<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Horor Rusin &#8211; albabbarrosa</title>
	<atom:link href="https://alba.kazu.co.id/tag/cerita-horor-rusin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://alba.kazu.co.id</link>
	<description>Sastra, Bahasa, Filsafat, Cerita, Fotografi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Apr 2026 06:39:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.5</generator>

<image>
	<url>https://alba.kazu.co.id/wp-content/uploads/2020/01/albabbarrosa-favicon-150x150.png</url>
	<title>Cerita Horor Rusin &#8211; albabbarrosa</title>
	<link>https://alba.kazu.co.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Rusin &#8211; Catatan Si Juni Part2</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part2/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part2/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2026 06:39:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Rusin]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Rusin - Catatan Si Juni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4080</guid>

					<description><![CDATA[Ini adalah part 2 dari cerita horor Rusin &#8211; Cerita Si Juni. Yang baru datang ke sini baca dulu part1. ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Rusin &#8211; Catatan Si Juni Part2" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part2/#more-4080" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Rusin &#8211; Catatan Si Juni Part2">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ini adalah part 2 dari cerita horor Rusin &#8211; Cerita Si Juni. Yang baru datang ke sini baca dulu part1.</p>



<p><strong>Cerita Horor Twitter</strong> : <strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-suami-juni-part1/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Rusin &#8211; Catatan Si Juni Part1</a></strong></p>



<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id">Cerita Horor Twitter</a></strong></p>



<p><strong>Judul </strong>: Rusin &#8211; Catatan Si Juni</p>



<p><strong>Penulis </strong>: @ItsQiana</p>



<p><strong>CATATAN SI JUNI</strong> <strong>PART 2</strong></p>



<p>Esok hari, karena Bapak menolak autopsi maka jasad ibu dikebumikan malam itu juga. Malam dimana aku tidak sadarkan diri dan membuat heboh seisi kampung.</p>



<p>Mereka mulai bergunjing, menatapku iba namun penuh ketakutan. Bapak tak mau berlama lama berada disini, ia takut kondisiku akan bertambah buruk.</p>



<p>Kami segera kembali ke rumah Bapak dan perlahan aku mulai bisa berdamai dengan semua itu.</p>



<p>Memang kita tak dapat melupakan kenangan kenangan mengerikan yang telah terjadi, dan butuh waktu yang sangat lama untukku bisa menerima semuanya.</p>



<p>Akupun mulai terbiasa dengan sikap ibu tiriku, hanya Bapak yang kupunya, mau tak mau aku harus berlapang hati dengan segala siksaan yang akan ku terima kedepannya.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;..</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;..</p>



<p>Kini aku telah berusia 20 tahun, usia yang cukup untukku mulai hidup sendiri.</p>



<p>*Plakkk*</p>



<p>Tamparan keras mendarat dipipiku &#8220;Rasah kemayu nduk, raimu ki ra sepiro&#8221; (Gausah sok kecantikan, mukamu tu ga seberapa) ujar seorang seniorku dikampus.</p>



<p>Aku hanya diam, mencoba menenangkan amarahku, bukannya aku tak bisa melawan, aku bahkan sanggup membalasnya namun aku sedang malas meladeni orang orang seperti mereka.</p>



<p>Tangannya menjambak rambut panjangku, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dariku.</p>



<p>&#8220;Diapakne cah iki cuk penake?&#8221; (Diapain anak ini enaknya?) ujarnya kepada beberapa temannya yang berdiri mengelilingi kami, melihatku disiksa oleh seorang temannya.</p>



<p>Terlihat satu orang datang membawa air seember penuh dan langsung menyiramkannya ke tubuhku degan tiba tiba. Aku masih saja diam, bagiku ini semua belum ada apa apanya dengan sebelas tahun yang telah kulalui bersama ibu tiriku.</p>



<p>&#8220;Jek kurang?&#8221;</p>



<p>(Masih kurang?) ucap satunya Mungkin mereka sekitar tujuh orang, sedangkan aku sendirian.</p>



<p>*Krusekkk*</p>



<p>Suara seperti kantung plastik diremas membuat kami semua terkejut Tandanya ada seseorang yang pasti sedang bersembunyi disekitar sini, mereka mulai waswas.</p>



<p>Mereka semua pasti takut bila ada yang melihat atau bahkan melaporkan kelakuan busuk mereka ini.</p>



<p>&#8220;Goleki! Cepet!&#8221;</p>



<p>(Cari! Cepat!) perintah Okta Iya Okta adalah orang yang paling membenciku, akupun tak pernah tahu penyebabnya, tapi nampaknya ia tak suka melihatku disukai banyak orang.</p>



<p>Mereka semua berpencar mencari orang yang diam diam mengintip kegiatan mereka sedari tadi itu. Hingga akhirnya…</p>



<p>&#8220;Ketemu&#8221; teriak salah satu dari mereka sambil menyeret tangan seseorang yang kelihatannya seangkatan denganku.</p>



<p>&#8220;Babat ae rambute kesuwen&#8221; (Botakin aja rambutnya) usul seorang teman Okta.</p>



<p>&#8220;Koe roh iki opo nduk? Pengen ngrasakno gak?&#8221; (Kamu tau ini apa? Pengen ngerasain gak?) ucap Okta sambil menyodorkan gunting ke pipi anak itu.</p>



<p>Dia hanya menangis ketakutan, ia mencoba berontak namun apa daya seluruh badannya dipegangi oleh teman teman Okta.</p>



<p>&#8220;Lapo koe melu melu urusanku? Tak kei kenang kenangan yo. Nek koe nganti wanten lapor dosen yo bakal ngrasakno hadiah sing lueh kepenak ko aku&#8221; </p>



<p>(Ngapain kamu ikut ikutan urusanku? Tak kasih kenang kenangan ya. Kalo kamu sampe berani beraninya lapor ke dosen ya bakalan ngerasain hadiah yang lebih enak lagi dariku) ancam Okta tanpa perasaan manusiawi sama sekali, ia tersenyum sinis sambil menarik jilbab anak itu sampai terlepas.</p>



<p>Kelihatannya mereka lupa bahwa aku masih disini dan lebih fokus ke anak itu.&nbsp; Hampir saja ia mengguntingnya, aku yang sudah merasa muak dan tidak tega segera meraih apapun yang ada didekatku.</p>



<p>&#8220;Bruakkk&#8221; Ember tepat mengenai kepala Okta. Ya, aku melemparkannya dengan sangat kencang hingga dia jatuh ke tanah.</p>



<p>Hidungnya berdarah, teman temannya pun panik. Kondisi itu kumanfaatkan untuk menyelamatkan Septi. Kutarik tangannya dari genggaman anak anak yang terfokus pada Okta, kamipun segera berlari menjauh dari para wanita gila itu.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Di kamar mandi aku menunggu Septi yang masih saja menangis, dia ketakutan dan tak berani keluar karena jilbab yang dikenakannya tadi dilepas paksa oleh Okta.</p>



<p>Ya, namanya Septi. Dia seumuran denganku, bukan seorang yang mencolok apalagi menarik perhatian. Makanya tidak banyak yang mengenalnya disini.</p>



<p>&#8220;Wes menengo, mari iki ayo ndang bali. Anggoen jaketku&#8221; (Udah diem, abis ini ayo balik. Pake jaketku) ujarku padanya, Kami pun pulang naik ojek menuju ke rumah Bapak.&nbsp;</p>



<p>&#8220;Loh Jun.. &#8221; ucapnya ternganga. &#8220;Ssst meneng wae, age&#8221; (Ssst diem aja, ayo) jawabku singkat.</p>



<p>Kami segera masuk ke kamarku, untunglah hari ini Mamah sedang tidak ada dirumah jadi aku tak perlu malu pada kawanku. Tak perlu khawatir akan ada seseorang yang meneriakiku anak perempuan jalang.</p>



<p>&#8220;Awakmu anake wong sugeh yo? Kok gaonok sing ngerti?&#8221; (Kamu anak orang kaya ya? Kok gaada yang tau?) tanyanya.</p>



<p>&#8220;Ora bandaku&#8221; (Bukan hartaku) jawabku singkat lagi.</p>



<p>Kami ada disini sedari sore hingga jam 9 malam, namun aneh tak ada seorangpun yang pulang kerumah.</p>



<p>Meski memang Mbak Novi sudah berkeluarga, namun biasanya ia akan pulang kemari dua kali seminggu. Begitu pula dengan Bapak, ia kemana? Biasanya ia hanya akan ke kantor sesekali saja karena fisiknya sudah tak memungkinkan lagi.</p>



<p>&#8220;Jun, Bapakmu pamit&#8221; celetuk Septi tiba tiba saja Aku memalingkan wajah kearahnya, alisku berkerut heran dengan maksud ucapan Septi barusan.</p>



<p>&#8220;Nok jendelo njobo, Bapakmu pamit&#8221; (Di jendela luar, Bapakmu pamit) jelasnya kembali</p>



<p>Aku langsung menuju ke jendela seperti yang dimaksud oleh Septi, namun aneh tak ada siapapun disini.</p>



<p>*Kring kring kring* Bunyi telefon rumah dari ruang tamu terdengar hingga kamarku. Aku bergegas keluar dan mengangkatnya, terdengar suara wanita sedang berusaha untuk bicara.</p>



<p>&#8220;Nduk, Jun…&#8221; suaranya tersenggal senggal karena menahan tangis.</p>



