<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bahasa &#8211; albabbarrosa</title>
	<atom:link href="https://alba.kazu.co.id/category/bahasa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://alba.kazu.co.id</link>
	<description>Sastra, Bahasa, Filsafat, Cerita, Fotografi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Jul 2026 18:37:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.5</generator>

<image>
	<url>https://alba.kazu.co.id/wp-content/uploads/2020/01/albabbarrosa-favicon-150x150.png</url>
	<title>Bahasa &#8211; albabbarrosa</title>
	<link>https://alba.kazu.co.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Macam Macam Singkatan dan Akronim dan Kaidah Penulisan</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/bahasa/macam-macam-singkatan-dan-akronim-dan-kaidah-penulisan/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/bahasa/macam-macam-singkatan-dan-akronim-dan-kaidah-penulisan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2026 18:37:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Info Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Kaidah Berbahasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/macam-macam-singkatan-dan-akronim-dan-kaidah-penulisan/</guid>

					<description><![CDATA[Image by Wokandapix from Pixabay &#160; albabbarrosa.com &#8211; Kaidah Singkatan dan Akronim &#160; Singkatan merupakan bentuk yang dipendekkan terdiri dari ... <p class="read-more-container"><a title="Macam Macam Singkatan dan Akronim dan Kaidah Penulisan" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/bahasa/macam-macam-singkatan-dan-akronim-dan-kaidah-penulisan/#more-51" aria-label="More on Macam Macam Singkatan dan Akronim dan Kaidah Penulisan">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<table style="margin-left: auto;margin-right: auto;text-align: center" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center"><a style="margin-left: auto;margin-right: auto" href="https://1.bp.blogspot.com/-S9InrBcqWtw/XeYkiy6dxVI/AAAAAAAAAHo/u8zkGfthvR0avlj9b8CnZ2AcpQLyvXWwACEwYBhgL/s1600/wtf-1934220_640.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" src="https://1.bp.blogspot.com/-S9InrBcqWtw/XeYkiy6dxVI/AAAAAAAAAHo/u8zkGfthvR0avlj9b8CnZ2AcpQLyvXWwACEwYBhgL/s640/wtf-1934220_640.jpg" width="640" height="425" border="0" data-original-height="426" data-original-width="640"></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center">Image by <a href="https://pixabay.com/users/Wokandapix-614097/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=1934220">Wokandapix</a> from <a href="https://pixabay.com/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=1934220">Pixabay</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div><b><span lang="IN">&nbsp;</span></b></div>
<div><strong><a href="https://alba.kazu.co.id/">albabbarrosa</a>.com &#8211; Kaidah Singkatan dan Akronim</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><b><span lang="IN">Singkatan merupakan</span></b><span lang="IN"> bentuk yang dipendekkan terdiri dari satu huruf atau lebih. Kependekan kata atau singkatan muncul dilatarbelakangi ketika pikiran berjalan lebih cepat dari perbuatan menulis seseorang atau bicara seorang narasumber lebih cepat dari pada proses pencatatan seorang penulis.</span></div>
<div><span lang="IN">Singkatan dan <b>akronim</b>juga dimaksudkan untuk memendekkan suatu nama, badan lembaga, atau susunan kata dari sebuah nama agar mudah diingat. </span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Singkatan dan akronim semakin banyak digunakan, bukan lagi yang berhubungan dengan hal-hal formal atau hal penting saja. Dalam berkomunikasi lewat chating juga sering kita menyingkat kata, hal tersebut bertujuan untuk menyingkat waktu agar pesan bisa cepat terkirim dan dibaca penerima. Sehingga dorongan untuk menyingkat kata sulit dihindari.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Munculnya sekian banyak singkatan menurut penyusun <b><i>Tesaurus Bahasa Indonesia</i></b><i>, </i>Eko Endarmoko sebagai bukti bahasa itu hidup, dinamis karena tidak ada kaidah yang mengatur pembuatan singkatan. Tiap orang bebas membuat singkatan sesuka hati.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Meski begitu, karena bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang disepakati, pembuatan singkatan tertentu juga harus ada kaidah supaya tidak terjadi kesalahfahaman atau salah mengartikan sebuah singkatan. Sebuah sistem tentu ada kaidah tersendiri.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Dengan adanya kaidah pembuatan singkatan, singkatan-singkatan yang baru dibuat menjadi mudah untuk dipahami, juga agar pembuatan dan penggunaan singkatan bisa terartur. Karena fungsi dari bahasa adalah sebagai alat komunikasi agar manusia bisa saling memahami apa yang dimaksudkan. Berikut macam macam singkatan dan kaidah penulisannya.</span></div>
<div>&nbsp;</div>
<ul>
<li><b><span lang="IN">Singkatan nama orang</span></b><span lang="IN">, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti tanda titik. Misalnya : A.S. Kartononingrat. S.Kar (Sarjana karawitan) M.Sc. (master of science) M.Hum. (magister humaniora) Kol. (kolonel) Bpk. (bapak) A.P (ahli pratama, diploma I) A.Ma. (ahli muda diploma II) A.Md. (ahli madya, Diploma III) S.ST. (sarjana sain terapan, setara diploma IV)</span></li>
</ul>
<ul>
<li><b><span lang="IN">Singkatan nama resmi lembaga</span></b><span lang="IN"> pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi terdiri dari huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti tanda titik. Misalnya : DPR (Dewan Perwakilan rakyat) BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa)<span>&nbsp; </span>PT (perseroan terbatas)<span>&nbsp; </span>UD (usaha dagang) BNI (bank negara indonesia)</span></li>
</ul>
<ul>
<li><b><span lang="IN">Singkatan umum</span></b><span lang="IN"> terdiri dari tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Musalnya : dll. (dan lain-lain) hlm. (halaman) jl. (jalan) dsb. (dan sebagainya)<span>&nbsp; </span>sda. (sama dengan atas) dst. (dan seterusnya) Yth. (yang terhormat) a.n (atas nama) d.a (dengan alamat) u.b (untuk beliau) u.p (untuk perhatian) ybs. (yang bersangkutan)</span></li>
</ul>
<ul>
<li><b><span lang="IN">Singkatan lambang kimia</span></b><span lang="IN">, <b>singkatan satuan ukuran</b>, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik. Misalnya : Cu (kuprum) TNT (trinitoluen) cm (sentimeter) KVA (kilovolt ampere) gb (giga byte) kg (kilogram) Rp 5.000,00 (rupiah) idr (indonesia rupiah) ml (mili liter)</span></li>
</ul>
<div><span lang="IN"><b>Akronim adalah</b>sigkatan berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlukan sebagai kata. Macam macam akronim dan kaidah penulisannya sebagai berikut.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div>&nbsp;</div>
<ul>
<li><b><span lang="IN">Akronim nama diri</span></b><span lang="IN"> <b>yang merupakan gabungan huruf awal</b> dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Misalnya : </span></li>
</ul>
<div><span lang="IN">STAKN : Sekolah tinggi Agama Kristen Negeri</span></div>
<div><span lang="IN">STAHN : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri</span></div>
<div><span lang="IN">STAIN : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri</span></div>
<div><span lang="IN">STAN : Sekolah tinggi Akutansi Negara</span></div>
<div><span lang="IN">STIN : Sekolah Tinggi Intelijen Negara</span></div>
<div><span lang="IN">UIN : Universitas Islam Negeri</span></div>
<div><span lang="IN">UNY : Universitas Negeri Yogyakarta</span></div>
<div>&nbsp;</div>
<ul>
<li><b><span lang="IN">Akronim nama diri berupa gabungan suku kata</span></b><span lang="IN"> atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf kapital pada huruf pertama. Misalnya : Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) Akmil (Akademi Militer) Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) Pemkab (Pemerintah Kaupaten) Pemda (Pemerintah Daerah)</span></li>
</ul>
<ul>
<li><b><span lang="IN">Akronim yang bukan nama diri</span></b><span lang="IN"> berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. Misalnya : Pemilu (pemilihan umum) Radar (<i>radio detecting and ranging</i>) Rudal (peluru kendali) Tilang (bukti pelanggaran)</span></li>
</ul>


<p>Itulah sedikit penjelasan dari saya tentang kaidah singkatan dan akronim. Semoga memebri tambahan wawasan dan pengetahuan. Terimakasih.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/bahasa/macam-macam-singkatan-dan-akronim-dan-kaidah-penulisan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Bahasa Inggris dari Main Game dan Nonton Film</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/sosial/belajar-bahasa-inggris-dari-main-game-dan-nonton-film/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/sosial/belajar-bahasa-inggris-dari-main-game-dan-nonton-film/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2026 18:42:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Info Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/belajar-bahasa-inggris-dari-main-game-dan-nonton-film/</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai bahasa international, tentu bahasa inggris menjadi mata pelajaran pokok di bangku sekolah, baik sekolah dasar, menengah, dan menengah atas. ... <p class="read-more-container"><a title="Belajar Bahasa Inggris dari Main Game dan Nonton Film" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/sosial/belajar-bahasa-inggris-dari-main-game-dan-nonton-film/#more-63" aria-label="More on Belajar Bahasa Inggris dari Main Game dan Nonton Film">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div><span lang="IN">Sebagai <b>bahasa international</b>, tentu bahasa inggris menjadi mata pelajaran pokok di bangku sekolah, baik sekolah dasar, menengah, dan menengah atas. Karena nantinya kemampuan berbahasa inggris sangatlah diperlukan, karena semua media inernational menggunakan bahasa inggris.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Meski sudah dipelajari sejak sekolah dasar, namun masih ada beberapa orang yang merasa kesulitan untuk <b>menguasai bahasa inggris</b>. Kesulitan bisa berupa dua hal, yakni kesulitan dalam teori, atau kesulitan dalam pengaplikasian. </span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><b><span lang="IN">Kesulitan dalam teori</span></b><span lang="IN">, mereka meresa susah memahami bagaimana cara penyusunan kalimat, penulisan huruf, dan pengucapan kata. Kesulitan dalam pengaplikasian bisa berupa sulit untuk menerjemahkan dari bahasa inggris ke bahasa indonesia atau sebaliknya. Bisa juga sulit dalam menerapkan dalam berkomunikasi menggunakan bahasa inggris.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<table style="margin-left: auto;margin-right: auto;text-align: center" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center"><a style="margin-left: auto;margin-right: auto" href="https://1.bp.blogspot.com/-49StlFQSknA/Xc1mY8uKE7I/AAAAAAAAAFY/m8itRnYJUlIK3RuxlbToLYQoXUyXNhhTwCLcBGAsYHQ/s1600/game%2Bonline.jpg"><img decoding="async" src="https://1.bp.blogspot.com/-49StlFQSknA/Xc1mY8uKE7I/AAAAAAAAAFY/m8itRnYJUlIK3RuxlbToLYQoXUyXNhhTwCLcBGAsYHQ/s640/game%2Bonline.jpg" width="640" height="360" border="0" data-original-height="450" data-original-width="800"></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center">Photo From : Gameprime.org</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div><b><span lang="IN"><br />
Uniknya,</span></b><span lang="IN"> ada banyak orang yang mengaku bisa berbahasa inggris, namun bukan karena mereka pintar dalam pembelajaran bahasa inggris di sekolah. Mereka bisa dan mengerti bahasa inggris karena keseringan main game online dan menonton film-film luar negri.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Mereka bilang 70% belajar bahasa inggris dari main game online dan nonton film, 30% belajar bahasa inggris di sekolah formal. Mereka bilang begitu mungkin karena mereka kebanyakan <b>main game sama nonton film luar</b> daripada belajar kali ya.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Tapi saya akui memang, kita merasa kemampuan berbahasa inggris kita semakin meningkat karena keseringan main game sama nonton film luar. Tapi hal itu juga dipengaruhi karena kita masih sempat belajar bahasa inggris di bangku sekolah. Coba bayangkan bagaimana mereka yang tidak bisa merasakan enaknya duduk di bangku sekolah mencoba untuk belajar bahasa inggris dari main game dan nonton film, mungkin akan terasa lebih sulit.</span></div>
<h3><b><span lang="IN">Belajar Bahasa Inggris Dari Game Online</span></b></h3>
<div><span lang="IN">Siapa yang disini hobi main game onlien? Bahasa inggrismu pada jago-jago ga? Game online sangat populer sekali ketika jaringan internet berhasil masuk ke daerah-daerah. Saya sendiri main game onlie di warnet sejak duduk kelas 2 smp. dan&nbsp; saat itu saya tiap hari jumat pergi kewarnet untuk main game ninja saga di facebook.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Namanya game online international tentu bahasanya menggunakan bahasa inggris, dan saat itu saya tidak tahu cara mengubah bahasanya menjadi bahasa indonesia. Jadi mau tidak mau harus bergelut dengan bahasa inggris. Mungkin karena disekolah juga belajar bahasa inggris jadi lebih mudah untuk memahami bahasa inggris pada game tersebut. Jadi kemampuan semakin terasah.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Selain berlatih dari bahasa pada gamenya, kemampuan juga semakin terasah dengan melatih komunikasi dengan sesama player game online tersebut. Karena game itu dimainkan secara international jadi kebanyakna pemain-pemain luar negri menggunakan bahasa inggris untuk berkomunikasi. Yah, meskipun bahasa inggrisnya masih belepotan, tapi lumayan juga kita bisa mengaplikasikan apa yang telah kita pelajari.</span></div>
<h3><b><span lang="IN">Belajar Bahasa Inggris Dari Nonton Film Luar</span></b></h3>
<div><span lang="IN">Selain dari game online, ada juga saran non formal untuk belajar bahasa inggris, yaitu dengan menonton film luar negri (tentunya yang sudah ada subtitlenya). Pasti banyak kan dari kalian yang suka nonton box officenya Trans TV sama Global TV. </span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Saya sejak kelas 5 sd sudah sering banget nonton film box office di TV.&nbsp; Dan ternyata dari nonton film itulah kita sedikit demi sedikit menambah wawasan bahasa inggris kita. Dari mulai kata perkata, sampai hapal istilah-istilah yang digunakan oleh orang luar, is that true? Ya seperti itulah contohnya.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Kelebihan dari menonton film luar adalah kita bisa mengetahui istilah-istilah perbahasan bahasa inggris, mengetahui bagaimana cara mereka menyusun sebuah kata dan bagaimana mereka melafalkan kosakata.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Ternyata ketika sudah lulus sma, ternyata banyak juga yang mengaku semakin mahir bahas inggris karena kebanyakan main game online sama nonton film luar. Coba saja kamu iseng bikin polling di group facebook tentang lebih banyak mana belajar bahasa inggris dari sekolah sama dari game online dan nonton film luar.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<p><span lang="IN" style="line-height: 115%"><span style="font-family: inherit">Seperti itulah bagaimana kaum milenial belajar sesuatu yang berasal dari luar. Jadi tidak semua yang dari luar negri, kebarat-baratan &nbsp;jelek ya dimata kita. Masih ada banyak kebaikan yang dapat kita petik untuk dijadikan pembelajaran. Kalau ada&nbsp; yang tidak sesuai dengan norma dan kebiasaan kita ya ga usah ditiru, cukup&nbsp; abaikan saja.</span></span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/sosial/belajar-bahasa-inggris-dari-main-game-dan-nonton-film/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dialek Khas Orang Kudus : Dari Nem Sampai Neni</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/bahasa/dialek-khas-orang-kudus/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/bahasa/dialek-khas-orang-kudus/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2026 00:37:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Info Bahasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/dialek-khas-orang-kudus-dari-nem-sampai-neni/</guid>

