<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kumpulan sajak &#8211; albabbarrosa</title>
	<atom:link href="https://alba.kazu.co.id/tag/kumpulan-sajak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://alba.kazu.co.id</link>
	<description>Sastra, Bahasa, Filsafat, Cerita, Fotografi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Mar 2026 18:37:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.5</generator>

<image>
	<url>https://alba.kazu.co.id/wp-content/uploads/2020/01/albabbarrosa-favicon-150x150.png</url>
	<title>kumpulan sajak &#8211; albabbarrosa</title>
	<link>https://alba.kazu.co.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kumpulan Puisi dan Sajak Chairil Anwar 1942-1949</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/sastra/kumpulan-puisi-dan-sajak-chairil-anwar/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/sastra/kumpulan-puisi-dan-sajak-chairil-anwar/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2026 18:37:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan sajak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/?p=462</guid>

					<description><![CDATA[albabbarrosa.com &#8211; Kumpulan Puisi dan Sajak Chairil Anwar. Halo pecinta Sastra Indonesia, baik pecinta Puisi, Syair dan Sajak dimanapun kalian ... <p class="read-more-container"><a title="Kumpulan Puisi dan Sajak Chairil Anwar 1942-1949" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/sastra/kumpulan-puisi-dan-sajak-chairil-anwar/#more-462" aria-label="More on Kumpulan Puisi dan Sajak Chairil Anwar 1942-1949">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>albabbarrosa.com &#8211; Kumpulan Puisi dan Sajak Chairil Anwar. </strong>Halo pecinta Sastra Indonesia, baik pecinta Puisi, Syair dan Sajak dimanapun kalian berada. Sudah hampir satu bulan saya tidak update artikel nih hehehe.</p>



<p>Dan kali ini saya akan mengumpulkan sebuah karya sastra, kumpulan puisi dan sajak dari penyair terkenal era 90-an. Dia adalah penyair yang dijuluki &#8220;Binatang Jalang&#8221;. Siapa lagi kalau bukan Chairil Anwar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Sekilas Biografi Chairil Anwar</h2>



<p>Chairil Anwar merupakan salah satu penyair terkenal dari Indonesia. Sastrawan yang dijuluki &#8220;Binatang Jalang&#8221; Ini lahir  di&nbsp;Medan,&nbsp;26 Juli&nbsp;1922&nbsp;–&nbsp;meninggal di&nbsp;Jakarta,&nbsp;28 April&nbsp;1949&nbsp;pada umur 26 tahun.</p>



<p>Chairil Anwar dijuluki &#8220;binatang Jalang&#8221; karena salah satu puisinya menggemparkan jagat sastra di indonesia, yaitu puisi yang berjudul &#8220;Aku&#8221;.  &#8221; Aku ini binatang jalang<br>Dari kumpulannya terbuang &#8221; begitulah cuplikan dari puisi Chairil Anwar yang berjudul Aku.</p>



<p>Chairil Anwar merupakan putra satu satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha. Ayah Chairil Anwar pernah menjabat sebagai bupati Indragiri Riau. </p>



<p>&#8220;Singa selalu terlahir dari singa&#8221; Chairil Anwar bukanlah orang biasa, karena dia masih punya ikatan darah dengan Soetan Sjahrir, Perdana Mentri pertama Indonesia.  </p>



<p>Sebagai anak tunggal, orang tuanya selalu memanjakannya, namun Chairil cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apapun; sedikit cerminan dari kepribadian orang tuanya. </p>



<p>Pendidikan pertama Chairil Anwar di dapat dari <strong><em>Hollandsch-Inlandsche School</em>&nbsp;(HIS)</strong>,&nbsp;sekolah dasar&nbsp;untuk orang-orang pribumi pada masa&nbsp;penjajahan Belanda. Kemudian melanjutkan pendidikannya di&nbsp;<strong><em>Meer Uitgebreid Lager Onderwijs</em>&nbsp;(MULO)</strong>. </p>