<p>&#8220;Mbak Novi? Mbak kenapa mbak&#8221; tanyaku mulai panik mendengar kakak perempuanku itu menangis.</p>



<p>&#8220;Bapak mpun kapundut dek, sak niki awakmu mrene ya dijemput&#8221; (Bapak udah meninggal dek, sekarang kamu kesini ya dijemput) ucap Mbak Novi yang terdengar jelas sedang diliputi kesedihan.</p>



<p>Runtuh, kekuatanku kali ini benar benar runtuh. Aku tak punya siapapun lagi di dunia ini. Akhirnya kali itu aku tahu bahwa Septi memiliki kelebihan istimewa, dan dari sinilah kami mulai berteman dekat.</p>



<p>Aku segera bersiap dan mengajak Septi yang kini membisu dan hanya bisa menangis bersamaku. Kami berdua dijemput oleh sopir pribadi kakak perempuanku itu menuju rumah sakit tempat Bapak menghembuskan nafas terakhirnya.</p>



<p>Aku memang sudah lama mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan ini, aku tahu pasti suatu saat Bapak akan meninggalkanku. Namun, masih tak kusangka akan secepat ini, ia bahkan belum melihatku menjadi sarjana nanti.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Tujuh hari sepeninggal Bapak, Mamah mengusirku dari rumah. Dan ya, akupun telah memperkirakan ini semua jadi aku sudah sepenuhnya pasrah.</p>



<p>Mbak Novi mengajakku untuk tinggal bersamanya, namun kutolak karena aku tidak ingin merepotkan siapapun lagi. Akupun bahkan tak meminta hak atas warisan Bapak sedikitpun.</p>



<p>Untunglah selama ini Bapak telah meninggalkan tabungan yang cukup untukku hidup sampai beberapa tahun kedepan, aku juga masih punya rumah milik Ibu dulu.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>*Jblakkk* Suara pintu mobil kututup Aku berjalan memasuki sebuah rumah yang kini kondisinya telah berubah sepenuhnya. Karena memang aku tlah lama tak pernah kembali ke daerah sini.</p>



<p>&#8220;Assalamualaikum Paklik.. Bulik.. Mei.. &#8221; panggilku yang kini telah berada di depan pintu.</p>



<p>&#8220;Waalaikumsalam, sinten? (siapa?)&#8221; sahut seseorang dari dalam menjawab salamku. Ibu Mei berjalan kearahku, nampaknya ia lupa dengan wajahku.</p>



<p>&#8220;Sinten nggih? Rencange Mei mbak?&#8221; (Siapa ya? Temennya Mei mbak?) tanyanya kembali.</p>



<p>Aku hanya tersenyum dan segera meraih tubuh Ibu Mei, aku memeluknya dengan sangat bahagia Ia terkejut karena aku tiba tiba memeluknya.</p>



<p>&#8220;Niki Juni Bulik..&#8221; (Ini Juni Bulik..) ucapku yang masih memeluknya erat Ia nampak terdiam beberapa saat lalu segera membalas pelukanku.</p>



<p>&#8220;Ya Allah Juni… &#8221; &#8220;Bulik pangkling nduk&#8221; ujarnya yang kini menangis terharu Aku melepas peluknya dan meraih serta mencium tangannya, tak terasa akupun ikut menangis rindu dan tersenyum lega.</p>



<p>&#8220;Meeeei! Mrene nduk&#8221; (Mei sini nak) teriaknya kencang sekali memanggil mei yang kelihatannya ada di belakang. Mei datang dengan wajah kusut, ketika matanya menatapku ia mematung dan membungkam mulutnya terkejut.</p>



<p>Aku segera masuk dan memberi salam pada sahabatku itu.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Setelah beberapa lama melepas rindu, akupun mulai menceritakan semuanya. Tak lupa dengan niatku untuk menempati kembali rumah Ibuk.</p>



<p>&#8220;Bapak mpun seda Bulik, Mamah nggih piyambake mboten purun tinggal kalih Juni. Dados Juni mriki mawon, kepengen manggeni daleme Ibuk&#8221;</p>



<p>(Bapak sudah meninggal, Mamah juga gamau tinggal sama Juni. Jadi Juni kesini aja, kepengen nempatin rumahnya Ibuk) ceritaku pada mereka berdua Pastinya mereka terkejut, alasan pertama karena mendengar kematian Bapakku. Dan yang kedua pastilah karena niatku untuk menempati rumah Ibuk kembali.</p>



<p>&#8220;Innalillahi, yang sabar yo nduk&#8221; Ibu Mei berucap lirih.</p>



<p>&#8220;Tapi Jun, awakmu tenan ta arep manggon omah kono maneh? Ojok yo mending tinggal kene wae karo aku, karo bapak ibuk&#8221;</p>



<p>(Tapi Jun, kamu yakin mau tinggal dirumah itu lagi? Jangan ya mending tinggal disini aja sama aku sama bapak ibuk) bujuk Mei sembari menggenggam erat tanganku.</p>



<p>Mereka mungkin khawatir padaku, tapi itulah satu satunya sisa kenangan masa lalu yang kupunya. Aku tersenyum padanya, aku berusaha meyakinkan dia bahwa aku akan baik baik saja.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Pagi disini cerah, mataharinya lumayan terik dan cukup efektif untuk menghangatkan badan.</p>



<p>Semalam, aku bermalam dirumah orangtua Mei. Begitu mendengar kabar bahwa aku kembali, Febri dan keluarganya pun langsung menemuiku tuk melepas rindu. Ya, keluarga Mei dan Febri layaknya keluarga kedua bagiku.</p>



<p>Kini lingkungan ini terasa sedikit asing, banyak perubahan yang kulewatkan selama beberapa tahun kebelakang.</p>



<p>Aku berjalan jalan pagi sendirian di gang ini, banyak warga baru yang tak saling mengenal denganku tersenyum menyapaku.</p>



<p>Begitu pula dengan mereka yang telah mengenalku sejak kecil dulu. Suasana hangat kurasakan saat mereka menyambutku dengan haru.</p>



<p>&#8220;Pak, Bu, nuwun sewu kula badhe nyuwun izin tinggal teng mriki malih, piyambakan&#8221; (Pak Bu permisi saya mau minta izin untuk tinggal disini lagi, sendirian).</p>



<p>ucapku kepada dua orang didepanku itu Mereka adalah Pak RT beserta istrinya, ya aku meminta izin sesuai prosedur untuk menempati kembali rumah Ibuk.</p>



<p>&#8220;Nak Juni yakin nduk?&#8221;</p>



<p>Hanya sepenggal kalimat itulah yang keluar dari mulut Pak RT, ketika aku mengangguk iapun tak mau mengganggu gugat pilihanku ini.</p>



<p>Aku bergegas keluar kamar dan memilih meringkuk di bawah kursi ruang tamu&nbsp;</p>



<p>Jam menunjukan 19&nbsp; 00 , aku sempat berfikir untuk keluar dari rumah dan menginap di rumah Mei&nbsp; &nbsp;Tapi di sisi lain aku tidak mau merepotkan, akhirnya kuputuskan bertahan walaupun rasa takut menyelimutiku&nbsp;</p>



<p>Malam ini kuputuskan untuk tidur di ruang tamu&nbsp; &nbsp;Merebahkan badan dikursi panjang tanpa bantal</p>



<p>Aku yang merasakan lelah setelah seharian membersihkan rumah akhirnya terlelap</p>



<p>Namun tidurku tidak berlangsung lama, lagi-lagi aku mendengar sesuatu yang kembali membuatku terkejut</p>



<p>*Tok&nbsp; Tok&nbsp; *</p>



<p>Kali ini bunyi ketukan masih sama dua kali seperti tadi, dan bersumber dari pintu depan rumah&nbsp;</p>



<p>Ada yang bilang bahwa dua kali ketukan adalah pertanda bahwa yang mengetuk pintumu bukanlah manusia</p>



<p>Aku yang masih merasakan ketakutan enggan membuka pintu,</p>



<p>dan bertahan di kursi panjang yang ku tiduri, hanya merubah posisiku sedikit, sekarang aku hanya bisa tertunduk dan benar-benar merasakan ketakutan&nbsp;</p>



<p>“Jun&nbsp; ?” Panggilan tersebut terdengar lembut, seperti perempuan yang masih berumur 40 tahunan, namun aku belum membukakan pintu</p>



<p>karena aku pikir suara tersebut bukan tamu yang datang ke rumahku,</p>



<p>“Jun?” Lagi-lagi ada suara seperti memanggilku, namun arah suara tersebut berada di pintu belakang,</p>



<p>Badanku seketika merinding,seperti ada tiupan angin ke badanku yang membuatku merasakan dingin di seluruh tubuh</p>



<p>Hanya berdoa yang kubisa, sambil memejamkan mata berharap semoga teror yang terjadi terhadapku cepat berlalu</p>



<p>“Jun ini Ibu Rt“</p>



<p>Mendengar panggilan tersebut dengan nafas yang memburu aku bergegas lari menuju pintu belakang&nbsp; &nbsp;Berharap seseorang dapat membantu membuatku sedikit lega</p>



<p>*Klek Klek*</p>



<p>Bunyi kunci pintu belakang</p>



<p>Perlahan aku buka, dan seketika ku mematung, kakiku tak bisa bergerak, mulut seperti terkunci rapat</p>