					<description><![CDATA[Sekelompok orang yang menggunakan bahasa disebut dengan masyarakat bahasa. Masyarakat bahasa tersebut terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial ... <p class="read-more-container"><a title="Dialek Khas Orang Kudus : Dari Nem Sampai Neni" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/bahasa/dialek-khas-orang-kudus/#more-66" aria-label="More on Dialek Khas Orang Kudus : Dari Nem Sampai Neni">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div><span lang="IN">Sekelompok orang yang menggunakan bahasa disebut dengan <b><a href="https://alba.kazu.co.id/bahasa-dan-tutur-dalam-masyarakat/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">masyarakat bahasa</a></b>. Masyarakat bahasa tersebut terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya. Berbeda latar belakang pendidikan, berbeda profesi, pekerjaan dan jabatan, dan berbeda pula tempat tinggal mereka.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Dari perbedaan tersebut, muncullah yang namanya <b><a href="https://alba.kazu.co.id/variasi-bahasa" target="_blank" rel="noopener noreferrer">variasi bahasa</a></b>. Variasi bahasa sangat beragam, diantaranya, ragam dialek, ragam sosiolek dan ragam idiolek. Dan disini saya akan membahas tentang ragam dialek.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div style="clear: both;text-align: center"><a style="margin-left: 1em;margin-right: 1em" href="https://1.bp.blogspot.com/-IYhCZeRE04E/XcgKeoG5jfI/AAAAAAAAAEo/-bsJJzCTHwYETMFYvjCVHZ1hz1lMF3kjQCLcBGAsYHQ/s1600/Dialek%2BKhas%2BKota%2Bkudus.png"><img decoding="async" src="https://1.bp.blogspot.com/-IYhCZeRE04E/XcgKeoG5jfI/AAAAAAAAAEo/-bsJJzCTHwYETMFYvjCVHZ1hz1lMF3kjQCLcBGAsYHQ/s640/Dialek%2BKhas%2BKota%2Bkudus.png" width="640" height="426" border="0" data-original-height="417" data-original-width="626"></a></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Apa sih dialek itu? Mungkin beberapa dari kalian kerap mendengar istilah seperti ini, tapi kurang tahu apa arti dari istilah dialek. <b>Dialek adalah</b> ragam bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada tempat atau daerah tertentu. </span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><b><span lang="IN">Contoh</span></b><span lang="IN"> saja bahasa jawa, kamu pasti tahu beberapa kota atau daerah di jawa tengah, yogyakarta, dan jawa timur mempunyai ciri khas sendiri dalam berbahasa jawa. Nah, ciri khas bahasa berdasarkan daerah itulah yang disebut dengan ragam dialek.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Karena kebetulan saya orang kudus, saya akan membahas tentang dialek khas orang kudus yang begitu melekat di hati masyarakat kota kudus dan sekitarnya, ea&#8230;. kota kudus merupakan kota kecil namun besar (what???) meski begitu, kota ini memiliki ragam bahasanya sendiri. Kita mulai dari :</span></div>
<h3><b><span lang="IN">Kata “nem” dan “em” (Kata Kepemilikan Orang Kedua)</span></b></h3>
<div><span lang="IN">Kata <b><i>nem</i></b>dan <b><i>em</i></b> (dalam bahasa indonesia “mu”) merupakan kata ganti untuk kepemilikan orang kedua. Kata tersebut identik dengan orang kudus, seolah menjadi identitas orang kudus. Jika kamu kesasar sampai kesebuah daerah, dimana penduduknya “am em am em, nam nem nam nem” fiks, kamu berada di kota kudus, selamat datang :-D.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Dalam bahasa jawa pada umummnya, kata kepemilikan orang kedua adalah “mu”. Namun di kudus kata tersebut diganti dengan <b><i>nem</i></b> dan <b><i>em</i></b>.</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Kata <b><i>nem</i></b>digunakan pada kata yang mempunyai akhiran huruf vokal. Sedangkan kata <b><i>em</i></b>digunakan pada kata yang berakhiran huruf konsonan.</span></div>
<table id="customers">
<tbody>
<tr>
<th>Dialek Kudus</th>
<th>Bahasa Jawa</th>
<th>Indonesia</th>
</tr>
<tr>
<td>Matanem</td>
<td>Matamu</td>
<td>Matamu</td>
</tr>
<tr>
<td>Bukunem</td>
<td>Bukumu</td>
<td>Bukumu</td>
</tr>
<tr>
<td>Pacarem</td>
<td>Pacarmu</td>
<td>Pacarmu</td>
</tr>
<tr>
<td>Embahem</td>
<td>Embahmu</td>
<td>Kakekmu</td>
</tr>
<tr>
<td>Klambinem</td>
<td>Klambimu</td>
<td>Bajumu</td>
</tr>
<tr>
<td>Maksutem</td>
<td>Maksutmu</td>
<td>Maksudmu</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h3><b><span lang="IN">Pembuangan Suku Kata Pertama / Terakhir Pada Kata Tertentu</span></b></h3>
<div>
<blockquote><p><span lang="IN" style="color: #444444">Ra sah ngono, ra nde det aku -ga usah begitu, aku ga punya uang-</span></p></blockquote>
<p><span lang="IN">Yang satu ini juga sangat khas sekali, se-khas soto kudusnya hehe. Dan saya yakin hanya terjadi di daerah kudus saja. Yaitu pembuangan suku kata pertama pada kata tertentu. Entah apa yang membuat orang kudus mempunyai ciri khas bahasa seperti ini.</span></p>
</div>
<table id="customers">
<tbody>
<tr>
<th>Dialek Kudus</th>
<th>Bahasa Jawa</th>
<th>Indonesia</th>
</tr>
<tr>
<td>Ra</td>
<td>Ora</td>
<td>Tidak</td>
</tr>
<tr>
<td>Sah</td>
<td>Usah</td>
<td>Usah</td>
</tr>
<tr>
<td>Nde</td>
<td>Ndue</td>
<td>Punya</td>
</tr>
<tr>
<td>Det</td>
<td>Duet</td>
<td>Uang</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h3><b><span lang="IN">Kata yang Diakhiri <i>ih</i> diganti dengan <i>eh</i></span></b></h3>
<table id="customers">
<tbody>
<tr>
<th>Dialek Kudus</th>
<th>Bahasa Jawa</th>
<th>Indonesia</th>
</tr>
<tr>
<td>Puteh</td>
<td>Putih</td>
<td>Putih</td>
</tr>
<tr>
<td>Ngeleh</td>
<td>Ngelih</td>
<td>Lapar</td>
</tr>
<tr>
<td>Ngaleh</td>
<td>Ngalih</td>
<td>Pindah</td>
</tr>
<tr>
<td>Muleh</td>
<td>Mulih</td>
<td>Pulang</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h3><b><span lang="IN">Kata umpatan Khas Orang Kudus</span></b></h3>
<div><span lang="IN">Meskipun agak kotor, tapi tetap harus dibahas, karena disini kita belajar bahasa, kita kesampingkan dulu tata kramanya. Saya rasa disetiap bahasa ada kata umpatannya sendiri, di jawa timur terkenal dengan <b>Jancuk</b>. </span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Di kudus, semua pasti sudah tak asing dengan, <b>kakuati</b> bahas opo iki, wkwkwk. Kata ini sangat spesial ya, karena hanya ditemukan di kudus, dan menurut data dari UNESCO kata <b>kakuati</b> hampir punah wkwkwk. Selain <i>kakuati</i> juga ada kata umpatan lainnya yaitu; <b><i>kangkrengane</i></b> dan <b><i>diantho</i></b>.i (<i>diantho.i</i> sebelas dua belas dengan <i>jancuk</i>).</span></div>
<div><span lang="IN">&nbsp;</span></div>
<div><span lang="IN">Sedangkan untuk umpatan yang menggunakan organ tubuh juga sangat khas karena ada <i>nem</i> dan <i>em</i> nya itu lho. Contoh : <i>matanem</i>, <i>ndasem</i> (pala kau). Kata umpatan yang menunjukkan kegoblokan, kurang pandai, kurang tangkap; <i>hola-holo</i>, <i>ngah-ngoh</i>, di daerah semarang serupa dengan <i>pekok</i>, atau <i>begok</i> di daerah akarta.</span></div>
<h3><b><span lang="IN">Kata <i>Cah</i>dan <i>Neni</i></span></b></h3>
<div>
<blockquote><p><span lang="IN" style="color: #444444">Ayune neni cah, wong ndi iku -Cantik sekali sih, orang mana itu-</span></p></blockquote>
<p><span lang="IN">Kata <i>cah</i>bisa saja tidak mempunyai arti, hanya sebatas penekanan kalimat. Serupa dengan kata <i>leh</i> dan <i>go</i> dai daerah pati, <i>nda</i> di daerah jepara. <b>Kata <i>cah</i></b> juga bisa digunakan sebagai sapaan akrab untuk lawan bicara yang kurang dikenal, seperti kata <i>bro</i> dalam bahasa indonesia. <b>Kata <i>cah</i></b>juga bisa terjadi karena pembuangan suku kata pertama pada kata <b><i>bocah.</i></b></span></p>
</div>
<div><span lang="IN"><b><i>&nbsp;</i></b></span></div>
<div><span lang="IN">Kata <b><i>neni</i></b>juga sangat spesial lho,,, karena hanya bisa ditemukan di kudus kota kretek. Kata <i>neni</i> memiliki arti “sekali, banget” kata yang memberikan makna lebih, teramat, pada kata yang disifati.</span></div>
<h3><b><span lang="IN">Kosakata Khas Dialek Kudus</span></b></h3>
<table id="customers">
<tbody>
<tr>
<th>Dialek Kudus</th>
<th>Bahasa Jawa</th>
<th>Indonesia</th>
</tr>
<tr>
<td>Ndipek</td>
<td>Ndisik</td>
<td>Dulu</td>
</tr>
<tr>
<td>Ra nda-ndeh</td>
<td>Ora opo-opo</td>
<td>Tidak apa-apa</td>
</tr>
<tr>
<td>Ndenger</td>
<td>Ngerti</td>
<td>Tahu, Ngerti</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div><span lang="IN" style="background-color: #6aa84f">*<span style="color: white">Kata <i>ndeger </i>umumnya diartikan dengar, mendengar. Namun di kudus <i>ndeger </i>juga bisa digunakan dengan makna ngerti, mengerti, tahu</span>.</span></p>
<table id="customers">
<tbody>
<tr>
<td>Ape</td>
<td>Ameh/Arep</td>
<td>Mau/Akan</td>
</tr>
<tr>
<td>Sayak</td>
<td>Rok</td>
<td>Rok/Gaun</td>
</tr>
<tr>
<td>Larahan</td>
<td>Regetan/sampah</td>
<td>Sampah</td>
</tr>
<tr>
<td>Dhungokno</td>
<td>Rungokno</td>
<td>Dengarkan</td>
</tr>
<tr>
<td>Rikat</td>
<td>Cepet</td>
<td>Cepat</td>
</tr>
<tr>
<td>Mberuh/Mberah</td>
<td>Akeh</td>
<td>Banyak</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span lang="IN">cukup menarik bukan dialek khas orang kudus, mungkin alangkah baiknya jika ada yang melakukan riset lebih mendalam tentang dialek kota kudus, untuk mengantisipasi <b><a href="https://alba.kazu.co.id/punahnya-bahasa-daerah/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">punahnya bahasa daerah</a></b> beserta dialek khasnya.</span></p>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/bahasa/dialek-khas-orang-kudus/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Definisi Terjemah Bahasa Arab, Macam Macam Terjemah dan Makna Dalam Penerjemahan</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/bahasa/definisi-terjemah-bahasa-arab-macam-macam-terjemah-dan-makna-dalam-penerjemahan/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/bahasa/definisi-terjemah-bahasa-arab-macam-macam-terjemah-dan-makna-dalam-penerjemahan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2026 06:40:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Info Bahasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/definisi-terjemah-bahasa-arab-macam-macam-terjemah-dan-makna-dalam-penerjemahan/</guid>