<p>Setelah perceraian orang tuanya, ketika Chairil Anwar menginjak usia 19 tahun.Dia dan ibunya memutuskan pindah ke Batavia (saat ini Jakarta). Dari kota inilah Chairil berkenalan dengan dunia Sastra dan memutuskan untuk menjadi seorang Seniman.</p>



<p>Biografi lebih lanjut bisa baca di <strong><a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar">Biografi Chairil Anwar</a></strong></p>



<p>Bagi kalian yang ingin membuat puisi  karena terinspirasi Chairil Anwar. Saya punya rekomendasi Diksi Indah untuk karya puisimu. Link ==&gt; <strong><a href="https://alba.kazu.co.id/sastra/kumpulan-diksi-indah-jarang-digunakan/" target="_blank" aria-label="undefined (buka pada tab baru)" rel="noreferrer noopener">Diksi Indah Untuk Puisi</a></strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Kumpulan Puisi dan Sajak Chairil Anwar</h2>



<p>Berikut ini beberapa <strong><a href="https://alba.kazu.co.id" target="_blank" aria-label="undefined (buka pada tab baru)" rel="noreferrer noopener">Puisi Chairil Anwar</a></strong></p>



<h4 class="wp-block-heading">Puisi Chairil Anwar Aku</h4>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<p>Kalau sampai waktuku<br>Aku mau tak seorang kan merayu<br>Tidak juga kau<br>Tak perlu sedan itu</p>



<p>Aku ini binatang jalang<br>Dari kumpulannya terbuang</p>



<p>Biar peluru menembus kulitku<br>Aku tetap meradang menerjang</p>



<p>Luka dan bisa kubawa berlari<br>Berlari<br>Hingga hilang pedih peri</p>



<p>Dan aku akan lebih tidak peduli<br>Aku mau hidup seribu tahun lagi</p>
</div></div>



<h4 class="wp-block-heading">Puisi Chairil Anwar Aku Berkaca</h4>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<p>Ini muka penuh luka<br>Siapa punya?</p>



<p>Ku dengar seru menderu<br>Dalam hatiku<br>Apa hanya angin lalu?</p>



<p>Lagi lain pula<br>Menggelepar tengah malam buta</p>



<p>Ah..!!!</p>



<p>Segala menebal, segala mengental<br>Segala tak ku kenal..!!!<br>Selamat tinggal…!!</p>
</div></div>



<h4 class="wp-block-heading">Puisi Chairil Anwar Diponegoro</h4>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<p> Di masa pembangunan ini<br>Tuan hidup kembali<br>Dan bara kagum menjadi api </p>



<p> Di depan sekali tuan menanti<br>Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali<br>Pedang di kanan, keris di kiri<br>Berselempang semangat yang tak bisa mati </p>
</div></div>



<h4 class="wp-block-heading"> Puisi Chairil Anwar Doa</h4>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<p> Kepada pemeluk teguh </p>



<p>Tuhanku<br>Dalam termangu<br>Aku masih menyebut namamu</p>



<p>Biar susah sungguh<br>Mengingat Kau penuh seluruh</p>



<p> Cahaya Mu panas suci<br>Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi </p>



<p>Tuhanku<br>Aku hilang bentuk remuk</p>



<p>Tuhanku<br>Aku mengembara di negeri asing</p>



<p>Tuhanku<br>Di pintu Mu aku bisa mengetuk<br>Aku tidak bisa berpaling</p>
</div></div>



<h4 class="wp-block-heading">Puisi Chairil Anwar Krawang-Bekasi</h4>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<p>Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi<br>Tidak bisa teriak ‘Merdeka’ dan angkat senjata lagi<br>Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami<br>Terbayang kami maju dan mendegap hati?</p>



<p>Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi<br>Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak<br>Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.<br>Kenang, kenanglah kami.</p>



<p>Kami sudah coba apa yang kami bisa<br>tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan ati 4-5 ribu nyawa</p>



<p>Kami cuma tulang-tulang berserakan<br>Tapi adalah kepunyaanmu<br>Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan</p>



<p>Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan,<br>atau tidak untuk apa-apa<br>Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata<br>Kaulah sekarang yang berkata.</p>



<p>Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi<br>Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak</p>