<p>&#8220;Emm Emmm”</p>



<p>Bukannya Bu Rt yang berada di depanku saat ini, namun se sosok perempuan berambut panjang, dengan lidah menjulur ke bawah.</p>



<p>“Ooh mosok karo cecek wedi se, oiyo Jun iki maemo awakmu wingi gurung sempet blonjo dadi tak masakno&#8221;</p>



<p>( Ooh masa sama cicak takut si Jun, oiya aku kesini mau nganterin makan nih buat kamu,kan kamu belum sempet belanja jadi aku masakin buat kamu)</p>



<p>“Wah suwun Me, tak gawane nok kampus wae ya pangan kono&#8221;</p>



<p>(Wah makasih Mei, aku bawa aja ke kampus ya buat dimakan disana) jawabku sambil tersenyum</p>



<p>“Iyo Jun, tapi kui rai mbe gulumu gene ko abang abang grawukan ngono&#8221;</p>



<p>(Oiya Jun, tapi itu muka sama leher kamu kenapa kok kaya ada</p>



<p>bekas cakaran merah gitu)</p>



<p>&#8220;Emm mambengi akeh nyamuk Me. Yowes tak mangkat yo&#8221;</p>



<p>(Emmm semalem banyak nyamuk. Ya udaah aku berangkat ya) tutupku tergesa</p>



<p>………..</p>



<p>Sesampainya dikampus aku langsung menuju ke kantin, sembari menyantap makanan yg diberikan Mei aku menunggu kedatangan Septi</p>



<p>Kiranya lima belas menit menunggu terdengar panggilan lirih dari arah belakangku</p>



<p>“Juniiii” suara lembut tersebut lagi-lagi membuatku merinding, hembusan angin membuat hawa dingin mulai masuk ke dalam tubuhku, berusaha menoleh perlahan karena kupikir itu Septi yang sudah datang</p>



<p>Seketika aku memundurkan badanku sampai mentok ke meja makan, sesosok mahluk dengan rambut panjang menutup muka dan bau busuk berada di hadapanku. Badan tangan dan kakiku tak bisa ku gerakkan sedikit pun, mulutku membisu serta tiba-tiba badanku melemas tiada daya.</p>



<p>*Bruuggg*</p>



<p>Badanku pun terjatuh ke bawah meja</p>



<p>Ya aku datang ke kampus sangat pagi dan memang aku yang paling awal, di kantin pun belum ada warung yang dibuka, jadi aku orang pertama yang sampai kampus dan langsung menuju kantin</p>



<p>“Nak bangun nak”.. panggil salah satu penjaga kantin</p>



<p>sambil menepuk badanku.</p>



<p>Aku yang baru saja tak sadarkan diri merasa terkejut karena bangun dengan kondisi di bawah kursi tempat ku makan tadi</p>



<p>“Kok kamu tidur dibawah” ucap Pak Adi penjaga kantin di kampusku</p>



<p>“Maaf pak tadi saya pingsan liat sosok Perempuan berbaju putih”</p>



<p>ucapku dengan nada lirih</p>



<p>Pak Adi terheran mendengar jawabanku seakan tidak percaya dengan apa yang telah aku alami, pandangan Pak Adi pun tiba-tiba berubah menatapku dengan sinis dengan bibir seperti mengucap doa dan mata melotot kepadaku</p>



<p>“Pak kenapa lihatin Juninya kaya gini?”.</p>



<p>Terdengar tiga siraman air seperti sedang membilas badan</p>



<p>“Sep wakmu adus ta, kok iso karo petengan ngene&#8221;</p>



<p>(Sep kamu kok bisa si mandi gelap-gelapan begini) aku yang yakin itu Septi sedang mandi melontarkan sebuah pertanyaan. Bukannya jawaban yang ku dapatkan melainkan hanya</p>



<p>tawaan lirih dari dalam kamar mandi.</p>



<p>“Hihihi” terdengar jawaban Septi dari kamar mandi</p>



<p>Aku yang juga ingin buang air kecil pun menunggu Septi dari luar kamar mandi, tak berselang lama kamar mandi pun terbuka dengan sendirinya,</p>



<p>*Krieettt…*</p>



<p>Bunyi pintu kamar mandi yang mulai terbuka perlahan. Dan apa yang kudapati bukanlah Septi namun sesosok perempuan tengah berendam di bak mandi dengan muka yang sangat menyeramkan dan mata melotot, aku yang terkaget berlari menuju ke kamar karena yakin kalau Septi berada dikamar</p>



<p>“Sep tangi Sep tangio…!&#8221;</p>



<p>(Sep bangun sep bangun.!!) Teriakku di depan kamar. karena tak kunjung mendapat jawaban aku yang ketakutan pun tanpa pikir panjang memasuki kamar dan membuka selimut yang berada di kasur. Ku pikir seorang dibalik selimut itu Septi.</p>



<p>Perlahan ku raba-raba karena keadaan gelap saat itu dikamar. Namun saat kubuka dan meraba yang kuraba seperti sebuah kaki bengkok, ternyata yang kulihat sesosok anak kecil cacat dengan kaki bengkok yang dulu pernah kulihat saat masih kecil. Dengan mata hitam dan mulut lebar</p>



<p>menganga ia menatapku kosong.</p>



<p>Badanku merinding, tanpa seucap kata aku lari keluar kamar, yang kupikirkan hanyalah bagaimana caraku keluar dari dalam rumah, berlari menuju pintu depan</p>



<p>*Cklekkk Cklekk*</p>



<p>Gagang pintu berusaha ku buka namun tak berhasil, seperti ada yang mengunci</p>



<p>dari luar rumah.</p>



<p>&#8220;Sialan, Septi ngendi ki nyapo malah lungo aku dikurung ngene&#8221;</p>



<p>(Sialan.. Kemana Septi, kenapa pergi dan mengurungku gini) umpatku dengan sedikit kesal kepada Septi yang entah berada dimana</p>



<p>*Dug.dug.dug*</p>



<p>Bunyi langkah kaki terdengar dari luar rumah.</p>



<p>*Krek krek*</p>



<p>Bunyi kunci pintu yang dibuka dari luar rumah membuat dadaku sedikit merasa lega. Tak berselang lama pintu pun terbuka. Dengan rasa kesal aku bertanya kepada Septi yang baru saja masuk.</p>



<p>“Kondi koe ngopo lungo ga ngomong, lawang barang nyapo dikunci&#8221;</p>



<p>“Hihihihi” Septi hanya tertawa mendengar pertanyaanku</p>



<p>Aku yang juga ikut merasakan lapar berusaha mendekati dan ingin meminta mie instant buatannya kalau sudah matang</p>



<p>“Nyuwun a nek wes mateng&#8221;</p>



<p>(Aku minta ya kalau sudah matang)</p>



<p>sambil berjalan aku berusaha mendekatinya</p>



<p>namun saat mulai melihat wajahnya, ternyata bukan Septi. Yang kulihat wajah tanpa mata dan hidung,namun hanya ada mulut yang sudah membusuk dan di gerumuti belatung</p>



<p>Spontan aku berlari menjauh, kuayunkan kakiku langsung menuju ke kamar, dengan nafas memburu aku langsung naik</p>



<p>ke atas rajang, berusaha membangunkan Septi yang sedang tertidur.</p>



<p>“Sep tangi seppp!!! &#8220;</p>



<p>(Sep bangun sep!!!) teriakku untuk membangunkan Septi yang sudah tertidur pulas.</p>



<p>“Hehhh opo si, bukane tidur ih”</p>



<p>&#8220;Aku roh demit Sep!&#8221;</p>



<p>(Aku liat hantu Sep!) semua yang dari awal berusaha</p>



<p>kututupi dari Septi, kali ini aku berusaha menceritakan apa yang barusan ku lihat.</p>



<p>“Biasa wae talah ncene akeh demit nde omahmu, aku ngantuk ki lho, turu ah&#8221;</p>



<p>(Biasa aja kali emang banyak hantu dirumah kamu, aku ngantuk nih, udah tidur ah) jawaban Septi yang</p>



<p>enggan membuka matanya waktu itu.</p>



<p>Namun aku segera menepuk badannya dengan keras agar mau membuka mata dan mau mendengarkan ceritaku, akhirnya Septi pun terbangun dan duduk di kasur.</p>



<p>Aku langsung menceritakan kepadanya saat itu juga.</p>



<p>“Mau aku roh onok sing metu seko kamar iki mirip awakmu mlaku mburi, tak kiro wakmu ning mari tak cek dadakman demit&#8221;</p>



<p>(Tadi aku lihat ada yang keluar dari kamar ini mirip kamu kulihat jalan ke belakang rumah, aku pikir itu kamu tapi waktu aku cek ternyata hantu)</p>



<p>dengan memegang pundak Septi aku berusaha meyakinkan kalau yang kulihat memang hantu</p>



<p>“Haha iyo nda” lagi-lagi Septi menganggap remeh ucapanku</p>



<p>Namun kali ini aku berusaha mengajaknya kedapur agar dia juga ikut melihat sesosok hantu tersebut</p>



<p>Dengan mata kantuk Septi mengiyakan</p>



<p>“Iya udah ayo kita lihat” kami pun berjalan pelan dengan Septi didepan aku yang masih merasakan ketakutan mengikutinya dibelakang sambil memegangi bajunya,</p>