					<description><![CDATA[Gambar oleh mohamed Hassan dari Pixabay Definisi terjemah Terjemah adalah kegiatan manusia dalam mengalihkan makna atau pesan, baik verbal maupun ... <p class="read-more-container"><a title="Definisi Terjemah Bahasa Arab, Macam Macam Terjemah dan Makna Dalam Penerjemahan" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/bahasa/definisi-terjemah-bahasa-arab-macam-macam-terjemah-dan-makna-dalam-penerjemahan/#more-73" aria-label="More on Definisi Terjemah Bahasa Arab, Macam Macam Terjemah dan Makna Dalam Penerjemahan">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="line-height: 150%;text-align: justify">
<table style="margin-left: auto;margin-right: auto;text-align: center" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center"></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center">Gambar oleh <a href="https://pixabay.com/id/users/mohamed_hassan-5229782/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=3796096">mohamed Hassan</a> dari <a href="https://pixabay.com/id/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=3796096">Pixabay</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<h3 style="line-height: 150%;text-align: justify"><b><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Definisi terjemah</span></span></b></h3>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Terjemah adalah kegiatan manusia dalam mengalihkan makna atau pesan, baik verbal maupun non verbal, dari suatu bentuk ke bentuk lain. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata terjemah mempunyai arti “menyalin (memindahkan) suatu bahasa ke bahasa lain; mengalihbahasakan.<span><!-- [if !supportFootnotes]--><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 115%">[1]</span><!--[endif]--></span></span></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 115%"><span style="font-family: inherit"> </span></span></span></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Kata terjemah berasal dari bahasa arab </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;line-height: 150%">ترجمة</span> <span lang="AR-SA" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span> </span></span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">yang mengandung arti menjelaskan dalam bahasa lain atau memindahkan makna suatu bahasa kedalam bahasa lain.<span><!-- [if !supportFootnotes]--><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 115%">[2]</span><!--[endif]--></span>Menurut Az-Zarqani (tanpa tahun) secara etimologis kata </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;line-height: 150%">ترجمة</span> <span lang="AR-SA" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span> </span></span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">memiliki tiga pengertian</span> <span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">sebagai berikut:</span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Menyampaikan tuturan kepada orang yang kurang mampu menerima tuturan itu. Pengertian ini bisa di simak dalam syair berikut.</span></span></div>
<div dir="RTL" style="direction: rtl;line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;line-height: 150%">ان الثمانين – وبلغتها – قد احوجت سمعي الي ترجمان</span></span></div>
<div dir="RTL" style="direction: rtl;line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"> </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">“umur 80 dan aku sudah mencapainya, telah membuat pendengaranku membutuhkan penerjemah”.</span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"> </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Menjelaskan tuturan dengan bahasa yang sama. Sebagai contoh bahasa Arab dijelaskan dengan bahasa Arab atau bahasa Indonesia dijelaskan dengan bahasa indonesia pula, semisal <i>al-manjidu fil lughati wal a’lam </i>dan KBBI juga termasuk kategori ini. Dalam pengertian ini pula, misalnya Ibnu Abbas mendapat gelar </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;line-height: 150%">ترجمان القران</span> <span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span>  </span>yang berarti ‘penerjemah atau penjelas Al-Quran.</span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"> </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Menafsirkan tuturan dengan menggunkan bahasa yang berbeda, misalnya bahasa Arab dijelaskan lebih lanjut dengan bahasa Indonesia atau sebaliknya. Dari sini, penerjemah bisa dikatakan sebagai penafsir tuturan. Tafsir <i>Al-Mishbah</i> karya Quraish Syihab termasuk kedalam pengertian ini.<span><!-- [if !supportFootnotes]--><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 115%">[3]</span></span></span></span></div>
<h3 style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><b><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Macam macam terjemah</span></span></b></h3>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Dari definisi tersebut dapat kita ketahui lebih dalam tentang arti terjamah, dimana bukan hanya mengalihbahasakan dengan bahasa lain tetapi juga mencari padanan kata atau menjelaskan kata baik dalam bahasa tersebut atau bahasa lain. Karena pada hakikatnya fungsi terjemah adalah memberi kefahaman tentang suatu kata dengan mencari padanan katanya.</span></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"> </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Secara umum terjemahan dapat dibedakan menjadi dua jenis,<span><!-- [if !supportFootnotes]--><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 115%">[4]</span><!--[endif]--></span>yaitu:</span></span></div>
<h4 style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><b>Terjemahan <i>Harfiah</i></b></span></span></h4>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Terjemahan<i> harfiah </i>ialah pengalihan bahasa sesuai dengan urutan kata bahasa bahasa sumber (Manna Al-Qattan, 1393 H = 1973 M: 313). Tata cara ini tidak ubahnya dengan sekedar mencari padanan kata (Zarqany, 1362 H = 1943 M: 111). terjemah <i>harfiah</i> juga dikenal dengan <span> </span>terjemah <i>lafziah</i> atau <i>musawiyah</i>.</span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"> </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Terjemah <i>harfiah</i> dilakukan dengan cara memahami terlebih dahulu arti kata demi kata yang terdapat dalam teks. Setelah dipahami, barulah dicari padanan kata dalam bentuk bahasa sasaran dan disusun sesuai dengan urut-urutan bahasa sumber meskipun maksud kalimat menjadi tidak jelas. </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"> </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Sebagai contoh, </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">ل<b>نخرج</b> به حبا ونباتا </span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span> </span>(Al-Quran Surat An-Naba : 15) jika diterjemahkan</span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span> </span>“ untuk kami <b>keluarkan</b>dengan air itu biji-bijian dan tanam-tanaman” maka terjemahan tersebut disebut terjemahan harfiah</span></span></div>
<h4 style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><b>Terjemahan <i>tafsiriah</i> atau <i>maknawiah </i></b></span></span></h4>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Terjemahan <i>tafsiriah</i> atau <i>maknawiah</i> ialah alih bahasa tanpa terikat dengan urut urutan kata atau susunan kalimat bahasa sumber (Manna Al-Qattan, 1393 H = 1973 M: 313). Terjemahan ini seperti mengutamakan ketepatan makna dan maksud secara sempurna dengan konsekuensi terjadi perubahan urut-urutan kata atau susunan kalimat. Karena itu, bentuk terjemahan seperti ini disebut pula dengan terjemahan maknawiah, karena mengutamakan kejelasan makna.</span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"> </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Sebagai contoh, </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;line-height: 150%">ويطلق على المسجد ايضا اسم جامع، وخصة اذا كان كبير.</span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">“masjid juga dikenal dengan nama jami, khusus juka bangunannya besar”</span></span></div>
<h3 style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><b><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Makna dalam penerjemahan</span></span></b></h3>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Makna dalam penerjemahan tidak hanya bisa dirunut dari kata per kata secara individual, tetapi makna dalam penerjemahan harus dilihat rangkaian antar kata saling berkaitan secara utuh yang terbungkus dalam suatu prosodi atau dengan situasi dimana kata-kata itu digunakan. Penerjemah selalu mengunakan dua budaya yang berbeda. Oleh karena itu, meskipun kata itu mempunyai makna yang persis dalam BSA, apabila kata-kata itu dihubungkan dengan istilah-istilah ilmu pengetahuan istilah-istilah teknologi (Soemarno, 1999: 2). Maka dalam penerjemahan ada banyak jenis makna, diantaranya adalah sebagai berikut.<span><!-- [if !supportFootnotes]--><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 115%">[5]</span><!--[endif]--></span></span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 115%"> </span></span></span></span></div>
<h4 style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><b><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Makna Leksikal / , </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;line-height: 150%">,معنى مفردتي</span><span lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;line-height: 150%"> <span dir="RTL">المعنى المجمعى</span></span></b></span></h4>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Makna leksikal adalah makna yang belum dipengaruhi oleh konteks dimana kata itu digunakan. Jadi makna leksikal adalah makna apa adanya seperti yang ada dalam kamus. Penerjemah bisa mencari padanan kata dalam bahasa sasaran, akan tetapi dalam penerjemahan tidak jarang bagi penerjemah kesulitan untuk menemukan padanan makna yang betul-betul sama persis. Hal ini disebabkan oleh makna suatu bahasa yang selalu mengikuti perkembangan budaya suatu.</span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"> </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Contoh: </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;line-height: 150%">انام في <b>بيتها</b></span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span>  </span>(saya tidur di <b>rumahnya</b>)</span></span></div>
<h4 style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><b><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Makna Gramatikal / </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;line-height: 150%">المعاني النحاوية</span></b></span></h4>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Makna gramatikal adalah makna suatu kata yang sudah berada dalam suatu kalimat, klausa, maupun kelompok kata (Newmark 1981: 26). Kesulitan dalam memahami makna gramatikal hanya disebabkan oleh faktor linguistik. Jadi perubahan maknanya dipengaruhi karena susunan kalimat (kaidah nahwu shorof).</span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"> </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Contoh : </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;line-height: 150%">عاد ابي من مكة</span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;line-height: 150%">محمد اكبر من اخيه الاكبر</span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Kata </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">من</span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span>  </span>pada kedua kalimat diatas mempunyai makna grmatikal yang berbeda, </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;line-height: 150%">من</span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">yang pertama mempunyai arti tempat asal, dari. Sedangkan </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;line-height: 150%">من</span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">pada contoh kedua mempunyai makna perbandingan.</span></span></div>
<h4 style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><b><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Makna Kontekstual / </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 14pt;line-height: 150%">المعنى السياقي </span></b></span></h4>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Setiap kata dalam suatu bahasa sering kali mempunyai makna lebih dari satu. Makna apa yang ada dalam satu kata atau kalimat itu sangat dipengaruhi oleh konteks dimana kata itu digunakan dalam proses komunikasi. Menurut Zuchrudin dalam Soemanto (1999: 5) diartikan sebagai hubungan antar unsur-unsur gramatikal ataupun leksis dengan unsur-unsur situasi yang relevan. Makna suatu kata akan mempunyai banyak arti sebanyak situasi atau konteks yang menyertainya.</span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"> </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Contoh : Sebagai contoh, </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">ل<b>نخرج</b> به حبا ونباتا </span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span> </span>(Al-Quran Surat An-Naba : 15) </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">“ untuk kami <b>tumbuhkan</b> dengan air itu biji-bijian dan tanam-tanaman”</span></span></div>
<div><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-family: inherit"><br /></span></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p><!--[endif]--></p>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-size: 10pt;line-height: 115%">[1]</span><!--[endif]--></span> <span lang="IN">Kbbi.web.id/terjemah</span></span></div>
</div>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-size: 10pt;line-height: 115%">[2]</span><!--[endif]--></span> <span lang="IN">Kardimin, <i>Pintar Menerjemah, </i>Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013, hlm. 21.</span></span></div>
</div>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-size: 10pt;line-height: 115%">[3]</span><!--[endif]--></span> <span lang="IN">Ibid.</span></span></div>
</div>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-size: 10pt;line-height: 115%">[4]</span><!--[endif]--></span> <span lang="IN">Ismail Lubis, <i>Ihwal Penerjemahan Bahasa Arab Kedalam Bahasa Indonesia</i>, hlm. 98.</span></span></div>
</div>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-size: 10pt;line-height: 115%">[5]</span><!--[endif]--></span> <span lang="IN">Masduki, <i>Jenis dan Makna Terjemahan, </i>hlm. 10.</span></span></div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/bahasa/definisi-terjemah-bahasa-arab-macam-macam-terjemah-dan-makna-dalam-penerjemahan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perubahan Fonologi dan Morfologi Bahasa Indonesia</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/bahasa/perubahan-fonologi-dan-morfologi-bahasa-indonesia/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/bahasa/perubahan-fonologi-dan-morfologi-bahasa-indonesia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2026 00:39:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Info Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Linguistik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/perubahan-fonologi-dan-morfologi-bahasa-indonesia/</guid>