<p>Kenang, kenang lah kami<br>Teruskan, teruskan jiwa kami<br>Menjaga Bung Karno<br>Menjaga Bung Hatta<br>Menjaga Bung Sjahrir</p>



<p>Kami sekarang mayat<br>Berikan kami arti<br>Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian</p>



<p>Kenang, kenang lah kami<br>yang tinggal tulang-tulang diliputi debu<br>Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi</p>
</div></div>



<h4 class="wp-block-heading">Puisi Chairil Anwar Maju</h4>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<p> Bagimu negeri<br>Menyediakan api </p>



<p>Punah di atas menghamba<br>Binasa di atas ditindas<br>Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai<br>Jika hidup harus merasai</p>



<p>Maju<br>Serbu<br>Serang<br>Terjang</p>
</div></div>



<h4 class="wp-block-heading">Puisi Chairil Anwar Yang Terampas dan Yang Putus</h4>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<p>Kelam dan angin lalu mempesiang diriku<br>Menggigir juga ruang di mana dia yang ku ingin<br>Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu</p>



<p>Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin</p>



<p>Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang<br>Dan aku bis lagi lepaskan kisah baru padamu<br>Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang</p>



<p>Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlaku beku</p>
</div></div>



<h4 class="wp-block-heading">Puisi Chairil Anwar Hampa</h4>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<p> Sepi di luar. Sepi menekan mendesak<br>Lurus kaku pohonan. Tak bergerak<br>Sampai ke puncak. Sepi memagut<br>Tak satu kuasa melepas renggut<br>Segala menanti. Menanti. Menanti </p>



<p> Sepi<br>Tambah ini menanti jadi mencekik<br>Memberat mencekung punda<br>Sampai binasa segala. Belum apa-apa<br>Udara bertuba. Setan bertampik<br>Ini sepi terus ada. Dan menanti </p>
</div></div>



<h4 class="wp-block-heading">Puisi Chairil Anwar Senja di Pelabuhan Kecil</h4>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<p>Ini kali tidak ada yang mencari cinta<br>Di antara gudang, rumah tua, pada cerita<br>Tiang serta temali.<br>Kapal, perahu tiada berlaut<br>Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut</p>



<p>Gerimis mempercepat kelam<br>Ada juga kelepak elang menyinggung muram<br>Desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan<br>Tidak bergerak dan kini tanah air tidur hilang ombak</p>



<p>Tiada lagi. Aku sendirian.<br>Berjalan menyisir semenanjung<br>Masih pengap harap<br>Sekali tiba di ujung<br>Dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat<br>Sedu penghabisan bisa terdekap</p>
</div></div>



<h4 class="wp-block-heading">Puisi Chairil Anwar Kepada Kawan</h4>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<p>Sebelum ajal mendekat dan menghianat<br>Mencengkam dari belakang ketika kita tidak melihat<br>Selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa</p>



<p>Belum bertugas kecewa dan gentar belum ada<br>Tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam<br>Layar merah berkibar hilang dalam kelam<br>Kawan, mari kita putuskan kini di sini<br>Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri</p>



<p>Jadi<br>Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan<br>Tembus jelajah dunia ini dan balikkan<br>Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu<br>Pilih kuda yang paling liar, pacu laju<br>Jangan tembatkan pada siang dan malam</p>



<p>Dan<br>Hancurkan lagi apa yang kau perbuat<br>Hilang sonder pusaka, sonder kerabat<br>Tidak minta ampun atas segala dosa<br>Tidak memberi pamit siapa saja</p>



<p>Jadi<br>Mari kita putuskan sekali lagi<br>Ajal yang menarik kita, kan merasa angkasa sepi<br>Sekali lagi kawan, sebaris lagi<br>Tikamkan pedangmu hingga ke hulu<br>Pada siapa yang mengairi kemurnian madu..!!</p>
</div></div>



<h4 class="wp-block-heading">Puisi Chairil Anwar Cerita Buat Dien Tamaela</h4>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<p>Beta Pattirajawane<br>Yang dijaga datu-datu<br>Cuma satu</p>



