka segera berlari meninggalkan tempat itu. Ya sudahlah, aku juga tidak tertarik dengan urusan orang lain.</p>



<p><strong>Aku menyiapkan pakaianku</strong> dan segera mencucinya di sungai, tak jauh dari tempatku juga terlihat beberapa ibu-ibu sudah lebih dulu sampai di tempat ini. “ Sekar, keawanen to?” (sekar, kesiangan ya?) Tanya salah satu ibu disana. “Njih bu , mau ibu dhawuhi nulungi masak disik” (Iya bu , ibu tadi nyuruh bantuin masak dulu) jawabku.</p>



<p>“Yowis, tak pamit duluan ya sekar.. “ Lanjutnya lagi “njih bu, ngatos-atos” (iya bu , hati –hati) Satu-persatu ibu-ibu meninggalkanku di sungai , sampai akhirnya hanya aku sendiri. Segera aku menyelesaikan cucianku dan kembali ke desa.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p><strong>Sekembalinya dari sungai</strong> , desa terlihat begitu sepi. Namun samar-samar terdengar suara ramai dari balai desa. Aku segera menghampiri ke sana , dan apa yang aku lihat benar-benar bukan pemandangan yang biasa.</p>



<p>Seorang wanita , itu Laksmi. Ia tersungkur di tanah dengan tubuh penuh luka ,seolah dipukuli dengan sangat keras. “ Iki anakmu mas… anakmu..!” Tangis Laksmi sambil memohon kepada lelaki yang telah memukulinya itu.</p>



<p>“<strong>Perempuan brengsek!</strong> “ Ucap lelaki itu sambil mencoba mengantamkan tinjunya lagi ke Laksmi, namun segera ditahan oleh warga. “ Ojo ngelek2i suamiku! Ra mungkin suamiku gelem mbek lonte macam kowe!” (Jangan menjelek jelekan suamiku, tidak mungkin suamiku mau dengan pelacur seperti kamu!) Ucap Istri dari pria tersebut, Aswangga sang juragan ternama di desa ini.</p>



<p>“Uwis , Pateni wae” (<strong>sudah, bunuh saja</strong>) Teriak salah seorang anak buah Aswangga memanaskan emosi warga. “Jangan pak , bicarakan baik-baik dulu” ucap salah seorang warga. Sekali lagi pukulan yang keras menghantam laksmi , dan wanita itu hanya diam berlutut sambil melindungi janin di perutnya.</p>



<p>“ Sudah pak , Sudah… jangan sampai ada yang mati, kalau terpaksa.. usir saja dia dari desa ini” Ucap kepala desa yang merasa takut dengan pengaruh Aswangga dan anak buahnya yang terlihat bengis. “Baik… Bawa dia! Usir dia dari desa ini!” Perintah Aswangga kepada anak buahnya.</p>



<p>Tiga orang bertubuh besar dengan kasar menarik tubuh Laksmi menyeretnya membawanya keluar dari desa. Tubuh laksmi yang lemah tidak mampu melawan, dan hanya tangis yang terlihat dari wajahnya.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Sudah beberapa minggu berlalu setelah diusirnya laksmi dari desa. Beberapa kabar tidak baik tersebar diantara warga desa tentang pengusiran Laksmi. Anak buah Aswangga dikabarkan membawa Laksmi ke hutan terlarang di perbatasan desa, memperkosanya dan menghabisi nyawanya.</p>



<p>Tidak ada satupun warga yang berani menanyakan atau memastikan kebenaran kabar burung tersebut, semua berlalu seperti tidak ada yang terjadi.</p>



<p>Sampai sesuatu terjadi di malam bulan purnama.. Suara gamelan terdengar tanpa henti sepanjang malam, Warga mencoba mencari sumber dari suara musik gamelan tersebut. Namun suara itu berasal dari hutan desa.</p>



<p>Saat malam sudah mencapai puncaknya, terdengar suara teriakan dr rumah Aswangga, seorang bocah laki-laki mendobrak keluar rumah &amp; menari kesetanan mengikuti alunan musik gamelan.</p>



<p>Warga yang melihat mencoba membantu Aswangga menghentikan anaknya itu , namun tarianya semakin mengerikan. Bocah itu tertawa, memutar kepalanya ke belakang hingga mematahkan lehernya . Aswangga mencoba menghentikan , namun tetap saja tidak mampu menahanya.</p>