					<description><![CDATA[Perkembangan dunia membawa perubahan pada teknologi dan komunikasi. Perubahan tersebut ada bersifat membangun, ada yang bersifat membuang atau merubah apa ... <p class="read-more-container"><a title="Perubahan Fonologi dan Morfologi Bahasa Indonesia" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/bahasa/perubahan-fonologi-dan-morfologi-bahasa-indonesia/#more-74" aria-label="More on Perubahan Fonologi dan Morfologi Bahasa Indonesia">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Perkembangan dunia membawa perubahan pada teknologi dan komunikasi. Perubahan tersebut ada bersifat membangun, ada yang bersifat membuang atau merubah apa yang sudah ada. Secara garis besar perubahan teknologi dan komunikasi tersebut membuat manusia dapat beroperasi dengan mudah.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Hal yang sangat urgen dalam komunikasi adalah alatnya. Alat teknologi komunikasi secara fisik telah berkembang, sekarang smartphone dan komputer sudah merata di kalangan masyarakat. Ada juga alat komunikasi yang disebut dengan “bahasa”, karena sesuai dengan etpisimologinya bahwa bahasa adalah sebuah alat untuk komunikasi.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Perubahan bahasa terjadi karena menyesuaikan atau disesuaikan oleh pengguna bahasa dengan media komunikasi. Perubahan tersebut terjadi  pada ranah fonologi, morfologi, sintaksis, kosakata dan semantik. Namun pada artikel kali ini saya hanya akan membahas perubahan bahasa pada ranah fonologi dan morfologi saja.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Menurut Abdul Chaer dalam bukunya <i>sosiolinguistik Umum </i>mengatakan bahwa perubahan sebuah bahasa lazim diartikan sebagai adanya perubahan kaidah, baik kaidahnya itu direvisi, kaidahnya tidak digunakan lagi, dan munculnya kaidah baru. Dia juga menambahkan bahwa pada bahasa yang sudah mempunyai sejarah panjang, perubahan tersebut terjadi secara bertahap dan berangsur angsur.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<table style="margin-left: auto;margin-right: auto;text-align: center" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center"></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center">Gambar oleh <a href="https://pixabay.com/id/users/diannehope14-266432/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=1106196">Dianne Hope</a> dari <a href="https://pixabay.com/id/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=1106196">Pixabay</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Mari kita amati perubahan yang terjadi pada bahasa tercinta kita ini. Namun tidak secara terperinci , hanya untuk menunjukkan adanya perubahan pada bahasa Indonesia.</span></div>
<h3 style="text-align: justify"><span lang="IN"><b>Perubahan Fonologi Bahasa Indonesia</b></span></h3>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Apa itu fonologi? Baiknya saya terangkan dulu  apa itu fonologi, agar informasi yang ada bisa dicerna dengan baik. Fonologi adalah tataran linguistik yang mempelajari, menganalisa, dan membicarakan runtutan bunyi bunyi bahasa. </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Jadi bunyi dari setiap kata yang diucapkan ada yang membahasnya juga. Contoh yang dapat kita perhatikan tentang fonologi ini adalah, bagaimana setiap suku atau daerah yang ada mempunyai pelafalan kata (bahasa indonesia) yang berbeda jika didengarkan. Remaja asli jakarta mengucapkan kata buku dengan “buku’ “ seperti ada “k” atau “ ‘ “ diakhir huruf U. </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Selain itu bunyi vokal rangkap juga menjadi bagian dari pembahasan fonologi. Contoh, bagaimana huruf “ai” diucapkan dalam bahasa Indonesia. Kata selesai di ucapkan dengan [selesa[e]] huruf i-nya tidak kelihatan dan lebih condong ke huruf e. Sedangkan kata menyerupai diucapkan dengan [menyerupai[i]] huruf i-nya kelihatan diucapkan. Pengucapan tersebut berbeda karena huruf “i” pada kata selesai merupakan huruf asli. Sedangkan huruf “i” pada kata menyerupai merupakan huruf imbuhan.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Lalu bagaimana dengan perubahan fonologinya?   Contoh pertama terjadi pada kosakata serapan bahasa sansekerta. Kata chidra diucapkan dan dituliskan cedera, kata churika diucapkan dan ditulis dengan curiga, kata dhanda diucapkan dan ditulis dengan denda, kata dharma ditulis dan diucapkan darma, kata diwasa ditulis dan diucapkan dengan dewasa.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Contoh kedua terjadi pada kosakat serapan bahasa Arab. Bisa dilihat pada tabel dibawah.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<table style="border-collapse: collapse;border: none;margin-left: 23.4pt" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">Kata Serapan</span></b></div>
</td>
<td style="border-left: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">Ucapan Asli Bahasa Arab</span></b></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-top: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">baka</span></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">Baqa’</span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-top: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">fana</span></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">Fana’</span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-top: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">amaliah</span></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">‘amaliyyah</span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-top: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">ilmiah</span></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">‘ilmiyyah</span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-top: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">umur</span></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">‘umr</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="text-align: justify"></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Sebenarnya masih banyak lagi kosakat serapan yang mengalami perubahan fonologi. Namun saya rasa dengan dua contoh diatas sudah dapat memberikan informasi kepada pembaca bahwa perubahan tersebut memang ada.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Contoh ketiga terjadi pada kosakata bahasa Indonesia sendiri. Jika dua contoh diatas terjadi karena karena proses penyerapan kata, maka pada contoh ini perubahan terjadi karena berkembangnya media informasi. Yang mulanya hanya diucapkan oleh sekelompok masyarakat, kini hampir diucapkan oleh semua masyarakat Bahasa Indonesia.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<table style="border-collapse: collapse;border: none;margin-left: 23.4pt;width: 576px" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">Kata berubah</span></b></div>
</td>
<td style="border-left: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">Kata Asli</span></b></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-top: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">Sukarno</span></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">soekarno</span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-top: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">cahaya</span></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">tjahaja</span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-top: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">noyorono</span></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">nojorono</span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-top: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">jarum</span></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">djarum</span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-top: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">sahadja</span></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 3.0in" valign="top" width="288">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">sahaja</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="text-align: justify"></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Selain itu perubahan fonologi nbahasa Indonesia juga terjadi pada fonem. Sebelum berlakunya EYD, fonem seperti /f/,/x/,/s/ belum dimasukkan dalam khazabah fonem bahasa indonesia.  Juga terjadi pada pola silabel, yaitu; V, VK, KV, dan KVK,  kini bertambah menjadi KKV, KKVK, KVKK. (V) adalah kode untuk huruf vokal, dan (K) adalah kode untuk huruf konsonan.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<table style="border-collapse: collapse;border: none;margin-left: 5.4pt" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 42.45pt" valign="top" width="57">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">V</span></b></div>
</td>
<td style="border-left: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 47.85pt" valign="top" width="64">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">VK</span></b></div>
</td>
<td style="border-left: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 47.85pt" valign="top" width="64">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">KV</span></b></div>
</td>
<td style="border-left: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 59.85pt" valign="top" width="80">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">KVK</span></b></div>
</td>
<td style="border-left: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 76.5pt" valign="top" width="102">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">KKV</span></b></div>
</td>
<td style="border-left: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 99.0pt" valign="top" width="132">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">KKVK</span></b></div>
</td>
<td style="border-left: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 94.5pt" valign="top" width="126">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">KVKK</span></b></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-top: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 42.45pt" valign="top" width="57">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 47.85pt" valign="top" width="64">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 47.85pt" valign="top" width="64">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 59.85pt" valign="top" width="80">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 76.5pt" valign="top" width="102">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 99.0pt" valign="top" width="132">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 94.5pt" valign="top" width="126">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border-top: none;border: solid windowtext 1.0pt;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 42.45pt" valign="top" width="57">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">I</span></b><span lang="IN">ni</span></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 47.85pt" valign="top" width="64">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">la</span></b><span lang="IN">ut</span></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 47.85pt" valign="top" width="64">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">am</span></b><span lang="IN">bil</span></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 59.85pt" valign="top" width="80">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><span lang="IN">se<b>but</b></span></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 76.5pt" valign="top" width="102">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">kla</span></b><span lang="IN">sik</span></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 99.0pt" valign="top" width="132">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">trak</span></b><span lang="IN">tor</span></div>
</td>
<td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt;border-left: none;border-right: solid windowtext 1.0pt;border-top: none;padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt;width: 94.5pt" valign="top" width="126">
<div style="line-height: normal;margin-bottom: 0in;text-align: center" align="center"><b><span lang="IN">teks</span></b><span lang="IN">tual</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="text-align: justify"></div>
<h3 style="text-align: justify"><span lang="IN"><b>Perubahan Morfologi Bahasa Indonesia</b></span></h3>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Perubahan bahasa dapat juga terjadi pada tataran morfologi, hal tersebut karena proses pembentukan kata. Dalam bahasa indonesia kita mengenal proses penasalan dalam proses pembentukan kata dengan prefiks me- dan pe-.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Kaidah prefiks me- dan pe- adalah : apabila prefiks tersebut diimbuhkan pada kata yang berawalan konsonan /l/,/r/,/w/,/y/ maka tidak terjadi penasalan. <b>Contoh ; Larang</b> &gt; Melarang, Pelarang. <b>Contoh; Wakil</b> &gt; Mewakilkan, Pewakil.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Kalau diimbuhkan pada kata yang berawalan konsonan /b/ dan /p/ maka diberi nasal  /m/.  <b>Contoh; Beri</b>  &gt; Memberi, Pemberi.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Jika diimbuhkan pada kata yang berawalan konsonan /d/ dan /t/ diberi  nasal /n/. <b>Contoh; Tarik</b> &gt; Menarik, Penarikan. <b>Contoh; Dapat</b>  &gt; Mendapatkan, Pendapatan.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Dan ketika diimbuhkan pada kata yang berawalan konsonan /g/, /k/, /h/ dan pada kata yang berawalan huruf vokal maka diberi nasal /ng/.  <b>Contoh; Garuk</b>&gt; Menggaruk, Penggaruk. <b>Contoh;  Kejar</b> &gt; Mengejar, Pengejar.</span></div>
<div style="text-align: justify"></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Akan tetapi kaidah diatas sulit diterapkan pada kata yang berupa serapan, kita tahu bahwa terdapat banyak kosakata bahasa indonesia yang merupakan serapan dari bahasa asing. <b>Contoh kata Tik</b>, jika diberi imbuhan me dan pe harusnya diberi penasalan /n/, namun pada kenyataannya tidak diberi penasalan /n/. Tik &gt; Mengetik, kalau sesuai kaidah harusnya Metik.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Contoh kata Bom, klau diberi prefiks me- atau pe- harusnya diberi penasalan /m/ namun pada kenyataanya tidak diberi penasalan. <b>Bom</b> &gt; Mengebom, Pengebom, kalau sesuai kaidah diatas harusnya diberi nasal /m/ menjadi membom, Pembom.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN" style="line-height: 115%"><span style="font-family: inherit">Perubahan fonologi dan morfologi pada bahasa Indonesia akan diterima, atau terpaksa diterima jika banyak masyarakat bahasa yang menggunakan kata baru tersebut, atau perubahan tersebut. Apalagi sekarang media informasi cepat sekali tersebar, dan mudahsampai ke masyarakat. </span></span></div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/bahasa/perubahan-fonologi-dan-morfologi-bahasa-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bahasa dan Tutur Dalam Masyarakat</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/bahasa/bahasa-dan-tutur-dalam-masyarakat/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/bahasa/bahasa-dan-tutur-dalam-masyarakat/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2026 00:37:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sosiolinguistik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/bahasa-dan-tutur-dalam-masyarakat/</guid>

					<description><![CDATA[Manusia adalah makhluk sosial, dikatakan sosial karena setiap dari mereka melakukan interaksi dengan yang lainnya, dan salah satu bentuk interaksi ... <p class="read-more-container"><a title="Bahasa dan Tutur Dalam Masyarakat" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/bahasa/bahasa-dan-tutur-dalam-masyarakat/#more-82" aria-label="More on Bahasa dan Tutur Dalam Masyarakat">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="line-height: 150%"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Manusia adalah makhluk sosial, dikatakan sosial karena setiap dari mereka melakukan interaksi dengan yang lainnya, dan salah satu bentuk interaksi manusia adalah berkomunikasi. Dengan berkomunikasi manusia dapat mengetahui satu sama lain, mengenal satu sama lain.</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">&nbsp;</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Kata masyarakat dapat diartikan sebagai sekelompok orang (dalam jumlah yang banyaknya relatif), yang merasa sebangsa, seketurunan, sewilayah tempat tinggal, atau yang mempunyai kepentingan sosial yang sama.</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">&nbsp;</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Masyarakat juga berkomunikasi sebagai bentuk interaksi, dan alat komunikasinya adalah bahasa. Bahasa menjadi beragam, karena masyarakat juga beragam. Sama-sama masyarakat jawa, bahasa jawa orang kudus dengan bahasa jawa orang jogja ada beberapa perbedaan, dimana salah satu perbedaan itu nantinya disebut dengat dialek.</span></span></div>
<div style="clear: both"></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">&nbsp;</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Karena itu, bahasa dalam masyarakat atau bisa disebut dengan masyarakat bahasa dan masyarakat tutur menjadi kajian yang sangat menarik bagi pakar sosiolinguistik.</span></span></div>
<h3 style="line-height: 150%"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Bahasa Dalam Masyarakat</span></span></h3>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Dalam kajian ilmu sosiolinguistik, pengertian bahasa bukan hanya sebuah s</span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">i</span><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">stem lambang, yang berupa bunyi, akan tetapi bahasa dikaitkan dengan masyarakat atau lingkup sosial dimana pengertian bahasa menjadi sebuah alat untuk berkomunikasi antar masyarakat.</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">&nbsp;</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Jadi jika kita ingat lagi tiga istilah bahasa yang diperkenalkan oleh Ferdinan De Saussure, tentang <i>langange</i>, <i>langue</i>, <i>parole</i>,<span>&nbsp; </span>maka bahasa di sini adalah sebagai <i>lang</i></span><i><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">ue</span></i><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">, yang berarti bahasa adalah </span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">sebuah </span><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">s</span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">i</span><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">stem lamb</span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">a</span><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">ng yang berupa bunyi yang </span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu </span><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span>&nbsp;</span>sebagai alat komunikasi dan berinteraksi</span><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">. </span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">&nbsp;</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Bahasa disini juga berarti sebagai <i>parole</i>, yang berarti bahasa tersebut adalah ujaran-ujaran masyarakat. Dimana <i>parole</i>merupakan bentuk nyata dari keabstrakan <i>lan</i></span><i><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">gue</span></i><i><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">. </span></i></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><i><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">&nbsp;</span></i></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Sebagai <i>lang</i></span><i><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">age</span></i><i><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">e<span>&nbsp; </span></span></i><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">bahasa itu bersifat universal, sebab dia adal</span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">a</span><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">h satu s</span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">i</span><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%">stem lambang bunyi </span><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">yang digunakan manusia pada umumnya, bukan manusia pada suatu tempat atau suatu masa tertentu. Tetapi bahasa sebagai <i>langue</i>, meskipun ada ciri-ciri keuniversalnya, bersifat terbatas pada satu masyarakat tertentu. Satu masyarakat tertentu ini memang agak sukar rumusannya; namun adanya ciri saling mengerti (<i>mutual intelligible</i>) barangkali bisa dipakai batasan adanya satu bahasa. </span></span></div>
<div></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Jadi, misalnya, penduduk yang tinggal di Garut Selatan dengan yang tinggal di Karawang dan di lereng Gunung Salak, Bogor, masih berada dalam satu masyarakat bahasa dan dalam satu bahasa, karena mereka masih dapat mengerti dengan alat verbalnya. Mereka dapat berkomunikasi atau berinteraksi secara verbal. Begitu juga penduduk yang ada di Banyumas dengan yang berada di Semarang dan yang berada di Surabaya, masih berada dalam satu bahasa dan <b><a href="https://alba.kazu.co.id/bahasa-dan-tingkat-sosial-masyarakat" target="_blank" rel="noopener noreferrer">satu masyarakat bahasa</a></b> karena masih ada saling mengerti di antara mereka sesamanya.<sup><span><!-- [if !supportFootnotes]--><sup><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 107%">[1]</span></sup><a title="" href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=5982955332201530887#_ftn1"><!--[endif]--></a></span></sup></span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><sup><span><sup>&nbsp;</sup></span></sup></span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Dari contoh di atas, kita ketahui antara penduduk Garut Selatan dengan penduduk Karawang dapat saling mengerti dan memahami karena adanya kesamaan sistem dan subsistem (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik) di antara ujaran-ujaran mereka.</span> <span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%">Meskipun ada beberapa perbedaan kecil di antara kedua masyrakat tersebut, baik perbedaan<span>&nbsp; </span>secara fonologi, morfologi, sintaksis dll.</span></span><span style="font-family: inherit;font-size: 12pt;text-indent: 0.25in">&nbsp;</span></div>
<h3 style="line-height: 150%"><span style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Tutur Dalam Masyarakat</span></span></h3>
<div style="line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Agaknya kita sudah sering mendengar tentang penggunaan istilah tutur, baik kita mengetahui secara tertulis atau dari ucapan seseorang. Seperti contoh ungkapan berikut ini “ hendaknya dalam bertutur kata haruslah melihat situasi dan kondisi” atau dalam ungkapan seperti ini “tutur katanya bagus”. Maka secara singkat dapat dipahami bahwa<span>&nbsp; </span>tutur adalah bentuk pengucapan bahasa. Dalam kamus besar bahasa indonesia, <span>&nbsp;</span>kata tutur memiliki arti ucapan, atau perkataan. </span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">&nbsp;</span></span></div>
<div style="line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Perlu juga disampaikan bahwa tuturan sesorang mencerminkan masyarakat tuturnya, oleh karenanya tuturan itupun berkaitan erat dengan norma dan nilai sosial budaya masyarakatnya. Artinya bahwa terdapat butir komponen tutur tertentu yang tidak dapat dilepaskan dari norma tutur yang berlaku dalam suatu masyarakat tutur.<sup><span><!-- [if !supportFootnotes]--><sup><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 107%">[2]</span></sup><a title="" href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=5982955332201530887#_ftn2"><!--[endif]--></a></span></sup></span></span></div>
<div style="line-height: 150%"></div>
<div><span style="line-height: 107%"><span style="font-family: inherit;line-height: 107%">Hymes (1972) dalam tulisan yang berjudul ‘<i>models of interaction of language and social life’</i>, telah menunjukkan adanya delapan komponen yang dianggapnya berpengaruh terhadap pemilihan kode dalam bertutur. Dia menyebut hal itu sebagai <i>components of speech</i></span><i style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="line-height: 107%">.<sup><b><sup><span lang="IN" style="line-height: 107%">[3]</span></sup></b></sup>&nbsp;</span></i></span></div>
<div><span style="font-family: inherit">yang pada intinya meliputi 1) tempat dan suasana tutur atau </span><i style="font-family: inherit">setting and scene</i><span style="font-family: inherit">, 2) peserta tutur atau </span><i style="font-family: inherit">participants, </i><span style="font-family: inherit">3) tujuan tutur atau </span><i style="font-family: inherit">end : purpose and goal, </i><span style="font-family: inherit">4) pokok tuturan atau </span><i style="font-family: inherit">act sqeuences,</i><span style="font-family: inherit">5)</span><span style="font-family: inherit">&nbsp; </span><span style="font-family: inherit">nada tutur atau </span><i style="font-family: inherit">key</i><span style="font-family: inherit"> : </span><i style="font-family: inherit">tone or spirit of act,</i><span style="font-family: inherit">6) sarana tutur atau </span><i style="font-family: inherit">instrumentalities,</i><span style="font-family: inherit">&nbsp; </span><span style="font-family: inherit">7) norma tutur atau </span><i style="font-family: inherit">norms of interaction and interpretation</i><span style="font-family: inherit">, dan 8) jenis tuturan atau </span><i style="font-family: inherit">genres</i><span style="font-family: inherit">. Dan jika huruf-huruf pertamanya dirangkai maka akan tersusun akronim SPEAKING.</span></div>
<div><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-family: inherit"><br /></span></p>
<hr align="left" size="1" width="33%">
<p><!--[endif]--></p>
<div>
<div style="margin-left: .25in"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span lang="IN" style="font-size: 10pt;line-height: 107%">[1]</span><!--[endif]--></span></span><span lang="IN"> Abdul Chaer dan Leonie Agustina, <i>Sosiolinguistik,</i> Jakarta: Renika Cipta, 2014, hlm. 32.</span></span></div>
</div>
<div>
<div style="margin-left: 22.5pt;text-indent: -4.5pt"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span lang="IN" style="font-size: 10pt;line-height: 107%">[2]</span><!--[endif]--></span></span><span lang="IN"> Kunjana Rahardi, Sosiolinguistik Kode dan Alih Kode, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001, hlm. 28.</span></span></div>
</div>
<div>
<div style="margin-left: .25in"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span lang="IN" style="font-size: 10pt;line-height: 107%">[3]</span><!--[endif]--></span></span><span lang="IN"> Ibid, hlm. 29.</span></span></div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/bahasa/bahasa-dan-tutur-dalam-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Verbal Repertoire Dalam Hubungannya Dengan Masyarakat</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/bahasa/verbal-repertoire-dalam-hubungannya-dengan-masyarakat/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/bahasa/verbal-repertoire-dalam-hubungannya-dengan-masyarakat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2026 18:37:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sosiolinguistik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/verbal-repertoire-dalam-hubungannya-dengan-masyarakat/</guid>