<p>*Hooookk hokkk hokkkk*</p>



<p>Terdengar bunyi seperti orang mengorok saat tidur, sumber suara tersebut seperti dari arah dapur </p>



<p>yang akan kami datangi.</p>



<p>&#8220;Suoro opo kui?&#8221; gumam Septi</p>



<p>Perlahan kami berdua mengintip bagian dapur dengan perlahan, aku pun terkejut ternyata didapur tidak ada apapa, dan tidak ada hal aneh yang terjadi,</p>



<p>“Tuhh kan gak nampak setannya! !.” Ucap Septi</p>



<p>Aku pun hanya terpaku kebingungan, padahal tadi didapur aku melihat hantu gumamku dalam hati.</p>



<p>“Udah ayo tidur lagi ngantuk nih” Septi yang masih mengantuk mengajak untuk kembali ke kamar, aku yang masih merasa ketakutan hanya mengikutinya dari belakang</p>



<p>Sesampainya dikamar…</p>



<p>*Pyakk Pyak*</p>



<p>&nbsp;Septi yang berada didepanku saat memasuki kamar terdengar seolah menginjak air</p>



<p>“Loh kok ono banyu ndek gladak Jun?&#8221;</p>



<p>(Loh kok ada air di lantai kamar Jun)</p>



<p>“Wah kok aneh yo, jal nyalakke dilahe ayok resiki&#8221;</p>



<p>(Wah kok aneh ya,&nbsp; yaudah cepet nyalain lampunya kita bersihin dulu) ucapku memerintah Septi untuk menyalakan saklar di dinding dekat ranjang.</p>



<p>Septi pun berjalan perlahan menuju saklar yang kumaksud, namun sesudah lampu dinyalakan kami berdua bingung karena dilantai tidak ada</p>



<p>cairan yang terinjak oleh Septi</p>



<p>“Gaono banyu opopo Sep&#8221;</p>



<p>(Gada cairan apa apa Sep) kataku waktu melihat lantai dihadapanku yang kering</p>



<p>Setelah kejadian itu aku dan septi memutuskan untuk tidur kembali, waktu menunujukkan pukul 23:15</p>



<p>Septi yang dari pagi belum tidur sudah terlelap disampingku.</p>



<p>“Wah sial kok susah tidur” Umpatku yang merasakan susah tidur, karena terlalu lama tidur siang sampai waktu maghrib tadi</p>



<p>Aku hanya bengong sambil memandang langit-langit rumah, mengamati setiap sudut kamar,</p>



<p>tiba-tiba mataku tertuju ke atas lemari pakaian yang ada di dekat jendela kamarku. Namun saat ku amati ternyata hanyalah kain dan kardus.</p>



<p>Mataku mulai mengantuk dan perlahan mengejamkan mata,namun tak berselang lama Septi terbangun</p>



<p>“Te ngendi Sep&#8221;</p>



<p>(Mau kemana Sep)</p>



<p>ucapku dengan mata setengah mengantuk</p>



<p>“Pipis bentar” Septi pun berjalan keluar kamar dan menuju kamar mandi</p>



<p>~~</p>



<p>Saat sedang jongkok dengan mata mengantuk tiba-tiba seperti ada yang menyangkut di wajahnya, perlahan tangan Septi meraba bagian wajahnya, sehelai rambut yang</p>



<p>sangat panjang menempel di bagian wajahnya</p>



<p>Kepala Septi perlahan mendongak, wajahnya mengarah ke bagian atap kamar mandi. Terlihat sebuah kepala putus dengan lidah menjulur sedang berayun ayun disana, rambutnya benar benar panjang dan tanpa badan, seperti digantung.</p>



<p>Septi yang terkejut pun sontak berteriak sekencang mungkin dan berusaha lari dari kamar mandi,</p>



<p>*Hhhhaaaaa.!!!!***.</p>



<p>Teriakan Septi mengagetkanku membangunkanku yang berada di kamar, aku terbangun dan berusaha menghampiri Septi, namun saat kubuka pintu kamar</p>



<p>*Hihihihi Hahhhh*</p>



<p>Kerumunan anak kecil dengan muka yang sangat seram seperti ingin mengejarku dan mengajakku bermain, aku yg ingin menghampiri Septi lantas mengurungkan niatku, menutup kembali pintu dan melompat ke ranjang, berusaha menutup kepalaku dengan selimut.</p>



<p>“Kenapa Septi ngga datang-datang dari belakang sih”&nbsp; gumamku dalam hati dengan badan yang kubenamkan dalam selimut,</p>



<p>“Sep koe ngendi se ko sui men pipise&#8221;</p>



<p>(Sep kamu dimana lama banget sih pipisnya) namun tidak ada jawaban dari Septi waktu itu,</p>



<p>tidak berselang lama terdengar suara cekikikan dari bagian belakang rumahku</p>



<p>“Hihihihi hahahahaha” suara tersebut terdengar mirip seperti suara Septi, aku sangat paham dengan suara tersebut. Tapi kenapa dia tertawa sendiri gumamku dalam hati.</p>



<p>15 menit berlalu Septi tak kunjung kembali ke kamar, aku berniat menyusulnya ke kamar mandi. Dengan rasa takut kucoba kembali membuka pintu kamar</p>



<p>“Syukur gaono popo maneh&#8221;</p>



<p>(Syukurlah sudah tidak ada apapa)</p>



<p>Kulangkahkan kakiku setapak demi setapak menuju ke kamar mandi,</p>



<p>namun Septi tidak ada. Pintu belakang rumah nampak terbuka, karena makin penasaran akan keberadaan Septi, akhirnya ku intip perlahan melalui celah pintu itu.</p>



<p>Berdiri seseorang yang nampaknya adalah Septi menghadap sebuah pohon asam jawa, disana ia seperti tengah membicarakan</p>



<p>sesuatu dengan seseorang.</p>



<p>“Sep melbuo nomah sep nyapo nok jobo bengi bengi ngene&#8221;</p>



<p>&nbsp;( Sep masuk kerumah ngapain di luar malam-malam begini) panggilku saat itu</p>



<p>Sepertinya Septi tidak mendengarkanku, dengan ragu aku mencoba mendekatinya,</p>



<p>*Hihihihi* saat aku mendekat Septi</p>



<p>hanya tertawa menghadap pohon</p>



<p>“Jun ojok nyedakkk!!!&#8221;</p>



<p>(Jun jangan mendekat) Aku mendengar panggilan itu namun badanku seperti tidak bisa digerakan untuk menoleh ke orang yang memanggilku. Badanku seperti ditarik salah satu mahkluk yang menyamar sebagai Septi tersebut.</p>



<p>*Bughhh* pukulan keras dibagian punggungku membuatku hilang kesadaran malam itu</p>



<p><strong>Bersambung Ke &gt;&gt;&gt; Cerita Horor Rusin &#8211; Catatan Si Juni part 3</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Horor Twitter : Russin &#8211; Catatan Si Juni Part1</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part1/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2026 18:38:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerita Horor]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Rusin]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Horor Twitter]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Rusin - Catatan Si Juni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=4074</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Horor Twitter Judul : Rusin &#8211; Catatan Si Juni Penulis : @ItsQiana CATATAN SI JUNI PART 1 Juni namanya, ... <p class="read-more-container"><a title="Cerita Horor Twitter : Russin &#8211; Catatan Si Juni Part1" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part1/#more-4074" aria-label="More on Cerita Horor Twitter : Russin &#8211; Catatan Si Juni Part1">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><a href="https://alba.kazu.co.id">Cerita Horor Twitter</a></strong></p>



<p><strong>Judul </strong>: Rusin &#8211; Catatan Si Juni</p>



<p><strong>Penulis </strong>: @ItsQiana</p>



<p><strong>CATATAN SI JUNI</strong> <strong>PART 1</strong></p>



<p>Juni namanya, anak perempuan periang yang dipilih Tuhan untuk menjadi istriku. Namun nyatanya Tuhan lebih sayang kepadanya, hingga harus kurelakan ia meninggalkanku untuk berada di sisi-Nya.</p>



<p>Mari kuceritakan luka busuk yang ada di keluarga kami, keluarganya dahulu yang menjadi sumber derita bagi Juni kecil.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>*Srek Srek Srek* Suara gesekan dari seikat sapu lidi yang beradu dengan paving halaman sebuah rumah terdengar nyaring hingga ke seberang jalan.</p>



<p>*Bug bug bug bug bug* Derap langkah beberapa anak disana pun menambah kebisingan di sore itu</p>



<p>&#8220;Aduuuuh, ibuk, Juni dawah buk&#8221; (Aduh ibuk, Juni jatoh buk) teriak seorang anak perempuan yang tampak menahan isak tangis dan ngilu pada luka di lututnya.</p>



<p>Sang ibu menengok kearah Juni, entah mengapa ia tersentak kaget. Matanya membelalak lebar seakan tengah melihat hantu di siang bolong.</p>



<p>Rupanya nampak sepotong tangan tengah memegangi pergelangan kaki Juni. Ya, tangan seorang anak kecil yang membiru dan putus hanya sampai siku.</p>



<p>Dalam sekejap, bayangan itu hilang dari pandangannya.</p>



<p>&#8220;Bulik mboten nopo nopo?&#8221; (Bulik gapapa?) tanya Febri, sahabat Juni &#8220;Lhaiyo toh Jun dadi bocah wadon kok pencilakan, yahmene kancane malah diajak blayon&#8221; (Jun Jun jadi anak perempuan kok gabisa diem, jam segini temennya. malah diajak lari larian) ucap perempuan yang dipanggil Ibu oleh si Juni.</p>