<p>Dalam kondisi seperti itu, bocah itu teap bergerak menari dan berlari menuju hutan. Warga ramai-ramai mengejar, suara gamelan terdengar semakin cepat, hingga sosok anak itu menghilang di tengah kegelapan hutan bersamaan dengan hilangnya suara gamelan yang berbunyi semalaman.</p>



<p>Pencarian tidak mungkin dilakukan di tengah malam, apalagi dengan penerangan yang seadanya. Akhirnya warga berjanji membantu Aswangga mencari anaknya di pagi hari.</p>



<p>&#8230;</p>



<p>&#8230;</p>



<p>Pagi menjelang , Warga bersiap dengan peralatan seadanya untuk membantu Aswangga mencari anaknya. </p>



<p>Namun sebelum masuk kedalam hutan, terlihat sesosok badan tergeletak di mulut hutan dengan tubuh yang mengenaskan. Kepala, tangan, dan kaki tidak menyatu dengan tubuhnya. <strong>Itu adalah jasad bocah yang menari kemarin</strong>, anak dari Aswangga.</p>



<p>Warga sangat panik, terlihat dengan jelas raut muka gelisah di wajah anak buat Aswangga.</p>



<p>Namun ternyata , Ini baru permulaan.. Setiap purnama, terdengar suara gamelan dari dalam hutan, dan satu persatu warga desa akan menari seperti kesetanan menuju hutan. Dan dipastikan jasadnya akan muncul di mulut hutan pada pagi hari. Kami menyebut kutukan ini dengan nama “ <strong>Gending Alas Mayit</strong>”.</p>



<p>Kondisi desa semakin hari semakin mencekam, seolah menunggu kapan giliran menerima kutukan itu. Sampai akhirnya warga memutuskan untuk memanggil orang pintar dari desa lain.</p>



<p>“Pak.. setelah ini, desa kita akan aman kan?” tanyaku kepada bapak. Bapak menghela nafas seolah menunjukan rasa kurang setuju. “ Mbuh.. Bapak sih kurang setuju, tapi di satu sisi bapak juga takut”Jawabnya dengan setengah gelisah.</p>



<p><strong>Semenjak kejadian pertama</strong>, Bapak selalu mengajak kami sekeluarga dan tetangga untuk rutin melakukan pengajian. Hal ini tidak cukup untuk menangkal kutukan ini. Namun bapak selalu bilang kalaupun kita tetap jadi korban setidaknya kita membawa bekal pahala dari hal baik ini.</p>



<p><strong>Malam mulai datang</strong>, suara gending terkutuk itu mulai terdengar. warga mulai berkumpul di mulut hutan. Terlihat seseorang kakek tua berpakaian Serba hitam sedang melakukan ritual di sana bersama seorang anak buahnya.</p>



<p>“ Bu.. kuwi to orang pintere? ” tanyaku pada Bu Retno yang juga berada di sana. “Iya Sekar , Kok ketok e medeni yo?” (iya sekar, kok kelihatanya menyeramkan ya?) jawabnya.</p>



<p>Orang pintar itu menyelesaikan ritualnya dan berdiri dengan perlahan. “ Ketemu ! demit kuwi ono ning alas! “ (ketemu, setan itu ada di hutan) Ucap kakek tua itu “ Ben tak seret mrene”. Dengan segera kakek tua berjalan ke dalam hutan dengan membawa sebuah keris di genggamanya.</p>



<p>Rasa tegang meliputi seluruh warga yang menunggu di mulut gua . Cukup lama.. sampai akhirnya suara gamelan perlahan menghilang dari pendengaran kami.</p>



<p>“ Pak… ora kerungu meneh , Opo mbahe berhasil?” ( Pak , ga kedengeran lagi.. apa mbahnya berhasil?) Tanyaku pada bapak. Bapak tidak menjawab , namun aku melihat Bapak sedang membacakan doa –doa seolah belum yakin semua akan aman.</p>



<p><strong>Perlahan</strong> mulai terlihat kakek tua keluar dari dalam hutan, Ia berjalan dengan cara yang sangat aneh. Awalnya warga merasa sedikit lega, Namun semua itu berubah ketika suara gong muncul dari dalam hutan.</p>



<p>Suara itu gong berbunyi berkali kali dengan suara yang sangat keras seolah dipukul dengan amarah. Kakek tua itu tersentak, berdiri dengan kaku memiringkan lehernya memutar tubuhnya hingga patah dan tak bernyawa.</p>