					<description><![CDATA[Pengertian Masyarakat Tutur Image by Gerd Altmann from Pixabay Kalau suatu kelompok orang atau suatu masyarakat mempunyai verbal repertoir yang ... <p class="read-more-container"><a title="Verbal Repertoire Dalam Hubungannya Dengan Masyarakat" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/bahasa/verbal-repertoire-dalam-hubungannya-dengan-masyarakat/#more-83" aria-label="More on Verbal Repertoire Dalam Hubungannya Dengan Masyarakat">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3><span style="font-size: 12pt;text-align: justify"><span style="font-family: inherit">Pengertian Masyarakat Tutur</span></span></h3>
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto;margin-right: auto;text-align: center">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center"><a href="https://1.bp.blogspot.com/-lnQ8h4Q2Qts/XaxNVnOoEJI/AAAAAAAAAN8/y6EBlNabuHw_xgFZDnHphT_U8ro-RJKtQCLcBGAsYHQ/s1600/crowd-2045498_640.jpg" style="margin-left: auto;margin-right: auto"><span style="font-family: inherit"><img loading="lazy" decoding="async" border="0" data-original-height="426" data-original-width="640" height="426" src="https://1.bp.blogspot.com/-lnQ8h4Q2Qts/XaxNVnOoEJI/AAAAAAAAAN8/y6EBlNabuHw_xgFZDnHphT_U8ro-RJKtQCLcBGAsYHQ/s640/crowd-2045498_640.jpg" width="640" /></span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center"><span style="font-family: inherit">Image by <a href="https://pixabay.com/users/geralt-9301/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=2045498">Gerd Altmann</a> from <a href="https://pixabay.com/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=2045498">Pixabay</a></span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Kalau suatu kelompok orang atau suatu masyarakat mempunyai verbal repertoir yang relatif sama serta mereka mempunyai penilaian yang sama terhadap norma-norma pemakaian bahasa yang digunakan di dalam masyarakat itu, maka dapat disimpulkan bahwa kelompok orang itu atau masyarakat itu adalah sebuah <i>masyarakat tutur</i> (Inggris: <i>Speech Community</i>). Jadi masyarakat tutur&nbsp; itu bukan hanya sekelompok orang yang menggunakan bahasa yang sama, melainkan kelompok orang yang mempunyai norma yang sama dalm menggunakan bentuk-bentuk bahasa. Satu hal lagi yang patut di catat, untuk dapat disebut satu masyarakat tutur adalah adanya perasaan di antara penuturnya, bahwa mereka merasa menggunakan tutur yang sama (Lihat Djokokentjono 1982).&nbsp;</span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Dengan konsep adanya perasaan menggunakan tutur yang sama ini, maka dua buah dialek yang secara linguistik merupakan satu bahasa dianggap menjadi dua bahasa dari dua masyarakat tutur yang berbeda. Misalnya, bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia, yang masing-masing oleh para penuturnya dianggap dua bahasa yang berbeda.<span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 107%">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 22.5pt;text-align: justify;text-indent: 13.5pt"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><b>Sementara menurut pendapat lain bahwa : </b></span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"></span></span></div>
<div dir="RTL" style="direction: rtl;line-height: 27.0pt;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0in;margin-left: 0in;margin-right: .6pt;margin-top: 0in;text-align: justify;text-indent: 13.7pt"><span lang="AR-SA" style="font-family: inherit"><span style="font-size: large">&nbsp; يعد مصطلح الجامعة الكلامية من المصطلحات شائعة الاستخدام في علم اللغة الاجتماعي, وهو مصطلح يستخدم للدلالة على جماعة من الناس تستعمل لغة واحدة للتفاهم بين افرادها. ويستخدم مصطلح الجماعة اللغوية ينفس المعنى أيضا. فلو استطعنا القيام بتحديد الجماعة الكلامية لأمكننا القيام بدراستها. ومن الممكن أن نجد اختلافات هامة بين الجماعة, وعادة تتلازم هذه الاختلافات مع الاختلافات اللغوية. ورأى جون ليونز كما نقل عنه هدسون أن الجماعة الكلامية هي كل الناس يستخدمون لغة (أو لهجة) بعينه.</span><span><span dir="LTR"><!--[if !supportFootnotes]--><span><span lang="IN" style="line-height: 107%"><span style="font-size: large">[2]</span></span></span><!--[endif]--></span></span><span style="font-size: 14pt"></span></span></div>
<div dir="RTL" style="direction: rtl;line-height: 27.0pt;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0in;margin-left: 0in;margin-right: 22.3pt;margin-top: 0in;text-align: justify;text-indent: 13.7pt"><span style="font-family: inherit"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span dir="LTR"></span><span dir="LTR"></span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><span dir="LTR"></span><span dir="LTR"></span>“Istilah masyarakat tutur adalah istilah yang umum digunakan dalam sosiolinguistik, istilah yang digunakan untuk menunjukkan sekelompok orang yang menggunakan satu bahasa untuk saling memahami di antara anggotanya. Istilah masyarakat bahasa menggunakan makna yang sama. Jika kita bisa mengidentifikasi kelompok kata-kata yang bisa kita pelajari. Hal ini dimungkinkan untuk menemukan perbedaan yang signifikan antara kelompok, dan perbedaan ini biasanya bertepatan dengan perbedaan bahasa. John Lions, seperti dikutip Hudson, mengemukakan bahwa kata masyarakat tutur adalah semua orang yang menggunakan bahasa tertentu (atau nada)”.</span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"></span></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Namun j</span><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">ika kita mengingat mata kuliah linguistik tahun lalu, maka kita mendapatkan dua istilah yang hampir sama, yaitu <i>masyarakat bahasa </i>dengan <i>masyarakat tutur.</i> Dijelaskan di dalam buku linguistik umum karya Abdul Chaer yang dimaksud dengan masyarakat bahasa adalah, sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Dengan demikian kalau </span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">a</span><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">da sekelompok orang yang merasa sama-sama menggunakan bahasa Sunda, maka bisa dikatakan mereka adalah masyarakat </span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">bahasa </span><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">sunda.<span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 107%">[3]</span></span><a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=5982955332201530887#_ftn3" title=""><!--[endif]--></a></span></span></span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"></span></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><span><span><span style="font-family: inherit"><br /></span></span></span></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Maka bisa diambil kesimpulan bagi pemakalah bahwa masyarakat tutur juga berarti masyarakat bahasa, dan masyarakat bahasa belum tentu disebut dengan masyarakat tutur. Sebagai contoh, masyarakat kudus menggunakan bahasa jawa dalam berkomunikasi sehari-hari, jadi masyarakat kudus disebut sebagai masyarakat tutur bahasa jawa. Akan tetapi masyarakat kudus juga mengerti dan menguasai bahasa indonesia, hanya saja masyarakat kudus tidak menggunakan bahasa indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari, jadi masyarakat kudus tidak bisa disebut sebagai masyarakat tutur bahasa indonesia.</span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Addul Chaer dan Leoni Agustina memberikan contoh dalam bukunya <i>Sosiolinguistik Perkenalawan Awal</i> tentang masyarakat tutur berikut ini; setiap hari tenaga kerja yang berasal dari berbagai daerah dan berbagai bahasa daerah yang berbeda-beda, bekerja di sebuah pabrik di Jakarta dan di sekitar Jakarta, dan mereka sesama rekan sekerjanya menggunakan bahasa indonesia dalam berinteraksi. Jadi, meskipun mereka berbahasa ibu yang berbeda, mereka adalah pendukung masyarakat tutur bahasa indonesia. Dalam hal ini memang tidak terlepas dari fungsi ganda bahasa indonesia: sebagai bahasa nasional, bahasa negara, dan bahasa persatuan.</span></div>
<h3 style="line-height: 150%;text-align: justify"><span style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Pengertian Verbal Repertoire dan Hubungannya Dengan Masyarakat</span></h3>
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto;margin-right: auto;text-align: center">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center"><a href="https://1.bp.blogspot.com/-iD-9gkOx6_w/XaxOCj-PkrI/AAAAAAAAAOE/9-pfC79CE4Ulejj5GhT03n3bY_FW6zzuACLcBGAsYHQ/s1600/logos-990390_640.jpg" style="margin-left: auto;margin-right: auto"><span style="font-family: inherit"><img decoding="async" border="0" data-original-height="227" data-original-width="640" src="https://1.bp.blogspot.com/-iD-9gkOx6_w/XaxOCj-PkrI/AAAAAAAAAOE/9-pfC79CE4Ulejj5GhT03n3bY_FW6zzuACLcBGAsYHQ/s1600/logos-990390_640.jpg" /></span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center"><span style="font-family: inherit">Image by <a href="https://pixabay.com/users/Merio-1480566/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=990390">Merio</a> from <a href="https://pixabay.com/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=990390">Pixabay</a></span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div><span style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Dari keterangan-keterangan di atas kita tahu bahwa Ferdinan De Saussure membedakan antara <i>langue</i> dan <i>parole</i>, membedakan antara bahasa sebagai siste</span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">m, sebagai alat komunikasi yang masih bersifat abstrak dengan bahasa sebagai bentuk nyata dari bahasa sebaiagi alat komunikasi, atau kita sebut dengan tutur.</span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Dari tindak tutur inilah munculnya <b><a href="https://alba.kazu.co.id/2019/10/variasi-bahasa-pengertian-macam-dan-penggunaan-variasi-bahasa.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">ragam bahasa atau variasi bahasa</a></b>, baik secara fonologi ataupun morfologi, yang pada nantinya akan dikenal dengan ragam diolek dan ragam idiolek. Sebagai contoh, bahasa jawa masyarakat kudus dengan bahasa jawa masyarakat jepara memiliki perbedaan, perbedaan itu deisebut dengan diolek. Masyarakat kudus dalam mengungkapkan “ini punyamu” dalam bahasa jawa diungkapkan dengan ‘iki genem’, sedangkan masyarakat jepara mengungkapkannya dengan ‘iki gonamu’. Masyarakat wonogiri dalam mengungkapkan “ mau kemana ndre” dalam bahasa jawa diungkapkan dengan ‘ arep nyang ndi ta ndre’, sedangkan orang kudus mengungkapkanya ‘ape rindi dre’ meski dengan dialek yang berbeda jika ketiga masyarakat tersebut dapat saling memahami dan saling mengerti ketika berbicara, maka kemampuan tersebut disebut Verbal Repertoire.</span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Definisi Verbal Repertoire tidak hanya sampai disitu saja, secara istilah Verbal Reperotire adalah kemampuan berbahasa sesuai dengan konteks dan situasi beserta ragam-ragam bahasa yang dimiliki atau dikuasai oleh penutur. </span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Pakar lain, Chomsky, tokoh tata bahasa generatif transformasi, menyebutkan adanya<i> kompetens </i>(Inggris: <i>competence</i>) disamping performans (Inggris: <i>performance</i>). Yang dimaksud dengan kompetens adalah kemampuan, yakni pengetahuan yang dimiliki pemakai bahasa mengenai bahasanya. Sedangkan performans adalah perbuatan berbahasa atau pemakaian bahasa itu sendiri dalam keadaan yang sebenarnya di dalam masyarakat.&nbsp;</span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Haaliday, tokoh linguistik sistemik, tidak secara eksplisit membedakan bahasa sebagai sistem dan bahasa (tuturan) sebagai keterampilan. Dia hanya menyebut adanya kemampuan komunikatif (Inggris: <i>Communicative Competence</i>), yang kira-kira merupakan perpaduan atau gabungan antara kedua pengertian itu. Yang dimaksud dengan kemampuan komunikatif adalah kemampuan bertutur atau kemampuan untuk menggunakan bahasa sesuai dengan fungsi dan situasi serta norma-norma penggunaan bahasa dengan konteks situasi dan konteks sosialnya (<i>Halliday</i>1972:269-293).<span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 107%">[4]</span></span><a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=5982955332201530887#_ftn4" title=""><!--[endif]--></a></span></span> </span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><span><span><span style="font-family: inherit"><br /></span></span></span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Maka bisa disimpulkan bahwa istilah Verbal Repertoire dapat dipandankan dengan Kemampuan Komunikatif. Untuk bisa dikatakan bahwa seseorang mempunyai kemampuan komunikatif, sesorang itu haruslah bisa membedakan kalimat yang gramatikal dan yang tidak gramatikal, serta mempunyai kemampuan untuk memilih bentu-bentuk bahasa yang sesuai dengan situasi dan kondisinya. </span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><b>Sebagai contoh, berikut percakapan anatara dua penutur bahasa jawa:</b></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><b>Maza</b> : arep nyang ndi mbah?</span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><b>Mbah Zuha</b> : arep nang sawah nang tunggu manuk.</span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><br /></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-left: 0in;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Mendengar jawaban Mbah Zuha tersebut, maza malah kebingungan, untuk apa dia pergi ke sawah menunggu manuk. Dari ketidakfahaman atau ketidaktahuan Maza tentang penggunaan kata “tunggu” yang artinya bisa berubah sesuai konteks ini, maka ada keterbatasan tentang verbal repertoirnya. Karena kata “tunggu” pada percakapan diatas maknanya berubah menjadi “menjaga sawah dari datangnya burung-burung yang ingin memakan padi”.</span></div>
<div><span style="font-family: inherit"><br /></span></div>
<div><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-family: inherit"><br /></span></p>
<div>
<div style="margin-left: .25in"><span style="font-family: inherit"><span><span lang="IN"><span><span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt;line-height: 107%">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span><span lang="IN"> <b>Op. Cit.,</b> hlm. 36.</span></span></div>
</div>
<div>
<div dir="RTL" style="direction: rtl;text-align: right"><span style="font-family: inherit"><span><span dir="LTR" lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt;line-height: 107%">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span><span dir="LTR" lang="IN"> </span><span dir="RTL"></span><span lang="AR-SA"><span dir="RTL"></span>. محمد عفيف الدين دميلطى, <i>محاضرة في علم اللغة الاجتماعى</i>, سورابايا: مطبعة دار العلوم اللغوية, 2010, ص. 31.</span><span dir="LTR" lang="IN"></span></span></div>
</div>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt;line-height: 107%">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span><span lang="IN"> Abdul Chaer<i>, Linguistik Umum</i>, Jakarta: Renika Cipta, 2014, hlm. 60.</span></span></div>
</div>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt;line-height: 107%">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span><span lang="IN"> Abdul Chaer dan Leonie Agustina, <b>Op. Cit.,</b> hlm. 34.</span></span></div>
</div>
</div>
<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/bahasa/verbal-repertoire-dalam-hubungannya-dengan-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hubungan Bahasa Dengan Tingkat Sosial Masyarakat</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/bahasa/bahasa-dan-tingkat-sosial-masyarakat/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/bahasa/bahasa-dan-tingkat-sosial-masyarakat/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2026 12:38:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sosiolinguistik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/hubungan-bahasa-dengan-tingkat-sosial-masyarakat/</guid>