<p>Ibu Juni nampak berusaha terlihat baik baik saja &#8220;Gek ndang ngadeko Jun, aku tak bali yoh&#8221; (Cepet berdiri Jun, aku pulang ya) ujar Mei, tetangga Juni yang juga seumuran dengannya.</p>



<p>&#8220;Aku barang lah, pitikku gurung tak kombong&#8221; (Aku juga lah, ayam ayamku belum aku kandangin) sahut Febri yang menyusul pamit pada Juni Rumah mereka berdekatan, masih berada dalam satu gang dan kebetulan mereka semua seumuran serta sekolah ditempat yang sama.</p>



<p>&#8220;Bulik.. Kula mantuk riyen nggih&#8221; (Tante.. Saya pulang dulu ya) pamit mereka sambil berjalan menuju rumah masing masing Ibu Juni hanya mengangguk tak menjawab.</p>



<p>&#8230;&#8230;..</p>



<p>Adzan maghrib telah berkumandang Dirumah Juni, hanya ada ia dan sang ibu. Kebetulan malam itu sampai dua hari kedepan ayahnya tidak ada dirumah karena harus berada di proyek. Ayah Juni adalah seorang mandor bangunan, dan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa.</p>



<p>Kini, Juni berusia 9 tahun. Pemikirannya mulai berkembang dan ia sering mempertanyakan banyak hal. &#8220;Buk, Bapak umur pinten?&#8221; (Buk, Bapak umur berapa?) tanya juni tiba tiba.</p>



<p>Ibunya mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Juni &#8220;59, nyapo takon takon umur barang?&#8221; (59, ngapain tanya tanya umur?) ibunya justru berbalik tanya.</p>



<p>&#8220;Lah Ibuk pinten? Kok ketingale tasik timur&#8221; (Lah Ibuk berapa? Kok keliatannya masih muda) tanya Juni kembali. </p>



<p>Memang jarak usia antara Bapak dan Ibu Juni terlihat sangat jauh. Ibu Juni baru berumur sekitar 32 tahunan saat itu.</p>



<p>Ia tidak menjawab, ia hanya melanjutkan kegiatannya dengan membisu. Juni yang merasa kesal karena menunggu lama namun tak kunjung mendapat jawaban akhirnya pun berhenti bertanya dan beranjak pergi ke kamarnya.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Dikamar, Juni merebahkan dirinya diatas ranjang empuk miliknya. Malam ini ia sedang malas belajar.</p>



<p>*Ckiiit ckiiit krieet* Decit lantai kayu membuyarkan lamunan Juni, ia segera duduk dan memeriksa bawah &#8220;Opo yo mau?&#8221; (Apaan ya tadi?) tanya Juni pada dirinya sendiri.</p>



<p>Kepalanya celingukan kekanan kekiri mencari asal suara tadi Ia melangkahkan kakinya menuruni ranjang *Kreeet kreet kreet* Sementara suara itu masih terdengar jelas, kini ia menemukan sumber bunyi itu.</p>



<p>Salah satu papan kayu yang menjadi lantai dikamarnya berdecit tiada henti serta menimbulkan getaran getaran kecil, seakan ada sesuatu yang mendorongnya dari bawah. *Tok Tok Tok* Tanpa rasa takut, Juni mengetuk papan itu.</p>



<p>*Krieeet*</p>



<p>Suara decit kayu itu terdengar lagi dari papan disebelahnya. Dan lagi lagi Juni mengetuknya. Hal itu terjadi pada hampir seluruh papan di dalam kamarnya. Bukannya curiga, Juni justru merasa seakan mendapat teman baru. Ia tersenyum sambil berlari larian memburu papan yang bergiliran berdecit itu.</p>



<p>&#8230;&#8230;..</p>



<p>Pagi harinya, Juni menceritakan kejadian semalam pada sang Ibu, namun lagi lagi ibunya hanya diam dan menelan ludah dalam dalam.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Sepulang sekolah, Juni mencari keberadaan ibunya. Namun ternyata Ibu Juni sedang tidak ada dirumah.</p>



<p>&#8220;Ah paling gek menyang arisan&#8221; (Ah mungkin lagi pergi arisan) gumam Juni Anak yang tengah merasa lapar itu segera menuju meja makan dan membuka tudung saji diatasnya.</p>



<p>Tak perlu waktu lama ia telah mengisi penuh piring ditangannya. Ia dengan lahap makan sendirian dirumah itu hingga pada beberapa suap terakhir giginya merasa seperti tengah menggigit sesuatu.</p>



<p>Ia memuntahkan yang sedang ia kunyah dalam mulutnya itu. Nampak potongan sebuah jari bayi berada disekitar nasi muntahannya. Juni yang masih merasa penasaran pun meraih benda itu untuk memastikan.</p>



<p>*Aaaaaaaaaaaa…..* Ia menjerit ketakutan lalu pingsan seketika.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Juni : &#8220;Jun.. Tangio nduk, nduk tangi nduk&#8221; (Jun.. Bangun nak bangun)</p>



<p>Samar samar kudengar suara seseorang, suara itu terdengar berusaha membangunkanku. Kini telapak tangan dan kakiku pun mulai merasakan gosokan gosokan lembut yang mengenai permukaan kulitku.</p>



<p>Berat, badanku terasa berat sekali bahkan mataku sangatlah susah untuk dibuka. *Puk puk puk*</p>



<p>Tepukan ringan mendarat dipipi kecilku hingga akhirnya aku mulai tersadar. Mataku menangkap beberapa orang berada disekelilingku, mereka semua adalah tetanggaku.</p>



<p>Para orangtua, anak anak remaja mereka, tak luput pula kedua temanku Mei dan Febri yang terlihat menangis sesenggukan melihatku terbaring.</p>



<p>&#8220;Alhamdulillah pak bu bocahe tangi&#8221; (Alhamdulillah pak bu anaknya bangun) ucap ibu Mei yang duduk disebelah kiriku.</p>



<p>&#8220;Buk e wes teko gurung&#8221; (Ibunya udah dateng belom) tanya salah seorang warga.</p>



<p>&#8220;Durung i, ngendi leh jane ki&#8221; (Belom tuh, kemana sih sebenernya) kesal warga lain.</p>



<p>Dalam keadaan setengah sadar, aku mencoba mengingat ingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Saat ingatanku mulai pulih, seketika perutku terasa mual dan kumuntahkan seluruh isinya.</p>



<p>Ibu Mei yang terkejut segera memegangi tubuhku dan memijat mijat tengkukku.</p>



<p>&#8220;Lho lha Pak.. Piye iki bocahe soyo pucet ngene&#8221; (Loh Pak.. Gimana ini anaknya makin pucet gini) buru ibu Mei yang makin khawatir pada kondisiku.</p>



<p>Akhirnya akupun dibawa ke puskesmas oleh warga, kulihat diluar matahari mulai tenggelam. Jadi berapa lama aku tak sadarkan diri?.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Dokter disana hanya mengatakan bahwa aku kelelahan, jadi mereka segera membawaku pulang.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Sesampainya dirumah, ternyata ibuku tak kunjung pulang. Ibu Mei pun membawaku untuk menginap dirumahnya, dia mengurusiku seperti anak perempuannya sendiri.</p>



<p>Entah apa yang dilakukan ibu diluar sana, mengapa ia tak pulang? Ibu pergi kemana bu?</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Malam ini terasa sangat panjang untuk kulalui. Kulihat Mei telah tertidur pulas disebelahku, nampaknya ia kelelahan menangisiku sedari siang tadi.</p>



<p>Keheningan malam ini terasa berbeda, udara dingin menusuk tulang kurasakan begitu hebatnya. Untunglah ibu Mei memberiku selimut tebal yang kiranya cukup membalut tubuhku yang tak seberapa besar ini.</p>



<p>Perlahan mataku mulai terpejam, mimpi? Apakah saat ini aku benar benar sudah terlelap?</p>



<p>*Hihihihi..*</p>



<p>Suara tawa mengagetkanku Siapa? Siapa yang sedang bermain tengah malam begini? Suara itu, suara balita yang terdengar sedang asik tertawa riang.</p>



<p>Saat mulai terhanyut dalam mimpi, samar mulai kulihat seorang anak laki laki cacat tengah bermain dihadapanku.</p>



<p>Ya, anak yang bahkan terlihat baru berusia beberapa tahun dan tidak bisa berjalan normal karena cacat fisik bawaan.</p>



<p>Tangannya kecil sebelah dengan jari jari yang bengkok tak beraturan. Wajahnya terlihat normal, ia tampan dan terlihat familiar bagiku. Kakinya panjang sebelah dengan satu kaki yang putung.</p>



<p>Sungguh mengenaskan, entah mengapa melihatnya hatiku terasa amat sakit walaupun nyatanya ia terlihat sedang asyik bermain sendirian.</p>



<p>&#8220;Dek?&#8221; panggilku sembari lebih mendekat padanya Ia hanya menengok kearahku, menatap wajahku lalu tertawa kembali. &#8220;Ahihihihi&#8221;</p>