<p>Warga panik dan berteriak, Namun kembali terdengar suara gending kutukan itu dengan suara yang keras dan cepat. Satu persatu warga di mulut hutan itu mulai menari dengan aneh, mereka mengamuk menghampiri orang lain sambil menyakiti diri sendiri dengan mematahkan sendi-sendinya.</p>



<p>“ Sekar! Lari!” Bapak segera menarikku dan berlari menjauh dari sana. Aku menoleh, sudah hampir setengah warga menari dan cukup banyak yg sudah tergeletak di tanah dengan tangan tetap menyeret di tanah. Sisa warga yang masih selamat berlari berhamburan mencoba menyelamatkan diri.</p>



<p>Kami berlari menuju rumah , namun suara gamelan itu masih terdengar. “ Pak… panas pak “ tubuhku mula terasa panas seolah ada suatu hal yang memaksaku untuk menggerakan badanku diluar kemauanku. </p>



<p>“ Bu.. tolong bu! “ Ucap bapak memanggil ibu dari dalam rumah. Ibu keluar dengan tergesa-gesa dan menghampiri kami. Tanganku mulai berputar dengan gemulai , namun aku masih bisa menahanya.</p>



<p>“Pak.. tolong pak , Sekar takut” Ucapku pada bapak. Bapak menyentuh kepalaku , membacakan doa, dan sekuat tenaga menahan badanku untuk tidak bergerak.</p>



<p>Rasa panas mulai menghilang perlahan, aku mulai bisa mengendalikan diriku. Namun dari jauh mulai terdengar suara teriakan warga menuju ke tempat ini.</p>



<p>“Bu.. Ambil semua yang sudah kita siapkan” Perintah Bapak kepada ibu. “Bapak Yakin…? “ Ucap ibu dengan ragu. “Yang kita takutkan sudah terjadi , ga ada pilihan lagi” Ucap bapak sambil memandang wajah ibu.</p>



<p>Ibu melihat jauh ke arah desa dan melihat warga yang tengah kesetanan mulai mencapai tempat ini. Ia mengerti dan segera masuk kedalam rumah.</p>



<p>“ Sekar.. kamu dengerin bapak.” Kali ini bapak memandangku dengan wajah serius. “Setelah ini, kamu harus tinggalkan desa ini.. pergi sejauh mungkin, sampai suara gamelan ini tidak terdengar” Perintah bapak kepadaku. “Tapi , bapak .. ibu..” tanyaku dengan ragu.</p>



<p>Ibu keluar dan membawakan sebuah tas yang isinya kebutuhanku yang telah disusun dengan rapi. “Bapak dan Ibu akan tetap didesa , membantu sebisa mungkin…” ucap ibu. Terlihat beberapa pria yang telah kehilangan kesadaran menari ke arah kami.</p>



<p>“<strong>Pergi sekar, pergi!</strong> Kamu harus selamat..” Ucap bapak yang segera membaca doa dan menghampiri pria-pria itu. Rasa panas mulai memasuki tubuhku lagi , kutukan gending alas mayit ini sudah merasuki tubuhku.</p>



<p>“Sekar.. kamu harus pergi sekarang, Cari orang ini. mungkin dia bisa membantu menyelamatkan desa ini” ucap ibu sambil memberikan sebuah foto. </p>



<p>Aku tak tahan lagi dengan rasa panas ini, aku memeluk ibu erat-erat dan segera berlari menjauh dari suara gending ini.</p>



<p>Gelapnya malam membuatku terjatuh beberapa kali, aku tak perduli.. yang penting aku harus menjauh dari suara ini.</p>



<p><strong>Sudah semalaman</strong> aku berjalan menjauhi desa, matahari sudah mulai terbit. Suara Gending Alas mayit sudah tidak lagi terdengar , malam ini aku selamat dari kutukan itu.</p>



<p>Sebotol air yang sudah disiapkan oleh ibu di dalam tas hanya mampu sedikit menghilangkan rasa lelahku. Aku melihat foto yang diberikan oleh ibu, Terlihat seseorang pria yang sedang berpose atas puncak gunung.</p>



<p>Aku membalik foto tersebut , dan tetulis sebuah nama -Dananjaya Sambara , Merapi &#8211; 6 Juni 2016.</p>



<p><strong>Lanjut Part 2 &gt;&gt;&gt;</strong> Gending Alas Mayit &#8211; Sendang Banyu Ireng.</p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/gending-alas-mayit/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>8</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