					<description><![CDATA[  Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kajian tentang masyarakat tutur dipusatkan pada bahasanya, tentang berbagai cara yang dimiliki oleh ... <p class="read-more-container"><a title="Hubungan Bahasa Dengan Tingkat Sosial Masyarakat" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/bahasa/bahasa-dan-tingkat-sosial-masyarakat/#more-84" aria-label="More on Hubungan Bahasa Dengan Tingkat Sosial Masyarakat">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="clear: both;text-align: center"></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span lang="IN" style="font-family: 'times new roman' , 'serif';font-size: 12.0pt;line-height: 150%"> </span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Seperti yang sudah kita ketahui bahwa <b>kajian tentang <a href="https://alba.kazu.co.id/bahasa-dan-tutur-dalam-masyarakat/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">masyarakat tutur </a>dipusatkan pada bahasanya</b>, tentang berbagai cara yang dimiliki oleh anggota masyarakat tertentu untuk berbicara sesuai dengan konteks sosial. Pakar sosiolinguistik sepakat tentang adanya hubungan sebuah bahasa dengan masyarakat penuturnya. Lalu hubungan yang bagaimanakah yang terdapat di antara bahasa dengan masyarakt itu?</span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Menurut Addul Chaer dan Leoni Agustina, <b>hubungannya adalah</b> adanya hubungan antara bentuk-bentuk bahasa tertentu, yang disebut variasi, ragam atau dialek dengan penggunaannya untuk fungsi-fungsi tertentu di dalam masyarakat. Misalnya untuk kegiatan pendidikan kita menggunakan ragam baku, untuk kegiatan sehari-hari di rumah kita menggunakan ragam tak baku, untuk kegiatan berbisnis kita menggunakan ragam usaha, dan untuk kegiatan mencipta karya seni (puisi atau novel) kita menggunakan ragam sastra.<sup><span><!-- [if !supportFootnotes]--><sup><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 115%">[1]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><b>Selain berhubungan dengan kondisi,</b> atau konteks kejadian tindak tutur, bahasa juga mempunyai hubungan dengan tingkatan sosial masyarakat. Hal ini memungkinkan penggunaan <b><a href="https://alba.kazu.co.id/variasi-bahasa/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">variasi bahasa</a></b> yang berbeda terhadap tingkat sosial yang berbeda pula. </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span style="font-family: inherit"><b><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Startifikasi so</span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">s</span></b><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><b>ial dalam suatu masyarakat menimbulkan ragam bahasa</b>, dan selanjutnya ragam bahasa memperkokoh startifikasi so</span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">s</span><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">ial. Di inggris anak-anak yang berasal orang tua yang berstatus kerja di pabrik tidak diperkenankan masuk universitas. Startifikasi so</span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">s</span><span style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">ial mempengaruhi pemilihan bahasa dalam tingkatan-tingkatan bahasa disebut unda-usuk. Unda-usuk dapat kita lihat pada bahasa jawa, seperti yang dikatakan oleh Soepomo, “bahasa mempunyai tingkat tutur yang sangat kompleks”. </span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Perbedaan tingkat tutur ini disebabkan karena startifikasi sosial.<sup><span><!-- [if !supportFootnotes]--><sup><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 115%">[2]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></span></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Dalam bahasa jawa kita bisa melihat perbedaan penggunaan variasi bahasa ketika berbicara dengan yang sederajat dan dengan orang lain yang derajatnya lebih tinggi. Ketika seorang anak berbicara dengan ayahnya maka anak tersebut harusnya menggunakan bahasa krama sesuai dengan adat sosial. Dan ketika anak tersebut berbicara dengan temannya maka anak tersebut menggunakan bahasa ngoko.</span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><b>Ragam bahasa tersebut</b> (yang berkaitan dengan strata sosial) bukan hanya terjadi dalam masyarakat tutur bahasa indonesia saja, atau masyarakat tutur bahasa jawa saja, akan tetapi juga terjadi di berbagai negara. Seperti yang terjadi pada masyarakat tutur bahasa arab (Bangsa Arab). Seperti yang kita tahu bahwa Bangsa Arab juga mengenal sistem kerajaan, dan juga memiliki kabilah-kabilah besar, selain itu juga ada masyarakat Bangsa Arab yang hanya sebagai pedagang biasa atau tukang bangunan biasa Perbedaan-perbedaan strata sosial itu memunculkan ragam-ragam bahasa berdasarkan tingkatan sosial. Begitupun pada masyarakat keturunan Arab yang di indonesia.</span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span lang="IN" style="font-family: inherit;font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Tingkatan sosial dalam masyarakat keturunan Arab tersebut menimbulkan variasi-variasi bahasa yang penggunaannya disesuaikan dengan strata sosialnya. Adanya tingkatan sosial tersebut bisa dilihat dari dua segi, <i>pertama </i>dari segi keningratan atau kebangsawanan dan <i>kedua </i>dari segi pendidikan dan keadaan ekonomi yang dimiliki (Agustina, 2004: 39). Ragam bahasa yang digunakan oleh <i>Dhu’afa wa Miskin </i>bisa jadi berbeda dengan ragam bahasa yang digunakan oleh <i>sayyid</i> atau <i>syarif</i>.<sup><span><!-- [if !supportFootnotes]--><sup><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 115%">[3]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></span></div>
<div style="line-height: 150%;margin-bottom: 8pt"><span style="font-family: inherit"><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">Sebagai contoh, dalam sebuah forum resmi, misalnya ketika ada tamu dari Yaman asli datang ke komunitas mereka. Kalimat penghormatan yang mereka sampaikan</span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><span>  </span></span><span lang="AR-SA" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><span> </span><span dir="RTL"><span>  </span>سماحة الشيخ السيد الأستاذ زيد</span></span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"> (kepada yang terhormat Sayyid Profesor Zaid) walaupun belum profesor. Dibandingkan dengan sambutan kepada tamu undangan umum dari masyarakat keturunan Arab cukup diungkapkan dengan kalimat<span>   </span></span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">السادة والسادات الكرام </span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><span> </span>(bapak-bapak dan ibu-ibu yang kami hormati). Kalimat </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">سماحة الشيخ السيد الأستاذ زيد</span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"> ini menunjukkan bahwa orang yang ditunjuk berada pada strata sosial yang tinggi ditunjukkan dengan kata </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">سماحة</span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%"><span>  </span>karena ketinggian ilmunya, dibandingakn dengan kebanyakan orang umum yang cukup dengan kata </span><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">الكرام</span><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 150%">.<sup><span><!-- [if !supportFootnotes]--><sup><span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;line-height: 115%">[4]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></span></span></div>
<div><span style="font-family: inherit"> </span></div>
<div><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-family: inherit"><br /></span></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p><!--[endif]--></p>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span style="font-family: 'times new roman' , 'serif'"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-size: 10.0pt;line-height: 115%">[1]</span><!--[endif]--></span></span><span style="font-family: 'times new roman' , 'serif'"> Ibid, hlm. 39.</span></span></div>
</div>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span style="font-family: 'times new roman' , 'serif'"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-size: 10.0pt;line-height: 115%">[2]</span><!--[endif]--></span></span><span style="font-family: 'times new roman' , 'serif'"> Tangson Pangaribuan,<span>  </span><i>Hubungan Variasi Bahasa dengan Kelompok Sosial dan Pemakaian Bahasa</i>, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan, hlm. 4.</span></span></div>
</div>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span style="font-family: 'times new roman' , 'serif'"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-size: 10.0pt;line-height: 115%">[3]</span><!--[endif]--></span></span><span style="font-family: 'times new roman' , 'serif'"> Azzuhri, <i>Relasi Bahasa Arab dengan Strata Sosial<span>  </span>Masyarakat dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Sosial, Ekonomi, Politik, dan Agama</i>, STAIN Pekalongan: 2013,<span>  </span>hlm. 316.</span></span></div>
</div>
<div>
<div><span style="font-family: inherit"><span style="font-family: 'times new roman' , 'serif'"><span><!-- [if !supportFootnotes]--><span style="font-size: 10.0pt;line-height: 115%">[4]</span><!--[endif]--></span></span><span style="font-family: 'times new roman' , 'serif'"> Ibid, hlm. 217.</span></span></div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/bahasa/bahasa-dan-tingkat-sosial-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Macam Macam Hipotesis Teori Pemerolehan Bahasa</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/bahasa/macam-macam-hipotesis-teori-pemerolehan-bahasa/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/bahasa/macam-macam-hipotesis-teori-pemerolehan-bahasa/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2026 06:38:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Psikolinguistik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/macam-macam-hipotesis-teori-pemerolehan-bahasa/</guid>

					<description><![CDATA[Ga Terima Dipanggil Nenek, Emak Emak di KRL Ngajak Ribut Video Ada Di Bawah!!! Emak Emak Viral &#8211; Seorang penumpang ... <p class="read-more-container"><a title="Macam Macam Hipotesis Teori Pemerolehan Bahasa" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/bahasa/macam-macam-hipotesis-teori-pemerolehan-bahasa/#more-85" aria-label="More on Macam Macam Hipotesis Teori Pemerolehan Bahasa">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading">Ga Terima Dipanggil Nenek, Emak Emak di KRL Ngajak Ribut</h1>