<p>Mengesot, ia berjalan dengan cara mengesot. Mendorong tubuhnya dengan satu kakinya yang normal dan menopang badannya dengan satu tangannya. Seakan mengisyaratkan padaku untuk mengikutinya, akupun melangkah keluar dari kamar Mei bersamanya.</p>



<p>Kulihat diluar rumah cahaya temaram menyinari. Bukankan ini sudah malam? Apakah ini masih sore? Atau jangan jangan ini sudah pagi? Entahlah.</p>



<p>Dia masih saja mengesot bahkan saat kami melewati jalan aspal dengan banyak kerikil kecil bertebaran, aku tak tega melihatnya. Kuangkat badan itu dengan setengah jijik, meskipun jijik namun naluriku ingin sekali membantunya.</p>



<p>Lagi lagi ia tertawa &#8220;Hi hi hi hi nono&#8221; Katanya sambil menunjuk kearah rumahku.</p>



<p>&#8220;Arep nyapo nang omahku?&#8221; (Mau ngapain kerumahku?) tanyaku padanya</p>



<p>Kini ia berada di pinggang kecilku, kurasakan badannya sama sekali tidak berat. Ternyata setelah kuperhatikan badan itu teramat kurus, banyak bekas luka pada punggungnya.</p>



<p>Akupun melangkah masuk ke halaman rumah, gelap, kenapa rumahku terlihat sangat gelap? Oh iya, ibu sedang tidak ada dirumah. Mungkin para tetangga lupa tidak menyalakan lampu dirumahku.</p>



<p>Aku melangkah masuk, namun tetiba getaran hebat terasa pada tubuhku. Seakan menolak masuk, seketika rasa takut teramat besar menyelimutiku. Tubuhku mematung, kini dadaku benar benar sesak, sama sekali tak bisa ku gerakkan sesuai kemauanku.</p>



<p>Bocah yang tadi berada di gendonganku mendadak lenyap, kini tinggal aku sendirian dirumahku ini.</p>



<p>*Oeeek oeeek oeeek*</p>



<p>Tangisan bayi, rumah ini kini sangat bising dipenuhi oleh tangisan bayi. Entah suara berapa saja anak hingga mampu membuat telingaku berdenyut pening mendengar suara tangisan yang sangat ramai itu.</p>



<p>Aku mulai menangis, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menangis. Aku ingin berontak, badanku meronta ingin bergerak bebas, namun lagi lagi aku tak bisa berkutik sedikitpun.&nbsp;</p>



<p>Tangisku mulai memuncak sejadi jadinya, hingga…</p>



<p>&#8220;Juniii&#8230; Juni.. Tolooong tolong&#8221;</p>



<p>Terdengar suara teriakan membangunkanku serta goncangan pada tubuhku. Apa ini? Tubuhku lemas saat itu juga. Kesadaranku mulai menurun dan pandanganku gelap.</p>



<p>Aku membuka mata, kulihat lagi pemandangan yang mirip seperti siang tadi.</p>



<p>Mataku silau, terasa nyeri terkena cahaya lampu diatasku. Apakah aku barusan bangun? Bukannya tadi aku sedang berada dirumahku sendiri? Banyak sekali orang yang berkumpul disekelilingku, para ibu ibu menangis tersedu memandangiku, dan beberapa orang lain mengaji diluar kamar Mei.</p>



<p>Haha, ternyata aku hanya bermimpi.</p>



<p>Esok hari Mei menceritakan padaku bahwa semalam badanku mengejang tak karuan. Aku mengerang dengan sangat keras seperti seseorang yang tengah kesurupan.</p>



<p>Benarkah demikian? Jika memang iya, apa alasan mereka mengganggu hidupku? Apa salahku?</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>agi ini, ibu belum juga nampak pulang. Mau tak mau aku harus tinggal lebih lama dirumah Mei.</p>



<p>&#8220;Jun, Mei, mreneo nduk sarapan sek&#8221; (Jun, Mei, sini nak sarapan dulu) panggil bapak Mei pada kami berdua Kami yang tengah berada di halaman depan pun masuk kerumah untuk sarapan.</p>



<p>Hari ini aku dilarang ibu dan bapak Mei untuk bersekolah, jadi saat mei sekolah aku hanya seorang diri disini.</p>



<p>Bapak Mei adalah seorang perhutani, dan ibunya adalah seorang guru. Jadi tiada seorangpun dirumah saat siang hari.</p>



<p>Waktuku kuhabiskan untuk istirahat dan membereskan pekerjaan di rumah Mei. Meskipun tiada yang menyuruhku, dan pasti mereka akan melarangku jika tahu aku melakukannya tapi aku sangat ingin berusaha tidak merepotkan mereka.</p>



<p>Tak terasa terik matahari sudah mulai menyengat, tanda bahwa siang hari telah datang.</p>



<p>&#8220;Juuun.. Aku mau ngerti ibukmu&#8221; (Juuun.. Aku tadi lihat ibumu) teriak Mei yang berlari terengah engah menghampiriku.</p>



<p>&#8220;Kapan Me? Ngendi?&#8221; (Kapan Me? Dimana?) tanyaku antusian</p>



<p>&#8220;Mau ibukmu numpak becak Jun, lewat sekolahe awak dewek&#8221; (Tadi ibumu naik becak Jun, lewat sekolah kita) jelas Mei yang terlihat masih kelelahan akibat berlari.</p>



<p>Aku hanya diam, tak tahu apa yang harus kuucapkan saat itu. Kepalaku terasa kosong, apakah orangtuaku tak lagi mempedulikanku?</p>



<p>Tak kusangka perasaan menyakitkan muncul dalam dadaku, sesak, terasa begitu sesak hingga nafas hampir tak mampu kulakukan. Kutahan air mataku, semampuku kutahan rasa ingin menangis ini.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Sore, kala aku dan Mei menunggu orangtua Mei pulang kerja tetiba sedan putih melewati jalanan depan rumah Mei.</p>



<p>&#8220;Bapak… &#8221; gumamku &#8220;Mei.. Bapakku bali Mei&#8221; (Bapakku pulang Mei) ujarku pada Mei yang segera menarikku berdiri.</p>



<p>&#8220;Gek ndang age, ayo nomahmu&#8221; (Ayo buruan, ayo ke rumahmu!) buru Mei yang antusias.</p>



<p>Kami berdua pun segera berlari menuju rumahku. Terlihat Bapak baru saja turun dari mobilnya, ia celingukan menatap rumah yang sepi itu.</p>



<p>&#8220;Pakkk… &#8221; panggilku yang segera memeluknya Ia terlihat senang melihatku yang kemudian menggendongku.</p>



<p>Mei mendekat kearah kami dan memberi salam pada Bapakku.</p>



<p>&#8220;Adek kok nganti yahmene isih dolan wae toh dik? Iki kenopo omahe kok tumben gak disapu Ibuk?&#8221; (Adek kok sampe jam segini masih main aja? Ini juga kenapa rumahnya tumben ga disapu sama Ibuk?) tanya Bapakku yang belum tahu apa apa.</p>



<p>Perasaan kecamuk kurasakan lagi, namun kini tangisku pecah. Bapak semakin bingung melihatku menangis.</p>



<p>&#8220;Budhe Septi mboten wonten Pakdhe, sampun kalih dinten niki Budhe mboten mantuk&#8221; (Budhe Septi tidak ada Pakdhe, sudah dua hari ini Budhe gak pulang)&nbsp; ucap Mei tiba tiba yang mengejutkan Bapakku.</p>



<p>Ya, nama ibuku adalah Septiani. Dan Mei memanggil orangtuaku dengan sebutan &#8220;Dhe&#8221; tentu saja karena usia bapakku jauh lebih tua dari orangtuanya.</p>



<p>*Trengteng teng teng teng….*</p>



<p>Suara motor milik ayah Mei pun terdengar nyaring hingga kerumahku. Tandanya orangtua Mei telah pulang.</p>



<p>Bapakku segera berjalan menuju rumah Mei, ia meraih tangan Mei, menggandengnya dengan tangan kanan dan aku masih berada pada gendongan tangan kirinya.</p>



<p>Ya, meskipun sudah berumur namun Bapakku masih terlihat gagah dan awet muda, tenaganya pun masih sangat kuat.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Sesampainya dirumah Mei, ia menurunkanku dari gendongannya dan berjalan menghampiri orangtua Mei. Mereka menyambut tangan Bapakku dengan perasaan bersyukur.</p>



<p>&#8220;Juni, Mei, mlebet kamar sik nggih nduk dolanan nok kamar&#8221; (Juni, Mei, masuk kamar dulu ya nak main dikamar) perintah Ayah Mei pada kami berdua, kami pun menurut.</p>



<p>Bapakku dan Ayah Mei terlihat duduk di teras dan sedang berbincang serius. Sedangkan Ibu Mei pergi ke dapur untuk membuatkan minum dan camilan.</p>



<p>Selang beberapa waktu terlihat Bapak Febri datang kemari, entah apa yang mereka bicarakan hingga berjam jam.</p>



<p>Akhirnya, Bapak masuk kedalam kamar Mei. Ia berpamitan padaku dan berjanji beberapa hari kedepan akan menjemputku kembali.&nbsp;</p>



<p>&#8220;Sing manut ya nduk, gak pareng nakal&#8221; (Yang nurut ya nak, gak boleh nakal) pesannya padaku. Kelihatannya mereka sepakat untuk menitipkanku disini.</p>