<p>Beta Pattirajawane<br>Kikisan laut<br>Berdarah laut</p>



<p>Beta Pattirajawane<br>Ketika lahir dibawakan<br>Datu dayung sampan</p>



<p>Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala<br>Beta api di pantai. Siapa mendekat<br>Tiga kali menyebut beta punya nama</p>



<p>Dalam sunyi malam ganggang menari<br>Menurut beta punya tifa, pohon pala,<br>Badan perawan jadi hidup sampai pagi tiba</p>



<p>Mari menari!<br>Mari beria!<br>Mari berlupa!</p>



<p>Awas jangan bikin beta marah<br>Beta bikin pala mati, gadis kaku<br>Beta kirim datu-datu</p>



<p>Beta ada di malam, ada di siang<br>Irama ganggang dan api membakar pulau</p>



<p>Beta Pattirajawane<br>Yang dijaga datu-datu<br>Cuma satu</p>
</div></div>



<h4 class="wp-block-heading">Puisi Chairil Anwar Persetujuan Dengan Bung Karno</h4>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<p>Ayo! Bung Karno kasih tangan, mari kita bikin janji<br>Aku sudah cukup lama dengan bicara mu<br>Dipanggang di atas api mu<br>Digarami lautmu dari mulai tanggal 17 Agusutus 1945</p>



<p>Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu<br>Aku sekarang api, Aku sekarang laut<br>Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat<br>Di zat mu, di zat ku kapal-kapakl kita berlayar<br>Di urat mu, di urat ku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh</p>
</div></div>



<h4 class="wp-block-heading">Puisi Chairil Anwar Sebuah Kamar</h4>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<p>Sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia<br>Bulan yang menyinar ke dalam mau lebih banyak tahu<br>Sudah lima anak bernyawa di sini, Aku salah satu</p>



<p>Ibuku tertidur dalam tersedu<br>Keramaian penjara sepi selalu<br>Bapak ku sendiri terbaring jemu<br>Matanya menatap orang tersalib di batu</p>



<p>Sekeliling dunia bunuh diri<br>Aku minta adik lagi pada Ibu dan Bapak ku<br>Karena mereka berada di luar hitungan<br>Kamar begini 3 x 4 terlalu sempit buat meniup nyawa</p>
</div></div>



<h4 class="wp-block-heading">Puisi Chairil Anwar Rumahku</h4>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<p> Rumah ku dari unggun timbun sajak<br>Kaca jernih dari luar segala nampak<br>Ku lari dari gedong lebar halaman </p>



<p>Aku tersesat tak dapat jalan<br>Kemah ku dirikan ketika senja kala<br>Di pagi terbang entah ke mana<br>Rumah ku dari unggun timbun sajak</p>



<p>Di sini aku berbini dan beranak<br>Rasanya lama lagi<br>Tapi datangnya datang<br>Aku tidak lagi meraih petang<br>Biar berleleran kata manis madu<br>Jika menagih yang satu</p>
</div></div>



<h4 class="wp-block-heading">Puisi Chairil Anwar Sajak Putih</h4>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<p>Bersandar pada tari warna pelangi<br>Kau depanku bertudung sutra senja<br>Di hitam matamu kembang mawar dan melati<br>Harum rambutmu mengalun bergelut senda<br>Sepi menyanyi</p>



<p>Malam dalam mendoa tiba<br>Meriak muka air kolam jiwa<br>Dan dalam dadaku memerdu jiwa<br>Dan dalam dadaku memerdu lagu<br>Menarik menari seluruh aku</p>



<p>Hidup dari hidupku, pintu terbuka<br>Selama matamu bagiku menengadah<br>Selama kau darah mengalir dari luka<br>Antara kita mati datang tidak membelah</p>
</div></div>



<p>Mungkin ini dulu puisi dari Chairil Anwar yang bisa saya Kumpulkan. Bagaimana? setelah membaca kumpulan Puisi Chairil Anwar apakah jiwa sastramu menjadi STONK???</p>



<p>Pantau terus web saya, untuk update artikel dan informasi lainnya. Terimakasih sudah berkenan membaca.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/sastra/kumpulan-puisi-dan-sajak-chairil-anwar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>5</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