<p class="has-text-align-center"><strong>Video Ada Di Bawah!!!</strong></p>



<p>Emak Emak Viral &#8211; Seorang penumpang wanita marah-marah di KRL. Ia mengomel ke penumpang lain di duduk persis sebelahnya. Rupanya, awal keributak itu lantaran ia tidak terima dipanggil dengan sebutan &#8216;nenek&#8217;.<br><br>Dalam video yang dibagikan oleh akun facebook @Dian Widiyanarko pada Senin (9/9/2019), tampak emak-emak tersebut berupaya menginjak kaki perempuan muda berkacamata yang duduk di sampingnya. Tak lama terjadilah percekcokan antar keduanya.<br><br>&#8220;Bu, jangan ngajak ribut dong,&#8221; ucap si perempuan muda.<br><br>&#8220;Kau yang duluan,&#8221; jawab si emak-emak.<br><br>Perempuan muda itu lantas mengklarifikasi bahwa telah keliru memanggil wanita tadi dengan sebutan &#8216;nenek&#8217;.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" src="https://chordindi.com/wp-content/uploads/2021/06/Tak-terima-dipanggil-Nenek.jpg" alt="" /></figure>



<p>&#8220;Sopan bahasamu, kenapa kamu panggil aku nenek mu?&#8221; timpal wanita paruh baya itu.<br>
<br>
&#8220;Saya cuma mau tawarin, nenek mau duduk deket cucunya atau bukan?&#8221; kata perempuan berbaju putih.<br>
<br>
Si emak-emak itu kembali &#8216;ngegas&#8217; karena dia merasa tidak membawa cucu. &#8220;Memangnya cucu siapa?&#8221; tanyanya lagi.<br>
<br>
&#8220;Kan saya tanya?&#8221; timpal perempuan tadi.<br>
<br>
&#8220;Bilang nenek-nenek, saya tersinggung dong,&#8221; sergahnya.<br>
<br>
Adu mulut keduanya kemudian mengundang kedatangan petugas yang tampak mencoba menenangkan mereka. Video ini kemudian menuai beragam komentar netizen. Lucunya, kebanyakan warganet malah salah fokus alias salfok dengan pasangan yang duduk di samping mereka.<br>
<br>
<br>
&#8220;Salfok sama yang berduaan ekek kata cowonya udah tidur lagi hahaha,&#8221; tulis pemilik akun @anitarzm.<br>
<br>
&#8220;Apa saya aja yg fokusnya ke mas mas nya… ?? lanjut bobo aja jangan pusingin yg lain. Dunia milik berdua,&#8221; timpal @bryanfaelziel00.<br>
<br>
&#8220;Sudah tau kalo cantik dan milenial, dipanggil nenek2, ya marah lah,&#8221; tulis @Totok Suryanto.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Ribut di KRL Karena Marah Dipanggil Nenek" width="840" height="473" src="https://www.youtube.com/embed/T8VO3N9wIvY?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p><strong>Baca Juga :</strong> <a href="https://alba.kazu.co.id/cerita-sejarah/cerita-misteri-hantu-kapal-laut-kerjaan-majapahit/">Cerita Misteri Kapal Hantu Majapahit</a></p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="485" src="https://alba.kazu.co.id/wp-content/uploads/2021/04/Hantu-Kapal-Laut-Majapahit-1024x485.jpeg" alt="Cerita Armada Laut Majapahit" class="wp-image-3895" srcset="https://alba.kazu.co.id/wp-content/uploads/2021/04/Hantu-Kapal-Laut-Majapahit-1024x485.jpeg 1024w, https://alba.kazu.co.id/wp-content/uploads/2021/04/Hantu-Kapal-Laut-Majapahit-300x142.jpeg 300w, https://alba.kazu.co.id/wp-content/uploads/2021/04/Hantu-Kapal-Laut-Majapahit-768x364.jpeg 768w, https://alba.kazu.co.id/wp-content/uploads/2021/04/Hantu-Kapal-Laut-Majapahit-800x379.jpeg 800w, https://alba.kazu.co.id/wp-content/uploads/2021/04/Hantu-Kapal-Laut-Majapahit-30x14.jpeg 30w, https://alba.kazu.co.id/wp-content/uploads/2021/04/Hantu-Kapal-Laut-Majapahit.jpeg 1140w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>


<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Pemerolehan bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak seorang kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya di bedakan dari pembelajaran bahasa. Pembelajaran sebuah bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua, setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan sebuah bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua. </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"> </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit">Ada dua proses yang terjadi ketika seorang kanak-kanak sedang memperoleh bahasa pertamanya, yaitu proses kompetensi dan proses performansi. kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan. kompetensi merupakan suatu proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. Proses kompetensi ini menjadi syarat untuk terjadinya proses performansi yang terdiri dari dua buah proses, yakni proses pemahaman dan proses menghasilkan kalima-kalimat. </span></span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 12pt;line-height: 150%"><span style="font-family: inherit"> </span></span></div>
<div style="clear: both;text-align: center"><a style="margin-left: 1em;margin-right: 1em" href="https://1.bp.blogspot.com/-XdEqDxZTZoM/XZ79mQg5_JI/AAAAAAAAAIk/P5Si0gOodt0mRH1q_DqEd--5g66SzvPjQCPcBGAYYCw/s1600/for-reading-813666_640.jpg"><span style="font-family: inherit"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://1.bp.blogspot.com/-XdEqDxZTZoM/XZ79mQg5_JI/AAAAAAAAAIk/P5Si0gOodt0mRH1q_DqEd--5g66SzvPjQCPcBGAYYCw/s640/for-reading-813666_640.jpg" width="640" height="360" border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" /></span></a></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify"><span style="font-family: inherit"> </span></div>
<div style="line-height: 150%;text-align: justify">
<p> </p>
<div>Proses pemahaman melibatkan kemampuan atau kepandaian mengamati kalimat yang di dengar. Sedangkan penerbitan melibatkan kemampuan mengeluarkan atau menerbitkan kalimat-kalimat sendiri. kedua jenis proses kompetensi ini apabila telah dikuasai kanak-kanak akan menjadi kemampuan linguistik kanak-kanak itu. Jadi, kemampuan linguistik terjadi dari kemampuan memahami dan kemampuan melahiran kalimat-kalimat baru yang dalam linguistik transformasi generatif disebut perlakuan atau performansi.[1]sedangan teori-teori dalam pemerolehan bahasa adalah:</div>
<h3><b>Teori Hipotesis Nurani</b></h3>
<div> </div>
<div> </div>
<ul>
<li>Hipotesis nurani <span lang="IN">berakar</span> dari beberapa pengamatan yang di lakukan para pakar terhadap pemerolehan bahasa kanak-kanak. Di antara hasil pengamatan Chomsky adalah sebagai berikut </li>
</ul>
<p> </p>
<div> </div>
<ul>
<li>Semua kanak-kanak yang normal akan memperoleh bahasa ibunya asal saja di perkenalkan pada bahasa ibunya itu. Maksudnya, dia tidak di asingkan dari kehidupan ibunya(keluarganya)</li>
</ul>
<p> </p>
<div> </div>
<ul>
<li>Pemerolehan bahasa tidak ada hubunganya dengan kecerdasan kanak-kanak. Artinya, baik anak yang cerdas maupun tidak cerdas akan memperoleh bahasa itu.</li>
</ul>
<p> </p>
<div> </div>
<ul>
<li>kalimat-kalimat yang di dengar kanak-kanak sering kali tidak gramatikal, tidak lengkap dan sedikit jumlahnya.</li>
</ul>
<p> </p>
<div> </div>
<ul>
<li>Bahasa tidak dapat diajarkan kepada mahluk lain, hanya manusia yang dapat berbahasa.</li>
</ul>
<p> </p>
<div> </div>
<ul>
<li>Proses pemerolehan bahasa oleh kanak-kanak dimanapun sesuai dengan jadwal yang erat kaitanya dengan proses pematangan jiwa kanak-kanak.</li>
</ul>
<p> </p>
<div> </div>
<ul>
<li>Struktur bahasa sangat rumit, kompleks dan bersifat universal. Namun dapat dikuasai oleh kanak-kanak dalam waktu yang relatif singkat, yaitu dalam waktu antara tiga atau empat tahun saja.</li>
</ul>
<div> </div>
<p> </p>
<div>Berdasarkan pengamatan diatas, dapat di simpulkan bahwa manusia lahir di lengkapi oleh suatu alat yang memungkinkan dapat berbahasa dengan mudah dan cepat. Lalu, karena sukar dibuktikan secara empiris, maka pandangan ini mengajuan satu hipotesis yang disebut hipotesis nurani. Mengenai hipotesis nurani ini perlu dibedakan adanya dua macam hipotesis nurani yaitu hipotesis nurani bahasa dan mekanisme. <span lang="IN">Dalam </span>Hipotesis <span lang="IN">N</span>urani <span lang="IN">B</span>ahasa <span lang="IN">pemerolehan sebuah bahasa diasumsikan </span> bahwa  sebagian atau semua bagian dari bahasa tidaklah dipelajari atau diperoleh tetapi ditentukan oleh fitur-fitur nurani yang khusus dari organisme manusia.</div>
<div> </div>
<div>Sedangkan hipotesis nurani mekanisme menyatakan bahwa proses pemerolehan bahasa oleh manusia di tentukan oleh perkembangan kognitif umum dan mekanisme nurani umum yang berinteraksi dengan pengalaman.</div>
<div> </div>
<div>Chomsky dan Miller mengatakan adanya alat khusus yang dimiliki setiap kanak-kanak sejak lahir untuk dapat berbahasa. Alat itu namanya language acquisition device (LAD), yang berfungsi untuk memungkinkan untuk seorang kanak-kanak memperoleh bahasa ibunya. Cara kerja LAD ini dapat di jelaskan sebagai berikut : apabila sejumlah ucapan yang cukup memadai dari suatu bahasa diberikan kepada LAD seorang kanak-kanak sebagai masukan (input), maka LAD itu akan membentuk salah satu tata bahasa formal sebagai keluaran (uotput). Adanya hipotesis mengenai LAD ini semakin memperkuat pandangan para ahli di bidang pemerolehan bahasa, bahwa kanak-kanak sejak lahir telah diberi kemampuan untuk memperoleh bahasa ibunya. Eva Clark mengambil kesimpulan bahwa kanak-kanak tidak mungkin dapat menguasai sintaksis bahasanya kalau dia tidak di anugrahi suatu mekanisme nurani yang khusus untuk bahasa bagi tujuan pemerolehan bahasa.</div>
<div> </div>
<p> </p>
<div> </div>
<div>Adapun perbedaan antara hipotesis nurani bahasa dan hipotesis nurani mekanis terletak pada fungsi fitur-fitur nurani. Hipotesis nurani bahasa menekankan terdapatnya suatu benda nurani yang dibawa sejak lahir oleh anak-anak yang khusus untuk bahasa dan berbahasa. Hipotesis nurani mekanisme menyatakan bahwa benda benda  nurani yang di bawa oleh anak sejak lahir berbentuk mekanisme yang umum untuk semua kemampuan manusia. Bahasa dan berbahasa hanyalah sebagian dari yang umum tersebut.</div>
<p> </p>
<h3><b>Teori Hipotesis Tabularasa</b></h3>
<div> </div>
<div>Hipotesis tabularasa pertama kali dikemukakan oleh John Locke seorang tokoh empirisme yang sangat terkenal, kemudian dianut dan disebarluaskan oleh Jhon Wathson seorang tokoh terkemuka aliran Behaviorisme dalam psikologi seara harfiah, tabularasa berarti kertas kosong.</div>
<div> </div>
<div>Hipotesis ini menyatakan bahwa otak bayi pada waktu dilahiran sama seperti kertas kosong yang nanti akan ditulis atau diisi dengan pengalaman-pengalaman. Dalam hubungannya dengan pemerolehan bahasa, menurut hipotesis tabularasa, semua pengetahuan dalam bahasa manusia yang tampak dalam perilaku berbahasa merupakan hasil dari integrasi peristiwa-peristiwa linguistik yang dialami dan diamati oleh manusia itu sendiri. Sejalan dengan hipotesis ini, Behaviorisme menganggap pengetahuan linguistik terdiri dari rangkaian hubungan yang dibentuk dengan cara pembelajaran S-R (Stimulus-Respon). Cara pembelajaran S-R yang terkenal adalah mediasi dan pelaziman operan yang telah dimodifikasi menjadi teori-teori pembelajaran bahasa. Teori mediasi yang diperkenalkan oleh Jenin ini disebut juga teori rantaian proses (responce chaining).</div>
<div> </div>
<p> </p>
<div> </div>
<div>Teori ini didasarkan pada prinsip mediasi atau penengah. Dalam hal ini faktor penengah atau mediasi yang dimainkan oleh otak memegang peranan penting dalam proses  pembelajaran rantaian respon tersebut. Teori pembelajaran bahasa pelaziman operan menyatakan bahwa perlau berbahasa seorang anak dibentuk oleh serentetan hadiah yang beragam. Pada tahap bereloteh (babling period) seorang anak berpotensi untuk mengucapkan semua bunyi yang ada pada semua bahasa. Namun, orang tua tersebut hanya memberikan bunyi-bunyi bahasa yang ada dalam bahasa ibunya saja. Dengan demikian yang dilazimkan anak untuk ditirukan adalah ucapan-ucapan orang tuanya. Jika tiruan ucapan itu benar atau mendekati ucapan yang sebenarnya, maa dia aan mendapat “hadih” dari ibunya dalam bentuk iuman, senyuman, pujian, dan sebagainya.[2]</div>
<div> </div>
<div>Menurut Skinner berbicara merupakan suatu respon operan yang dilazimkan kepada sesuatu stimulus dari dalam atau dari luar yang sebenarnya tida jelas diketahui. Untu menjelaskan  hal ini Skinner memperkenalkan sekumpulan kategori respon bahasa yang hampir serupa dengan ucapan yaitu, mands, tact, echoics, textuals, dan intraverbal operant. Berikut penjelasannya:</div>
<h4>a.      Mands</h4>
<div> </div>
<div>kata mands adalah akar dari kata command, demand, dan lain-lain. Mand ini muncul sebagai kalimat permohonan atau rayuan, hanya apabila penutur ingin mendapatkan sesuatu. Jadi, mand memerlukan satu interaksi khusus antara keadaan dulu yang serupa dan dialami, respons bahasa, perilaku orang yang mengukuhkan dan jenis pengukuhan.</div>
<h4>b.      Tacts</h4>
<div> </div>
<div>Tacts adalah benda atau peristiwa konkret yang muncul sebagai akibat dari stimulus. Didalam tata bahasa tact dapat disamakan dengan menyebut nama sesuatu benda atau perisriwa.</div>
<h4>c.       Echoics</h4>
<div> </div>
<div>Echoics adalah satu perilaku berbahasa yang dipengaruhi oleh respon orang lain sebagai stimulus dan kita meniru ucapan itu.</div>
<h4>d.      Textual</h4>
<div>Textual adalah perilaku berbahasa yang diatur oleh stimulus tertulis sedemikian rupa sehingga bentuk perilaku itu mempunyai korelasi dengan bahasa yang tertulis itu. Korelasi yang dimasud adalah hubungan sistematik antara sistem penulisan (ejaan) suatu bahasa dengan respon ucapan apabila membacanya secara langsung</div>
<h4>e.       Intraverbal operant</h4>
<div><span style="line-height: 115%"><span style="font-family: inherit">Intraverbal operant adalah operan berbahasa yang diatur oleh perilaku barbahasa terdahulu yang dilakukan atau dialami oleh penutur. Umpamanya, kalau sebuah kata dituliskan sebagai stimulus, maka kata lain yang ada hubungannya dengan kata itu akan diucapkan sebagai respon. </span></span></div>
<p> </p>
<h3><b>Teori Hipotesis Kesemestaan Kognitif dalam Pemerolehan Bahasa</b></h3>
<div> </div>
<div>Hipotesis kesemestaan kognitif diperkenalkan oleh piaget. Menurutnya bahasa merupakan satu bagian dari perkembangan kognitif secara umum. Menurut teori yang yang didasarkan pada kesemestaan kognitif, bahasa diperoleh berdasarkan struktur-struktur kognitif deriamotor. Struktur-struktur ini diperoleh anak-anak melalui interaksi dengan benda-benda atau orang-orang disekitarnya.</div>
<p> </p>
<div><b>Urutan pemerolehan ini secara garis besar sebagai berikut:<span>  </span></b></div>
<div>a. Antara 0 sampai 1,5 kanak-kanak mengembangkan pola-pola aksi dengan cara bereaksi terhadap alam sekitarnya. Pola-pola inilah yang diatur menjadi struktur-struktur akal(mental). Berdasarkan mental ini kanak-kanak mulai membangun satu dunia benda-benda yang kekal yang di sebut dengan kekekalan benda. Maksudnya, kanak-kanak telah sadar bahwa meskipun benda-benda yang pernah diamatinya atau disentuhnya hilang dari pandanganya, namun tidak berarti benda-benda itu tidak lagi di dunia. Dia sekarang tau bahwa benda-benda itu dapat dicari dengan struktur aksi tertentu, misal melihatnya di tempat lain.</div>
<div> </div>
<div>b. Setelah struktur aksi telah di nuranikan, maka kanak-kanak memasuki tahap representasi kecerdasan, yang terjadi antara usia 2 tahun sampai 7 tahun. Pada tahap ini kanak-kanak telah mampu membentuk representasi simbolik benda-benda seperti permainan simbolik, peniruan, bayangan, mental, gambar-gambar dan lain-lain.</div>
<div> </div>
<div>c.<span> </span>Setelah tahap representasi kecerdasan, dengan representasi simboliknya berakhir, maka bahasa kanak-kanak semakin berkembang dan dengan mendapat nilai-nilai sosialnya. Struktur-struktur linguistik mulai di bentuk berdasarkan bentuk-bentuk kognitif umum yang telah di bentuk ketika berusia kurang lebih dua tahun.</div>
<div> </div>
<div>Menurut Sinclair-de Zwart ada tiga tahap pemerolehan bahasa anak-anak. Pertama, anak-anak memilih satu gabungan bunyi pendek dari bunyi-bunyi yang di dengarnya untuk menyampaikan satu pola aksi. Kedua, jika gabungan bunyi-bunyi pendek ini dipahami maka anak-anak itu akan memakai seri bunyi yang sama, tetapi dengan bentuk fonetik yang lebih dekat dengan fonetik orang dewasa, untuk menyampaikan pola-pola aksi yang sama, atau apabila pola aksi yang sama dilakukan oleh orang lain. Pola aksi ini pada mulanya selalu mempunyai hubungan dengan anak-anak itu, dan didalam pola aksi itu selalu terjalin unsur, yaitu agen, aksi, dan penderita. Ketiga, muncul fungsi-fungsi tata bahasa yang pertama, yaitu subject-predikan yang menghasilkan unsur subjek-verbal-objek atau agen+aksi+penderita. Hipotesis kesemestaan kognitif sama dengan hipotesis nurani mekanisme dalam linguistik. Piaget dan Mc Namara menyimpulkan bahwa anak-anak lebih dahulu mengembangkan proses-proses kognitif yang bukan linguistik. Setelah itu barulah mereka memperoleh lambang-lambang linguistik itu. Jadi, pemerolehan bahasa bergantung pada pemerolehan proses-proses kognitif itu.[3]</div>
<div> </div>
<div> </div>
<div> </div>
<div>[1] Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoritik, Rineka Cipta, Jakarta, 2009, hlm.167.</div>
<div>[2] Hayatun Nufus, Wahana Didaktika Vol. 12 No.3 September 2014, hlm. 47. Diakses pada tanggal 11 april 2018.</div>
<div>[3] Meilan Arsanti, Jurnal PBSI Vol.3 No.2 Tahun 2014, hlm. 29. Diakses pada tanggal 11 april 2018.</div>
<p> </p>
</div>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/bahasa/macam-macam-hipotesis-teori-pemerolehan-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Melihat kondisi Psikis Seseorang Dari Gaya Bahasa dan Gaya Bicara</title>
		<link>https://alba.kazu.co.id/bahasa/melihat-kondisi-psikis-seseorang-dari-gaya-bahasa-dan-gaya-bicara/</link>
					<comments>https://alba.kazu.co.id/bahasa/melihat-kondisi-psikis-seseorang-dari-gaya-bahasa-dan-gaya-bicara/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[albabbarrosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2026 00:38:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Psikolinguistik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://albabbarrosa.com/melihat-kondisi-psikis-seseorang-dari-gaya-bahasa-dan-gaya-bicara/</guid>