<p>Bapakku pun kembali ke rumahku lalu kembali lagi ke rumah Mei dengan membawa banyak baju serta barang barangku. Ia hanya mengelus rambutku lalu pamit pada orangtua Mei dan Bapak Febri.</p>



<p>Lagi lagi terlihat mobil Bapakku melewati jalanan depan rumah Mei ini. Entah kemana ia akan pergi lagi.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Beberapa hari pun berlalu. Aku mulai terbiasa tinggal dirumah Mei, akupun sudah bersekolah seperti biasa. Setiap hari Febri memboncengku dengan sepedanya,  sedangkan Mei mengayuh sepedanya sendiri.</p>



<p>&#8220;Feb? Gak kesel ta saben dino mboncengke aku terus?&#8221; (Feb? Gak capek apa tiap hari boncengin aku terus?) tanyaku padanya.</p>



<p>&#8220;Gak, mulane ndang gede mengko gantian aku goncekke&#8221;. (Gak, makanya cepet besar biar nanti gantian aku kamu boncengin) jawab Febri sambil tersenyum.</p>



<p>Kemanapun aku pergi, kedua temanku itu selalu menjagaku. Kami selalu bertiga, bersama sama entah itu dirumah atau disekolah kami selalu bertiga.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Ayahku kembali, namun kali ini dia bersama seseorang.</p>



<p>&#8220;Ibuk… &#8221; panggilku antusias, namun ternyata tak seperti dugaanku Perempuan itu bukan Ibu, ia tersenyum padaku dan memperkenalkan diri.</p>



<p>&#8220;Assalamualaikum dek.. Pasti kamu ya yang namanya Juni?&#8221; tanyanya. Aku hanya mengangguk tanpa berkedip. Ia kembali tersenyum dan mengelus rambutku.</p>



<p>&#8220;Mbak namanya Desi, mulai sekarang mbak yang bakal jagain kamu&#8221; terangnya padaku.</p>



<p>Ternyata Ayah membawa seorang pengasuh untukku Ia mengobrol untuk beberapa saat dengan tuan rumah lalu mengajakku untuk berpamitan.</p>



<p>Jadi, apakah sekarang adalah waktunya aku berpisah dengan kawan kawan?</p>



<p>Mei menangis mendahuluiku, ia menarik tanganku dan menyeretku kerumah Febri. Febri yang tengah bermain kelereng segera menghampiri kami.</p>



<p>Ia pun ikut menangis sesenggukan melihat Mei menangis walaupun belum tahu alasan Mei menangis.</p>



<p>Tangisku pun ikut pecah, kami bertiga menangis hingga Ibu Mei menyusul kemari. Ia mengatakan bahwa Bapakku akan segera mengajakku berangkat jadi kami harus kembali kesana. Akhirnya, kami bertiga pun berpisah.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Di dalam mobil, aku tak tahu hendak dibawa kemanakah aku. Pikiranku bercampur aduk. Mbak Desi mencoba menenangkanku, ia mengusap usap punggungku sambil mengatakan bahwa semua baik baik saja.</p>



<p>Kini, tibalah kami di satu rumah yang asing bagiku. Rumah siapa ini? Kami turun dari mobil dan Bapak menggandengku masuk.</p>



<p>*Praaaang* Suara suatu benda yang pecah menghantam dinding mengejutkanku.</p>



<p>&#8220;Wani wanine koe mas ngajak anakan lonte iku mrene?&#8221; (Berani beraninya kamu mas ngajak anak perempuan jalang itu kemari?) teriak seorang perempuan paruh baya dari dalam rumah Anak perempuan jalang? Apa maksutnya itu?</p>



<p>&#8220;Des, ajaken Juni noi kamare&#8221; (Des, ajak Juni ke kamarnya) perintah Bapak yang segera diiyakan oleh Mbak Desi.</p>



<p>&#8220;Nggih Pak&#8221; jawabnya.</p>



<p>Setibanya di kamar, suara pertengkaran Bapakku dan perempuan itu masih terdengar jelas dan sangat keras hingga ke kamarku.</p>



<p>Aku yang ketakutan hanya meringkuk di dalam dekapan Mbak Desi Banyak hal yang kudengar dari pertengkaran mereka, meskipun aku baru berusia sembilan tahun, kini aku mulai memahami semuanya.</p>



<p>Ternyata perempuan itu adalah istri pertama Bapak. Sedang Ibu, ia hanya istri simpanan Bapak. Aku tahu pasti, kehadiranku sangat tidak diinginkan oleh keluarga mereka.</p>



<p>Kini aku pun tahu alasan Bapak jarang pulang kerumah Ibu bukan karena ia sedang berada di proyek bangunan seperti yang kutahu selama ini, melainkan ia harus berada disini, dirunah istri pertamanya yang lebih berhak atas dirinya.</p>



<p>Bapak bukan pula seorang mandor bangunan, nyatanya ia adalah seorang pengusaha kaya raya di daerah kami.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Mentari telah terbit, cahayanya terlihat menembus tirai jendela kamar yang masih terasa asing bagiku ini.</p>



<p>Mbak Desi telah tiada disebelahku, aku pun beranjak menuju kamar mandi. Dikaca, kulihat mataku membengkak karena menangis semalaman&nbsp;.</p>



<p>Aku membasuh mukaku dengan air lalu berjalan keluar kamar untuk mencari Bapak. Namun ditengah perjalanan aku bertemu dengan seorang perempuan muda, mungkin ia baru berusia dua puluh tahunan.</p>



<p>Ia tersenyum padaku dan menghampiriku. &#8220;Juni toh?&#8221; tanyanya. Aku mengangguk ketakutan, aku takut akan ada seseorang yang mengamuk seperti semalam ketika melihatku.</p>



<p>&#8220;Aku Novi, ojo wedi ya nduk aku mbakyu mu&#8221; (Aku Novi, jangan takut ya dek aku kakak perempuanmu) jelasnya. Kakak perempuanku?&nbsp;</p>



<p>&#8220;Awakmu lesu ya mesti, ayo mrene sarapan disik&#8221; (Kamu laper ya pasti, ayo sarapan dulu) ujarnya padaku.</p>



<p>Aku pun duduk dengannya di meja makan yang berada di dapur. Diatasnya sudah tertata rapi banyak makanan, namun kemana semua orang?</p>



<p>Ia mengambil satu piring dan mengisinya dengan berbagai lauk dan nasi, ia menaruhnya dihadapanku.</p>



<p>&#8220;Maemo&#8221; (Makanlah) perintahnya Akupun segera memakannya sampai habis, lalu ia pun mengajakku berkeliling.</p>



<p>Sampailah kami di taman belakang rumah, kulihat Bapak ada disana, ia tengah membaca koran dan meminum kopi dari cangkir disampingnya.</p>



<p>&#8220;Bapak… &#8220;</p>



<p>Ia nampak menengok ke arahku, senyum cerah mengambang disudut bibirnya. Akupun berlari mendekat.</p>



<p>&#8220;Pak, Juni pengen mantuk&#8221; (Pak, Juni pengen pulang) keluhku pada Bapak yang memelukku hangat. Ia mengendurkan rangkulannya, seraya menatapku dan berkata.</p>



<p>&#8220;Ini kan ya rumahe Juni, ada Bapak ada Mbak Novi&#8221; jawabnya &#8220;Tapi Juni kangen Ibuk Pak&#8221; tegasku pada Bapak yang seperti menghalangiku untuk bertemu Ibu.</p>



<p>&#8220;Bapak arep mangkat kerja sek ya nduk&#8221;</p>



<p>(Bapak mau berangkat kerja dulu ya nak) ujarnya tanpa sepatah kata pun menjawab keluhanku Aku berlari ke arah kamarku dan menangis disana, aku kangen ibuk, Juni kangen ibuk…</p>



<p>&#8230;&#8230;..</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Beberapa bulan ku lalui disini dengan sangat berat hati. Sekolahku dipindahkan kemari, hari hariku terasa menguras emosi.</p>



<p>Ibu tiriku masih saja memperlakukanku seperti bukan anak manusia, ia selalu mengumpat dan memaki tiap kali aku melakukan kesalahan. Ia pun acap kali memukulku bila Bapak dan Mbak Novi sedang tidak berada dirumah.</p>



<p>Hanya Mbak Desi lah satu satunya tempatku bersandar, ia pun sering menangisi nasibku, namun bagaimanapun ia tak dapat melawan nyonya rumah ini.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;.</p>



<p>Hingga suatu pagi, datang beberapa anggota polisi kerumah kami. Mereka mengabarkan sesuatu pada Bapak.</p>



<p>Entah apa yang mereka katakan hingga membuat bapak terkejut seketika. Badannya terlihat lemas hingga kakinya tak mampu lagi menopang beban diatasnya. Bapak ambruk dan sesak napas untuk beberapa saat sampai semua orang dirumah merasa panik.</p>



<p>Bapak diangkat beberapa orang rumah dan direbahkan ke sofa&nbsp; &#8220;Juni.. Juni.. Nak&#8221; panggil Bapak lirih.</p>



<p>&#8220;Dalem pak niki Juni pak&#8221; (Iya pak ini Juni pak) sahutku yang mulai menangis melihat Bapak Ia pun mencoba untuk duduk dan ikut menangis menatapku.</p>