					<description><![CDATA[Bahasa sebagai alat komunikasi manusia bukan hanya menunujukan kalau manusia itu makhluk sosial. Namun ternyata dengan bahasa kita bisa melihat ... <p class="read-more-container"><a title="Melihat kondisi Psikis Seseorang Dari Gaya Bahasa dan Gaya Bicara" class="read-more button" href="https://alba.kazu.co.id/bahasa/melihat-kondisi-psikis-seseorang-dari-gaya-bahasa-dan-gaya-bicara/#more-87" aria-label="More on Melihat kondisi Psikis Seseorang Dari Gaya Bahasa dan Gaya Bicara">Read more</a></p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Bahasa sebagai alat komunikasi manusia bukan hanya menunujukan kalau manusia itu makhluk sosial. Namun ternyata dengan bahasa kita bisa melihat kondisi psikis seseorang. Kajian tentang ini biasa dikenal dengan psikolinguistik atau psikologi dalam kaitannya dengan linguistik atau bahasa. Selain dengan tingkah laku, manusia akan menunjukan kode kode tertentu yang menyangkut psikis, perasaan, fikiran dengan bahasa yang digunakannya, yaitu ketika dia bicara atau menuliskan sesuatu.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"><br /></span></div>
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto;margin-right: auto;text-align: center">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center"><a href="https://1.bp.blogspot.com/-6SrMlAmM6bY/XaYc2kVOFII/AAAAAAAAALg/o9wmS8RFHHM-NHW2gfVSHO4QB5a8dOaTgCLcBGAsYHQ/s1600/restaurant-1807617_640.jpg" style="margin-left: auto;margin-right: auto"><img loading="lazy" decoding="async" border="0" data-original-height="426" data-original-width="640" height="426" src="https://1.bp.blogspot.com/-6SrMlAmM6bY/XaYc2kVOFII/AAAAAAAAALg/o9wmS8RFHHM-NHW2gfVSHO4QB5a8dOaTgCLcBGAsYHQ/s640/restaurant-1807617_640.jpg" width="640" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center">Image by <a href="https://pixabay.com/users/sasint-3639875/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=1807617">Sasin Tipchai</a> from <a href="https://pixabay.com/?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=1807617">Pixabay</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"><br /></span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Ahli psikologi Emon Bach mengungkapkan dengan jelas dan tegas bahwa psikolinguistik adalah suatu ilmu yang meneliti bagaimana sebenarnya para pembicara atau pemakai bahasa membentuk,membnagun atau mengerti kalimat-kalimat bahasa tersebut. (Bach, 1964: 64)</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"><br /></span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Dengan begitu dapat ditarik kesimpulan bahwa kondisi psikis seseorang dapat mempengaruhi bagaimana cara mereka dalam menyusun suatu kalimat, atau menyusun suatu perkataan. Dengan kondisi psikis begini akan menghasilkan gaya bahasa atau gaya bicara seperti ini, dan dalam kondisi psikis yang begitu akan menghasilkan gaya bicara yang seperti itu pula.</span></div>
<h3 style="text-align: justify"><span lang="IN">Kebimbangan Seseorang Dilihat dari Gaya Bahasa dan Gaya Bicara</span></h3>
<div style="text-align: justify">
<blockquote><p><span lang="IN" style="background-color: #f3f3f3"><span style=", serif;font-size: 17px">Worry never robs tomorrow of its sorrow, it only saps today of its joy.</span><br style=", Times, serif;font-size: 17px;margin: 0px;padding: 0px;text-align: start" /><strong style=", Times, serif;font-size: 17px;margin: 0px;padding: 0px;text-align: start">–&nbsp;Leo F. Buscaglia</strong></span></p></blockquote>
<p><span lang="IN">Sesorang yang sedang bimbang untuk melakukan sesuatu atau memutuskan sesuatu akan terlihat dari gaya bahasa dan bicaranya. Bimbang adalah merasa tidak tetp hati atau kurang percaya, ragu-ragu terhadap sesuatu.</span><br /><span lang="IN"><br /></span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Dalam keadaan bimbang sesorang akan lebih berhati hati dalam melakukan, memutuskan sesuatu. Dalam kondisi yang seperti itu akan mempengaruhi bagaimana dia akan menyusun sebuah kalimat pembicaraan, dimana ia akan lebih mengulang beberapa kata, dan terlihat seolah dia lama dalam menyusun sebuah kalimat, hal tersebut karena memang dia sedang dalam keadaan bimbang.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"><br /></span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Kamu bisa mengamati orang sekitarmu tentang perubahan gaya bicara mereka ketika dalam keadaan normal atau dalam keadaan bimbang. Dalam kedaan normal seseorang cenderung luwes dalam menyusun sebuah kalimat pembicaraan, seolah dia sudah menyiapkan kalimat kalimat tersebut, ketika sudah memasuki kebimbangan barulah gaya bicara mereka berubah menjadi lebih kalem, karena dia butuh waktu untuk menyusun dan memutuskan kalimat pembicaraannya.</span></div>
<h3 style="text-align: justify"><span lang="IN">Kesedihan Seseorang Terlihat dari Gaya Bahasa dan Gaya Bicara</span></h3>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Ada saatnya dimana sesorang akan merasa sedih, rasa sedih muncul akibat adanya sesuatu yang berjalan tidak semestinya, tidak sesuai rencana dan tidak sesuai keinginan. Rasa sedih juga bisa muncul ketika kita melihat sesorang yang sedang bersedih, yang membuat kita terbawa suasana sedih.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"><br /></span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Ketika seseorang sedang bersedih, kesedihan tersebut akan terlihat dari gestur tubuhnya, mata yang kelihatan sebam, pandangan yang kosong tanpa arti, malas untuk melakukan sesuatu dan sebagainya.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Kesedihan tersebut juga mempengaruhi gaya bicara sesorang, mereka cenderung malas untuk mengucapkan sesuatu, suarnya akan lebih rendah dari biasanya, juga kata kata yang diucapkan pun mengandung makna makna kesedihan. Meskipun beberepa orang dapat menahan kesedihan. Namun tetap saja kesedihan tersebut akan terlihat dalam gaya bahasa dan gaya bicaranya.</span></div>
<h3 style="text-align: justify"><span lang="IN">Kebohongan Seseorang Dilihat dari gaya bicara dan Gaya Bahasa</span></h3>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Berbohong adakalanya untuk kebaikan adakalanya merupakan kejahatan yang dapat merugikan seseorang. Ada orang yang mencoba meraih sesutu dengan berbohong, atau menghindari sesuatu dengan berbohong. Berbohong pada dasarnya sebuah perbuatan yang mencoba untuk menutup nutupi sesuatu agar tidak diketahui orang lain.</span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"><br /></span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN">Ketika sedang berbohong, gaya bicara seseorang akan berubah, namun pada pembohong ulung akan terlihat susah mendeteksinya dari gaya bicaranya. Karena pada dasarnya berbohong adalah perbuatan untuk menutupi sesuatu, maka gaya bicaranya akan terlihat kaku, dan seolah mengharuskan kita untuk percaya kepadanya (meskipun tidak semua yang mengharuskan kita untuk percaya adalah berbohong). </span></div>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN"><br /></span></div>
<p><span lang="IN" style="line-height: 115%"></span></p>
<div style="text-align: justify"><span lang="IN" style="line-height: 115%"><span style="font-family: inherit">Mencoba mengalihkan topik pembicaraan, terkadang agar kebohongan tersebut tidak terdeteksi, seseorang akan mengalihkan topik pembicaraan dan mencoba untuk mengamankan topik yang sudah dibahas.</span></span></div>
<p><span lang="IN" style="line-height: 115%"></span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alba.kazu.co.id/bahasa/melihat-kondisi-psikis-seseorang-dari-gaya-bahasa-dan-gaya-bicara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