<p>&#8220;Ibukmu ninggal nduk&#8221; ucapnya dengan berat hati.</p>



<p>Kini giliranku yang harus merasakan kejutan rasa sakit. Dadaku seperti tersengat oleh listrik secara spontan, aku masih tidak bisa mempercayainya namun hanya dengan mendengar kata itu perasaanku bagai kaca yang telah remuk hancur berkeping keping.</p>



<p>Di sisi lain ibu tiriku justru terawa terbahak bahak merasakan puas yang teramat sangat mengetahui hal ini. Ia kini merasa bahagia karena perempuan yang merebut suaminya telah pergi dan taakan kembali.</p>



<p>&#8220;Hoho wes mati toh? Yo apik lah sundel nyapo urip sue sue. Nek perlu koe pisan ndang nyusul bukmu nduk&#8221;</p>



<p>(Hoho udah mati ya? Ya bagus lah jalang ngapain hidup lama lama. Kalo perlu kamu sekalian ikut nyusul ibumu nak) ucapnya dengan semangat sembari mengelus rambut kepalaku.</p>



<p>Baru kali ini aku merasakan sentuhan halus ibu tiriku, sentuhan dengan rasa puas mendendam.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Kami semua pun segera pergi menuju tempat jenazah ibuku berada. Ternyata rumah Ibuk…</p>



<p>Terlihat banyak sekali warga dari seluruh penjuru desa mengerumuni rumah Ibuk. Gang yang sempit ini terisi oleh banyak manusia yang berebut melihat pemandangan tidak wajar disana.</p>



<p>Keluarga kami berjalan kearah rumah, telah terpasang garis polisi yang membentang panjang mengelilingi pagar dan halaman sekeliling rumah.</p>



<p>Bapak menggendongku, aku terus saja menangis tanpa henti. Kami langsung diijinkan masuk oleh para petugas.</p>



<p>Kulihat di dalam rumah jenazah ibuku tergantung tinggi dengan tali menjerat lehernya.Tali yang diikat kencang pada kerangka atap rumah ini, rumah yang menjadi tempat semua kenanganku bersama ibu berada.</p>



<p>&#8220;Bapak.. Ibuk pak Ibuk… &#8220;</p>



<p>&#8220;Ibuuukk.. Ampun ninggalke Juni Buk, Juni janji Juni mboten nakal malih Buk, tulungi ibukku tulung ibuk mesakke nok nduwur kono. Ibuk….&#8221;</p>



<p>(Ibuk.. Jangan tinggalin Juni Buk, Juni janji Juni gak nakal lagi Buk, tolongin ibu Juni om tolongin kasihan ibuk diatas sana. Ibuk… ) jeritku teriakku pada Ibuk dan semua orang yang ada disana.</p>



<p>Aku merasa emosi tak karuan mengapa mereka hanya melihat dan tak segera membantu ibu turun. Ibu pasti bisa dihidupkan, ibu pasti bisa diselamatkan kembali, pikirku kala itu.</p>



<p>Tubuh kecilku meronta menendang nendang Bapak. Ia hanya menangis dan sekuat tenaga mencoba menahan gerakku. Aku memukul mukuli badannya dan semakin berontak.</p>



<p>Kulihat para petugas dibantu beberapa warga mencoba menurunkan tubuh Ibu bersama sama. Mbak Desi masuk dan meraihku dari Bapak, ia menggendongku menuju keluar rumah dan pemandangan terakhir yang kulihat justru adalah kenangan terburukku akan sosok Ibuk.</p>



<p>Matanya melotot lebar dan mengarah keatas seakan hampir copot dan lidahnya menjulur panjang hingga melebihi dagunya sendiri. Sungguh tak pernah ku bayangkan nasib seperti ini akan terjadi dalam hidupku.</p>



<p>Proses pembersihan berlangsung sampai malam, dan mau tak mau kami melangsungkan takziah dirumah ini, &#8216;omah bekas kendat&#8217; kata warga. Jam terus berdetik dan menunjukkan pukul tujuh malam. Aku masih sangat terpukul dan tak sanggup lagi melihat jenazah Ibuk.</p>



<p>Dikamarku sendiri, aku ditemani oleh Mbak Desi yang terus berusaha membujukku untuk makan.</p>



<p>&#8220;Jun, kamu kalo gak maem nanti sakit&#8221; ucapnya yang duduk disampingku dengan mata iba.</p>



<p>&#8220;Juni pengen Ibuk&#8221; tegasku Akhirnya ia menyerah dan memilih diam membiarkanku.</p>



<p>*Cklek.. Kreeet* suara pintu kamarku dibuka.</p>



<p>Kulempar pandangan kearahnya, Ibu Mei. Ibu Mei berjalan kemari dan mengajakku untuk tidur dirumahnya bersama Mei, ia nampak berbicara dengan berusaha mempertahankan nadanya yang mulai bergetar karena tangis.</p>



<p>&#8220;Nduk Jun, bobok wene Bulik nggih kalih Mei&#8221; (Nak Juni, tidur dirumah Tante ya sama Mei) ajaknya membujuk.</p>



<p>&#8220;Mboten. Juni pengen Ibuk&#8221; tolakku tanpa basa basi Akhirnya Ibu Mei keluar, ia tak mau memaksaku.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Yasinan dimulai, kudengar suaranya jelas menyebar ke segala arah. Aku mengintip sejenak untuk melihat keadaan luar, tampak puluhan orang sedang mengaji disana.</p>



<p>Mbak Novi pun terlihat duduk diantara mereka, ia mengaji bersama. Sedangkan Bapak, entah dimana gerangan.</p>



<p>Tetiba…&nbsp; *Hi hi hi hi…* Tawa seorang bocah. Siapa yang justru tertawa pada saat seperti ini?</p>



<p>Aku membalikkan badan, Mbak Desi tak bergeser sedikitpun dari posisinya sedari awal tidur tadi, ia terlihat pulas.</p>



<p>*Hi hi hi hi… * Terdengar lagi, kini lebih jelas.</p>



<p>Aku memutari ranjang, mencari ke semua tempat di kamar ini. Tak kutemukan siapapun disana hingga bau busuk mulai menusuk hidungku.</p>



<p>&#8220;Opo se ambune sek koyo mengene&#8221; (Apasih baunya ko sampe kaya gini) gumamku sendiri Aku mencari darimana bau itu berasal.</p>



<p>Namun bau bau ini tercium dari segala arah. Baunya benar benar menyebar memenuhi seisi kamar.</p>



<p>Tampak bercak merah aliran darah berasal dari bawah ranjangku, karena merasa sangat penasaran tanpa pikir panjang akupun berjalan kearah meja dan mengambil senter diatasnya, lalu langkahku kuarahkan ke ranjang itu.</p>



<p>Aku menunduk sampai dadaku menyentuh lantai. Kunyalakan senter yang dalam genggamanku dan kuarahkan kebawah sana.</p>



<p>Bau! Sangat sangat bau! Apa itu?!&nbsp; Mataku mulai terfokus pada banyak gumpalan gumpalan yang terlihat seperti daging berceceran memenuhi bawah ranjangku itu.</p>



<p>Daging berlumuran darah yang mulai membusuk. Darahnya sangat banyak hingga mampu mengalir membasahi lantai.</p>



<p>Kamarku berlantaikan kayu, rumah ini adalah rumah lama yang turun temurun diwariskan oleh leluhur ibu, kata ibu.</p>



<p>Aku yang benar benar terkejut seketika beringsut mundur, menarik tubuhku kebelakang dengan cepat hingga tak sengaja punggungku menabrak lemari bajuku. Lemari kayu besar setinggi dua meter dengan empat pintu yang terlihat sangat gagah meskipun sudah tua.</p>



<p>*Nuni Nuni Hehehe* (Juni Juni Hehehe) belum kelar jantungku beristirahat kini kembali dikejutkan oleh suara yang tertangkap pendengaranku.</p>



<p>Aku bersimpuh ketakutan didepan lemari itu. Badanku berkeringat dingin, aku memberanikan diri untuk mendongak keatas dimana suara itu berasal.</p>



<p>Ketika kepalaku telah mendongak sempurna, kulihat bayangan seseorang. Dia! Bukankah dia anak yang waktu itu muncul dalam mimpiku? Anak yang penuh cacat.</p>



<p>Dia menyeringai menatapku dari atas lemari. Matanya terlihat hitam gelap dan senyumnya sungguh membuatku gemetar hebat.</p>



<p>Badanku mengejang hingga menimbulkan bunyi gemertak pada lantai kayu di bawahku ini.</p>



<p>Kepalaku tak dapat kugerakkan sesuka hati, mataku tak dapat kupejamkan bahkan untuk menelan ludahku sendiripun tak mampu. Aku seperti dibuat mematung.</p>



<p>Anak itu terlihat bergerak dari tempatnya, ia menarik kepalanya dan melompat dari atas sana ke pangkuanku secara tiba tiba hingga akhirnya aku bisa berteriak.</p>



<p>*Aaaaaaaaa…*</p>



<p>Teriakku sangat kencang tanpa sengaja sebelum badanku melemas dan tiba tiba pandanganku menjadi gelap.</p>



<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Lanjut ke Cerita Horor Twitter ; Rusin Part 2 &gt;&gt;&gt; <strong><a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-horor/rusin-catatan-si-juni-part2/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Cerita Horor Rusin &#8211; Catatan Si Juni Part 2</a></strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
